
Aina sedang berada di dalam kamar. Dia memandangi foto pernikahannya bersama dengan Ali yang berada di galeri ponsel. Dua hari tidak bertemu dengan sang suami membuat wanita itu merasa sangat rindu, tetapi dirinya tidak bisa berbuat apa-apa, selain hanya berkirim pesan. Pria itu memang tidak pernah lupa untuk menanyakan kabar Aina, serta apa saja yang dilakukan oleh istrinya itu.
Namun, dia tidak berani melakukan panggilan video, takut jika dirinya akan menangis di depan sang istri. Apalagi mengingat kesalahan yang sudah dilakukan oleh ibunya. Suara ketukan pintu membuyarkan lamunan Aina. Segera wanita itu membukanya.
"Mama!"
"Ini sudah waktunya sarapan, kenapa belum turun juga?" tanya Zayna dengan lembut.
"Iya, Ma. Aku baru selesai mandi, tadi habis subuh aku tidur lagi jadi kesiangan deh," jawab Aina berbohong. Nyatanya dia hanya duduk di atas ranjang.
"Ya sudah, ayo kita turun! Papa sudah nunggu di bawah. Mama mau panggil Aini."Aina mengangguk dan segera meletakkan ponselnya di meja, kemudian turun. Di meja makan hanya ada Papa Ayman, wanita itu pun duduk tanpa bersuara.
"Selamat pagi," sapa Aini kemudian duduk di samping saudara kembarnya.
"Selamat pagi," sahut Aina tersenyum, sementara Ayman hanya diam menikmati kopinya.
Semenjak Aina keluar dari rumah sakit, memang tidak ada satu kata pun yang keluar dari bibir pria itu. Dia seolah menjauhi putrinya. Hal itu tentu saja membuat Aina merasa sedih karena dirinya dulu sangat dekat dengan papanya, tetapi sekarang seperti ada jurang diantara keduanya.
"Kenapa diam? Ayo nikmati sarapannya! Sebelum nanti makanannya dingin," seru Zayna yang melihat ketegangan antara suami dan putrinya.
Mereka pun makan dalam keadaan tenang. Setelah sarapan, Aina memberanikan diri berbicara pada papanya. Dia tidak ingin semuanya berlarut-larut dan akan semakin merenggangkan hubungan mereka.
"Pa, aku minta maaf jika selama ini sudah menjadi anak yang durhaka sama Papa dan Mama. Yang Papa katakan, hingga sekarang inilah balasan untukku. Aku sudah sangat berdosa pada Papa," ucapnya dengan air mata yang menetes.
__ADS_1
Ayman yang tadinya menikmati kopi pun langsung menatap putrinya. Dia merasa terluka jika keluarganya seperti ini.
"Lupakan saja, itu masalah dulu. Sekarang ini yang harus kamu pikirkan adalah masa depan kamu sendiri. Kamu mau yang seperti apa, Papa akan mendoakan untuk kehidupanmu."
"Apa Papa tidak akan memisahkan aku dengan Mas Ali?" tanya Aina dengan wajah yang sudah basah oleh air mata.
"Kamu sudah besar, pasti bisa mengambil keputusan sendiri. Apalagi sekarang kamu juga seorang istri, pasti mengerti mana yang terbaik untuk rumah tanggamu. Apa pun keputusan yang kamu buat, Papa pasti akan mendukung."
"Kenapa Papa tidak melarangku bersama Mas Ali? Bolehkah aku tahu?"
Sejak kemarin Aina penasaran, kenapa papanya tidak meminta dirinya berpisah dengan Ali. Padahal sudah jelas jika keluarga sang suami sudah menyakitinya.
"Sekarang kamu adalah seorang istri. Meskipun kamu putri Papa, tapi kewajiban kamu masih tetap sama sebagai seorang istri. Lagi pula Papa juga tidak melihat kebencian di mata suamimu, tidak ada alasan Papa untuk memisahkan kalian, tapi jika kamu memang ingin pisah, Papa pasti akan mendukungmu."
Air mata Aina semakin deras. Meskipun papanya sudah kecewa dengan apa yang sudah dia lakukan sebelumnya, tetap saja pria itu yang paling mengerti keadaan dirinya. Sungguh wanita itu merasa sangat beruntung memiliki orang tua seperti Ayman, yang selalu ada di sampingnya. Begitu juga dengan saudaranya, pasti akan mendukung apapun keputusan Aina.
Ayman bangun dari duduknya dan mendekati sang putri. Dia memeluk Aina dengan wajah sedih, wanita yang seharusnya bahagia bersama dengan sang suami, kini harus terkendala dengan sikap mertuanya. Namun, dalam hati pria itu berjanji tidak akan melepas Aina begitu saja. Dia tetap akan mengirim orang-orang kepercayaannya untuk mengawasi putrinya.
"Papa percaya sama kamu, tapi ingatlah! Jangan sampai sakit lagi. Apa pun keadaannya, kamu harus bisa menjaga kesehatan karena itu sangat penting. Papa tidak mau melihatmu seperti kemarin lagi."
"Iya, Pa. Aku akan selalu mengingat nasehat Papa."
Semua orang larut dalam suasana haru. Ini juga akan jadi pelajaran untuk mereka kelak jika harus mengenal orang lain dengan baik kalau ingin menjalin hubungan. Apalagi menyangkut keluarga.
__ADS_1
"Tuan, Nyonya. Di depan ada tamu," ucap ART mereka.
"Siapa, Bik?" tanya Zayna.
"Beliau mengatakan kalau namanya Bu Nur, ibu mertuanya Non Aina. Katanya ada yang perlu dibicarakan."
Semua orang saling pandang, dalam hati mereka bertanya, apa tujuan wanita itu datang ke sini. Apakah ingin meminta maaf atau sebaliknya. Walaupun begitu, Ayman meminta asisten rumah tangganya agar mempersilahkan tamunya masuk.
"Ayo kita keluar! Tidak baik membiarkan tamu menunggu," ajak Ayman.
Aina hanya bisa menuruti perkataan papanya. Dalam hati dia takut jika nantinya sang mertua akan membuat ulah di sini. Hal itu akan semakin membuat papanya bertambah marah. Padahal pria itu sudah mulai luluh. Namun, dirinya juga tidak mungkin membiarkan tamunya begitu saja.
Ayman masuk ke dalam ruang tamu diikuti oleh istri dan putrinya. Mereka saling bersalaman satu sama lain dan mengambil duduk. Tidak lupa juga minuman sudah terhidang untuk tamu mereka.
"Silakan diminum, Bu. Maaf hanya ini sekedarnya," ucap Zayna.
"Terima kasih, Bu. Maaf merepotkan," sahut Bu Nur yang sudah merasa tegang. Nyalinya menciut saat melihat ekspresi besannya.
"Saya tidak bisa berbasa-basi. Saya tahu Anda ke sini pasti memiliki tujuan jadi, sebaiknya langsung katakan saja apa tujuan Anda?"
"Saya datang ke sini untuk meminta maaf pada Aina dan Anda sekeluarga karena sudah membuat Aina menderita selama ini. Di sini saya yang bersalah, putra saya tidak melakukan kesalahan apa pun. Jika Anda ingin marah atau ingin balas dendam, lakukan saja pada saya. Jangan lakukan apa pun pada Ali, dia sudah mendapatkan hukuman atas perbuatan yang tidak dia lakukan." Air mata Bu Nur menetes dan semakin deras.
Ayman memandang sang istri, mereka tidak menyangka besannya akan meminta maaf. Padahal keduanya mengira akan ada drama panjang.
__ADS_1
"Maksud Ibu kalau Mas Ali sudah mendapat hukuman itu apa?" tanya Aina dengan wajah bingungnya.
.