Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
320. S2 - Aina pingsan


__ADS_3

"Mas, aku pamit mau ke rumah Tante Zayna, ya! Barusan aku lihat status Kak Hira kalau Aini sedang sakit. Aku mau jengukin dia ke sana. Boleh, kan?" tanya Zea pada sang suami.


Saat ini keduanya berada di restoran, tadi pagi Adam memaksa pergi, sebenarnya Zea tidak mau ikut. Akan tetapi, pria itu memaksa karena istrinya juga harus tahu bagaimana perkembangan restoran. Meskipun semuanya tanggung jawab Adam, tetapi wanita itu juga perlu tahu secara detail.


"Tapi ini aku lagi ngerjain laporan sebentar, Sayang. Kamu mau nggak nungguin aku, nanti kita ke sana setelah makan siang saja. Aku ke sana sendiri saja, Mas. Kamu nanti sore saja sekalian jemput aku di sana. Aku juga udah kangen sama ponakan aku yang lucu. Nanti kita juga bisa punya sendiri."


"Iya, aku pergi dulu, Mas." Zea mencium punggung tangan sang suami dan berlalu dari sana.


"Tunggu, Sayang. Kamu mau naik apa?" tanya Adam.


"Aku naik taksi online saja, Mas."


"Jangan, lebih baik bawa mobil saja, biar nanti aku pulangnya naik taksi." Adam pun menyerahkan kunci mobil pada sang istri.


"Memang kamu nggak apa-apa, Kak?" tanya Zea yang merasa tidak enak. Itu juga bagus karena keadaan Adam masih tahap pemulihan.


"Tidak apa-apa, hati-hati jalan."


Zea mengangguk dan segera pergi. Sepanjang perjalanan, dia jadi teringat dengan Aina. Biasanya kalau si kembar satunya sakit maka satunya lagi juga sakit. Kangen juga dengan sepupunya yang satu itu, entah bagaimana sekarang keadaannya. Semoga saja baik-baik saja karena sekarang Aina sudah tidak sama seperti dulu yang selalu membalas pesannya dengan cepat.


Jika sekarang kirim pesan, malamnya baru dibalas atau bahkan mungkin keesokan harinya. Entah itu karena kesibukannya atau memang tidak ada waktu memegang ponsel. Mungkin juga karena Aina masih membiasakan diri di sana.


Tidak berapa lama akhirnya dia sampai juga di halaman rumah keluarga Ayman, segera wanita itu turun dan memasuki rumah yang kebetulan tidak dikunci.


"Assalamualaikum," ucapnya begitu memasuki rumah.


"Waalaikumsalam," sahut Zayna yang kebetulan berada di ruang keluarga bersama dengan cucunya. "Zea, ayo masuk! Kamu sendirian?"


"Iya, Tante. Mas Adam lagi masih ada kerjaan di restoran jadi belum bisa ikut datang. Mungkin nanti sore sekalian jemput aku."


"Sekarang panggilnya mas nih?" goda Zayna dengan tersenyum.


"Ah, Tante." Aina tersenyum malu. "Aku mau jenguk Aini, Tante. Tadi aku lihat di status Kak Hira katanya Aini sakit, makanya aku buru-buru datang ke sini."


"Iya, tadi pagi memang demam, biasalah mungkin dia kangen sama saudaranya. Baru kali ini mereka terpisah," jawab Zayna yang merasa memang seperti itu.


Tadi waktu Aini tertidur, dia sempat masuk ke dalam kamar sang putri untuk melihat keadaannya. Apakah panasnya turun atau tidak dan saat itu, dia mendengar gadis itu mengigau memanggil nama saudara kembarnya. Dari situlah dia memastikan jika itu hanya penyakit rindu.


Meskipun jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, Zayna tahu jika itu adalah ikatan batin antara mereka yang mengatakan, bahwa keadaan Aina sedang tidak baik-baik saja. Namun, sebisa mungkin Zayna menepis pikiran buruk karena tadi dia sempat melihat ponsel Aini. Di sana ada pesan dari Aina kalau semalam baru berbalas pesan dengan saudaranya.


"Ya sudah, kamu masuk ke kamar Aini saja, di sana juga ada Kak Hira."


"Iya, Tante." Zea segera berlalu menaiki tangga menuju lantai dua.


"Assalamualaikum, sakit apa kamu tiba-tiba saja bisa sakit," tanya Zea yang baru memasuki kamar sepupunya.


"Aku juga nggak tahu, padahal kemarin biasa saja tapi semalam tiba-tiba saja kepalaku pusing."


"Makanya jangan banyak bergadang."


"Siapa juga yang bergadang, temennya aja nggak ada," kilah Aini, biasanya akan ada Aina yang menemaninya begadang.


Meskipun pada akhirnya saudara kembarnya akan tertidur, tetapi dia tidak masalah asal ada orang di sampingnya. Zea pun ikut bergabung dengan Aini dan Hira, yang sedang berbicara. Tiba-tiba saja perkataan Aini mengganggu pikiran mereka.


"Sebenarnya kalau boleh jujur, semalam aku mimpi Aina, dia bilang rindu sama aku, tapi nggak bisa datang ke sini. Aku jadinya semakin khawatir sama dia." Aini tertunduk lesu, mengingat keberadaan saudara kembarnya.


"Bagaimana kalau kita jenguk Aina ke sana, siapa tahu dia memang lagi sakit," sahut Zea.


"Aku sih mau-mau saja, tapi kalau aku ke sana sendiri mana aku berani, sedangkan kalian berdua sudah ada suami masing-masing. Apa mereka mengizinkan Kalian pergi? Aku tidak mau gara-gara aku kalian bertengkar dengan suami."


"Iya, juga ya!"


"Kalau Kakak insya Allah masih bisa. Nanti Kakak bisa beralasan ingin ke rumah Abi saja," ucap Hira yang seketika membuat Aini tersenyum, akhirnya ada yang bisa menemaninya. Dia juga bisa beralasan ikut bersama Hira.


Zea terlihat murung karena sepertinya akan sulit bicara dengan Adam. "Kalau aku nggak tahu, Kak Adam pasti nggak bolehin pergi, tapi nanti aku akan coba membujuknya. Nanti bisa menginap di rumah Kak Hira, jadi Kak Adam pasti nggak terlalu khawatir. Nanti aku coba, deh. Bagaimana hasilnya, aku akan kirim pesan ke kamu."

__ADS_1


"Iya, mudah-mudahan saja besok pusingku hilang, jadi aku bisa ikut kalian pergi. Sekalian juga mau sampaikan berita ke Aina mengenai persiapan acara wisuda."


"Oh iya, kalian semua sebentar lagi wisuda sama-sama, ya! Apa Aina sudah punya bajunya?"


"Mengenai itu gampang diatur."


****


Keesokan paginya, seperti biasa setiap kali Ustaz Ali pergi mengajar, Aina pasti akan melakukan seluruh pekerjaan rumah. Dari tadi pagi dia belum sarapan, saat akan makan tadi Fiani minta tolong agar Aina menyetrika bajunya. Sebenarnya wanita itu menolak karena ingin sarapan dulu karena semalam dia hanya makan sedikit, tetapi karena melihat Fiani memohon-mohon di depan Ali, selain itu juga memang dia sudah terlambat. Akhirnya Aina pun membantunya.


Begitu selesai menyetrika pakaian, dia berniat untuk sarapan. Namun, tidak ada satu pun makanan yang wanita itu temukan. Aina mencoba untuk mencari di lemari. Namun, tidak juga ditemukan. Ada satu lemari yang terkunci, dia mencoba untuk mencari kuncinya, teringat jika sang mertua terkadang memang menyimpan makanan di sana.


"Kamu lagi cari apa?" tanya Bu Nur pada menantunya.


"Aku lapar, Ma. Dari pagi aku belum sarapan, aku takut maghku kambuh."


"Halah, manja! baru juga beberapa jam tidak makan saja sudah bilang sakit, sudah sana selesai kerjaan kamu! Baru bisa makan!" perintah Bu Nur.


"Tapi, Bu, perutku sudah melilit sekali. Aku punya sakit magh nanti takut kambuh."


"Ya sudah, kalau kamu nggak mau kerja, jangan harap kamu bisa makan." Bu Nur segera pergi dari sana.


Aina pun melanjutkan pekerjaannya yaitu, menyapu dan mengepel, tubuhnya benar-benar sangat lelah. Ditambah lagi dengan perutnya yang terasa sangat melilit. Akhir-akhir ini memang dia makan tidak tepat waktu. Banyak sekali yang harus dikerjakan atau memang pekerjaan yang disengaja diberikan mertua padahal sangat mudah.


"Assalamualaikum," ucap seorang wanita yang berada di luar.


Aina pun segera ke depan untuk melihat siapa yang datang. "Waalaikumsalam." Dibukanya pintu ternyata ada Umi Rikha di sana. "Umi, apa kabar?" sapanya sambil mencium punggung tangan wanita itu.


"Alhamdulillah, Umi baik, Nak. Kamu sendiri bagaimana?"


"Saya juga baik, Umi."


"Umi datang ke sini ingin berkunjung, sekalian Umi kangen sama kamu jadi, Umi ke sini," ucap Umi Rikha berbohong.


"Silakan duduk, Umi."


Dari arah dalam terdengar seseorang sedang berjalan, siapa lagi kalau bukan Bu Nur.


"Ada Umi Rikha di sini! Maaf saya tidak tahu, tadi di belakang sedang nyuci baju. Cucian hari ini banyak sekali," ucapnya yang seketika membuat Aina menoleh ke arah mertuanya.


Bisa-bisanya wanita itu berbohong, padahal sudah jelas-jelas tadi dirinya yang mencuci baju, sementara sang mertua enak-enakan nonton acara televisi.


"Tidak apa-apa, Bu Nur. Saya mengerti."


"Umi mau minum apa? Biar saya ambilkan," tawar Bu Nur sambil tersenyum.


"Tidak usah, Bu. Saya datang ke sini hanya sebentar. Aina, kamu kenapa berdiri saja? Ayo duduk sini!"


Aina pun menuruti keinginan wanita itu dan duduk di sana, setidaknya dia bisa beristirahat sejenak. Dirinya benar-benar sudah kelelahan. Umi Rikha berbincang banyak hal dengan Bu Nur, dari mulai mengenai pondok juga tentang kehidupan sehari-hari dan tugas seorang istri.


Bu Nur memang sengaja membicarakan hal itu untuk menyindir Aina. Namun, sang menantu yang sedang sakit kepala, sama sekali tidak mendengarkan. Pikirannya saat ini adalah bagaimana caranya rasa pusing di kepalanya bisa hilang seketika. Dia tahu saat ini sakitnya sebentar lagi akan kambuh, tetapi dirinya tidak menemukan makanan apa pun.


Bagaimana Aina bisa makan, obat juga dia sama sekali tidak membawa karena sudah lama penyakitnya tidak kambuh. Selama ini Mama Zayna sungguh sangat teratur dalam makanan anak-anaknya.


"Ya sudah, Bu. Saya permisi, terima kasih atas waktunya," pamit Umi Rikha yang diangguki oleh Bu Nur.


Aina juga ikut tersenyum dan akan ikut mengantar ke depan. Namun, baru saja wanita itu berdiri, tiba-tiba pusing yang dirasakan semakin menjadi dan akhirnya tubuhnya tumbang juga, ia pingsan di sana. Umi Rikha merasa panik, dia berteriak minta tolong, sementara Bu Nur hanya bisa berdiam diri saja, tubuhnya membeku antara terkejut dan takut.


Ada juga rasa kesal karena Aina seperti sedang mencoba untuk menarik perhatian orang lain. Dia tahu setelah ini pasti akan ada masalah untuknya. Beberapa orang yang mendengar teriakan Umi Rikha pun masuk ke dalam rumah. Mereka adalah tetangga dari Bu Nur.


"Ada apa, Umi? Kenapa Umi berteriak? Ada apa dengan istri Ustaz Ali?" tanya salah satu orang yang masuk tadi.


"Di sini ada yang punya mobil? Tolong diantarkan kami ke rumah sakit, tadi saya ke sini jalan kaki jadi, nggak bawa kendaraan," pinta Umi Rikha tanpa menjawab pertanyaan pria itu.


"Boleh, Umi. Kebetulan mobil Saya ada di rumah, sebentar biar saya ambil," sahut seorang pria yang segera berlari keluar untuk mengambil mobilnya di rumah, sementara yang dua tadi mencoba mengangkat tubuh Aina.

__ADS_1


Tadi keduanya merasa sungkan, mengingat yang pingsan adalah seorang wanita, tetapi setelah Umi berkata jika ini keadaannya darurat, barulah mereka berani mengangkat tubuh wanita yang bukan mahram.


"Bu Nur, kenapa diam saja? Ayo ikut ke rumah sakit!" seru Umi Rikha yang seketika menyadarkan Bu Nur.


"Tunggu sebentar, Umi, biar saya ambil tas dulu."


Bu Nur segera pergi ke kamarnya untuk mengambil tas dan ikut bersama Umi Rikha pergi ke rumah sakit. Dalam perjalanan, Umi Rikha meminta Bu Nur untuk menghubungi Ali agar segera menyusul ke rumah sakit, sementara dirinya sendiri bingung. Apakah dia harus memberi kabar pada besannya atau tidak.


Akan tetapi, jika sampai Bu Zayna tahu dari orang lain takutnya hubungan mereka akan merenggang. Terpaksa Umi Rikha memberi kabar pada Hira saja. Lebih baik putrinya yang memberi kabar pada Bu Zayna agar tidak menimbulkan salah paham. Dia yakin Hira lebih bisa berbicara dengan mertuanya.


Tidak berapa selam,a mereka akhirnya sampai juga di rumah sakit. Umi Rikha minta perawat untuk membantu membawa pasien ke dalam. Pemilik mobil tadi pamit untuk pulang, Umi Rikha ingin memberi uang. Namun, pria itu menolak karena ikhlas menolongnya. Lagi pula dia juga merasa tidak enak jika menerima uang dari istri pemimpin pondok pesantren, tempat anaknya menimba ilmu.


Umi Rikha hanya bisa mengucapkan terima kasih karena sudah mau menolong. Begitu juga dengan dua temannya yang lain. Dokter sedang memeriksa keadaan Aina, sementara Umi Rika sedang menunggu di depan ruangan bersama dengan Bu Nur. tidak berapa lama terdengar langkah kaki seseorang sedang berlari. Siapa lagi kalau bukan Ali.


Setelah mendapat pesan dari ibunya, dia segera menuju ke rumah sakit. Tadi pagi sebelum pergi bekerja pria itu melihat keadaan istrinya baik-baik saja, tetapi kenapa tiba-tiba masuk rumah sakit. Itulah yang membuat dia bingung.


"Bagaimana keadaan Aina, Umi, Ibu?" tanya Ali dengan napas yang masih ngos-ngosan.


"Masih diperiksa oleh dokter, semoga saja dia baik-baik saja," jawab Umi Rikha.


Bu Nur diam saja, dia tidak terlalu memusingkan bagaimana keadaan menantunya. Tiba-tiba sebuah pukulan melayang di pipi Ali hingga membuat pria itu jatuh tersungkur. Suara pekikan dari Bu Nur membuat orang yang berada di sekitar menatapnya.


"Kamu sudah mengabaikan peringatanku sebelumnya. Jangan pernah menyakiti putriku, tapi kamu justru menganiayanya," ucap Ayman dengan amarah yang begitu besar.


"Papa, maaf. Maksud Papa apa? Aku tidak pernah menganiayanya." Ali mencoba untuk membela diri.


"Kamu itu laki-laki yang sama sekali tidak bisa bertanggung jawab. Kamu tanyakan saja pada ibumu, apa saja yang sudah dia lakukan pada putriku, hingga sampai masuk rumah sakit seperti ini. Kalau terjadi sesuatu pada putriku, aku tidak akan segan-segan memenjarakan kalian," pungkas Ayman yang segera mendekat ke arah pintu di mana putrinya sedang ditangani, tanpa memedulikan tatapan tajam Bu Nur.


Umi Rikha yang melihatnya pun cukup terkejut. Selama ini orang yang dianggapnya baik, ternyata bisa berbuat kasar juga. Bahkan terlihat mengerikan, itu semua demi melindungi putrinya. Dia sangat berarti perasaan seorang ayah, terapi tidak dibenarkan juga tindakan kekerasan itu.


"Ibu, apa sebenarnya yang terjadi? Kenapa Aina sampai masuk rumah sakit? Tolong jawab yang jujur! Jangan menutupinya," tanya Ali pada ibunya, dia tidak ingin disalahkan atas perbuatan yang tidak pernah pria itu lakukan. Aina juga tanggung jawabnya, tidak mungkin dia tidak tahu apa-apa.


"Ibu juga tidak tahu apa yang sudah terjadi," jawab Bu Nur dengan suara bergetar karena takut kesalahannya akan terbongkar.


"Bu, tolong jawab dengan jujur." Ali kembali memohon pada ibunya agar bisa memberi jawaban yang melegakan.


"Memangnya apa yang sudah Ibu lakukan? Ibu tidak melakukan apa-apa, kamu jangan termakan omongan mertuamu itu! Dia itu tidak tahu apa-apa, sebaiknya kamu diam saja. Kita tunggu dokter memeriksanya," ucap Bu Nur, membuat orang yang ada di sana menatap wanita itu. Namun, dia sama sekali tidak peduli dan lebih memperhatikan dirinya sendiri.


"Ibu tolong karakan sejujurnya!"


"Ibu sudah jujur, mau jujur bagaimana lagi?"


Bu Nur masih tetap kekeh dengan keterdiamannya, hal itu tentu saja membuat Ali kesal, tetapi tidak bisa berbuat apa-apa. Tidak berapa lama, pintu ruangan yang ada di depan terbuka. Tampak seorang dokter keluar dengan menghela napas sambil tersenyum. Ayman segera mendekatinya.


"Bagaimana keadaan putri saya, Dok?" tanya Papa Ayman.


"Apakah pasien sebelumnya memiliki sakit maag?" tanya dokter tersebut.


"Benar, Dok. Bahkan dulu pernah sampai dirawat berhari-hari," jawab Ayman.


Jika ditanya bagaimana pria itu sampai di rumah sakit, jawabannya tentu saja selama ini dia mengirim mata-mata di sekitar tempat tinggal putrinya. Meskipun hanya bisa melihat dari luar saja, Ayman tidak akan tega sebelum memastikan jika Aina benar-benar bahagia.


"Tadi memang maggnya kambuh. Untunglah cepat dibawa ke sini, kalau tidak pasti akan sangat berbahaya untuk dia. Jangan membuat pasien tertekan dan jangan lupa juga kalau makan jangan sampai telat. Hal itu akan semakin memicu maggnya kembali lagi," tutur dokter.


"Tapi istri saya selalu makan tepat waktu, Dok? Mana mungkin dia bisa sampai seperti itu!" Ali mencoba membela diri, dia tidak terima jika dirinya terus-terusan disalahkan.


"Apa kamu yakin dengan apa yang kamu ucapkan tadi?" Ayman melirik ke arah besannya. Namun, wanita itu sengaja tidak mau melihatnya. "Aku saja tidak yakin, putriku tidak akan sampai seperti ini jika dia baik-baik saja. Dia bukan orang yang suka bermain drama."


"Tapi ibuku tidak mungkin melakukannya. Bagaimanapun juga dia istriku dan dia menganggapnya seperti anak sendiri."


"Ya sudah kalau tidak percaya, terserah padamu." Ayman beralih menatap dokter. "Terima kasih, Dok."


"Sama-sama, Pak Ayman. Kalau begitu saya permisi dulu."


Ayman tersenyum kemudian mengangguk dan segera masuk ke dalam ruangan, sementara dokter tersebut segera pergi dari sana.

__ADS_1


__ADS_2