
Acara berjalan dengan lancar. Para tamu mulai pamit pulang, begitu juga dengan anak-anak. Mereka berterima kasih karena keluarga Ayman sudah mengundangnya. Apalagi saat pulang semuanya diberi bingkisan, semakin membuat mereka senang.
“Ibu bicara apa? Justru saya senang anak-anak mau memenuhi undangan kami. Mereka juga mau mendoakan keluarga kami dan calon anak kami,” ucap Ayman pada Ibu kepala panti yang sedang pamit pulang.
“Iya, Nak. Kami hanya bisa mendoakan agar istri dan anak kamu sehat. Kami pamit dulu, sekali lagi terima kasih. Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam.”
Ibu panti, pengurus serta anak-anak, menaiki mobil yang tadi membawa mereka ke sini. Keluarga Papa Wisnu mau pamit pulang. Hanif dan Kinan juga ikut pulang. Mereka berempat menaiki satu mobil. Anak dan menantu berada di depan sementara di kursi penumpang ada orang tua.
“Mama tadi ikut kasih amplop, kok nggak bilang-bilang?” tanya Hanif saat mereka sedang dalam perjalanan pulang.
“Ya, nggak pa-pa, Mama sudah bilang sama Papa, juga sama Aisyah buat ngasih amplop sama anak-anak. Aisyah juga mengizinkannya.”
“Aku kira Mama nggak izin, aku ‘kan nggak enak sama Kak Ayman. Bagaimanapun ini acara dia."
“Enggaklah, mereka yang punya acara jadi, Mama izin dulu. Mama juga ingin berbagi bersama dengan anak-anak," sahut Mama Aida yang kemudian beralih menatap sang suami. "Kapan-kapan kita buat acara seperti mereka, ya, Pa.”
“Memang kita mau buat acara apa, Ma?” tanya Papa Wisnu balik.
“Acara syukuran keluarga atau apa gitu!”
“Kalau Mama ingin berbagi nggak harus ngadain acara di rumah. Mama bisa datang ke tempat mereka, sekalian beliin hadiah buat mereka juga. Nggak harus ngadain acara dan ngundang mereka. Lagi pula kalau kita ngadain acara, terus nggak ngundang tetangga juga nggak enak, Ma.”
“Iya juga, nantilah coba Mama pikirkan.”
__ADS_1
Tidak ada lagi obrolan di antara mereka, hingga sampailah mobil di rumah keluarga Papa Wisnu. Semua orang saling pandang saat melihat di depan rumah sudah ada Firly dengan membawa kopernya. Mama Aida menghela napas kemudian turun dari mobil. Dia merasa akan ada masalah yang datang sekarang. Semua orang pun ikut turun dan menghampiri wanita itu.
“Assalamualaikum, Tante, Om,” ucap Firly sambil menyalami keduanya.
“Waalaikumsalam. Ada apa kamu di sini? Dan ini juga kenapa bawa koper sebesar ini?” tanya Mama Aida sambil menunjuk barang yang Firly bawa.
“Tante, tolong aku! Aku diusir suami dan mertuaku. Aku boleh ‘kan tinggal di rumah Tante,” ucap Firly dengan air mata yang menetes.
Mama Aida mengerutkan keningnya, seolah tahu jika keluarga kakak iparnya tidak mungkin mengusir Firly sebesar apa pun kesalahan wanita itu. Dia sangat ingat bagaimana Ana membela wanita itu. Padahal saat itu jelas-jelas Firly bersalah. Pasti telah terjadi sesuatu sebelumnya.
“Memangnya apa yang kamu lakukan sampai mereka mengusirmu?” tanya Mama Aisyah dengan menatap Firly, seolah mencari kejujuran dari wanita itu.
“Aku tidak melakukan apa-apa, Tante. Mereka saja yang tidak suka dengan kehadiranku jadi, aku diusir dari rumah," jawab Firly dengan menundukkan kepala.
“Terus kenapa kamu ke sini? Kamu ‘kan juga punya orang tua. Kenapa tidak ke rumah orang tuamu saja?”
“Aku rasa tidak, kamu hanya melebih-lebihkan saja. Biar aku yang bicara sama orang tuamu atau Kak Ana.”
“Jangan, Tante. Aku tidak mau melihat orang tuaku sedih saat mendengarnya.”
“Kamu tidak ingin melihat orang tuamu sedih. Kenapa malah merepotkan orang lain? Firly, jangan kamu kira Tante tidak tahu bagaimana watak kamu yang sebenarnya. Kamu hanya ingin dekat dengan Hanif saja, kan? Kamu tunggu di sini, biar aku telepon Kak Ana.”
“Nggak usah, Tante.”
Mama Aida tidak memedulikan ucapan Firly. Dia segera merogo ponselnya yang ada di dalam tas. Tentu saja hal itu membuat wajah Firly memucat. Wanita itu tidak menyangka jika Mama Aida akan melakukan hal itu karena sebelumnya, mama dari Hanif itu akan selalu percaya pada setiap apa yang dia katakan. Akan tetapi, sekarang tidak sesuai apa yang diharapkan.
__ADS_1
“Jangan, Tante. Jangan telepon Mama Ana. Nanti dia pasti akan marah lagi padaku.”
“Kita tunggu saja. Jika benar dia marah sama kamu. Aku akan membelamu, tenang saja. Jangan khawatir, kita semua yang ada di sini akan membelamu,” ucap Mama Aida yang kemudian beralih bicara dengan orang yang berada di sambungan telepon. “Halo, assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam. Ada apa kamu menghubungiku malam-malam begini?” tanya Ana dengan nada ketus.
“Begini, Kak. Apa benar Kakak mengusir Firly dari rumah? Kenapa Kakak tega berbuat seperti itu! Kasihan si Firly. Apalagi ini sudah malam sekali," ucap Mama Aida dengan nada dibuat-buat.
“Maksud kamu apa? Siapa yang mengusir? Firly itu sekarang sedang keluar kota. Dia bilang mau liburan.”
“Liburan! Keluar kota!” seru Mama Aida yang memang disengaja sambil melihat ke arah Firly. Ternyata wanita itu benar-benar tidak bisa dipercaya. Sudah berkali-kali dia berbicara bohong.
"Mungkin dia tersesat dan tidak tahu arah luar kota, Kak. Dia saat ini sedang ada di rumahku, sebaiknya Kak Ana dan anak Kakak menjemputnya ke sini. Kami sudah sangat lelah, ingin segera beristirahat. Kami tidak mau meladeni drama terlalu panjang ini."
"Ngapain Firly pergi di rumah kamu."
"Sebaiknya Kakak tanyakan pada menantu kesayangan Kakak ini. Saya akan menunggu Kakak datang. Meskipun sebenarnya saya sudah cukup lelah dan ingin istirahat. Assalamualaikum." Mama Aida segera menutup panggilan tanpa menunggu jawaban dari Ana. Dia beralih menatap Firly. "Lagi-lagi kamu berbohong. Sampai kapan kamu akan seperti ini? Kata-katamu tidak bisa dipercaya lagi. Untung saja aku tidak gampang percaya sama kamu karena sudah terlalu sering kamu membohongi kami."
Firly hanya diam menunduk. Dia tidak memiliki keberanian untuk menatap orang yang ada di depannya. Sungguh wanita itu sangat malu, seharusnya tadi Mama Aida tidak perlu menghubungi Mama Ana. Kalau seperti ini pasti nanti dirinya akan mendapat omelan.
"Hanif, sebaiknya kamu ajak istrimu istirahat saja. Kalau kalian masih ada di sini, akan membuat orang lain senang," ucap Mama Aida sambil melirik ke arah Firly.
"Iya, Ma. Kami masuk saja. Ayo, Sayang!" ajak Hanif yang segera membawa sang istri masuk ke dalam rumah, sementara Mama Aida dan papa Wisnu masih menunggu kedatangan kalanya.
Mereka berharap kejadian ini tidak membuat kesalahpahaman yang mengakibatkan Ana kembali menyimpan dendam pada keluarga Papa Wisnu. Cukup lama mereka saling berdiam. Mama Aida juga tidak mau berbicara dengan sama sekali.
__ADS_1
.
.