Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
172. Ingin menjenguk baby


__ADS_3

Hanif dan Kinan sedang duduk berdua di taman samping rumahnya. Keduanya baru saja selesai menikmati makan malam. Papa Hadi dan Mama Aisyah sudah pergi memenuhi undangan salah satu temannya.


“Mas, maaf tadi aku pulangnya telat,” ucap Kinan pada sang suami.


“Tadi kamu sudah mengatakannya, sekarang kenapa diulang lagi?”


“Aku hanya merasa bersalah saja.”


“Sudah, tidak usah dibahas lagi. Bagaimana dosen barunya? Apa benar galak seperti yang digosipkan?” tanya Hanif untuk mengalihkan perhatian dan juga mencari jawaban dari rasa penasarannya.


“Bisa dibilang seperti itu, tapi aku rasa semua dosen memang harusnya begitu. Kamu juga begitu dulu,” jawab Kinan.


Dia sengaja tidak mengatakan apa yang terjadi padanya tadi. Wanita itu tahu jika sang suami sedang dilanda rasa cemburu. Kinan hanya tidak ingin masalahnya mempengaruhi pekerjaan Hanif.


Kinan merebahkan kepalanya di pangkuan sang suami. “Mas, boleh aku bertanya sesuatu? Aku harap kamu menjawabnya dengan jujur.”


“Tanya apa? Jika aku bisa, aku pasti akan menjawabnya dengan jujur,” jawab Hanif sambil mengusap Rambut panjang Kinan.


“Apa benar kalau kamu merelakan cita-citamu untuk menjadi dosen karena aku? Atau karena memang permintaan papa?”


“Dua-duanya."


“Kok, dua-duanya?”


“Aku merelakan semuanya memang demi kamu, tapi itu juga kewajibanku sebagai anak tunggal di rumah ini. Tidak ada lagi yang bisa mereka harapkan. Hanya tinggal aku satu-satunya. Kenapa? Kamu kecewa dengan jawabanku?” tanya Hanif saat melihat istrinya terdiam.


“Tidak, justru aku senang kamu Memikirkan orang tuamu. Sangat jarang orang seperti kamu. Aku selalu yakin jika ada seorang pria yang menyayangi kedua orang tuanya, pasti mereka juga akan memperlakukan istri dan anaknya secara baik.


“Kalau mengenai itu jangan meragukanku. Aku akan selalu menyayangimu dalam keadaan apa pun. Berjanjilah untuk tidak meninggalkanku,” ucap Hanif sambil menggenggam telapak tangan istrinya.


Kinan pun bangun dari tidurnya. Dia menatap sang suami dengan tangan yang masih saling menggenggam. Wanita itu juga begitu mencintai Hanif. Entah sejak kapan, perasaannya pada pria itu semakin besar dan tumbuh subur di hatinya.


“Percayalah padaku, Mas. Aku tidak akan pernah menduakanmu, apalagi sampai meninggalkanmu. Bagiku pernikahan cukup satu kali. Aku juga sangat mencintaimu. Aku tidak ingin diantara kita ada orang ketiga, keempat atau seterusnya. Jika pun ada, mereka adalah anak-anak kita.”


Hanif merentangkan tangannya. Kinan yang mengerti pun segera masuk ke dalam pelukan sang suami. Dia tersenyum di dada bidang pria itu. Tempat ternyaman bagi wanita itu untuk berkeluh kesah.


Dia tidak menyangka bisa mencintai Hanif seperti ini. Padahal dulu mereka sempat bermusuhan. Jodoh memang tidak ada yang tahu.

__ADS_1


“Sudah larut, Sayang. Sebaiknya kita masuk. Angin malam tidak baik untuk kesehatan,” ajak Hanif yang diangguki oleh Kinan. Wanita itu pun berdiri dan dia dibuat terkejut saat Hanif menggendongnya.


“Mas, turunin aku. Kamu bikin aku kaget aja.”


“Nggak apa-apa biar aku gendong kamu sampai kamar.”


“Di dalam rumah ada Bik Isa, aku malu, Mas. Aku turun saja.”


“Tidak perlu. Bik Isa juga pernah muda, pasti mengerti apa yang kita kakukan.”


Kinan masih saja mencoba melepaskan diri. Namun, Hanif tidak memedulikannya dan terus saja membawa Kinan ke kamar. Bahkan pria itu tidak melepaskan sang istri sampai di atas ranjang. Keduanya bercanda dan tertawa bersama dan menghabiskan malam panjang dengan peluh membasahi diri.


*****


Pagi ini Ayman dan Zayna bersiap untuk ke rumah sakit. Keduanya berharap agar Baby Ars bisa pulang hari ini. Mereka sudah tidak sabar menantikan kabar baik itu. Zayna sudah mempersiapkan semuanya. Dia memutuskan untuk mengurus keperluan putranya sendiri tanpa bantuan baby sitter.


Mama Aisyah juga ingin ikut pergi ke rumah sakit dengan anak dan menantunya. Wanita paruh baya itu juga sudah tidak sabar untuk menggendong cucu pertamanya. Selama ini dia hanya bisa melihatnya dari jauh. Kamar untuk Baby Ars juga sudah tersedia, tetapi untuk sekarang Ayman meletakkan box bayi di kamarnya saja. Jika sudah saatnya, baru Baby Ars menempati kamar itu.


“Ayo, kita sarapan dulu, Sayang. Dokternya juga masih jam delapan datangnya. Ingat kalau kamu juga masih menyusui, harus makan yang banyak dan bergizi," ajak Ayman.


“Bagus, itu artinya aku berhasil membuat kamu bahagia. Kata orang kalau istrinya gemuk itu bahagia, kalau kurus biasanya tekanan bathin.”


Zayna tertawa mendengarnya. Entah darimana suaminya mendengar hal itu. “Belum tentu! Teori dari mana seperti itu. Kadang ada juga orang kurus yang memang sengaja diet, bukan karena tidak dibahagiakan oleh suaminya. Kamu ini ada-ada saja.”


“Iya, Sayang. Aku hanya asal berbicara saja. Ayo, nikmati sarapannya!”


Saat mereka sedang menikmati sarapan, bel rumah berbunyi Bik Ira yang berada di dapur, segera keluar untuk melihat siapa yang datang. Ternyata Hanif dan istrinya. Keduanya juga tampak sangat rapi.


“Non Kinan, Mas Hanif!” seru Bik Ira.


“Bibi, aku itu sudah punya suami. Masih saya jadi panggilnya Non," sela Kinan.


“Terus saya panggil apa? Saya sudah terbiasa dengan panggil Non.”


“Berarti harus mulai diganti panggilannya.”


“Lalu Bibi panggil apa? Nanti kalau dipanggil ‘Neng’ salah satu, keduanya noleh. Apa tidak ada panggilan lain selain itu?”

__ADS_1


“Nggak ada, Bik.”


“Baiklah, mulai sekarang Bibi panggil Neng saja.”


“Iya, nggak pa-pa. Semua orang ke mana, Bik?” tanya Kinan sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


“Sedang sarapan, Neng. Mau ikut sarapan juga?”


“Tidak, Bik. Kami baru saja sarapan di rumah sebelum ke sini. Kami tunggu di ruang tamu saja.”


“Iya, akan saya sampaikan sama ibu dan bapak.” Bik Ira pun kembali ke dalam. Saat akan mengatakan tentang keberadaan Kinan


“Siapa yang datang, Bik?” tanya Ayman.


“Neng Kinan sama Den Hanif.”


“Tumben pagi-pagi sekali mereka ke sini? Apa Hanif tidak ke kantor?”


“Saya nggak tahu, Den.”


“Iya, Bik. Saya juga nggak nanya sama Bibi,” sahut Ayman dengan terkekeh.


“Oh, kirain nanya sama Bibi. Bibi permisi dulu.” Bik Ira segera kembali ke dapur.


Setelah semua orang menghabiskan sarapannya. Mereka pergi ke ruang tamu untuk menemui anak dan menantu keluarga ini. Hanif dan Kinan mencium punggung tangan Papa Hadi dan Mama Aisyah bergantian.


"Tumben kalian ke sini pagi-pagi sekali. Apa kamu tidak ke kantor Hanif?" tanya Ayman.


"Iya, Kak. Habis ini mau ke kantor. Aku mau nganter Kinan sebentar. Dia bilang mau ikut Kak Zayna jenguk Baby Ars."


"Memangnya kamu nggak ada kelas?"


"Ada, Kak, tapi agak siangan jadi, masih banyak waktu."


.


.

__ADS_1


__ADS_2