
“Neng Kinan sudah pulang?” tanya Bik Isa yang baru saja keluar. Tadi dia mendengar suara orang berbicara jadi, wanita itu keluar.
Di ruang tamu sudah ada Kinan, Mama Aisyah dan Adam. Ketiganya memang tadi sedang berbincang, sambil menunggu Hanif yang sedang membersihkan kamar tamu. Tadinya Mama Aisyah mau membantu, tetapi Hanif melarangnya. Lagi pula kamar itu juga sering dibersihkan Bik Isa jadi, tidak terlalu kotor.
Hanif memang belum memberitahu orang rumah mengenai rencana pindah kamar jadi, tidak ada yang menyiapkan. Mama Aida bahkan tidak tahu kepulangan menantunya hari ini. Wanita itu masih tidur di kamarnya setelah minum obat.
“Iya, Bik. Baru saja. Mama Aida ke mana? Aku belum melihatnya," jawab Kinan dengan melihat ke kiri dan ke kanan.
“Mama ada di sini. Kamu pulang kenapa tidak memberi kabar? Mama bisa jemput kamu,” sahut Mama Aida yang baru saja keluar. Sama seperti Bik Isa, dia juga mendengar keributan jadi, wanita itu keluar.
“Mama juga sedang sakit, aku nggak mau menambah sakitnya Mama.”
“Mama sudah tidak apa-apa. Setelah minum obat dari dokter kemarin, badan Mama sudah lebih baik.”
Wanita paruh baya itu ikut duduk bersama dengan yang lainnya di ruang tamu. Dia juga menanyakan mengenai keadaan Kinan dan juga apa saja yang harus dilakukan oleh ibu hamil itu. Mama Aida mendengarkan dengan saksama. Sebagai ibu mertua dia juga ingin yang terbaik untuk menantu dan calon cucunya.
"Mama tidak lihat Hanif, dia ada di mana?” tanya Mama Aida sambil melihat ke sekeliling. Dia pikir anaknya pergi ke kamar atau ke kantor.
"Mas Hanif sedang membereskan kamar tamu, Ma. Kami akan pindah ke kamar bawah, biar lebih mudah untukku jika mau ke mana-mana," jawab Kinan yang diangguki oleh Mama Aida.
"Kenapa nggak bilang dari kemarin. Tahu gitu, Mama suruh orang buat mindahin barang kalian ke bawah."
"Nggak pa-pa, Ma. Pelan-pelan saja."
"Kamarnya sudah siap, Sayang. Kamu mau istirahat sekarang?" tanya Hanif yang baru saja keluar dari kamar tamu.
Terlihat pria itu begitu berkeringat. Padahal kamar tamu juga sering dibersihkan oleh Bik Isa. Pasti Hanif membersihkan semuanya lagi. Dia hanya tidak ingin terjadi sesuatu pada Kinan jadi, pria itu kembali membersihkannya dan memastikan semua baik-baik saja.
__ADS_1
"Nanti saja, Mas. Aku mau duduk di sini dulu," jawab Kinan yang diangguki oleh Hanif.
Pria itu juga ikut duduk di sana dan berbincang sejenak dengan keluarga. Sebenarnya pekerjaan di kantor sudah menunggu, tetapi Hanif masih izin cuti. Besok dia akan kerjakan semuanya, semoga saja tidak ada lembur.
***
Zayna sedang duduk di taman samping rumah bersama Baby Ars. Baru saja sang suami pergi bekerja. Meskipun anaknya belum bisa diajak berbicara, wanita itu sesekali terap bicara dan bercanda dengan bayi itu. Dia selalu gemas dengan tingkah laku putranya.
"Neng Zayna sendirian di sini? Den Ayman mana?" tanya Bik Ira saat mendekati majikannya. Dia ikut duduk di depan Zayna.
"Mas Ayman sudah berangkat baru saja, Bik."
"Oh, saya kira Den Ayman libur."
"Tidak, hanya saja memang Mas Ayman berangkatnya habis makan siang. Dia masih ingin bersama dengan anaknya."
Bik Ira mengangguk mendengar jawaban Zayna. Dia menatap majikannya itu dengan gugup, ingin bertanya, tetapi sungkan. Akhirnya wanita itu pun memberanikan diri.
Dia sudah menjaga anak majikannya itu sejak baru lahir. Wanita itu juga sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Karena itu, saat mendengar apa yang terjadi pada Kinan, Bik Ira sangat khawatir. Dia juga ingin menjenguk dari kemarin, tetapi wanita itu tahu dirinya siapa di rumah ini. Banyak pekerjaan juga ya harus dikerjakan.
"Dia harus benar-benar beristirahat total. Dokter melarang segala kegiatannya untuk saat ini, sampai ada perkembangan yang lebih baik. Setiap minggu juga harus periksa ke rumah sakit."
Bik Ira semakin tidak tenang mendengar apa yang Zayna katakan. "Tapi Non Kinan tidak apa-apa, kan? Tidak ada yang terluka?”
"Tidak, kandungannya saja yang lemah. Bibi kalau khawatir sama Kinan, kenapa nggak jenguk dia? Aku tahu pasti Bibi juga ingin melihat keadaan Kinan, kan?"
Dilihat dari sikap Bik Ira, Zayna bisa tahu jika wanita itu sangat khawatir dengan keadaan Kinan. Mungkin dia merasa tidak enak, jika harus meninggalkan pekerjaan dan melihat keadaan anak majikannya itu. Padahal seluruh keluarga juga tidak ada yang keberatan jika Bik Ira pergi. Keluarga sudah sangat tahu kalau selama ini wanita paru baya itu, selalu mengerjakan pekerjaannya dengan baik.
__ADS_1
"Saya memang ingin tahu keadaan Non Kinan, tapi saya merasa nggak enak kalau harus pergi, Neng. Saya juga tahu siapa saya di rumah ini dan tidak bisa berbuat seenaknya. Saya hanya bisa berdoa, mudah-mudahan nanti Non Kinan bisa berkunjung ke sini. Hingga saya bisa melihat Non Kinan secara langsung."
"Jangan seperti itu, Bik. Bibi bisa kok datang ke sana, kalau perlu sekarang juga nggak pa-pa. Biar aku yang jaga rumah, lagi pula pekerjaan Bibi juga sudah selesai, kan? Sudah tidak ada lagi?"
"Nanti Bibi harus menyiapkan makan siang, Neng. Siapa tahu nanti nyonya atau Tuan pulang, nggak ada yang nyiapin kalau Bibi pergi."
"Insya Allah nggak, Bik. Kan, ada aku, lagi pula mama juga pasti jagain Kinan sampai sore. Tante Aida sedang sakit, Mama Aisyah pasti nggak mau kalau Tante Aida terlalu lelah dan akan semakin membuatnya sakit. Kalau papa juga pasti nggak akan pulang kalau di rumah nggak ada mama."
"Nyonya Aida di rumah sakit juga, Neng?"
"Tidak, Bik. Kinan sudah diperbolehkan pulang. Tadi Mama Aisyah mengirim pesan begitu. Tapi Kinan masih tidak boleh banyak bergerak dan harus tetap di kamar, sambil tiduran untuk sementara waktu. Semoga setelah satu minggu, saat periksa ada kemajuan yang baik dan membuat Kinan bisa sehat seperti sebelumnya."
"Amin."
Bik Isa berpikir sejenak, apakah dirinya harus mengunjungi Kinan yang berada di rumah mertuanya atau tidak. Akan tetapi, rasa penasaran dirinya untuk melihat keadaan Kinan begitu besar. Bahkan sedari pagi dia tidak berhenti bekerja agar pekerjaannya, cepat selesai dengan cepat. Tadi hanya terganggu sebentar oleh Baby Ars yang menangis.
Zayna yang melihat keraguan dalam diri asisten rumah tangganya itu pun, segera memintanya untuk pergi. "Bik, sebaiknya pergi saja, di rumah juga tidak ada siapa-siapa. Nanti kalau aku lapar juga aku bisa ambil sendiri. Bibi jenguk Kinan saja, daripada di rumah penasaran terus."
Bik Ira tersenyum canggung. Dirinya memang sangat ingin tahu Keadaan Kinan. Mungkin memang benar apa yang dikatakan Zayna. Sebaiknya sekarang dia pergi ke rumah Hanif.
"Iya, Neng. Bibi mau menjenguk Non Kinan. Kalau begitu Bibi permisi dulu, nanti kalau ada sesuatu segera hubungi Bibi, ya, Neng?"
"Iya, nanti aku hubungi bibi."
Bik Ira pun segera pergi dari sana. Dia bersiap untuk pergi ke rumah besan majikannya. Di sana sudah pasti ada Nyonya Aisyah, semoga saja nanti majikannya tidak marah padanya karena sudah datang tanpa pemberitahuan. Wanita paruh baya itu menaiki taksi ke sana. Sebelumnya tidak lupa dia juga membawakan bubur kesukaan Kinan, yang sudah dia siapkan sebelumnya.
"Semoga saja nanti Neng Kinan masih suka bubur buatan saya. Orang hamil 'kan biasanya suka berubah-ubah selera makannya," gumam Bik Ira selama dalam perjalanan.
__ADS_1
.
.