
"Tapi, Pa. Hanif pasti khawatir pada Kinan, dia takut terjadi sesuatu padanya," ucap Mama Aida.
"Sebaiknya ditelepon saja, Pak Wisnu. Katakan saja jika Kinan baik-baik saja, tadi itu hanya kecelakaan kecil atau apalah terserah kalian," sela Mama Aisyah yang diangguki oleh pasangan suami istri itu.
Akhirnya Mama Aida hubungi anaknya. Dia sangat tahu bagaimana perasaan Hanif saat ini. Pasti sang putra tidak tenang. Wanita itu mencari nomor Hanif dan menggeser tombol hijau.
"Bagaimana keadaan Kinan, Ma?" tanya Hanif begitu panggilan tersambung.
"Assalamualaikum," sela Mama Aida karena Hanif lupa mengucap salam.
"Waalaikumsalam, Ma. Bagaimana keadaan Kinan? Dia baik-baik saja, kan? Tidak ada yang terluka parah? Bagaimana bisa dia kecelakaan?" tanya Hanif beruntun, membuat Mama Aida menggelengkan kepala. Benar seperti perkiraannya, bahwa putranya sangat khawatir.
"Kinan baik-baik saja, dia hanya kecelakaan kecil."
"Sekarang di mana dia, Ma? Aku ingin bicara sama Kinan."
Mama Aida menatap sang suami. Seolah bertanya harus menjawab apa, tetapi pria itu hanya diam karena tidak tahu apa yang mereka bicarakan.
"Kinan masih ada di ruangan dokter sebentar lagi juga keluar. Kita semua tidak bisa masuk, di dalam hanya ada Mama Aisyah sama Papa," jawab Mama Aida yang terpaksa berbohong.
Hanif mengembuskan napas lega meski dalam hatinya masih ada rasa khawatir. Akan tetapi, setidaknya ada kabar tentang istrinya tersebut.
"Nanti kalau Kinan sudah keluar, tolong telepon aku, ya, Ma. Aku benar-benar tidak tenang."
"Iya, kamu sekarang ada di mana? Bagaimana keadaan di sana? Apa keluarga Adam setuju untuk tanda tangan?" tanya Mama Aida yang memang sudah mengetahui rencana putranya dari sang suami.
Setiap apa pun yang terjadi dikehidupannya, Papa Wisnu memang selalu menceritakannya pada sang istri. Tidak ada apa pun yang dirahasiakan oleh pria itu pada istrinya.
"Alhamdulillah, semuanya berjalan dengan lancar. Keluarganya juga tidak mempersulit keinginan kita. Sekarang aku dan yang lainnya sedang dalam perjalanan pulang. Mungkin nanti sebelum maghrib sudah sampai."
Mama Aida merasa lega mendengarnya. Satu masalah di keluarganya telah selesai. Kini mereka harus menyelesaikan masalah Kinan. Dia penasaran dengan kecelakaan yang menantunya alami, entah kenapa wanita itu tidak yakin jika menantunya bersalah.
"Iya, hati-hati jangan ngebut. Kalian juga harus jaga diri."
"Iya, Ma. Mama sendiri bagaimana keadaannya? Tadi pagi 'kan Mama juga nggak enak badan. Sebaiknya Mama juga sekalian periksa mumpung di rumah sakit. Aku nggak mau lihat Mama tambah sakit. Sekarang Kinan juga ikutan sakit meskipun dia tidak kenapa-napa, pasti ada sedikit luka."
"Iya, nanti habis ini Mama periksa. Ya sudah, nanti Mama hubungi lagi."
__ADS_1
"Nanti kalau ada sesuatu, segera hubungi aku, ya, Ma."
"Iya."
Mama Aida segera menutup ponselnya dan menatap sang suami. Dia hanya bisa menghela napas, ternyata berbohong itu sangat melelahkan. Sebelumnya harus merancang kebohongan-kebohongan yang lain. Jika bukan untuk memberi kejutan untuk putranya, wanita itu mana mau berbohong.
"Tadi Mama sudah janji sama Hanif mau periksa juga. Sekarang Papa anterin, mumpung ini masih siang. Dokter juga masih ada," ucap Papa Wisnu yang memang mendengar pembicaraan istri dan anaknya karena pria itu berdiri di dekan Mama Aida.
"Tapi Mama mau nungguin Kinan, Pa."
"Nanti kita lihat Kinan setelah Mama diperiksa."
"Iya, Aida. Kamu tenang saja, aku akan jagain Kinan. Nanti aku hubungin kamu jika Kinan sudah pindah ruangan agar kalian tidak tersesat," sela Mama Aisyah, dia juga bisa melihat wajah pucat besannya. Aida pasti sedang menahan sakitnya.
Mama Aida terdiam, sebenarnya dia merasa berat jika harus meninggalkan Kinan. Wanita itu juga ingin sehat karena saat ini menantunya sedang hamil. Mama Aida sudah tidak sabar ingin bertemu dengan cucunya.
"Baiklah kalau begitu. Aku mau periksa dulu, Syah. Nanti kalau ada sesuatu tentang Kinan, kamu segera hubungi aku, ya?"
"Iya nanti aku hubungi kamu. Jangan terlalu banyak berpikir, kamu harus segera sehat biar bisa gendong cucu kita."
"Maaf, Pak. Saya sampai melupakan Anda. Terima kasih atas bantuannya," ucap Mama Aisyah sambil tersenyum canggung ke arah Frans.
"Bukankah setiap manusia memang harus saling tolong menolong. Saya hanya melakukan tugas saja."
"Maaf, bukan maksud saya mengusir, tapi sebaiknya Anda pulang saja. Saya tidak mau terlalu merepotkan Anda. Sekali lagi terima kasih."
"Iya, tidak apa-apa. Saya juga masih harus menunggu Dokter Ina yang masih berada di dalam."
"Oh iya, saya lupa."
Keduanya kembali terdiam, tidak berapa lama pintu ruangan terbuka, tampak Kinan yang terbaring di atas brankar. Dua orang perawat mendorongnya menuju ruang rawat yang sudah dipersiapkan. Mama Aisyah mengikutinya dari samping.
Terlihat Kinan tersenyum ke arah wanita yang sudah melahirkannya itu. Dia juga sangat senang mendengar berita kehamilannya. Hal yang selama ini ditunggu-tunggu. Namun, Kinan merasa sedih karena setelah ini, dia harus banyak beristirahat untuk kebaikan dirinya dan calon anaknya.
Dirinya orang yang paling tidak bisa diam dan kini dia harus istirahat total di rumah. Kemungkinan wanita itu juga akan mengambil cuti. Padahal Kinan ingin segera lulus agar bisa menjaga anaknya seharian. Jika sekarang cuti, sudah pasti dia akan melanjutkan kuliahnya setelah lulus.
Saat sampai di ruangan, perawat memindahkan Kinan ke atas ranjang rumah sakit. Mama Aisyah duduk di samping putrinya. Melihat keadaan Kinan yang seperti ini, membuat wanita itu merasa tidak tega. Selama putrinya lahir, baru kali ini Kinan masuk rumah sakit.
__ADS_1
Selama ini Kinan hanya sakit demam biasa saja, tidak pernah sampai dirawat seperti ini. Berbeda dengan Ayman yang sudah terlalu sering keluar masuk rumah sakit.
"Ma, boleh aku minta tolong? Ambilkan ponselku yang ada di mobil Pak Frans? Tadi administrasi semua ditanggung sama Dokter Ina jadi, aku harus kembali mentransfernya," ucap Kinan setelah dua perawat tadi pergi.
"Kamu jangan terlalu memikirkan hal itu, Kinan. Yang penting sekarang keadaanmu baik-baik saja," sahut Dokter Ina.
"Tapi saya tidak bisa tenang, sebelum saya membayarnya, Dokter. Saya juga merasa tidak enak."
"Biar Mama saja yang bayar," sela Mama Aisyah.
"Jangan, Ma. Biar aku saja, nanti pakai m-banking yang ada di ponsel."
"Ya sudah, kalau gitu Mama ambilkan tas kamu," sahut Mama Aisyah yang kemudian beralih menatap dosen itu. "Maaf, Pak. Saya minta tolong untuk diantar ke mobil Anda."
"Iya, Bu, mari! Sekalian saya mau pamit. Dokter Ina mau bareng sama saya ke kampus atau pulang sendiri?" tanya pria itu sambil menatap Dokter Ina.
"Saya mau sekalian sama Pak Frans saja. Kinan, saya pamit dulu, jaga kehamilan kamu baik-baik. Semoga kalian segera sehat dan bisa beraktifitas kembali," jawab Dokter Ina.
"Terima kasih atas bantuannya, Dok. Anda sudah sangat membantu saya."
"Sama-sama." Dokter Ina dan Pak Frans pun pamit pada Kinan.
Mama Aisyah mengikuti keduanya untuk mengambil tas Kinan. Sepanjang langkah mereka, tidak hentinya Mama Aisyah mengucapkan terima kasih sebanyak-banyaknya. Bagaimanapun juga berkat keduanya Kinan dan calon cucunya selamat.
Wanita itu juga sempat menanyakan kejadian yang sebenarnya. Namun, keduanya sama-sama tidak tahu. Yang menolong Kinan adalah mahasiswa dan mereka juga belum sempat menanyakan kejadian itu. Suasana tadi begitu menegangkan, Dokter Ina dan Pak Frans sama sekali tidak memikirkan, untuk bertanya mengenai kejadiannya.
Saat itu yang ada di pikirannya hanya bagaimana keadaan Kinan. Mahasiswa yang melihat kejadian tadi pun terlihat syok. Mama Aisyah baru tahu jika Kinan bukan kecelakaan di jalanan, melainkan di wilayah kampus.
Wanita itu semakin penasaran, kira-kira apa yang terjadi hingga membuat putrinya mengalami pendarahan. Apakah mungkin terjatuh atau sengaja dijatuhkan. Semoga saja tidak ada orang yang ingin mencelakai Kinan. Jika sampai itu terjadi, pasti orang yang ada di sekitarnya tidak akan tinggal diam.
"Sekali lagi saya ucapkan terima kasih, Pak Frans, Dokter Ina, atas bantuannya," ucap Mama Aisyah setelah menerima tas Kinan dari Frans.
"Sama-sama, Bu. Anda terlalu berlebihan. Kami sesama manusia kan harus saling tolong menolong. Itu juga termasuk pekerjaan saya," sahut Dokter Ina, sementara Frans hanya tersenyum saja.
.
.
__ADS_1