Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
49. Arisan


__ADS_3

Zayna sedang membersihkan halaman bersama dengan Bik Ira. Tiba-tiba Mama Aisyah datang. Dia tampak menghela napas panjang saat melihat apa yang dilakukan menantunya. Entahlah, kenapa Zayna tidak bisa diam.


"Zayna, ayo, kamu ikut Mama! Simpan dulu itu sapunya berikan sama Bik Ira," perintah Mama Aisyah.


"Mau ke mana, Ma?" tanya Zayna sambil menatap mertuanya.


"Sudah, ikut saja. Kamu pakai pakaian yang rapi, jangan bikin malu saya. Ingat itu!" seru Mama Aisyah dan kembali ke dalam rumah.


"Bik Ira, maaf, ya. Aku nggak bisa bantu lagi. Aku harus ikut mama."


"Iya, tidak apa-apa, Neng."


"Ya sudah, Bik. Aku masuk dulu."


Zayna memasuki rumah. Dia akan bersiap pergi bersama dengan mertuanya. Entahlah, mau pergi ke mana, mau belanja atau mau jalan-jalan saja di mall. Tadi Wanita itu berniat bertanya ke mana tujuannya karena tidak ingin salah kostum.


Zayna memakai alat make up yang dibelikan oleh Mama Aisyah. Dia hanya memakai sedikit saja karena tidak mau terlihat menor dan lebih tua. Setelah selesai, wanita itu keluar ternyata mertuanya sudah menunggu di ruang keluarga.


"Kamu itu dari tadi ngapain aja, sih! Lama banget, tampilannya juga gitu-gitu aja," gerutu Mama Aisyah. "Ayo, kita berangkat!"


Mama Aisyah berjalan ke depan diikuti Zayna di brlakang. Keduanya menaiki mobil yang dikendarai oleh Pak Doni. Setengah jam kemudian akhirnya mereka sampai juga di depan sebuah rumah. Sudah ada beberapa mobil yang berjajar di sana. Pasti teman-temannya sudah datang.


Sebenarnya Mama Aisyah sangat malas jika harus ikut berkumpul dalam acara arisan seperti ini. Akan tetapi, dia tidak mungkin menolak ajakan Indy—sahabatnya. Mereka seringkali memamerkan segala hal yang dimiliki, bahkan tidak segan saling mengejek satu sama lain.


Mama Aisyah menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya. "Ayo, kita masuk! Ingat jangan buat malu keluarga!"


"Iya, Ma." Zayna pun mengikuti mertuanya masuk rumah itu.


"Assalamualaikum," ucap Mama Aisyah bersama Zayna.


"Waalaikumsalam. Eh, Bu Aisyah, sudah datang!" seru pemilik rumah yang bernama Bu Indy. "Wah, sama siapa ini?"


Semua orang pun melihat kedatangan Mama Aisyah yang sedang bersama menantunya. Zayna tersenyum sambil menundukkan sedikit kepalanya. Baru kali ini dia berada di acara seperti ini. Wanita itu sering melihatnya di acara televisi, tetapi baru kali ini merasakan datang secara langsung.

__ADS_1


"Kenalkan ini menantu saya, Bu. Namanya Zayna."


"Istrinya Ayman? Kok, saya baru tahu kalau dia sudah menikah? Kapan nikahnya?"


Semua orang yang ada di sana juga menatap Mama Aisyah dan Zayna. Jika dihitung ada sepuluh orang. Mereka saling berbisik membicarakan keduanya. Bu Indy yang melihat itu pun merasa tidak enak pada temannya.


"Sudah satu bulan yang lalu. Memang Ayman belum mengadakan resepsi, baru akad nikahnya saja. Kami masih mencari hari yang tepat."


"Wah, saya juga baru dengar kalau Bu Aisyah punya menantu. Dari keluarga mana, nih, Bu?" timpal Bu Siska. Dia juga tamu yang ada di acara arisan ini.


"Dia dari keluarga biasa saja, kok, Bu. Saya tidak pernah menuntut anak saya untuk memiliki istri dari kalangan pebisnis apalagi sampai bangsawan."


"Jadi ini pilihan Ayman sendiri, Bu? Bukannya, Bu Aisyah sudah berencana untuk menjodohkan Ayman dengan anak sahabat Ibu? Kalau nggak salah namanya Wina, benar, kan?"


"Saya memang awalnya berniat untuk menjodohkan Ayman, tapi anaknya sendiri menolak. Mau bagaimana lagi, saya juga bukan tipe orang tua yang suka memaksakan kehendak kepada anak saya," sahut Mama Aisyah dengan tersenyum. Meski dirinya tahu kini sedang menjadi bahan cibiran mereka.


"Nama kamu siapa?" tanya Bu Sisca dengan menatap Zayna dari atas hingga bawah.


"Nama saya Zayna, Bu."


"Tidak, Bu. Saya tidak kuliah, saya hanya lulusan SMA."


"Cuma lulusan SMA," ujar Bu Siska dengan nada meremehkan. "Ya ampun! Saya baru tahu kalau selera Ayman seperti itu. Anak saya saja memilih istri yang lulusan S2. Lihat ini! Ini menantu saya namanya Vita. Kenapa Bu Aisyah setuju saja?" tanya Bu Sisca sambil memperkenalkan menantunya.


"Seperti yang saya bilang sebelumnya, saya tidak pernah memaksakan kehendak kepada anak saya. Ayman sendiri yang memilih. Saya hanya bisa merestuinya."


"Apa, Bu Aisyah, tidak malu punya menantu yang hanya lulusan SMA?"


"Tidak, selama dia bisa melakukan tugas seorang istri, kenapa harus malu? Justru saya senang memiliki menantu seperti Zayna. Dia rajin, pandai memasak dan juga pintar menyenangkan suami. Kekayaan keluarga saya sudah sangat cukup untuk memenuhi kebutuhan rumah tangga kami dan kebahagiaan adalah yang paling utama di keluarga kami."


Zayna merasa terharu dengan pembelaan dari mama Aisyah. Awalnya dia mengira jika sang mertua pasti akan malu memiliki menantu seperti dirinya, tetapi di luar dugaan Mama Aisyah yang justru membela.


"Ya sudah, Ayo kita duduk di sana! Tidak usah diperpanjang pembicaraan ini," ajak Bu Indy. Namun, baru beberapa langkah terdengar suara langkah kaki dari arah tangga. Ternyata dia adalah anak dari ibu Indy.

__ADS_1


"Kamu mau ke mana? Bukannya sekolah libur?" tegur Bu Indy saat melihat putrinya turun dengan menenteng tas, tetapi menggunakan pakaian santai.


"Iya, Ma, tapi ini mau ke rumah teman buat ngerjain tugas kelompok, gimana dong?" tanya Ina—anak Bu Indy.


"Nggak boleh. Kamu di rumah saja, ngerjain di rumah sendiri."


"Aku nggak bisa, Ma. Mama kalau bisa coba kerjain aja!"


"Mama mana bisa! Mama sudah tua, sudah lupa pelajaran gituan. Coba tanya sama Kak Vita saja. Kak Vita, kan S2, pasti bisa ngerjain soal gampang seperti itu."


"Benar, Kak Vita! Ya sudah, tolong bantu dong, Kak! Kakak pasti bisa, dong? Ini, Kak, tugasnya," ujar Ina sambil memberikan bukunya pada Vita.


Terlihat menantu Bu Siska itu salah tingkah. Dia bingung harus berkata apa. Vita pun mencoba mencari alasan yang tepat. "Aduh, maaf, aku kayaknya lagi pusing jadi, nggak bisa mikir."


"Yah, Kakak, ini sebentar saja, kok! Masa Kakak nggak kasihan sama aku atau jangan-jangan memang Kakak nggak bisa? Selama ini tugas Kakak pasti dikerjain orang lain, kan?"


"Sembarangan kamu! Mana mungkin seperti itu. Saya ngerjain sendiri, kok!" Vita mencoba membela diri. Dia tidak ingin harga dirinya diinjak-injak.


"Kalau gitu, tolong dong kerjain tugas aku, tapi jangan asal, ya, Kak! Aku nggak mau nanti malah jadi masalah."


Vita mengambil buku Ina dengan raut wajah kebingungan. Dia tampak mengamati tugas yang diberikan oleh anak Bu Indy itu. Semua orang masih diam memperhatikan apa yang akan dilakukan menantu Bu Sisca.


"Kok, dari tadi diam aja, Kak! Ayo, dong cepat! Aku nggak mau lama-lama duduk di sini sama ibu-ibu."


"Kamu ini nggak sabaran banget, sih! Menantu saya lagi mikir," sela Bu Sisca.


"Kelamaan, Tante. Aku juga masih banyak tugas lainnya."


"Boleh saya bantu?" tawar Zayna.


.


.

__ADS_1


.


__ADS_2