Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
216. Acara untuk Baby Ars


__ADS_3

"Ya sudah, kalau kamu memang tidak mau ada perawat di rumah, tapi kamu tahulah bagaimana Mama, pasti nantinya akan ikut sibuk urusan kamu," ucap Hanif pada sang istri.


"Kalau sesekali mama bantu aku nggak apa-apa, Mas. Aku juga nggak keberatan, asal mama juga bisa jaga kesehatan. Mama juga lagi sakit, takutnya nanti malah tambah sakit," sahut Kinan. Dia tidak mau keberadaannya hanya akan semakin membuat orang lain kesusahan. Apalagi sampai merepotkan banyak orang.


"Sudah, kamu istirahat saja. Jangan terlalu dipikirkan."


Keduanya pun berbincang, membicarakan masa depan mereka dan anak-anak. Kinan dan Hanif berharap, Adam dan calon anaknya bisa seperti layaknya kakak dan adik kandung. Saling menjaga dan saling menyayangi. Keduanya juga akan berusaha untuk tidak pilih kasih. Kasih sayang untuk keduanya akan selalu sama


Hanif juga sudah meminta pengacaranya untuk mengurus segala keperluan Adam. Dari surat adopsi dan juga akta kelahiran anak itu. Adam juga sudah dimasukkan ke dalam kartu keluarga mereka. Pria itu ingin segera mendaftarkan putranya ke sekolah.


Adam juga sepertinya sudah sangat tertinggal belajarnya. Hanif berharap anak itu bisa menyusul dengan cepat agar tidak tertinggal jauh. Adam juga tidak keberatan jika harus les private. Segala keperluan dan kebutuhan akan selalu Hanif penuhi tanpa kurang sedikitpun.


****


Mama Aisyah dan Bik Ira sudah sampai di rumah. Keduanya pergi ke kamar masing-masing untuk membersihkan diri. Setelah itu Bik Ira melanjutkan pekerjaan yang belum selesai, sementara Mama Aisyah mencari keberadaan Zayna dan Baby Ars. Ternyata Mereka ada di kamar, yang sebelumnya sudah disiapkan untuk Baby Ars.


Saat ini kamar itu masih digunakan tempat bermain untuk bayi kecil itu. Zayna tidak sampai hati jika harus meninggalkan anaknya sendiri di kamar itu. Dia lebih memilih membawa sang putra ke kamarnya. Namun, segala keperluan Baby Ars masih diletakkan di kamar ini.


Wanita itu ingin menghargai apa yang sudah disiapkan oleh kedua mertuanya. Zayna yakin jika suatu hari nanti, Baby Ars pasti memerlukan ruangan ini.


"Cucu Oma ada di sini! Oma cariin ke mana-mana tadi!" seru Mama Aisyah begitu masuk ke kamar Baby Ars. Wanita paruh baya itu mendekat ke arah cucunya.


"Eh, Mama. Aku nggak denger suara mobil jadi, aku nggak tahu kapan Mama pulang. Sekarang malah sudah ada di rumah," sahut Zayna dengan melihat ke arah mertuanya.


"Iya, tadi naik taksi jadi, berhenti di depan gerbang."

__ADS_1


"Oh, aku kira sama papa, pantas saja tidak kedengeran suara mobilnya."


"Papa kamu masih ada di kantor jadi, Mama pulang sama Bibi. Kebetulan Kinan juga ada di kamar sedang istirahat. Dia juga tidak boleh kemana-mana jadi, Mama nggak mau ganggu, lebih baik Mama pulang saja."


Zayna menganggukkan kepala, dia juga sudah tahu tentang hal itu. Dirinya berharap adik iparnya segera bisa seperti sebelumnya. Mudah-mudahan saja keadaan Kinan semakin membaik.


"Kinan di rumah tang jaga siapa, Ma? Kan Tante Aida juga sedang sakit?"


"Mama juga nggak tahu. Kalau bisa juga yang jaga pasti pekerjaannya semakin bertambah. Kalau Aida, dia juga sedang sakit. Meskipun dia tidak keberatan untuk melakukan apa pun untuk Kinan, tetapi tetap saja nanti dia akan tambah sakit. Apa Mama sewa perawat saja untuk Kinan. Biar bisa menjaga Kinan dan membantu melakukan segala sesuatunya."


"Sepertinya Kinan akan menolaknya. Bagaimana kalau Bik Ira saja yang menjaga Kinan sampai keadaannya membaik. Kalau pekerjaan rumah, aku masih bisa kerjain. Baby Ars sekarang juga nggak begitu rewel, kalau ada aku di sekitarnya. Nanti dia bisa di taruh di stroller."


"Memangnya kamu nggak keberatan kalau mengerjakan pekerjaan rumah? Ini pekerjaannya banyak sekali."


Bukannya mau meragukan pekerjaan Zayna, hanya saja rumah ini begitu besar. Dia tidak mau jika menantunya sampai kelelahan. Apalagi Baby Ars juga masih minum ASI. Mama Aisyah tidak mau jika sampai mengorbankan salah satunya.


"Nanti Mama tanyakan dulu sama Kinan. Mama nggak mau memutuskan semuanya sendiri, nanti dikira lancang," sahut Mama Aisyah. Dia juga harus memikirkan pekerjaan di rumah ini. Wanita itu tidak mau membuat menantunya repot.


Zayna mengangguk, bener apa yang dikatakan mertuanya. Kinan sudah berumah tangga sendiri dan juga ikut bersama dengan mertuanya. Rasanya tidak enak juga jika terlalu mengurusi kehidupan rumah tangga mereka. Biarlah Kinan sendiri yang berpikir.


Tidak ada lagi yang Zayna bicarakan dengan mertuanya. Mama Aisyah memilih mengajak cucunya bercanda. Meski Baby Ars belum mengerti dan hanya bisa tertawa. Wanita paruh baya itu tetap saja berbicara panjang lebar.


Tiba-tiba Mama Aisyah teringat sesuatu, dia pun bertanya pada menantunya. "May, usia Baby Ars sudah berapa bulan?"


"Sudah lima bulan, Ma. Memangnya kenapa?"

__ADS_1


"Dua bulan lagi berarti acara tujuh bulan atau Tedhak Siten, jangan sampai lupa acaranya," jawab Mama Aisyah yang juga mengingatkan menantunya.


"Acara tujuh bulanan anak bayi, biasanya di acara ada apa saja, Ma?" tanya Zayna yang tidak pernah tahu acara seperti itu.


"Sekarang gampang, tinggal sewa jasa event organizer sudah beres. Kalau dulu harus nyiapin ini itu malah ribet. Kalau dari EO, mereka semuanya sudah lengkap jadi, nggak perlu lagi cari yang lain."


"Memang ada EO yang menangani acara seperti itu?" tanya Zaina.


Dia belum pernah melihat acara tujuh bulanan yang disiapkan oleh EO. Biasanya di tempat tinggalnya dulu, para orang tua yang menyiapkan segala keperluan dan lainnya. Anak muda hanya ikut saja tanpa tahu itu kegunaannya untuk apa.


"Kamu jangan salah sekarang EO itu menyediakan segala acara. Dari yang paling kecil hingga yang paling besar seperti pernikahan. Nanti juga ada fotografernya jadi, kita tidak perlu mencari fotografer lagi. Fotografer mereka juga orang-orang yang handal. Makanya sekarang banyak Fotografer yang mandiri pada gulung tikar. Semuanya sudah serba satu paket sama EO," ucap Mama Aisyah yang diangguki oleh Zayna.


Jika di kota besar, jasa fotografer sendiri, memang sudah tidak diperlukan lagi. Semuanya sudah satu paket dengan EO, begitu juga dengan foto keluarga. Orang-orang lebih suka menggunakan ponsel.


"Kalau begitu, nanti biar aku bicarain lagi sama Mas Ayman. Aku yakin Mas Ayman lebih tahu EO yang paling bagus. Kali ini aku maunya yang benar-benar bagus," ucap Zayna dengan membayangkan acara putranya yang begitu meriah.


"Mama juga setuju. Nanti kita buat acara yang sesakral mungkin, tapi yang kita undang hanya saudara terdekat saja. Tidak perlu banyak-banyak orang, nanti malah mengganggu jalannya acara."


"Iya, Ma. Aku juga setuju, biar nanti aku yang bicara sama Mas Ayman."


Zayna bertanya beberapa hal tentang acara turun tanah putranya. Dulu dia pernah mendengar hal semacam ini. Namun, wanita itu tidak begitu mempedulikan karena memang saat itu, Zayna juga tidak pernah terpikirkan sampai memiliki anak. Untuk membuat pesta pernikahan saja rasanya sulit.


Apalagi sampai membuat acara untuk anaknya seperti itu. Rasanya dulu sangatlah mustahil, berbeda dengan sekarang yang semuanya tinggal tunjuk begitu saja, langsung ada di depan mata.


.

__ADS_1


.


__ADS_2