
“Papa,” panggil Adam saat keluar dari gerbang sekolah. Anak itu terlihat begitu bahagia.
Hanif mendongakkan kepala saat mendengar ada seseorang yang memanggilnya. Dia tersenyum melihat keberadaan putranya di sana. Adam berjalan mendekati Hanif dan mencium punggung tangan pria itu.
“Kamu sudah selesai?” tanya Hanif sambil mengusap kepala sang putra.
"Sudah, Pa. Ayo kita ke rumah sakit! Aku mau lihat dedek bayi," ajak Adam dengan begitu bersemangat.
"Sebaiknya kita pulang saja. Adek Zea sudah pulang tadi. Sekarang sudah ada di rumah sama mama juga."
"Oh ya! Sekarang sudah pulang?" tanya Adam dengan wajah sumringah. "Ayo, Pa! Aku sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Adik Zea."
Adam terlihat begitu bersemangat. Hanif hanya bisa menggelengkan kepala melihat hal itu. Dulu biasanya anak itu selalu tidak sabar ingin pulang untuk bertemu dengan Kinan. Sekarang justru adiknya yang jadi prioritas, tetapi dia tahu rasa sayang Adam pada mamanya tidak akan pernah berkurang.
Hanif dan Adam pun menaiki mobil dan meninggalkan halaman sekolah. Sepanjang perjalanan selalu ada saja yang ditanyakan Adam. Dari makanan dan kebiasaan apa saja yang dilakukan adiknya.
"Adek Zea belum boleh makan. Dia hanya minum ASI, tenggorokannya masih kecil, belum bisa menelan makanan jadi, Adam tidak boleh memberinya makan," jawab Hanif.
"Kalau jalan, bisanya kapan?"
"Masih lama, sekitar umur satu tahun. Sama seperti Adek Ars," jawab Hanif.
Adam hanya menganggukkan kepala. Anak itu sudah tidak sabar ingin bermain dengan adiknya. Entah kapan Baby Zea bisa diajak bermain. Meskipun perempuan, itu tidak masalah baginya. Anak itu nanti juga mau diajak bermain apa saja, termasuk bermain boneka. Dia tidak akan membiarkan adiknya menangis. Adam akan selalu menjaga Baby Zea dengan segenap jiwanya.
Tidak berapa lama mobil yang mereka tumpangi, akhirnya sampai juga di depan rumah. Adam segera turun dan berlari masuk untuk melihat adiknya. Dia sama sekali tidak menghiraukan panggilan papanya agar mencuci tangan dan kakinya sebelum masuk rumah.
"Assalamualaikum!" teriak Adam.
"Waalaikumsalam, ini kenapa anak mama teriak-teriak?" tanya Kinan yang berada di ruang keluarga sambil memangku Baby Zea.
__ADS_1
"Aku kangen sama adik, Ma." Adam berjalan mendekati mama dan adiknya. Namun, dicegah Kinan terlebih dahulu.
"Adam, tadi sudah cuci tangan dan kaki belum di luar?"
Adam menggeleng sebagai jawaban. Sebelumnya juga tidak pernah jadi untuk apa dia mencuci baju.
“Sekarang Kakak pergi ke kamar dulu, cuci tangan sampai kaki. Baru bisa pegang Adek Zea. Adik bayi masih kecil, masih rawan dengan virus. Nanti kalau sembarangan dipegang malah sakit nanti. Apa Kakak nggak kasihan kalau adek sakit?"
"Oh, begitu, Ma. Sebentar, Adam mau cuci tangan sama kaki dulu." Adam berbalik ingin pergi ke kamar. Namun, dia melihat Hanif berjalan mendekat. Anak itu pun mencegahnya. "Papa tidak boleh dekat adik karena belum cuci tangan sama cuci kaki."
"Siapa bilang belum! Ini lihat tangan sama kaki Papa sudah basah. Tadi Papa sudah cuci kaki di luar," jawab Hanif yang justru membuat Adam cemberut.
"Kenapa Papa tidak bilang dari tadi, kalau di luar harus cuci kaki dan tangan dulu sebelum masuk. Papa curang." Adam pergi ke kamar dengan menghentakkan kakinya. Anak itu kesal pada Hanif yang tidak memberitahunya.
"Hei! Bukannya Papa nggak mau kasih tahu kamu, tapi tadi kamu main pergi begitu saja. Papa sudah teriak, kamu malah nggak peduli, sama sekali," ucap Hanif yang sama sekali tidak ditanggapi oleh adam. "Kenapa dia jadi yang marah? Dia sendiri yang terburu-buru masuk ke dalam rumah, bahkan ninggalin aku di dalam mobil," gerutu Hanif yang membuat Kinan terkekeh.
"Sudah, Mas. Lebih baik kamu ke kamar mandi dulu, setelah itu kita makan siang sama-sama. Bik Isa juga lagi masak," sela Kinan.
"Makan siang sudah matang, Bu. Apa mau disiapkan sekarang?" tanya Bik Isa.
"Iya, tidak apa-apa, siapkan saja. Mas Hanif sama Adam juga sudah pulang, sebentar lagi pasti turun," jawab Kinan yang diangguki oleh Bik Isa. Wanita paruh baya itu pun segera kembali ke dapur untuk menyiapkan makan siang majikannya.
Hingga berapa saat kemudian, semua orang berkumpul di ruang makan. Sudah waktunya untuk makan siang. Baby Zea saat ini sedang bersama dengan Erin di ruang keluarga. Adam juga ada di sana, anak itu membawa makan siangnya ke ruang keluarga. Dia bilang ingin makan bersama dengan adiknya
Padahal sudah jelas jika Baby Zea belum bisa makan apa pun. Hanya saja Adam senang makan dengan ditemani oleh adiknya. Semua orang juga tidak mempermasalahkan hal itu.
****
Hari yang dinantikan oleh Zayna dan Ayman akhirnya tiba juga. Di mana saat ini wanita itu harus menjalani operasi caesar. Sebisa mungkin mereka tetap tenang meski hatinya tidak. Segala doa keduanya panjatkan. Keluarga juga ikut mendoakan agar Zayna dan kedua anaknya dalam keadaan sehat.
__ADS_1
Ayman beserta orang tua dan mertuanya menunggu di depan ruang operasi. Papa Rahmat dan Mama Savina sudah datang dari kemarin. Keduanya memang sengaja datang untuk memberi dukungan pada Zayna. Mereka ingin yang terbaik untuk anak dan cucunya, semoga semuanya bisa terlewati dengan baik.
“Ma, berapa lama operasi caesar biasanya?” tanya Ayman yang sudah tidak sabar menunggu. Dia sedari tadi sudah menunggu, tetapi tidak ada tanda-tanda operasi sudah selesai.
"Mama juga tidak tahu, Mama 'kan tidak pernah operasi caesar," jawab Mama Aisyah yang kemudian beralih menatap besannya. "Bu Savina tahu berapa lama proses operasinya?"
Mama Savina menggeleng sambil berkata, "Saya juga tidak tahu. Selama ini saya selalu melahirkan secara normal."
Ayman mengembuskan napas kasar. Dia benar-benar sudah sangat khawatir mengenai keadaan sang istri. Tiba-tiba saja rekaman persalinan pertama terlintas dalam benaknya. Apalagi saat ini Zayna harus melahirkan dua anak sekaligus, tentu saja hal itu membuat Ayman semakin khawatir.
"Sebaiknya kamu banyak berdoa, jangan terlalu khawatir. Hal itu akan semakin membuat Zayna gelisah. Doa dari seorang suami pasti sampai pada istrinya," ucap Papa Hadi sambil menepuk bahu sang putra.
Sebagai seorang ayah, dia bisa merasakan kekhawatiran putranya. Dulu dirinya juga sama seperti itu. Meskipun Papa Hadi tidak pernah mendampingi sang istri dalam persalinan, tetapi pria itu bisa merasakan ketegangan yang dialami oleh Ayman.
Hingga akhirnya pintu ruang operasi terbuka. Tampak seorang dokter wanita keluar dengan masih menggunakan baju khusus operasi. Meski masih memakai masker, tetapi semua orang masih bisa melihat jika dokter itu tersenyum lebar. Semua orang mendekati dokter tersebut dan menanyakan keadaan Zayna.
Terutama Ayman yang mendekat lebih dulu. Pria itu yang paling gelisah dari semua orang. Sebenarnya dia tidak ingin ada pikiran buruk, tetapi semua itu masuk ke kepalanya begitu saja.
"Bagaimana keadaan istri dan anak-anak saya, Dokter?" tanya Ayman saat sampai di depan dokter tersebut.
Dokter tersenyum ke arah Ayman dan menjawab, "Selamat, Pak. Anak Anda keduanya perempuan dan sangat cantik. Istri dan anak-anak Anda juga sehat."
"Alhamdulillah," sahut semua orang dengan serentak.
"Sebentar lagi perawat akan membawanya keluar dan memindahkannya ke ruang rawat. Anda bisa mengazani kedua putri Anda. Nanti juga akan ada dokter anak yang akan memeriksa kesehatannya. Semoga semuanya baik juga."
"Amin."
.
__ADS_1
.