Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
233. Minta maaf


__ADS_3

Nina mendekati Mama Aisyah dan berlutut di depan majikannya itu. Dia memohon pada wanita itu, seolah dirinyalah yang paling teraniaya.


"Tolong saya, Nyonya. Saya tahu Anda orang baik, saya tadi hanya ingin membela diri. Tolong jangan usir saya! Saya harus tinggal di mana," ucapnya dengan air mata yang menetes.


Mama Aisyah menarik tubuh Nina agar berdiri. Dia tidak suka ada orang berlutut di depannya. Meskipun sudah melakukan kesalahan yang besar. Sebenarnya wanita itu merasa kasihan pada Nina, tetapi semua keputusan sudah dia berikan pada sang menantu.


Mama Aisyah tidak mungkin menarik kembali apa yang sudah dia katakan. Itu sama saja dengan mempermalukan menantunya. Apa pun keputusan yang sudah diambil Zayna, pasti sudah dipikirkan baik-baik. Dia sudah sangat mengenal menantunya.


"Saya tidak bisa melakukan apa pun karena semua keputusan, ada di tangan menantu saya. Sebaiknya kamu minta maaf saja sama dia," ucap Nyonya Aisyah.


Zayna semakin yakin untuk mengusir Nina. Lihatlah sekarang! Saat gadis itu punya salah padanya, justru meminta maaf pada Mama Aisyah. Bukan maksudnya gila hormat, hanya saja, segala sesuatu sudah ada porsinya. Sudah terbukti jika Nina hanya ingin menjilat.


Dia tidak ingin menjadi wanita lemah lagi, yang bisa dianggap remeh orang lain. Orang seperti Nina juga perlu ditindak tegas. Terserah jika dirinya dibilang tidak punya hati.


Nina melihat ke arah Zayna, dia ragu untuk melakukan itu. Mengingat siapa wanita itu sebenarnya. Dalam hati, gadis itu masih meyakini jika Zayna tidaklah pantas, untuk menjadi orang yang dia hormati.


“Tunggu apa lagi? Segera kemasi barang-barang kamu dan segera pergi dari sini. Tidak usah mengeluarkan air mata buayamu,” ucap Zayna karena Nina tak kunjung bersuara.


“Kalau aku pergi, maka Ibu juga akan pergi,” sahut Nina dengan percaya dirinya.


“Maksudnya?”

__ADS_1


“Kalau kamu mengusirku, itu berarti kamu juga mengusir Ibu juga dan Ibu akan berhenti bekerja dari sini.”


Semua orang terkejut dengan apa yang dikatakan Nina. Terutama Bik Ira dan Nyonya Aisyah. Sudah bertahun-tahun Bik Ira bekerja di rumah ini. Seluruh keluarga juga sudah menganggap dirinya seperti keluarga sendiri. Dia juga sering mendapat bonus.


Seandainya Bik Ira berhenti dari sini, belum tentu bisa mendapat pekerjaan di luar sana yang seperti di sini. Apalagi dengan gaji sebesar yang dia dapatkan di rumah ini.


“Maaf, Bik Ira, kalau memang Bibi mau ikut dengan Nina, aku tidak akan menghalangi. Aku tidak pernah berniat untuk memberhentikan Bibi. Aku hanya tidak mau ada pekerja yang tidak menghormatiku. Terserah Bibi saja, aku tidak akan memaksa,” ucap Zayna yang merasa tidak enak, tetapi terpaksa harus melakukan itu.


Nina melebarkan matanya. Dia tidak menyangka jika Zayna akan berkata seperti itu. Gadis itu pikir tidak akan diusir jika memanfaatkan ibunya, mengingat sudah berapa lama Bik Ira sudah bekerja. Namun, perkiraannya ternyata salah.


Sekarang malah ibunya juga dipersilakan pergi. Tentu saja itu tidak mungkin karena di desa neneknya masih butuh biaya hidup. Apalagi sekarang sering sakit-sakitan. Siapa lagi yang akan mencari uang. Ayahnya juga sudah meninggal. Akan tetapi, Nina tidak mau jika harus memohon di depan wanita itu.


"Jangan, Neng! Jangan pecat Bibi. Maafkan Nina, kalau memang dia harus pergi, biarkan dia saja yang pergi. Nanti Bibi carikan dia tempat untuk tinggal, tapi Bibi jangan dipecat, Neng. Bibi butuh pekerjaan ini," ucap Bik Ira dengan meneteskan air mata.


"Saya tidak pernah memecat Bibi. Semua keputusan ada sama Bibi, terserah Bibi mau pergi atau tetap di sini. Yang jelas Nina harus pergi, Bibi pasti mengerti maksud saya. Saya tidak pernah berniat untuk memberhentikan Bibi, tapi anak Bibi benar-benar keterlaluan. Dia sama sekali tidak tahu sopan santun pada pemilik rumah. Dia menganggap saya orang yang tidak pantas dihormati padahal saya adalah istri dari pemilik Rumah ini. Bukan maksud saya untuk sombong, tapi itulah kenyataannya. Dia digaji bukan untuk bersikap seenaknya sendiri."


"Iya, Neng Bibi mengerti. Maafkan Nina yang sudah tidak sopan sama Eneng."


Nina yang mendengar perkataan ibunya pun sangat marah. "Bu, kenapa ibu malah belain dia!" seru Nina dengan nada kesal. Bik Ira adalah ibunya, tetapi malah membela orang lain daripada dirinya. Meskipun orang itu adalah majikannya. Namun, dia juga anaknya, yang pastinya lebih berarti daripada orang lain.


"Karena kamu memang sudah salah, Nina. Sebaiknya kamu diam saja atau kamu minta maaf saja sama Neng zaina. Siapa tahu dia mau memaafkan kamu dan mengizinkan tinggal di sini." Bik Ira melototkan matanya ke arah Nina. Dia juga kesal dengan sikap sang putri.

__ADS_1


Nina menghentakkan kakinya dia tidak mau meminta maaf karena memang, gadis itu tidak merasa bersalah. Lagi pula siapa Zayna, kenapa Nina harus minta maaf. Jika itu orang lain yang punya kekuasaan, dia akan melakukannya. Akan tetapi, Zayna juga sama miskinnya dengan gadis itu jadi, mana mau Nina merendahkan dirinya.


Mama Aisyah menggelengkan kepala. Dia tidak habis pikir dengan anak dari asisten rumah tangganya itu. Tadinya wanita itu merasa kasihan pada Nina, tetapi sekarang setelah melihat bagaimana sifat aslinya, Mama Aisyah jadi mengerti kenapa menantunya begitu marah. Untung saja tadi dia tidak membela, kalau tidak pasti dirinya sudah membuat kesalahan.


"Sebaiknya kamu segera pergi dari rumah ini. Kamu memang benar-benar tidak tahu sopan santun. Bukan hanya pada orang yang lebih tua, tapi orang yang sudah menggaji kamu. Zayna juga termasuk putri saya, sudah pasti dia juga pemilik rumah ini, sedangkan kamu hanya anak asisten rumah tangga. Apa yang bisa disamakan diantara kalian. Bukan maksud saya untuk menghina kamu dan juga orang tuamu, tapi apa yang saya katakan itu memang benar. Seharusnya kamu sadar diri, bukan malah mengkritik orang lain. berkacalah dengan baik," ujar Mama Aisyah membuat semua orang terdiam.


Nina menahan kekesalannya mendengar ucapan Nyonya Aisyah, sementara Bik Ira hanya menundukkan kepala. Sebenarnya tidak ada yang salah dengan ucapan majikannya itu. Hanya saja sebagai seorang ibu, dia tetap saja sakit hati ada orang yang marah pada putrinya. Apalagi sudah menyangkut pekerjaannya.


Beberapa menit semua orang yang ada di ruangan itu terdiam. Masih bergelut dengan pikirannya masing-masing. Nina berjalan ke hadapan Zayna dan berlutut di depan wanita itu. Tentu saja semua orang terkejut melihatnya.


"Maafkan saya, Nyonya. Saya sudah sangat kurang ajar kepada Anda, tapi tolong jangan pecat Ibu saya. Banyak orang yang bergantung padanya, termasuk nenek yang saat ini terus saja berbaring di atas ranjang. Semuanya bergantung pada ibu, kalau Nyonya memecatnya, dari mana lagi Ibu mendapatkan uang. Saya tahu, memang sudah melakukan kesalahan yang begitu besar karena itu, saya mohon maaf. Tolong jangan usir saya!" ucap Nina dengan air mata yang menetes.


Zaina menarik tubuh Nina agar gadis itu berdiri. Dia masih ragu apakah yang diucapkan Nina benar-benar tulus dari dalam hatinya atau tidak. Mengingat Gadis itu selalu saja pandai bersilat lidah. Zayna menatap Mama Aisyah mencoba meminta pendapat, apa yang harus dia lakukan. Bagaimanapun juga pendapat mertuanya juga diperlukan.


Mama Aisyah hanya mengangkat kedua bahunya. Dia sendiri juga tidak tahu apa yang harus dilakukan. Semua keputusan sudah diserahkan pada Zayna. Terserah menantunya itu mau tetap mengusir Nina atau tidak. Pasti nanti akan ada resikonya jika gadis itu tidak berubah. Akan tetapi, jika bisa berubah, berarti Zayna sudah melakukan sebuah kebaikan.


Bik Ira merasa sedih dengan apa yang dilakukan oleh Nina. Gadis itu tidak pernah mau minta maaf padanya, tetapi kali ini justru berlutut di depan orang lain. Meskipun hanya sebentar. Seandainya saja dia punya banyak waktu mendidik putrinya. Pasti Nina tidak seperti sekarang ini.


"Apa yang kamu janjikan padaku, kalau aku menerimamu kembali bekerja di sini. Jika jawabanmu meyakinkan, maka aku tidak akan mengusirmu. Akan tetapi, jika jawabanmu biasa saja. Saya mohon maaf, saya akan tetap mengusirmu."


Nina melirik ke arah ibunya mencoba untuk meminta bantuan wanita paruh baya itu.

__ADS_1


.


.


__ADS_2