
Zayna memuntahkan seluruh isi perutnya di kamar mandi dekat dapur. Tiba-tiba saja dia merasa mual, saat Bik Ira mengeluarkan ikan gurame dari dalam kulkas. Padahal biasanya tidak seperti itu. Bik Ira yang merasa khawatir pun mengikuti majikannya. Bik Ira takut jika Zayna sakit, apalagi karena telah membantunya masak.
"Kenapa sampai muntah-muntah, Neng? Apa masuk angin?" tanya Bik Ira sambil memijat tengkuk wanita itu
"Nggak tahu, Bik. Tiba-tiba mual sama bau ikan yang Bibi ambil tadi," jawab Zayna sambil mencuci bibirnya.
"Itu ikan gurame, Neng. Biasanya Eneng suka ikan itu." Bik Ira menatap majikannya itu dengan pandangan aneh.
Itu adalah ikan kesukaan Zayna. Biasanya wanita itu akan bersemangat untuk makan jika ada ikan gurame dan sambal. Selama ini dia juga tidak pernah mempermasalahkan bau ikan itu. Kenapa sekarang malah jadi masalah, bukankah rasanya aneh.
"Aku juga nggak tahu, tapi baunya tidak seperti biasanya. Kali ini baunya benar-benar amis."
Bik Ira menatap ikan yang tadi dia keluarkan dan beralih menatap Zayna. Dia merasa ikannya baunya sama saja, tetapi kenapa majikannya mengatakan jika baunya beda. Apa memang dirinya saja yang terlalu kebal dengan bau ikan. Rasanya tidak mungkin, Bik Ira mengembuskan napas kasar. Entah siapa yang salah di sini.
Setelah dirasa sudah tidak ada lagi yang ingin dimuntahkan, Zayna kembali ke dapur. Bik Ira memberikan kursi pada wanita itu agar majikannya bisa duduk.
"Bi, ikanya sebaiknya jauhin. Aku benar-benar mual dengan baunya."
"Iya, Neng. Ikannya akan Bibi singkirkan. Kalau begitu sebaiknya nggak usah masak ikan saja. Ayam sama telur juga cukup."
Zayna segera menggeleng. "Jangan, Bik. Sebaiknya dimasak saja, Papa Rahmat sangat suka dengan ikan. Nanti Bibi bersihinnya di sebelah sana, agak jauhan sama aku."
Dia tidak mau karena dirinya, semua orang harus menahan keinginannya. Yang salah adalah dirinya, tidak mungkin orang lain yang berkorban meski hanya untuk majanan. Apalagi kedua orang tuanya sudah jauh-jauh ke sini.
"Memangnya tidak apa-apa, Neng. Nanti kalau mual lagi bagaimana?"
__ADS_1
"Insya Allah sudah tidak. Tolong ambilin masker, Bik, biar tidak terlalu bau."
Bik Ira mengangguk dan segera berlalu menuju tempat penyimpanan masker. Meski bingung, wanita itu tetap melakukan apa yang perintahkan Zayna.
"Ini, Neng. Bibi lanjutkan dulu bersihin ikannya." Bik Ira memberikan masker kepada Zayna dan melanjutkan pekerjaannya, yaitu membersihkan ikan.
Seperti yang diinginkan majikannya, Bik Ira membersihkan ikan dengan sedikit menjauh. Meski beberapa kali Zayna hampir muntah. Namun, wanita itu tetap menahannya. Dia tidak mungkin membuat Bik Ira membatalkan masak ikannya.
Papa Rahmat sangat menyukai ikan daripada ayam atau telur, begitu juga dengan Ayman. Jika tidak masak ikan, bisa-bisa papanya hanya akan makan sayur saja. Kalau sang suami, masih mau makan ayam, berbeda dengan Papa Rahmat.
Setelah semua masakan selesai, Zayna dan Bik Ira menatanya di meja makan. Tidak lupa juga wanita itu membuatkan teh hangat dan jus untuk semua orang. Masing-masing memiliki selera sendiri-sendiri. Untung saja bukan sesuatu yang susah.
"Makanan sudah siap, ayo semuanya kita makan dulu!" seru Zayna memanggil seluruh keluarganya yang ada di ruang televisi.
Semua orang pun beranjak dan berjalan menuju ruang makan. Zayna mendorong stroller Baby Ars agar ikut juga ke ruang makan. Mereka semua menikmati makan malam dengan tenang. Mama Savina sedari tadi memperhatikan Zayna yang sedang makan dengan begitu lahap. Porsi makannya juga begitu besar, pantas saja jika putrinya itu terlihat gemuk.
Mama Savina mengerutkan kening dan menatap Mama Aisyah. “Maksud Bu Aisyah, apa?”
Mama Aisyah pun menceritakan jika Ayman, pernah menyinggung masalah nafsu makan Zayna yang bertambah. Untuk satu kali, Zayna masih menanggapinya dengan baik-baik saja. Namun, beberapa hari kemudian Ayman kembali menyinggung, masalah porsi makan Zayna yang besar. Akhirnya wanita itu dibuat kesal dan cemberut seharian.
Bahkan saat makan malam, menantunya tidak ikut makan bersama. Sejak saat itu tidak ada lagi yang menyinggung porsi makan Zayna. Mereka juga maklum karena wanita itu sedang menyusui. Ayman juga tidak berani berkata apa-apa lagi, takut istrinya semakin sensitif. Dia tahu jika mood wanita suka berubah-ubah.
Mama Savina mengangguk, dia pun melanjutkan makannya lagi. Namun, tidak dipungkiri jika wanita itu merasa aneh dengan nafsu makan Zayna. Yang dianggapnya berlebihan, tetapi biarkan saja. Itu juga demi cucunya. Saat sudah tidak menyusui lagi, Zayna bisa melakukan diet. Zaman sekarang juga banyak sekali caranya.
Semua orang sudah menghabiskan makan malamnya. Mereka kembali ke ruang keluarga untuk berbincang sejenak, sebelum beristirahat. Tiba-tiba saja Baby Ars menangis. Zayna mencoba untuk memberi ASI. Namun, bayi itu menolak dan terus menggeliatkan tubuhnya.
__ADS_1
Zayna mencoba melihat pampers anaknya, barangkali anaknya itu pup. Benar saja, Baby Ars memang sedang buang air besar.
"Baby Ars diare, Na?" tanya Mama Aisyah saat melihat Zayna membuat Pampers.
"Iya, Ma. Dari tadi pagi diare, padahal aku sudah memberinya obat, tapi diarenya masih tetap saja. Besok aku mau bawa ke klinik atau rumah sakit. Dia juga akhir-akhir ini sudah nggak mau minum ASI lagi. Mungkin sudah waktunya minum susu formula, ya, Ma. Umurnya 'kan sudah emam bulan."
Mama Aisyah menatap menantu dan cucunya. "Na, sebenarnya setiap bayi itu menyusui sampai dua tahun. Kalau en bulan itu yang memang diharuskan. Selebihnya terserah orang tua, tetapi sekarang Baby Ars belum genap enam bulan. Masa Baby Ars sudah nggak mau minum ASI lagi?"
Semua orang masih terdiam, memikirkan apa yang dikatakan Mama Aisyah. Ayman juga merasa khawatir dengan keadaan putranya. Selama ini Baby Ars baik-baik saja, tidak pernah sakit serius. Kalau sakit juga, demam biasa saja, seperti bayi pada umumnya.
"Na, Mama mau tanya sama kamu, tapi Mama mengharap kamu jangan tersinggung. Ini hanya pikiran Mama saja," sela Mama Savina yang ingin mengatakan isi hatinya yang sejak tadi dia tahan.
Semua orang menatap wanita itu, menunggu apa yang ingin Mama Savina katakan. Sepertinya sangat serius sekali. Zayna juga sudah merasakan sesuatu ketegangan dalam dirinya. Dia takut jika sesuatu yang buruk terjadi pada putranya.
"Apa kamu sedang hamil?" tanya Mama Savina membuat Zayna melebarkan matanya.
Suasana tiba-tiba menjadi hening. Semua orang yang ada di ruangan itu pun sama terkejutnya. Mereka tidak pernah berpikir jika Zayna akan hamil. Semua orang pun menatap istri dari Ayman, menunggu jawaban dari wanita itu.
"Tidak, Ma. Mana mungkin aku hamil. Setiap hari aku juga sudah minum pil kontrasepsi. Aku juga tidak pernah telat," jawab Zayna dengan ragu. Dia juga tidak yakin dengan jawaban yang diberikan.
"Mama hanya mengira-ngira saja. Dari tadi Mama merasa aneh sama kamu. Porsi makan kamu juga besar, yang kedua Baby Ars sudah tidak mau minum ASI lagi. Dari yang Mama pelajari sebelumnya, itu karena rasa dari ASI kamu terasa berbeda. Saat ini dalam tubuh kamu juga ada nyawa baru, kalau kamu memaksakan untuk menyusui bayi kamu, akhirnya anak kamu yang diare. Meskipun itu ucapan orang zaman dahulu, tapi semuanya terbukti. Meskipun ada beberapa dokter yang menyangkalnya juga."
"Ada baiknya kamu memeriksa diri kamu dulu, benar apa tidaknya kamu hamil," sahut Mama Aisyah.
"Kalau aku benar-benar hamil gimana? Baby Ars juga masih sangat kecil," gumam Zayna sambil melihat ke arah putarannya. Semua orang juga masih mendengar kalimat yang keluar dari bibir wanita itu.
__ADS_1
.
.