
Benar apa yang dikatakan oleh Hanif. Mereka tidak mungkin tega menyerahkan Adam pada panti asuhan. Selain itu, Hanif dan Kinan juga merasa bersalah atas kejadian kecelakaan. Seandainya saja saat itu mereka tidak menabrak Adam mungkin saat ini, anak itu masih bersama dengan keluarganya.
Mereka masih berpikir jika keluarga Adam, kesulitan mencari anak itu. Entah itu benar atau tidak. Namun, sampai saat ini semua orang masih berusaha berpikir positif.
"Apa kalian akan mengadopsinya? Jika keluarganya benar-benar tidak mencari dia bagaimana?" tanya Mama Aida.
Hanif menatap ke arah sang istri. Dia juga perlu bertanya pada wanita itu karena bagaimanapun juga, pasti Kinan lebih banyak menghabiskan waktu di rumah. Istrinya nanti juga yang paling sering berinteraksi dengan Adam.
"Mengenai hal itu, aku belum berbicara dengan Kinan, Ma. Kami juga perlu membicarakan hal ini. Ini bukan sesuatu yang mudah juga untuk kami."
"Ya sudahlah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Untuk saat ini, lebih baik kita fokus untuk mencari kedua orang tua Adam dulu. Entah mereka masih hidup atau tidak, setidaknya kita berusaha untuk mencari mereka."
"Iya, Ma."
"Kalian istirahatlah, beberapa hari di rumah sakit pasti kalian juga tidak beristirahat dengan benar."
"Iya, Ma. Aku juga sudah sangat mengantuk. Besok aku harus kembali bekerja," jawab Hanif sambil menguap yang kemudian berlalu bersama dengan sang istri menuju kamarnya.
Begitu sampai di kamar, Hanif masuk ke dalam kamar mandi, sementara Kinan duduk di sofa. Menunggu pria itu untuk bergantian membersihkan diri. Terlalu lelah, tanpa sadar membuat wanita itu memejamkan mata dan tertidur.
Hingga sebuah tepukan di pipi membangunkannya. Ternyata Hanif yang sudah selesai mandi. Pria itu terlihat begitu segar.
"Sebaiknya kamu bersihkan diri kamu dulu, Sayang, sebelum tidur. Aku tahu kamu juga sudah lelah," ucap Hanif yang berusaha menyadarkan sang istri.
"Iya, Mas. Aku memang sudah ngantuk sekali," sahut Kinan. Dia berusaha untuk bangun, kemudian teringat ucapan mertuanya. "Mas, mengenai apa yang kamu katakan tadi sama Mama, bagaimana?"
"Mengenai itu, lebih baik kita bicarakan nanti saja. Kita sudah sama-sama lelah, tidak bisa berpikir dengan jernih."
Kinan mengangguk dan berkata, "Ya sudah, aku mau mandi dulu." Kinan pun berlalu menuju kamar mandi.
***
__ADS_1
Pagi-pagi sekali, rumah sudah dibuat heboh dengan Baby Ars yang sedang demam. Zayna dan Ayman dibuat panik oleh sang putra. Keduanya segera membawa bayi itu menuju rumah sakit. Sudah sedari tadi si Zayna terus saja meneteskan air mata.
Wanita itu benar-benar takut jika terjadi sesuatu pada putranya. Sejak Baby Ars lahir, ini pertama kalinya bayi itu sakit jadi, wajar seperti itu. Padahal tadi di rumah, Mama Aisyah sudah berusaha untuk menenangkannya.
Wanita paruh baya itu bilang, bahwa seorang anak bayi sakit memang sudah biasa. Namun, tidak dengan Zayna yang pertama kali mengalaminya. Setelah menempuh perjalanan berapa menit, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Keduanya langsung saja menuju ruangan dokter anak.
Untung saja hari masih pagi jadi, belum ada pasien, terutama anak-anak. Dokter juga sudah datang, dia memeriksa beberapa data pasien yang jadwal hari ini periksa.
"Tidak apa-apa, Bu. Bayi memang sangat mudah terkena dam yang disebabkan oleh virus, tapi Anda tidak perlu khawatir. Itu hal yang wajar bagi seorang bayi. Justru kita harus lebih waspada pada bayi yang tidak pernah sakit."
Dokter pun mengatakan pertolongan pertama apa saja yang dilakukan pada anak yang demam. Hingga ke depannya tidak membuat para orang tua khawatir. Kedua orang tua itu mendengarkan penjelasan dokter dengan saksama. Zayna merasa lega karena apa yang dialami oleh putranya sangatlah wajar.
Hanya saja, dirinya belum terbiasa dengan hal itu. Begitu juga dengan Ayman yang merasa lega dengan keadaan anaknya. Setelah dokter memberi resep, keduanya pergi menuju apotek. Tidak lupa pria itu membayar administrasi.
"Untung saja tidak terjadi apa-apa sama Baby Ars. Aku benar-benar takut tadi. Apalagi badannya begitu panas," ucap Zayna saat dirinya dan sang suami sedang menunggu antrean obat. Wanita itu terus tersenyum memandangi wajah sang putra.
"Iya, mungkin Ini pengalaman pertama bagi kita jadi, kita sama-sama khawatir. Padahal tadi di rumah juga mama sudah bilang, kalau ini sudah lumrah bagi anak-anak. Untung saja dokternya juga baik."
"Iya, setidaknya ini untuk pengalaman kita ke depannya dalam mengurus anak kita."
Setelah menebus obat, Zayna dan Ayman membawa putrinya kembali pulang. Kekhawatiran yang dirasakan oleh wanita itu pun semakin berkurang. Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah. Tampak Mama Aisyah sedang menunggu di teras.
"Akhirnya kalian pulang juga. Bagaimana keadaan Baby Ars?" tanya Mama Aisyah setelah mereka turun dari mobil.
"Tidak apa-apa, Ma. Kata dokter, keadaan seperti ini sudah biasa bagi anak kecil. Dokter juga sudah kasih resep," jawab Zayna dengan tersenyum. Dia tidak ingin mertuanya semakin khawatir.
"Ya sudah, kalian bawalah Baby Ars ke dalam. Jangan lupa diminumkan obatnya, biar cepat sembuh."
"Iya, Ma." Zayna pun membawa anaknya masuk ke dalam kamar, sementara Ayman masih di luar.
"Papa sudah berangkat, Ma?" tanya Ayman pada mamanya. Dilihatnya mobil Papa Hadi sudah tidak terlihat.
__ADS_1
"Sudah, baru saja. Mungkin masih di perjalanan. Ada apa? Apa kamu mau ke kantor juga?" tanya Mama Aisyah balik.
"Sebenarnya iya, Ma. Di kantor ada pekerjaan yang kemarin belum selesai. Nanti siang juga aku ada meeting."
"Kamu pergi saja, ada Mama juga Bik Ira di rumah sama Bik Ira. Nanti kalau ada sesuatu, Mama pasti telepon kamu juga."
"Tapi aku nggak tega kalau ninggalin anakku dalam keadaan sakit, Ma," ucap Ayman dengan lesu. Mama Aisyah juga sangat mengerti keadaan putranya.
"Mama juga nggak bisa maksa kamu buat pergi bekerja. Mama cuma kasih saran, sakit demam seperti Baby Ars sudah biasa, tapi mungkin Ini pertama kalinya bagi kamu jadi, pasti terus kepikiran. Terserah kamu mau pergi atau tidak."
"Tunggu keadaan Baby Ars sedikit membaik. Kalau agak siangan panasnya sudah mendingan, aku akan pergi ke kantor, tapi kalau masih tinggi panasnya, aku lebih baik tidak usah pergi ke kantor saja."
"Terserah kamu bagaimana enaknya saja."
"Aku ke dalam dulu, Ma."
"Iya."
Ayman pun mengikuti sang istri menuju kamarnya. Mama Aisyah hanya memandangi punggung putranya hingga hilang dibalik tembok. Di kamar, tampak Zayna berusaha memberikan obat pada puyranya.
"Bisa, Sayang?" tanya Ayman.
"Bisa, Mas. Baby Ars juga nggak terlalu repot dikasih obat. Dia Malah seperti menikmati sekali," jawab Zayna.
"Semoga cepat sembuh, ya, Sayang! Papa sedih kalau kamu sakit seperti ini," ucap Ayman sambil mengusap rambut putranya.
Sama seperti halnya pria itu, Zayna juga merasakan hal yang sama jadi, dia merasa sedih dengan apa yang terjadi pada putranya. Namun, wanita itu tetap berusaha tegar.
.
.
__ADS_1