
“Kelas sampai di sini dulu. Ada yang ingin bertanya?” tanya Hanif sambil melihat semua mahasiswa. “Baiklah, jika tidak ada yang bertanya, saya anggap kalian mengerti.”
“Maaf, Pak. Ada yang ingin saya tunjukkan pada Bapak,” ucap Nayla sambil berjalan ke depan menuju Hanif yang masih berdiri di sana.
Semua mahasiswa melihat apa yang akan gadis itu lakukan, termasuk Kinan. Nayla berjalan sambil tersenyum. Dia merasa sangat percaya diri dan yakin dengan apa yang dilakukan.
“Tunjukkan apa?”
“Sesuatu yang pasti membuat Anda merasa dibohongi.” Nayla menyerahkan ponselnya pada Hanif.
Pria itu menerima dan melihat apa maksud Nayla. Dia semakin menyernyitkan keningnya, saat ada gambar Kinan melambaikan tangan ke arah seorang pria yang berada di sebuah mobil. Tentu saja Hanif sangat tahu siapa itu. Yang membuatnya heran, kenapa dengan mereka?
“Sebenarnya apa maksud kamu dengan memperlihatkan foto ini?” tanya Hanif pada Nayla.
Kinan yang masih berada di tempat duduknya jadi penasaran apa yang sebenarnya terjadi. Apa yang sedang ditunjukkan oleh Nayla pada Hanif. Terlihat wajah mantan sahabatnya itu sepertinya sesuatu yang luar biasa, tetapi kenapa Hanif merasa biasa saja. Sebenarnya apa yang sedang ditunjukkan.
“Bapak masih belum sadar juga? Itu Kinan sedang bersama dengan seorang pria dan pria itu memanggil Kinan ‘Sayang’. Seharusnya Anda marah, dong!”
Kinan melebarkan matanya karena terkejut. Dia tidak merasa memanggil seorang laki-laki seperti itu, apalagi tidak dikenal. Siapa sebenarnya yang dimaksud Nayla?
Hanif menganggukkan kepala tanda sudah mulai mengerti. Dia baru tahu jika mahasiswa di sini tidak mengenal orang tua Kinan. Pria itu semakin kagum pada calon tunangannya karena gadis itu tidak mau sombong.
“Apa semua yang ada di sini tahu juga mengenai foto ini?” tanya Hanif sambil memperlihatkan gambar yang ada di ponsel Nayla ke depan.
“Tahu, Pak,” jawab mereka serempak.
“Kinan, apa kamu tahu gambar ini?” tanya Hanif.
__ADS_1
Kinan yang tempat duduknya agak jauh pun menggeleng sambil berkata tidak karena fotonya tidak jelas dari sana. Dia semakin penasaran gambar apa itu. Hanif meminta gadis itu maju ke depan. Kinan yang sangat ingin tahu pun segera maju tanpa ragu.
Ini pertama kalinya sejak semua orang tahu hubungan Hanif dan Kinan, mereka berdiri berdiri di depan mahasiswa. Ada perasaan gugup, tetapi sebisa mungkin keduanya berusaha untuk menetralkannya.
“Siapa yang harus menjelaskan mengenai foto ini? Kamu atau saya?” tanya Hanif sambil memperlihatkan foto tadi pada Kinan.
Gadis itu sedikit terkejut saat melihat foto dirinya bersama papanya tadi. Dia heran, apanya yang harus dijelaskan? Apakah salah seorang ayah mengantar putrinya kuliah?
“Apa yang harus saya jelaskan, Pak? Apa yang aneh dalam foto ini?” tanya Kinan dengan wajah bingung.
Ingin sekali Hanif tertawa, tetapi dia mencoba menahannya. Tunangannya memang polos, bahkan ada yang ingin menjahatinya pun gadis itu tidak sadar. Ini juga yang membuat Hanif semakin tidak ingin melepaskannya.
“Mereka mengira kamu ada hubungan dengan pria yang ada di dalam foto ini.”
“Kami ‘kan memang memiliki hubungan.”
“Nayla, Pak, tidak ada yang lain.”
“Hanya Nayla! Jadi, jika orang tuamu memanggilmu dengan nama dan ada orang tua mahasiswa lain memanggil sayang pada putrinya, jangan menyalahkan mereka. Kamu mengerti maksud saya, tanpa harus saya jelaskan?”
Semua orang terdiam memikirkan maksud dari perkataan Hanif. Beberapa dari mereka yang sudah mengerti pun mulai tercengang. Apakah benar jika pria yang memakai mobil mewah itu adalah ayah dari Kinan, tetapi bukankah orang tua Kinan hanya orang biasa.
Mobil yang dipakai pria tadi pagi terlihat begitu sangat mewah. Sudah dipastikan harganya sangat fantastis. Apakah mungkin itu orang tua Kinan? Wajah pria itu juga masih terlihat muda untuk ukuran orang tuanya.
“Maksud Bapak apa? Jangan bilang kalau pria itu adalah ayah dari Kinan. Itu tidak mungkin karena orang tua Kinan hanyalah orang biasa, tidak mungkin memakai mobil mewah seperti itu," sela Nayla.
Dia tidak percaya dengan apa yang Hanif katakan karena itu tidak masuk akal baginya. Sangat berbeda dengan apa yang selama ini gadis itu ketahui tentang Kinan.
__ADS_1
“Kamu pikir saya sedang bercanda! Saya bahkan sudah sangat mengenal keluarga Kinan karena mereka juga akan menjadi orang tuaku. Kamu dulu juga waktu SMA satu sekolah ‘kan dengan Kinan, seharusnya kamu sudah pernah melihat wajah papanya Kinan. Apa kamu tidak mengenalinya?” tanya Hanif dengan cepat Nayla melihat kembali foto yang ada di ponselnya.
Gadis itu mencoba mengingat-ingat pertemuannya dulu saat SMA dengan orang tua Kinan. Memang terlihat mirip, hanya cara berpakaiannya saja yang berbeda. Apakah mungkin benar yang dikatakan oleh Hanif, tetapi rasanya sangat sulit dipercaya.
“Bagaimana? Apa kamu sudah mengingatnya?” tanya Hanif dengan memperhatikan ekspresi wajah Kinan. “Lain kali lihat dulu baik-baik sebelum memfitnah orang lain dan kalian semua, setiap ada informasi jangan ditelan mentah-mentah. Pikirkan baik-baik apakah itu urusan kalian apa bukan. Jangan sampai mulut kalian juga menyebarkan fitnah, yang bisa merugikan orang yang kalian fitnah dan diri kalian sendiri.”
Semua diam dengan menundukkan kepala, antara malu dan takut. Bagaimana tidak, tadi mereka sudah berpikir yang tidak-tidak mengenai Kinan. Ternyata semua hanya salah paham. Kebenaran tentang Kinan justru lebih mencengangkan.
“Nayla, tidak adakah yang ingin kamu katakan pada Kinan? Kamu sudah mengatakan yang tidak-tidak mengenai dia, harusnya kamu minta maaf padanya.”
“Kenapa saya harus minta maaf? Saya tidak merasa bersalah. Mana saya tahu kalau itu papanya Kinan. Selama ini tidak ada yang tahu bagaimana keluarganya.”
“Jelas-jelas di sini kamu bersalah, tapi kamu sama sekali tidak mau mengakuinya," geram Hanif. Dia tidak habis pikir, bagaimana bisa ada orang seperti Nayla. Sudah jelas bersalah, tetapi masih mengelak.
“Bapak melakukannya karena Kinan tunangan Bapak, kan? Jika orang lain, apa Bapak akan membelanya?"
“Tidak peduli siapa pun orangnya. Jika bersalah, dia harus meminta maaf.”
“Maaf, Pak. Saya tidak masalah jika Nayla tidak mau meminta maaf. Lagi pula percuma juga memintanya untuk minta maaf jika tidak ikhlas,” sela Kinan.
Gadis itu tidak ingin masalah ini akan semakin bertambah panjang. Dia sangat tahu bagaimana Nayla yang pasti tidak akan mau meminta maaf. Akan selalu ada berbagai alasan yang dibuatnya untuk menghindar. Bukan sekali atau dua kali kejadian seperti ini terjadi.
Hanif yang mengerti maksud Kinan pun tidak lagi memaksa Nayla meminta maaf. Asal semua tahu jika Kinan tidak seperti yang mereka tuduhkan, itu sudah cukup baginya.
"Ya sudah, kalian kembalilah ke tempat duduk kalian," ujar Hanif. Kinan dan Nayla pun segera kembali duduk.
.
__ADS_1
.