Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
220. Bersama menantu


__ADS_3

"Kalau Mama yang bosan, Mama boleh keluar?" tanya Kinan sambil melihat ke arah putranya.


"Nggak boleh, Ma. Tadi sudah dibilangin sama papa, kalau Mama harus banyak-banyak istirahat. Nggak boleh banyak gerak. Sudah, lebih baik Mama tidur saja. Aku mau ambil mainan dan membawanya ke sini." Adam segera berdiri dan pergi ke kamarnya untuk mengambil mainan. Dia tidak mau mamanya kembali bertanya atau membujuknya. Lebih baik pria itu pura-pura sibuk.


Kinan memandangi sang putra, saat anak itu masuk dengan membawa satu kantong besar ke dalam kamarnya. Adam menumpahkan mainannya di lantai, yang ternyata mainan yang dibawa adalah puzzle. Kinan memang tidak tahu jika satu tas besar itu isinya puzzle semua. Dia memang tidak pernah membereskan makanan mainan putranya.


Anak itu sendiri sudah membereskannya semua mainannya setelah selesai bermain. Itulah kenapa Kinan tidak tahu apa saja mainan yang dimiliki oleh putranya. Kebanyakan juga dibelikan oleh Mama Aida. Wanita paruh baya itu sering membalikan mainan untuk cucunya jika pergi keluar.


Kinan memandang Adam yang sedang menyusun puzzle. Terlihat anak itu begitu fokus pada apa yang dikerjakan. Dia yakin suatu hari nanti Adam akan menjadi anak yang hebat karena setiap apa yang dikerjakan, pasti akan diselesaikan dengan sempurna. Hasil pekerjaannya juga sangat fokus.


Terlalu asik memandangi sang putra, tanpa sadar wanita itu tertidur. Adam yang sudah selesai dengan apa yang disusun pun, menatap ke arah mamanya. Dia tersenyum saat mendapati Kinan yang sudah tertidur. Anak itu memasukkan semua mainannya dalam kantong yang dibawa tadi. Adam juga memastikan jika tidak ada yang tertinggal.


Setelah semuanya beres, anak itu membawanya kembali ke dalam kamarnya dan memilih untuk pergi ke taman. Dia ingin menyiram bunga seperti biasanya. Namun, ternyata di sana sudah ada Mama Aida yang lebih dulu menyiramnya. Adam mendekati omanya, berniat menggantikan pekerjaan wanita itu.


"Eh, kamu adam. Oma kira kamu menemani Mama kamu istirahat di kamar," ucap Mama Aida begitu melihat cucunya datang.


"Mama sedang tidur, Oma. Makanya aku turun, takut mengganggu istirahat mama. Aku juga sudah meletakkan pesan kalau nanti Mama bangun, bisa menghubungi ponsel Bik Ira atau Oma. Biar tidak turun dari ranjang."


"Mama kamu itu orangnya bandel, susah dikasih tahu. Pasti nanti ujung-ujungnya turun dari ranjang."


"Insya Allah tidak, Oma. Bagaimanapun juga Mama pasti ingin yang terbaik untuk adik bayi. Mama pasti nanti juga lebih hati-hati dalam melakukan sesuatu."


Mama Aida mengangguk. "Mudah-mudahan saja seperti itu."

__ADS_1


Mama Aida menatap Adam. Dia berharap jika nanti, saat anak Kinan lahir, wanita itu tidak memiliki rasa iri terhadap adiknya. Sebagai seorang nenek dia merasa khawatir. Terkadang yang sama-sama anak kandung saja, bisa merasakan iri karena para orang tua, lebih perhatian pada anak bayi mereka.


Apalagi Adam yang anak angkat. Anak itu sudah dewasa, pasti mengerti perbedaan antara dirinya dengan anak yang ada dalam perut Kinan. Adam yang melihat keterdiaman Omanya pun merasa aneh. Sepertinya wanita paruh baya itu sedang memikirkan sesuatu, pasti itu tentang diri.


"Oma, kenapa ngeliatin aku kayak gitu? Apa ada sesuatu yang aneh di wajahku? Atau aku melakukan sesuatu yang salah?" tanya Adam sambil meraba wajah dan tubuhnya. Mama Aida tertawa mencoba menutupi rasa gelisah yang dia rasakan.


"Tidak apa-apa, Oma hanya senang dengan keberadaan kamu. Oma jadi nggak sendirian lagi."


"Oma ada-ada saja. Oh ya, Oma udah minum obat, belum? Oma harus cepat sehat, biar nanti bisa gendong adik bayi."


"Sudah, Oma tadi sudah minum obat, kok! Kamu ini seperti yang lain saja, selalu memanasi Mama dengan menggunakan adik bayi kamu," ucap Mama Aida dengan cemberut.


Tentu saja Adam tertawa karena memang dirinya mengikuti apa yang Opa Wisnu katakan. Jika pria itu membujuk istrinya untuk minum obat. Lagi pula dia memang tidak ingin omanya sakit. Nanti semua orang jadi ikut sedih, Maysa juga selalu kepikiran.


Adam pun meraih selang yang ada di tangan Mama Aida. Dia meminta wanita itu masuk ke dalam rumah. Anak itu begitu senang saat menyiram bunga. Mama Aida pun mengikuti saran Adam untuk masuk ke dalam rumah.


Awalnya wanita paruh baya itu ingin ke kamarnya sendiri. Namun, dia teringat sang menantu, akhirnya Mama Aida menuju kamar tamu, di mana menantunya sekarang tertidur. Wanita itu membuka pintu dengan pelan agar tidak membangunkan menantunya. Dia pun membaringkan tubuhnya di sisi ranjang Kinan yang kosong.


Mama Aida merebahkan tubuhnya dengan sangat pelan agar tidak membangunkan sang menantu. Bahkan dia tidak berani bergerak jadi, wanita itu menahannya. Mama Aida tidur di sini agar sekalian menjaga menantunya.


Wanita itu menguap beberapa kali. Akhir-akhir ini wanita itu selalu saja tertidur. Mungkin efek dari obat dari dokter yang diminum. Tidak membutuhkan waktu lama, akhirnya Mama Aida pun menuju ke alam mimpi.


****

__ADS_1


Sore hari di rumah Pak Hadi, semua orang berkumpul di ruang keluarga. Mereka berbincang dan bercanda bersama. Banyak hal yang Mama Aisyah bicarakan dengan Mama Savina. Baby Ars sendiri sangat anteng di atas stroller.


Zayna membantu Bik Ira untuk menyiapkan makan malam. Para pria juga membicarakan banyak hal. Dari olahraga sampai hiburan yang menyenangkan. Papa Wisnu dan Papa Rahmat memiliki kesamaan, yaitu suka menonton sepak bola. Berbeda dengan Ayman yang lebih suka bulu tangkis.


"Apa Baby Ars memang seperti ini, ya, Bu Aisyah. Selalu gemesin, rasanya pengen aku bawa pulang saja," ucap Mama Savina sambil mengusap pipi cucunya.


"Iya, memang seperti itu. Makanya kalau saya pergi keluar, suka keingetan sama dia. Nggak mau lama-lama di luar. Cuma sekarang Kinan juga sedang hamil, dia juga perlu diperhatikan jadi, saya harus membagi waktu antara Baby Ars dan Kinan."


"Anak Bu Aisyah sudah hamil! Alhamdulillah kalau begitu, saya pernah dengar jika dia sudah sangat menginginkannya. Memang sudah berapa bulan, Bu?"


"Iya alhamdulillah, baru enam minggu. Kemarin sempat mengalami pendarahan dan sekarang harus istirahat total. Kinan itu anaknya susah sekali untuk diajak diam, Bu. Makanya saya sering khawatir sama dia, takut nggak bisa menjaga diri jadi memaksakan kehendak."


Dari dulu Kinan memang sangat aktif. Karena itu saat dokter meminta agar beristirahat total, Mama Aisyah yang paling khawatir. Setiap jam dia pasti mengirim pesan pada putrinya untuk lebih hati-hati. Tidak lupa juga meminta fotonya untuk memastikan keberadaannya.


"Anak muda memang seperti itu, Bu. Tapi, apa sebelumnya dia makan makanan yang aneh, sampai pendarahan begitu?" tanya Mama Savina yang memang belum mengetahui kejadian tersebut.


"Dia mengalami kecelakaan, dia terjatuh saat di kampusnya. Saat itu sebenarnya dia juga nggak tahu kalau sudah hamil, tahunya itu pas kecelakaan," jawab Mama Aisyah.


Dia tidak mau menceritakan apa yang sudah terjadi pada putrinya. Biarlah itu menjadi urusan sang menantu. Semuanya juga sudah diselesaikan oleh Hanif. Wanita itu yakin si pelaku pasti jera dan tidak akan mengulanginya lagi, pada Kinan ataupun pada mahasiswa yang lain.


Itu juga peringatan untuk mahasiswa yang lain agar tidak lagi melakukan pembullyan. Setiap orang berhak mendapat pendidikan yang layak, tidak seharusnya mengalami hal itu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2