Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
217. Rindu pada cucu


__ADS_3

Zayna sudah membicarakan mengenai acara turun tanah putranya pada sang suami. Ayman setuju saja dengan rencana istrinya. menurut pria itu, apa pun itu jika untuk kebaikan Baby Ars akan dia lakukan. Segala hal Ayman persiapkan dengan sangat baik.


Mama Aisyah juga sudah berbicara dengan sang putri, mengenai Bik Ira yang akan membantu di sana. Namun, Kinan menolak. Dia merasa dirinya masih bisa melakukan semuanya sendiri. Lagi pula dokter juga tidak sepenuhnya melarang wanita itu bergerak.


Hanya sesekali saja dan itu pun cukup untuk Kinan. Dia tidak ingin merepotkan orang lain, selama dirinya masih bisa melakukan semuanya. Ada kursi roda yang disiapkan Hanif untuk mempermudah istrinya agar tidak kelelahan.


Kini di rumah Papa Hadi, semua orang sedang menikmati sarapan pagi. Baby Ars masih terdiam di atas strollernya. Bayi itu terlihat asik dengan mainan yang ada di tangan. Sejak tadi Zayna sama sekali tidak memperhatikan anaknya.


Wanita itu asyik dengan makanan yang ada di meja, membuat Ayman merasa aneh. Biasanya istrinya itu akan selalu sibuk dengan anaknya meski bayi itu terdiam. Sekarang malah sibuk sendiri. Baby Ars juga sepertinya sangat pengertian pada mamanya, dia diam saja dari tadi.


"Kenapa kamu dari tadi lihatin aku, Mas? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku?" tanya Zayna sambil meraba wajahnya. Dia takut jika memang ada sesuatu yang aneh di sana. Apalagi hari ini wanita itu memakai make up yang baru, apa mungkin tidak cocok dengan wajahnya.


"Tidak ada, Sayang. Hanya saja kamu aneh, dari tadi sibuk dengan makanan, tidak lihatin anaknya sama sekali. Biasanya kamu paling heboh dengan Baby Ars," jawab Ayman membuat Mama Aisyah dan Papa Hadi yang tadi makan pun ikut menoleh.


"Aku bukannya nggak lihatin Baby Ars, Mas, tapi dia 'kan nggak apa-apa jadi, aku rasa tidak ada salahnya kalau aku menikmati makanku. Apa tidak boleh?" tanya Zayna membuat Ayman menggelengkan kepalanya.


"Tidak, hanya aneh saja, akhir-akhir ini juga nafsu makan kamu makin bertambah."


"Itu wajar dong, Mas. Baby ars masih minum ASI jadi, kalau aku makannya banyak, kamu harusnya bisa ngerti."


Ayman mengangguk dan tidak lagi bertanya. Dia takut jika kata-katanya akan menyinggung sang istri. Lebih baik diam saja. Selama ini juga wanita itu juga, selalu melakukan segala hal dengan penuh tanggung jawab.


Zayna kembali menikmati sarapannya, begitu pun dengan yang lain. Mama Aisyah sendiri meski melanjutkan makannya, wanita itu tetap menatap ke arah sang menantu. Dia juga merasakan hal yang sama, seperti yang dirasakan oleh Ayman. Akhir-akhir ini Zayna memang memiliki nafsu makan yang besar.

__ADS_1


Bahkan setelah makan pun, wanita itu tetap mencari camilan atau sesuatu yang bisa dimakan. Akan tetapi, apa yang dikatakan oleh Zayna juga benar. Menantunya itu sedang memberi ASI, wajar jika sekarang nafsu makannya bertambah. Apalagi usia Baby Ars juga semakin bertambah. Sudah pasti minum ASI-nya juga semakin banyak.


Setelah sarapan, Papa Hadi dan Ayman pergi ke kantor, sementara Mama Aisyah harus pergi arisan bersama dengan teman-temannya. Zayna sendiri di rumah bersama dengan Baby Ars dan Bik Ira.


Wanita itu mengajak putranya bersantai di taman samping rumah sambil berjemur. Saat sedang asyik bersantai, tiba-tiba dia dikejutkan dengan kedatangan dua orang, yang sudah lama tidak ditemui.


"Assalamualaikum."


Zaina menoleh mendengar ada yang mengucap salam. Dia begitu terkejut melihat orang yang datang. Hingga beberapa detik baru wanita itu bisa mengeluarkan suaranya.


"Waalaikumsalam, Mama, Papa, kenapa tidak memberi rahu kalau mau datang?" tanya Zayna sambil memeluk kedua orang tuanya.


Papa Rahmat dan Mama Savina memang sengaja datang berkunjung. Mereka merindukan anak dan cucunya. Selama ini keduanya hanya bisa melihat lewat sambungan video call. Rasanya masih ada yang kurang jika tidak bertemu secara langsung.


Zayna begitu senang dengan kedatangan kedua orang tuanya. Dulu dia pernah berjanji akan datang ke sana. Namun, hingga detik ini belum ada waktu yang tepat untuk Ayman mengambil cuti. Pekerjaan pria itu masih sangat banyak. Zayna pun tidak bisa memaksa, sampai akhirnya sekarang malah kedua orang tuanya yang datang.


Zayna begitu terharu, bisa bertemu orang tuanya disaat dirinya juga sangat rindu. Cukup lama mereka berpelukan, hingga akhirnya Papa Rahmat mengurai pelukannya. Pria itu juga sudah sangat rindu pada cucunya.


"Cucu Opa sekarang sudah besar, ya! Baru berapa bulan Opa tidak bertemu, sudah besar saja," ucap Papa Rahmat sambil melihat ke arah cucunya.


Pria itu mendekati cucunya dan mulai menggendong Baby Ars. Dia benar-benar sangat rindu pada cucu pertamanya ini.


"Kamu kasih makan apa ini cucu Papa bisa segebul ini?” tanya Papa Rahmat pada putrinya tanpa melihat ke arah Baby Ars.

__ADS_1


"Dia belum makan apa-apa, Pa. Umurnya masih jalan enam bulan. Nanti kalau sudah pas enam bulan, baru boleh makan. Sekarang masih minum ASI saja."


Papa Rahmat mengangguk. Dia memang pernah mendengar jika bayi sekarang, memang tidak diperbolehkan makan hingga usia enam bulan. Berbeda dengan zamannya dahulu, baru satu bulan sudah diberi makan bubur atau pisang.


Bi Ira datang dengan membawa dua gelas minuman, serta sepiring kue yang dia beli tadi di pasar. Zayna mengajak kedua orang tuanya untuk duduk di gazebo yang ada di taman. Lebih nyaman di sana daripada di dalam ruangan. Udara juga terasa segar.


Banyak hal yang mereka bicarakan di sana. Tidak lupa juga Mama Savina memberikan kado dari Zanita untuk Baby Ars. Dia sendiri tidak tahu apa isinya karena saat ditanya, putrinya enggan menjawab. Zanita hanya mengatakan jika itu kado spesial untuk keponakannya.


Zayna menerima hadiah itu dengan senang hati. Dia senang jika adiknya sekarang sudah banyak berubah ke hal yang lebih baik. Wanita itu juga merindukan adiknya. Ingin sekali Zayna bertemu secara langsung dan melihat bagaimana perubahan dari zanita.


Dia juga ingin berkunjung ke makam Zivana. Memang selama ini wanita itu tidak lupa untuk mengirim doa untuk almarhum, tetapi akan berbeda jika datang secara langsung. Zayna juga sudah lama tidak datang ke kampung halamannya. Entah bagaimana sekarang suasananya.


"Rumah terlihat sepi sekali, Na. Ke mana semua orang? Mertua kamu juga ke mana?" tanya Mama Savina.


"Papa pergi ke kantor, kalau mama pergi arisan. Beliau pergi pagi-pagi sekali, katanya sekalian bantu-bantu di rumah temannya karena hari ini, arisan di rumah teman dekat mama," jawab Zayna yang diangguki oleh Mama Savina.


Mereka pun berbincang banyak hal, hingga tidak sadar kini sudah memasuki waktu makan siang. Mama Aisyah tidak kunjung pulang. Padahal tadi sebelumnya wanita itu mengatakan, akan pulang saat jam makan siang. Mungkin ada acara dadakan yang membuat mertua tetap berada di sana.


"Neng, makan siang sudah siap. Apa mau makan sekarang?" tanya Bik Ira.


"Iya, Bik. Sekarang saja, ini juga sudah waktunya makan siang. Mungkin Mama Aisyah makan di rumah temannya," jawab Zayna yang kemudian beralih menatap kedua orang tuanya. "Pa, Ma, ayo kita makan siang dulu! Pasti Papa dan Mama juga sudah lapar habis perjalanan jauh," ajak Zayna.


Mereka pun masuk ke dalam rumah bersama. Baby Ars berada di dalam gendongan Mama Savina. Wanita itu begitu gemas pada cucunya yang begitu gembul.

__ADS_1


.


.


__ADS_2