
Hira merasa aneh dengan kedua adik iparnya, yang sedari tadi hanya diam saja. Kadang pandangannya kosong, kadang juga tidak nyambung jika diajak bicara. Dia ingin bertanya. Namun, segan saat melihat ekspresi mereka.
Wanita itu berpikir jika keduanya sedang bertengkar, tetapi kenapa justru mereka datang ke sini secara bersamaan. Hal itu tentu saja menjadi pertanyaan sendiri di dalam kepalanya. Hingga suara tangisan Baby Icha menyadarkannya dan membuat Hira datang dan menggendong putrinya. Dia berusaha untuk menenangkan bayi kecil itu, hingga akhirnya tertidur lagi.
Kedua adik iparnya masih saja terdiam dengan tangan yang memegang ponsel masing-masing. Hira pun duduk di sofa di tengah-tengah keduanya. Dia sudah tidak tahan untuk tidak bertanya, wanita itu ingin tahu apa yang terjadi pada mereka mungkin dirinya bisa membantu.
"Sebenarnya kalian ini ada masalah apa? Kalian datang ke sini bukannya mau jengukin keponakan kalian? Tapi kenapa dari tadi hanya diam saja, malah sibuk dengan ponsel masing-masing. Kalau gitu ngapain tadi ke sini? Lebih baik di rumah tidur daripada diam-diaman," tanya Hira panjang lebar.
Aina mengembuskan napas kasar, kemudian membuang pandangan ke arah lain. Dia seolah enggan untuk menjawab pertanyaan kakaknya, begitu juga dengan Aini. Namun, mereka juga perlu meminta pendapat dari kakak iparnya. Bagaimanapun juga Hira pasti lebih mengenal Ustaz Ali.
Sedikit banyak juga pasti tahu tentang pria itu. Aini pun memberanikan diri untuk bertanya lebih dulu pada kakak iparnya.
"Kak Hira sudah kenal lama sama Ustaz Ali?" tanya Aini dengan menghadapkan tubuhnya ke arah kakak iparnya itu.
Kening Hira mengerut, dia tidak mengerti kenapa tiba-tiba adik iparnya bertanya tentang pria itu. "Kenapa tiba-tiba bicara tentang masalah Ustaz Ali?"
"Kak Hira jawab saja, ini sangat penting."
Hira terlihat berpikir sejenak, mengingat bagaimana karakter pria itu yang juga pengajar di salah satu pondok tempat tinggalnya dulu. "Bisa dikatakan lumayan lama, hanya saja Kakak tidak begitu tahu tentang dia. Memangnya ada apa? Apa kalian ada masalah dengan dia? Atau kalian bertengkar karena ngerepotin dia!"
"Nggak lah!" sahut Aini dengan cepat, kemudian melirik sinis ke arah saudaranya. "Kalau aku tidak ada masalah dengan dia, Kak. Itu si Aina, dia minta papa buat taaruf sama Ustaz Ali."
Hira mengangguk, tapi yang tidak dimengerti, apa hubungannya dengan taaruf Aina dengan ustadz Ali dan juga diamnya mereka sedari tadi.
"Lalu apa masalahnya kalau Aina dan Ustaz Ali bertaaruf?"
"Masalahnya kita semua nggak ada yang kenal sama Ustad Ali dan juga Papa nggak setuju kalau Aina taaruf dengan Ustaz Ali, tapi Aina memaksa. Bahkan dia sudah begitu tega menyakiti hati papa," ucap Aini dengan sinis.
"Kok kamu bilang begitu, sih! Aku sama sekali tidak menyakiti hati papa. Bahkan papa juga setuju kalau aku berta'aruf dengan Ustaz Ali," kilah Aina, dia mencoba untuk membela diri.
"Iya, itu karena kamu memaksa. Apa tadi kamu tadi tidak melihat wajah Papa dan Mama itu terlihat sangat kecewa sama kamu. Kamu sama sekali nggak memikirkan perasaan mereka, hanya memikirkan perasaanmu sendiri. Hanya karena seorang laki-laki yang sama sekali tidak kamu kenal."
"Memangnya kenapa? Kamu iri sama aku? Bilang saja kamu tidak mau didahului."
"Siapa yang—"
"Stop stop stop! Ini kenapa jadi marah-marah di sini?" tanya Hira dengan nada sedikit tinggi.
Aina melipat kedua tangannya di dada dan memalingkan wajah ke arah lain, sementara Aini menatap ke arah saudara kembarnya dengan sidis.
"Kenapa papa nggak setuju kalau Aina bertaaruf dengan ustaz Ali? Pasti ada alasannya, kan? Tidak mungkin tidak setuju begitu saja."
Aini menunduk lemas, teringat saat papanya begitu terluka dengan keputusan sang putri. "Papa tidak setuju karena tahu keluarga Ustaz Ali tidak akan bisa menerima keberadaan Aina, yang saat ini dengan penampilan terbuka. Keluarga mereka juga lebih suka dengan wanita yang lulusan dari pondok pesantren. Apa Kakak juga mengenal keluarga Ustaz Ali, bagaimana mereka?"
"Aku tidak begitu mengenal mereka, keluarga mereka orang yang sangat tertutup. Bahkan jarang sekali berinteraksi dengan orang lain, tapi mereka selalu rajin datang ke acara di pondok pesantren. Jika ada acara mereka selalu datang tepat waktu, hanya saja memang yang kemarin saat ada haul mereka tidak datang. Entah apa alasannya, padahal sebelumnya setiap ada acara mereka orang yang tidak pernah absen untuk menghadirinya."
"Kamu dengar, kan, Aini. Mereka itu orang baik, pasti ada yang salah dengan anak buah papa saat memberikan laporan," sahut Aina yang tidak ingin disalahkan terus menerus.
"Memangnya kamu tidak mengenal papa! Setiap informasi yang papa terima dari anak buahnya, itu akurat. Tidak pernah ada yang salah."
Kini Hira merasa bersalah karena dirinyalah yang mengusulkan agar Aina melakukan taaruf dengan Ustaz Ali. Nyatanya sekarang sang mertua justru tidak memberi restu. Bahkan sudah menyelidiki tentang keluar Ustaz Ali. Dirinya yang cukup lama mengenal saja tidak tahu apa-apa tentang mereka. Bagaimana mungkin mertuanya bisa tahu banyak hal.
__ADS_1
Sebaiknya nanti dia bicara dengan sang suami. Pasti Arslan lebih tahu apa yang harus dilakukan. Kekuatan Papa Ayman juga tidak bisa diragukan lagi, tapi apa mungkin keluarga Ustaz Ali seperti itu. Dirinya juga tidak begitu mengenalnya, hanya dua kali bertemu, itu pun hanya sebentar.
"Sudah, sudah, sekarang lebih baik tidak usah membahas hal itu lagi. Pasti papa dan mama juga sudah mengambil keputusan, kan? Kalian berdua juga harus memikirkannya dengan baik. Jangan sampai keputusan yang diambil dengan emosi, nantinya malah akan membuat kalian menyesal," pungkas Hira, membuat adik iparnya tidak lagi berbicara. Keduanya membenarkan apa yang dikatakan kakaknya.
Malam hari saat Arslan sudah pulang, Hira menceritakan semuanya tentang Hira dan Ustaz Ali pada sang suami. Pria itu sempat terkejut dengan apa yang dia dengar. Arslan tidak menyangka jika adiknya akan berani menentang keinginan papanya. Meskipun dirinya seorang kakak, tapi semua keputusan ada pada papanya. Jika Ayman sudah setuju, dia bisa apa.
"Memang benar, ya, Mas. Kalau yang dikatakan papa itu benar mengenai Ustaz Ali?" tanya Hira yang sedari tadi sangat penasaran mengenai mertuanya.
"Sejak kecil aku sudah mengenal papa dan bisa dipastikan seratus persen jika apa yang papa ketahui itu benar."
"Kasihan Aina, dong, Mas. Kalau dia jadi menikah dengan Ustaz Ali."
"Mau bagaimana lagi, Aina sendiri yang bersikeras ingin tetap melanjutkan pernikahan ini. Papa bisa apa jika calon pengantinnya saja setuju. Kita berdoa saja semoga semuanya baik-baik saja." Arslan tersenyum meskipun dia benar-benar tidak rela.
****
"Bagaimana Ustaz Ali?" tanya Kyai Hasan pada salah satu pengajar di pondok pesantrennya itu.
Tadi Ayman sudah menghubunginya dan mengutarakan niat itu pada sahabatnya. Kyai Hasan menyambutnya dengan tangan terbuka, dia langsung saja memanggil Ustaz Ali dan mengatakan keinginan keluarga Ayman. Pria itu tampak kebingungan, dia juga tidak menyangka jika keluarga gadis yang ditemuinya di rumah sakit akan mengajukan diri untuk bertaaruf.
Ustaz Ali tidak pernah berpikir untuk bisa bersama dengan wanita yang sangat jauh dari kriterianya. Dia memang sangat ingin segera menikah, tetapi bukan wanita seperti Aina. Yang pria itu inginkan seperti Ning Hira atau Ustazah Nurul.
"Bolehkah saya pikirkan dulu, Kyai. ini semuanya terlalu mendadak, saya juga tidak bisa berpikir dengan jernih. Saya juga perlu menanyakan pada ibu saya," jawab Ustadz Ali dengan hati-hati.
"Sebaiknya memang seperti itu, pikirkan baik-baik karena ini semua juga untuk masa depanmu."
"Terima kasih, Kyai."
Ustaz Ali dan Kyai Hasan berbincang sejenak, di sana juga ada Umi Rikha. Dia senang jika memang keluarga besannya bisa menikah dengan salah satu pengajar di sini juga. Wanita itu juga cukup mengenal Ustaz Ali, selama ini selalu bersikap baik. Tutur katanya juga sangat sopan. Setelah cukup berbincang, Ustaz Ali pamit undur diri. Dia masih harus mengajar sebentar lagi.
"Semoga saja, Umi. Justru Abi takut jika semuanya tidak sesuai dengan apa yang sudah kita pikirkan."
"Maksud Abi apa?" tanya Umi Rikha dengan menatap sang suami.
"Tadi waktu Ayman menghubungi Abi, terdengar suaranya seperti tidak rela jika putrinya menikah dengan Ustaz Ali, seperti terpaksa. Entah apa yang mendasarinya bersikap seperti itu, membuat Abi merasa takut. Tadi Abi sudah tanyakan padanya, apa keputusannya ini sudah benar-benar kuat. Mereka masih bisa memikirkannya kembali, tapi Ayman mengatakan jika ini sudah keputusan putrinya dan tidak bisa dirubah lagi."
"Jadi kalau Umi bisa menyimpulkan, pernikahan ini karena keinginan putrinya sendiri begitu? Pak Ayman sendiri tidak menginginkannya?"
"Abi juga berpikirnya seperti itu. Abi tahu kalau Ayman itu orang kaya, dia bisa mencari tahu semuanya dengan sangat singkat. Apalagi tentang keluarga Ustaz Ali, itu sangat mudah dia dapatkan. Hanya dengan mengeluarkan sedikit uang, maka semua ada di depan mata."
Umi Rikha jadi merasa bersalah. Bagaimanapun putri Zayna mengenal Ustaz Ali juga karena dia dan sang suami yang sering mengajaknya datang berkunjung. "Menurut Abi, sekarang kita harus bagaimana?"
"Mau bagaimana lagi, Umi. Ini juga keinginan mereka sendiri, kita hanya sebagai perantara. Untuk ke depannya biarlah Tuhan yang menentukan takdir mereka. Semoga anak Pak Ayman dan ustadz Ali memang benar-benar berjodoh dunia akhirat."
"Amin, semoga saja seperti itu. Ustadz Ali juga orang yang baik. Selama ini dia juga sering membantu keluarga kita. Umi sudah menganggapnya seperti anak sendiri. Makanya tadi umi senang saat anak Pak Ayman mau taaruf dengan ustadz Ali, secara kita semua tahu bagaimana keluarga Pak Ayman, mereka orang-orang baik. mereka juga sangat hormat pada orang yang lebih tua. Meskipun mereka masih membuka aurat, tapi bukan berarti mereka bukan ahli ibadah."
"Iya, Ayman juga bukan orang yang suka memaksakan kehendaknya pada keluarga. Apalagi pada orang lain."
"Iya, Umi bersyukur Hira mendapatkan mertua seperti mereka. Bu Zayna juga tidak pernah memaksakan apa pun pada Hira, bahkan sudah menganggapnya seperti anak sendiri.
Sementara itu, Ali yang baru saja sampai rumah terlihat begitu murung. Ibunya yang sedang berada di rumah pun merasa aneh dengan tingkah putrinya.
__ADS_1
"Pulang dari pondok bukannya senang, kenapa ini malah terlihat sedih?" tanya Bu Nur—ibu Ustaz Ali.
Rumah Ustaz Ali memang dekat dengan pondok pesantren, terkadang pria itu menginap di pondok, kadang juga pulang ke rumah.
"Kamu kenapa, Ali? Kenapa terlihat begitu murung? Apa ada masalah?"
"Bu, seandainya ada yang mengajak aku ta'aruf bagaimana menurut ibu?" tanya Ali tanpa menjawab pertanyaan putranya.
Pertanyaan itu membuat Bu Nur berbinar, dia memang sudah menunggu hal ini. Wanita itu ingin tahu siapa yang sudah mencuri hati putranya dan anak Kyai mana yang akan menjadi menantunya nanti. Namun, saat Ustaz Ali menceritakan tentang gadis itu pun seketika wajah Bu Nur menjadi muram. Bagaimana mungkin dia bisa memiliki menantu seperti itu.
Apalagi saat tahu jika itu adalah usulan dari Kyai Hasan. Dia mana berani untuk menolak, begitu juga dengan Ustaz Ali. "Bagaimana menurut Ibu?"
"Ibu tidak berani menolak, semua keputusan ada pada kamu. Ibu menurut saja apa kata kamu," jawabnya dengan lesu.
Dalam hati Bu Nur berharap Ali akan menolak meskipun rasanya sangat tidak mungkin, mengingat selama ini Kyai Hasan sangat baik kepada mereka. Apalagi Ali juga mengajar di sana, rasanya segan untuk mengatakan tidak. Ali tidak mungkin bisa menolaknya.
Satu minggu kemudian, Ali menemui Kyai Hasan. Dia mengatakan jika dirinya bersedia untuk menikah dengan Aina. Kyai Hasan cukup terkejut karena Ustaz Ali memilih untuk langsung menikahinya tanpa ada proses taaruf. Pria itu hormati keputusan Ustaz Ali dan mengatakannya pada keluarga Ayman. Terserah jika mereka menolak, dia hanya sebagai perantara saja.
Ayman mengatakan pada Aina mengenai berita yang dia dengar dari Kyai Hasan. Gadis itu pun setuju saja, dia juga tidak masalah menikah tanpa proses taaruf. Ayman sekeluarga setuju dan mengatakan akan bertemu dengan keluarga Ustaz Ali di rumah Kyai Hasan di hari Minggu depan.
****
"Apa kamu masih marahan dengan Aina?" tanya Zayna pada putrinya yang saat ini sedang di kamar.
"Tidak, Ma. Aku tidak marah kok," kilah Aini tanpa melihat ke arah mamanya.
"Mama bisa tahu jika anak Mama ini berbohong. Dengerin Mama dulu, keluarga sudah setuju jika Aina akan menikah dengan Ustaz Ali. Ini sudah keputusan yang mereka ambil, kamu sebagai saudara harusnya mendukung. Mereka akan segera menikah dan Minggu depan akan ada pertemuan keluarga."
"Menikah? Kenapa bisa langsung menikah? Bukannya mereka akan ta'aruf dulu?" tanya Aini yang begitu terkejut dengan berita yang baru saja dia dengar.
"Mama juga sebenarnya berat, tapi ini keputusan yang keluarga ambil. Ini semua juga demi kebahagiaan saudara kamu. Harusnya kamu ikhlas, doakan saja agar pernikahan Aina berjalan lancar dan baik-baik saja. Mama tidak mau anak-anak Mama bertengkar, apalagi sampai diam-diaman seperti ini. Mama sedih melihatnya," ucap Zayna dengan mata berkaca-kaca.
Akhir-akhir ini meja makan juga terasa dingin karena pertengkaran anak-anaknya. Padahal sebelumnya si kembar selalu kompak dalam hal apa pun. Aini yang melihat kesedihan mamanya pun jadi merasa bersalah karena dirinya sang mama jadi sedih.
Aini segera memeluk mamanya. "Maafin Aini, Ma, karena Aini Mama jadi sedih, nanti biar aku yang bicara dengan Aina dan meminta maaf padanya. Aku juga akan mendukung apa pun yang sudah menjadi keputusannya. Aku akan selalu berdoa agar dia selalu bahagia."
Zayna tersenyum dan membalas pelukan sang putri, sebenarnya dia juga tidak rela, tetapi demi kebahagiaan putrinya dirinya harus berusaha untuk ikhlas. Wanita itu hanya bisa pasrah pada Tuhan entah bagaimana nanti masa depan putrinya.
Malam hari Aini datang ke kamar saudaranya tanpa mengetuk pintu. Terlihat Aina sedang memainkan ponsel, dia hanya melirik kedatangan saudara kembarnya tanpa berniat menegur.
"Halo, calon pengantin! Diam saja nih!" goda Aini. Namun, Aina hanya diam saja.
Aini mendekat ke arah saudaranya dan duduk di sampingnya. "Maafin aku, ya! Aku sudah egois dengan hanya memikirkan perasaanku sendiri, tanpa tahu bagaimana perasaanmu. Maafkan aku karena tidak bisa mengerti perasaanmu," ucap Aini dengan mata berkaca-kaca.
Aina yang mendengar pun jadi ikut merasa bersalah. Bagaimanapun juga dirinya juga salah karena terlalu egois. Namun, perasaannya tidak bisa dibohongi. Dia memang sudah jatuh cinta pada Ustaz Ali.
"Kenapa kamu minta maaf? Kamu tidak salah karena akulah yang salah di sini. Aku terlalu keras kepala. Terima kasih sudah mau mengerti keadaanku." Aina menggenggam telapak tangan saudaranya. Dia senang karena akhirnya bisa berbincang kembali dengan saudaranya itu.
"Aku doakan semoga pernikahanmu berjalan dengan lancar. Nanti jangan lupa kasih aku keponakan yang lucu, bahkan lebih lucu dari Icha."
Aina hanya tersenyum menanggapinya, dia senang melihat saudaranya kembali seperti dulu. Kedua saudara kembar itu saling berpelukan. Banyak yang mereka bicarakan mengenai kedepannya. Aina berjanji akan sering memberi kabar, bahkan setiap jam kalau bisa.
__ADS_1
Ayman mengatakan kepada kedua anaknya, bahwa mereka akan pergi ke rumah Kyai Hasan hari Minggu. Tidak lupa juga memberitahu Arslan dan istrinya agar mereka juga ikut. Pasti Kyai Hasan dan Umi Rikha juga sangat merindukan cucunya.
.