
“Aku yakin, Sayang. Semalam juga aku sudah meminta anak buahku untuk mencari tahu, segala sesuatu mengenai anaknya Lukman. Mereka saat ini masih mencari tahunya. Mungkin besok atau lusa mereka sudah menemukan semuanya. Nanti kamu juga bisa menilainya sendiri, kalau perlu kita berkunjung ke pondok pesantren yang dipimpin oleh Lukman sekarang," ucap Ayman pada sang istri.
"Kalau memang dia yang terbaik untuk Arslan, aku akan mendukung pilihanmu. Aku juga ingin memiliki seorang istri yang baik, kita sebagai orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak kita. Kalau Arslan tidak mau menerimanya, aku akan coba untuk membujuknya," sahut Zayna.
Ayman tersenyum, memang inilah yang dia inginkan. Arslan memang sangat patuh pada apa yang dikatakan oleh Zayna jadi, sekali istrinya mengatakan kalau wanita itu baik, putranta pasti akan mau menerimanya. Pria itu sangat tahu bagaimana putranya.
"Mas, apa kamu memang sengaja memberi hukuman mereka seperti itu, supaya kamu bisa mengancam Arslan agar mau menerima perjodohan ini?" tanya Zayna sambil menatap sang suami.
Sejak kemarin dia merasa curiga, pasti ada sesuatu yang disembunyikan oleh sang suami. Namun, wanita itu belum menemukan jawabannya. Sekarang saat mendengar apa yang suaminya katakan, barulah Zayna mengerti semuanya.
Ayman tersenyum sambil menunjukkan deretan giginya. Zayna memang tidak pernah bisa dibohongi, selalu tahu apa yang dia pikirkan. Hal tersebut tentu saja membuat wanita itu mengetahui jawabannya tanpa suaminya menjawab. Zayna menggelengkan kepala, dia tidak habis pikir dengan jalan pikiran sang suami. Bisa-bisanya mengancam sang putra untuk keinginannya.
"Kalau memang nanti Arslan tetap tidak mau bagaimana?" tanya Zayna.
"Kan, ada kamu, Sayang. Aku yakin dia akan menerima apa pun yang kamu katakan."
Zayna menatap sang suami dengan tidak suka. "Kamu memanfaatkan aku?"
"Ini demi kebahagiaan putra kita."
Zayna mendengus, apa yang dikatakan oleh sang suami memang benar. Di lubuk hatinya yang paling dalam, dirinya sama sekali tidak keberatan untuk perjodohan ini. Asalkan itu demi kebaikan putranya, apa pun akan dia lakukan. Semoga saja gadis itu memang yang terbaik untuk Arslan.
"Ya sudah, Mas. Kita lanjutkan saja makan malamnya."
Keduanya pun melanjutkan makan malam tanpa ada anak-anak. Saat ini Arslan dan si kembar pasti sedang ingin berpikir jadi, Zayna tidak ingin mengganggunya. Mereka juga sudah cukup dewasa untuk mengambil keputusan. Meski dalam hati dia berharap Arslan mau menerima perjodohan dari ayahnya.
Wanita itu juga penasaran, gadis seperti apa yang sudah dipilih oleh sang suami. Mudah-mudahan seperti yang pria itu katakan, tanpa mengurangi atau melebihkan. Arslan laki-laki dan dia memiliki tanggungjawab yang besar untuk keluarganya.
Sementara itu, Arslan yang ada di kamar tampak termenung dengan berdiri di balkon, sambil melihat ke depan. Dirinya benar-benar bingung, di satu sisi dia tidak ingin merepotkan adik-adiknya, yang harus menerima hukuman karena sudah membantu kemarin. Di sisi lain, dia tidak ingin menerima perjodohan dengan seorang gadis yang sama sekali tidak dikenalnya.
Di tengah kegalauannya Arslan memutuskan untuk shalat ista. Tadi dirinya juga belum melaksanakannya, semoga setelah ini pria itu bisa berpikir dengan jernih dan menentukan pilihan yang tepat. Dia tidak ingin pilihannya akan disesali suatu hari nanti. Sampai detik ini Arslan memang belum memiliki tambatan hati, pria itu juga tidak tahu wanita seperti apa yang ingin dicari.
__ADS_1
*****
"Ada yang dapat hukuman, nih!" goda Adam saat memasuki kamar adiknya.
Zea hanya diam tidak menanggapi. Hanif memang menghukum putrinya dengan tidak boleh keluar rumah selama satu bulan. Kuliah pun bisa lewat online. Pria itu sudah menghubungi pihak universitas dan mereka tidak mempermasalahkannya. Tentu saja karena Hanif juga salah satu penyumbang dana terbesar di sana.
Adam yang tahu jika sang adik sedang kesal, mencoba untuk menghiburnya. Biasanya Zea yang selalu usil dan cerewet, kini hanya diam dan tidak bersemangat. Sang kakak melihatnya pun tidak tega.
"Lagian kamu kenapa sih, Dah. Ikut-ikutan sama si kembar mencuri di rumah orang. Itu sudah termasuk tindakan kriminal," ucap Adam lagi sambil duduk di tepi ranjang adiknya.
"Aku 'kan cuma bantuin mereka, Kak. Lagi pula sama saudara harus saling tolong menolong.”
"Tolong menolong memang bagus, tapi tidak dalam hal mencuri atau perbuatan kriminal lainnya. Itu tidak dibenarkan. Kalian mencuri apa di sana? Om Ayman dan Tante Zayna juga pasti sudah memenuhi kebutuhan mereka. Memang butuh apa lagi?"
"Bukan apa-apa, cuma barang Kak Arslan saja yang ada sama wanita itu," jawab Zea seadanya. Dia tidak mungkin menjawab pertanyaan kakaknya dengan jujur jika mereka sedang mencuri DVD terlarang. Apalagi dirinya juga sempat menonton meskipun hanya sebentar. Mengingat video itu membuat otak Zea tercemar dan memikirkan hal yang tidak-tidak.
"Lain kali kalau mereka ajak kamu lagi, jangan mau, kecuali dalam hal kebaikan. Kalau kamu ikut mencuri seperti kemarin, bukan hanya papa dan mama yang marah, Kakak juga akan marah sama kamu."
Gadis itu memilih membuka bukunya. Dia terlalu malas untuk berdebat, apalagi suasana hatinya saat ini sedang kacau. Saat ini yang Zea butuhkan hanya hiburan, bukan nasihat atau kata-kata bijak yang sering gadis itu dengar. Sedari tadi dia juga tidak bisa menghubungi si kembar, jadi dirinya tidak bisa bercerita.
"Kakak bukan marah sama kamu, hanya kecewa saja. Kenapa kamu sampai berbuat seperti itu. Kamu bukan anak kecil lagi, yang tidak bisa membedakan mana yang benar dan yang salah. Meskipun nanti si kembar atau Arslan meminta kamu melakukannya, seharusnya kamu menolak."
"Tidak, Kak. Kakak salah, sekalipun mereka tidak meminta bantuan, kalau aku tahu mereka sedang dalam masalah, aku akan menolong mereka. Meskipun harus bertarung dengan nyawa karena bagiku, saudara adalah segalanya. Apalagi mereka sudah sangat menyayangiku."
Adam merasa tertampar dengan jawaban adiknya. Selama ini dia tidak pernah sekalipun membantu mereka. Keluarganya juga baik, terutama Ayman dan Zayna. Mereka menganggap dirinya bagian dari keluarga meski sebenarnya bukan.
Zea benar, mereka memang selalu baik padanya. Setiap kebaikan mereka juga tidak ada pamrih, ketiganya selalu tulus dari dalam hati. Mana mungkin saat mereka sedang dalam kesulitan, dirinya justru berpura-pura tidak tahu bahkan menolak membantu. Akan tetapi, bukan berarti mereka harus berurusan dengan pihak yang berwajib.
"Ya sudah, Kakak mau kamar dulu mau istirahat. Kamu jangan tidur terlalu malam, besok harus kuliah."
"Iya, Kak." Zea memandangi punggung kakaknya hingga hilang di balik pintu. Ada sesuatu perasaan yang tidak bisa digambarkan.
__ADS_1
Pagi-pagi sekali Adam sudah bersiap untuk pergi ke luar kota, di mana kedua orang tua Alin tinggal. Pria itu sudah mengatakan pada orang tuanya semalam dan mereka mengizinkan. Zea yang tidak tahu apa pun merasa terkejut. Dirinya bahkan tidak mengetahui seperti apa wanita pilihan kakaknya.
"Kakak beneran mau nikah sama wanita yang bernama Alin itu?" tanya Zea pada kakaknya. Gadis itu baru saja masuk ke kamar pria itu setelah mendapat kabar dari mamanya.
"Iya, dong, Sayang. Memangnya kenapa? Apa kamu mau ikut? Ingat kalau kamu masih ada hukuman," sela Adam yang kembali melanjutkan berkemas. Dia hanya akan membawa beberapa baju saja. Pria itu tidak bisa berlama-lama di sana, pekerjaan di sini sudah menanti.
"Kak, kalau aku meminta kakak untuk tidak menikah, apa Kakak akan menuruti keinginanku?" tanya Zea dengan pelan, membuat Adam mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh adiknya.
Adam tertawa sumbang, mencoba untuk menghibur diri jika apa yang dikatakan adiknya hanya lelucon. "Kamu bicara apa, sih? Kamu pasti sedang bercanda."
"Apa aku terlihat sedang bercanda?" tanya Zea dengan wajah serius, hingga menghentikan tawa Adam.
"Kenapa kamu melarang Kakak untuk menikah? Jangan bilang ini karena si kembar. Kamu tahu 'kan kalau kakak tidak memiliki perasaan pada mereka," jawab Adam dengan kesal. Dia tidak pernah berpikir jika Zea lebih memilih si kembar daripada dirinya.
"Kalau padaku, apakah Kak Adam juga tidak memiliki perasaan?" tanya Zea memberanikan diri.
Sungguh pertanyaan yang membuat Adam terkejut sekaligus bingung. Pria itu sama sekali tidak mengerti arah pembicaraan adiknya. Dia merasa jika Zea sudah mulai melantur, pasti ini karena hukuman yang diterima hingga membuatnya tertekan.
"Kamu bicara apa, Zea? Kakak sama sekali tidak mengerti."
"Aku cinta sama Kakak."
"Iya, Kakak tahu, Kakak juga cinta sama kamu."
"Tidak, Kakak tidak tahu, aku cinta sama Kakak selayaknya cinta seorang wanita pada laki-laki, bukan adik kepada kakaknya."
Adam menggeleng, dia tidak percaya dengan apa yang gadis itu katakan. Bagaimana mungkin itu bisa terjadi. "Itu tidak mungkin, Zea. Kakak ini Kakak kamu!"
"Aku tahu kalau Kakak bukanlah Kakak kandungku. Apa salahnya kalau aku juga memiliki perasaan pada Kakak? Aku mencintai kakak. Aku tidak ingin Kakak menikah dengan wanita lain. Itu juga yang membuat aku selama ini selalu menjauhkan setiap wanita yang dekat dengan Kakak. Aku selalu beralasan jika itu semua demi Aini, padahal itu aku lakukan untuk diriku sendiri. Aku tidak ingin Kakak dimiliki orang lain, Kak Adam hanya milikku," ucap Zea dengan meneteskan air mata.
.
__ADS_1
.