
“Nggak tahu, Ma. Nanti aku tanya sama Mas Hanif. Aku ke kamar dulu, mau istirahat sebentar,” ucap Kinan yang segera berlalu dari sana.
Dia jadi merasa bersalah karena sudah berpikir yang tidak-tidak tentang Hanif. Begitu sampai di kamar, gadis itu melihat ponselnya. Ternyata ada beberapa panggilan tidak terjawab dari Hanif. Pasti pria itu tadi khawatir tentang kesalahpahaman ini.
Baru Kinan akan membuat panggilan, tetapi pria itu lebih dulu menghubunginya. Kinan menarik napas dalam-dalam kemudian menggeser tombol hijau. “Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, akhirnya kamu mengangkatnya juga. Maaf, aku tidak ada maksud apa pun untuk menanyakannya. Aku hanya itu ... hanya ....”
“Iya, aku mengerti. Barusan Bik Ira sudah cerita apa yang terjadi tadi,” potong Kinan.
“Memang apa saja yang terjadi?” tanya Hanif yang berada di seberang. Dia masih penasaran siapa yang dimaksud Firly tadi. Wanita itu berkata jujur atau hanya mengada-ada.
Kinan pun menceritakan apa yang dia dengar dari Bik Ira. Hanif mendengarkan dengan saksama, sesekali pria itu tertawa. Ternyata semua hanya kesalahpahaman saja. Dari awal memang dia tidak percaya dengan apa yang dikatakan Firly, ternyata memang benar keyakinannya.
“Jadi begitulah ceritanya. Aku heran, kamu kenal di mana orang seperti itu," cibir Kinan.
“Kenal juga nggak sengaja. Dulu dia satu sekolah sama aku. Mamanya dia juga berteman dengan mamaku.”
“Mama Aida nggak berpikir jika aku hamil, kan?” tanya Kinan membuat Hanif terdiam. Nyatanya memang Mama Aida mengira jika gadis itu hamil. “Aku tidak marah, semua orang juga pasti akan berpikir begitu.”
“Mama Aida memang berpikir seperti itu, tapi tidak percaya sepenuhnya. Dia juga ragu jika kamu benar-benar hamil, mengingat bagaimana keluarga kamu di mata Mama. Makanya tadi Mama minta aku buat nanya ke kamu agar semua jelas.”
“Bagaimana kalau aku beneran hamil?” tanya Kinan ragu-ragu.
Tidak dipungkiri jika dia penasaran. Bagaimana jadinya kalau gadis itu benar-benar hamil. Pasti semua orang akan menjauhinya. Kinan juga tidak tahu apa yang akan dilakukan orang tuanya. Membayangkan saja sudah membuat ngeri.
“Jangan berpikir yang tidak-tidak. Aku percaya padamu. Aku tidak suka kamu berbicara seperti itu. Itu sama saja dengan doa. Tidak baik berdoa seperti itu.”
“Iya, maaf. Aku hanya berandai-andai saja. Aku takut ....”
Kinan tidak melanjutkan ucapannya. Entah kenapa dia merasa dirinya telah salah berbicara. Hanif mengerti kegelisahan calon tunangannya. Pria itu pun berusaha mendengarkan isi hati Kinan.
“Takut apa?” tanya Hanif.
“Tidak apa-apa.”
__ADS_1
“Bilang saja kalau takut kehilangan aku," goda Hanif.
“PD sekali Anda, siapa yang bilang begitu?”
“Hatiku yang mengatakan hal itu. Sepertinya aku sudah mulai terpaut padamu, hingga hatiku pun sudah tahu apa jawabanmu bahkan saat kamu belum mengatakannya. Aku juga merasakan jika saat ini kamu sedang tersenyum. Benar apa yang aku katakan, bukan?”
Di seberang Kinan mencoba menahan senyumnya sendiri. “Enggak, siapa bilang!”
“Biasanya kalau gadis bilang tidak, itu berarti iya.”
“Dari mana teori seperti itu. Saya baru mendengarnya.”
“Banyak yang bilang seperti itu,” sahut Hanif. Pria itu terdiam sejenak, kemudian berkata, “Kinan, perlu kamu tahu. Bukan maksud aku untuk mendoakan yang buruk-buruk, tapi seandainya kalau kamu hamil, aku akan tetap menikah denganmu.”
“Meskipun kamu tidak tahu siapa pria yang sudah melakukannya?”
“Yang aku inginkan hanya bisa menikmati hari tua bersamamu dan anak-anak kita. Meski aku tidak tahu siapa ayahnya, aku akan tetap menyayanginya seperti anakku sendiri.”
Kinan terharu mendengarnya, kemudian buru-buru dia tepis pikiran buruk itu. “Sudahlah, tidak usah membahas hal itu. Aku Jadi ngeri mendengarnya,” potong Kinan.
“Iya, aku mengerti.”
“Bagaimana persiapan kamu di sana?” tanya Hanif mengalihkan pembicaraan.
“Semuanya lancar dan baik-baik saja. Kamu sendiri bagaimana, lancar juga?”
“Alhamdulillah, lancar juga. Kamu tahulah Mama, dia yang paling senang dengan acara ini. Dari tadi bolak-balik terus, aku sampai pusing melihatnya.”
“Mama juga sama, dia sangat antusias. Bahkan mengajakku ke salon, padahal aku nggak suka pergi ke salon. Aneh saja berada di sana.”
“Kamu nggak suka ke salon? Biasanya wanita itu suka tempat seperti itu. Memanjakan dan mempercantik dirinya.”
“Aku juga sebenarnya suka, tapi buat aku itu membuang banyak waktu, jadi ya begitulah, aku malas buat pergi ke sana. Apalagi jika harus antri."
“Kamu nggak perlu ke salon juga sudah cantik. Lebih baik seperti itu saja, tidak berlebihan dan sudah pas dengan karakter kamu. Kalau kamu makin cantik, aku takut akan banyak pria yang tertarik padamu dan aku akan kalah dari mereka."
__ADS_1
“Kamu sekarang sudah pandai gombal, padahal dulu kamu itu dingin kayak es. Aku aja males buat bicara sama kamu.”
“Aku begini juga cuma sama kamu. Seharusnya kamu senang dong dengan hal itu.”
“Benar sama aku saja? Nggak ada sama yang lain? Mungkin sama di Firly itu.”
“Nggak dong, Sayang. Aku hanya bersikap seperti ini sama kamu.”
Wajah Kinan memerah mendengar panggilan sayang dari Hanif. Pria yang dulu dia kenal sangat dingin dan arogan, kini begitu manis padanya. Gadis itu tersenyum sambil menggigit bibirnya, takut jika mengeluarkan suara yang akan semakin membuatnya malu.
Kinan mulai merasakan perasaan aneh. Dia sepertinya sudah mulai nyaman dengan kehadiran Hanif. Pria itu mampu membuatnya bahagia dan merasa terlindungi dengan kehadirannya. Entah ini yang dinamakan cinta atau bukan, yang pasti gadis itu tidak ingin terlalu terburu-buru memutuskannya.
“Kinan, kenapa diam?”
“Tidak apa-apa. Mas, Mama manggil aku, sampai sini dulu, ya!” Kinan berbohong karena ingin menghindari Hanif.
“Iya, tidak apa-apa. Sampaikan salamku pada kedua calon mertuaku.”
“Iya, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Kinan segera mematikan ponselnya. Gadis itu menutupi wajahnya dengan bantal, sungguh dia benar-benar sangat malu sekaligus bahagia. Kinan tidak menyangka jika akan diperlakukan semanis itu. Mudah-mudahan saja Hanif selalu menyayanginya.
Hanif yang sudah selesai menghubungi Kinan, segera turun. Dia ingin memberi kabar pada mamanya, bahwa memang benar seperti yang pria itu perkirakan sebelumnya. Jika yang mengaku hamil pada Firly memang Zayna. Wanita itu yang tadi menghadapinya demi membela Kinan.
Hanif menceritakan apa yang dia dengar juga pada mamanya. Mama Aida akhirnya merasa lega saat tahu jika bukan calon menantunya yang hamil, tapi istrinya Ayman. Ada rasa bersalah karena sempat meragukan calon menantunya.
“Apa Zayna tidak apa-apa? Mama takut jika Firly mencelakai istri Ayman. Dia wanita yang nekat.”
“Mama tidak perlu khawatir, sampai detik ini semuanya baik-baik saja.”
“Mama jadi nggak enak sama Tante Aisyah. Pasti dia berpikir yang tidak-tidak mengenai kita yang sudah menuduh putrinya”
.
__ADS_1
.