
Pagi-pagi sekali Zayna sudah disibukkan dengan urusan dapur bersama dengan Bik Ira. Beberapa kali wanita paruh baya itu melarang menantu majikannya untuk tidak membantunya, tetapi wanita itu tidak menghiraukan sama sekali. Zayna hanya ingin memasak untuk suami dan keluarganya.
"Kenapa dari tadi kalian ribut sekali?" tanya Mama Aisyah, saat dia baru saja memasuki dapur.
"Ini, Nyonya. Neng Zayna sudah saya larang buat tidak masuk ke dapur, tapi Neng Zayna terus saja masih sibuk," jawab Bik Ira.
"Sudahlah, Bik. Percuma juga Bibi debat sama dia. Dia pasti bakalan mau menang sendiri," ucap Mama Aisyah membuat Bik Ira dan Zayna tersenyum. Ternyata wanita itu sangat tahu bagaimana karakter menantunya.
"Na, nanti buat Papa jangan buatin kopi. Buatin teh hangat saja," ucap Mama Aisyah membuat Zayna menatap mertuanya.
"Memang Papa kenapa, Ma? Apa Papa sakit?"
"Iya, semalam badannya demam. Sekarang sudah tidak apa-apa, tapi tetap saja Mama khawatir."
"Iya, Ma. Nanti aku bikinin teh hangat."
"Kalian lanjutkan saja masaknya. Saya mau ke kamar dulu," pamit Aisyah yang kemudian berlalu menuju kamarnya.
Dia ingin melihat keadaan sang suami. Padahal tadi Papa Hadi sudah mengatakan jika dirinya baik-baik saja, tetapi tetap saja sebagai seorang istri, wanita itu tidak bisa tenang. Apalagi Papa Hadi jarang sekali sakit.
Sementara itu, di dapur Zayna jadi teringat papanya. Entah bagaimana keadaan Papa Rahmat. Sudah satu bulan lebih dia tidak mendengar kabar apa pun dari pria itu. Ayman juga tidak mengatakan apa pun mengenai keluarganya.
Dia tahu jika sang suami melakukan itu karena dirinya yang belum membuka hati. Namun, dia tidak bisa berbohong jika jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, wanita itu mengkhawatirkan papanya. Dia ingin tahu keadaan pria itu saat ini, apakah baik-baik saja atau tidak. Apa Mama Savina memperlakukannya dengan baik?
__ADS_1
"Kenapa melamun, Neng?" tanya Bik Ira saat melihat Zayna hanya diam saja.
"Tidak apa-apa, Bik," jawab Zayna dengan tersenyum paksa. Keduanya pun kembali melanjutkan acara memasak.
****
Siang hari Zayna sendirian di kamar, semua orang sudah pergi. Suami dan papa mertuanya pergi bekerja, sementara Mama Aisyah sedang arisan bersama dengan teman-temannya. Tadi wanita itu sempat mengajak menantunya untuk pergi. Namun, Zayna menolak dengan alasan capek. Kinan pun sedang kuliah.
Zayna berdiri di atas balkon kamarnya, menatap jalanan yang sepi dan bunga yang bermekaran di taman rumah. Halaman yang begitu luas dengan taman dan tempat parkir. Dia kembali teringat dengan papanya. Wanita itu pun membuka ponsel, terdapat ratusan pesan dari papanya dan juga Mama Savina, yang sebelumnya sudah dia abaikan.
Zayna membaca satu persatu, semuanya tentang permintaan maaf mereka. Bukannya senang, justru air matanya menetes dan semakin deras. Entahlah ini perasaan apa. Dia ingin bertemu dengan kedua orang tuanya, tapi juga ada luka yang begitu dalam kini terbuka kala teringat masa lalunya. Bagaimana wanita harus menyikapinya kali ini? Zayna juga tidak ingin dicap sebagai anak durhaka nantinya.
Dia melihat langit yang begitu cerah, berbeda dengan suasana hatinya. Berbicara memaafkan memang mudah, yang sulit adalah saat melakukannya.
Wanita itu berpikir, apakah mungkin kedua orang tuanya juga merasakan seperti apa yang dia rasakan kini? Seandainya saja Zayna pulang dan memaafkan kedua orang tuanya, apakah mungkin mereka bisa berbuat adil terhadap anak-anaknya? Dia menggelengkan kepala karena rasanya tidak mungkin bisa.
Zanita sudah terbiasa mendapat kasih sayang. Sedangkan dirinya, jangankan disayang, perhatian pun tidak dia dapatkan. Pasti akan terasa aneh jika Mama Savina memeluknya. Zayna memutuskan untuk melakukan shalat Dhuha. Wanita itu juga ingin meminta petunjuk pada Sang pencipta dan menumpahkan segala keluh kesah yang dia rasakan kini.
Zayna akan mengadukan segalanya. Dia juga memohon agar Papa Rahmat dan Mama Savina selalu baik dan dalam keadaan sehat. Saat wanita itu masih dalam doanya, pintu kamar diketuk seseorang. Dia pun segera membukanya, ternyata ada Bik Ira di sana.
"Iya, Bik. Ada apa?" tanya Zayna.
"Di bawah ada yang nyari, Neng. Katanya orang tua Neng Zayna," ucap Bik Ira membuat Zayna terkejut.
__ADS_1
Baru saja dia berdoa untuk kebaikan kedua orang tuanya. Namun, hal yang tidak disangka justru keduanya berada di sini. Dia bertanya-tanya, ada apa orang tuanya ke sini?
"Iya, Bik. Sebentar lagi saya akan turun," jawab Zayna akhirnya.
Dia tidak mungkin mengusir mereka. Apa pun masalah yang mereka hadapi, keduanya tetaplah orang tuanya. Bik Ira pun kembali ke dapur untuk membuatkan minuman untuk tamunya, sementara Zayna masih berdiri di belakang pintu.
Wanita itu ragu untuk menemui kedua orang tuanya. Entah apa yang harus dia katakan nanti. Zayna menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya dengan pelan. Bagaimanapun keadaan nanti di bawah, dia akan menghadapinya karena tidak mungkin selamanya wanita itu menghindari kedua orang tuanya.
Zayna menuruni tangga satu persatu. Dia bisa melihat kedua orang tuanya yang duduk di sofa ruang tamu. Ada juga seorang laki-laki yang berdiri di samping kursi roda Papa Rahmat. Mungkin itu adalah perawat yang disewa suaminya.
Kedua orangtua itu melihat sekeliling rumah Ayman. Pasti saat ini keduanya terkagum dengan apa yang menantunya miliki karena sebelumnya, mereka mengira Ayman hanyalah seorang tukang ojek. Sekarang justru kenyataan membuat semua orang terkejut.
Mendengar suara langkah kaki mendekat, membuat Papa Rahmat dan mama Savina menoleh. Ternyata Zayna yang datang. Seketika kedua orang itu tersenyum. Padahal tadi mereka pesimis kalau putrinya mau menerima kedatangan mereka. Mama Savina bahkan takut jika diusir.
Bersamaan dengan keluarnya Zayna, Bik Ira juga datang membawa empat gelas minuman dan makanan ringan. Wanita paruh baya itu meletakkannya di atas meja dan mempersilakan tamu untuk menikmatinya. Setelah itu, Bik Ira pamit undur diri, dia tidak mungkin ikut bergabung dengan mereka.
Wanita paruh baya itu juga bisa merasakan ada ketegangan di antara mereka. Entahlah apa itu, dia tidak ingin ikut campur terlalu jauh. Bik Ira yakin Zayna bisa menyelesaikannya dengan baik.
Zayna duduk di sofa depan orangtuanya. Dia berusaha untuk terlihat biasa saja, padahal kini rasa takut dan gugup menjadi satu. Berpura-pura memang melelahkan.
.
.
__ADS_1