
Sudah tiga hari Kinan dan Hanif menemani anak yang mereka tabrak di rumah sakit. Sampai detik ini pun masih belum ada kabar mengenai kedua orang tuanya. Keduanya terpaksa membawanya pulang ke rumah. Mama Aida dan Papa Wisnu juga tidak keberatan akan hal itu.
Bagi mereka asalkan dia anak yang baik, itu tidak masalah. Selama di rumah sakit juga tidak ada hal yang aneh dengannya. Anak itu juga selalu dekat dengan Kinan dan Hanif.
"Kamu tidak apa-apa 'kan kalau ikut pulang sama Tante dan Om ke rumah kami? Kami tidak tahu di mana rumah kamu. Nanti kalau orang tua kamu sudah ketemu, kamu bisa pulang sama mereka. Bagaimana, tidak apa-apa, kan?" tanya Kinan yang diangguki oleh anak itu.
Hanif sendiri masih mengurus administrasi. Sejak awal memang pria itu yang mengurus dan membiayai semuanya.
"Sudah selesai semuanya, Sayang?" tanya Hanif yang baru saja memasuki ruangan.
"Sudah, Mas. Kalau kamu sendiri apa sudah semuanya?"
"Sudah. Ayo, kita pulang!"
"Mas, tunggu sebentar. Mengenai anak ini, kita tidak mungkin manggil anak itu dengan kamu terus. Apa tidak sebaiknya kita carikan nama untuk sementara waktu," ucap Kinan pada sang suami.
"Iya, kamu benar, Sayang. Aku juga kesulitan memanggil dia. Menurut kamu apa nama yang pas untuk dia?"
Kinan terlihat berpikir, dia sendiri tidak tahu harus memanggil anak itu apa. "Kita tanyakan saja padanya, Mas. Mungkin dia ingat sesuatu."
"Kemarin aku sudah tanya sama dia, tapi dia malah sakit kepala. Aku takut memperburuk keadaannya."
"Coba ditanya lagi sekarang. Mungkin bisa, biar aku saja yang tanya," ucap Kinan yang kemudian berjalan mendekati anak itu yang duduk di atas ranjang. "Sayang, begini, Tante sama Om kesulitan memanggil kamu. Kamu ingat nggak dengan nama kamu?"
Anak itu diam, sama sekali tidak ada niat untuk menjawab. Dia seperti menyimpan sesuatu, tetapi Kinan tidak ingin memaksanya. Biar anak itu sendiri yang bercerita jika itu memang harus.
"Kalau kamu tidak ingat, kira-kira kamu maunya dipanggil apa? Jika kamu ingat sedikit nama kamu juga tidak apa-apa," tanya Kinan membuat anak itu berpikir sejenak, kemudian menggeleng karena memang, dia sama sekali tidak ingat siapa dirinya.
"Bagaimana, Mas? Dia tidak ingat siapa dirinya sama sekali. Kamu saja yang kasih nama dia."
"Aku kasih nama apa? Aku juga bingung," sahut Hanif.
Jika ini anak bayi pasti lebih mudah, sedangkan ini sudah anak-anak, agak aneh saja memberinya nama. Apalagi awal-awal seperti sekarang, rasanya tidak biasa.
__ADS_1
"Terserah kamu saja. Ini juga kan untuk sementara, sampai orang tuanya ditemukan.
Hanif terlihat berpikir, dia mencari nama yang pas untuk anak itu. Meskipun ini nama untuk sementara, bukan berarti dia bisa asal memberikan nama seseorang.
"Bagaimana kalau Adam!" seru Hanif
"Aku setuju, bagaimana dengan kamu? Apa kamu setuju kalau kamu kita panggil Adam?" tanya Kinan pada anak itu. Dia pun tersenyum sambil mengangguk. Anak itu begitu senang bisa kenal dengan mereka, orang-orang yang baik.
"Sekarang kita semua akan memanggil kamu Adam, sampai kamu bertemu dengan orang tua kamu. Sekarang, ayo kita pulang! Semua urusan juga sudah Om selesaikan," ajak Hanif yang diangguki oleh Kinan.
Mereka semua pulang dengan menggunakan mobil yang dikendarai oleh Hanif. Sepanjang perjalanan, Adam selalu melihat ke arah jalanan. Dia terlihat begitu senang melihat apa saja yang ada di jalanan. Anak itu seperti tidak pernah melihat pemandangan itu.
Tentu saja hal itu membuat Kinan merasa aneh. Padahal sebelumnya dia mengira Adam adalah anak orang kaya, yang pasti sudah sering jalan-jalan. Ternyata dia salah atau mungkin ini karena ingatan anak itu yang hilang, hingga membuat semua kenangannya juga ikut hilang. Entahlah, wanita itu sendiri tidak mengerti mengenai penyakit itu.
Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah. Tampak Mama Aida yang sudah menunggu di depan teras. Kinan pun mengajak Adam untuk turun. Awalnya anak itu merasa enggan karena dia tidak mengenal tempat ini. Apalagi orang-orang yang ada di rumah itu.
Namun, dengan bujukan dari Kinan, akhirnya anak itu mau juga. Adam mengikuti langkah wanita itu menuju rumah, dia bersembunyi di belakang tubuh Kinan.
"Waalaikumsalam," jawab Mama Aida sambil tersenyum.
"Ayo, Adam Salim dulu sama Oma!" perintah Kinan yang dituruti oleh anak itu. Mama Aida tersenyum melihatnya.
"Jadi namanya Adam?" tanya Mama Aida yang sempat bingung juga mau memanggil Adam apa.
"Iya, Ma. Untuk sementara waktu, sampai kita tahu siapa namanya," sahut Kinan.
"Iya, tidak apa-apa. Ayo kita masuk! Kalian pasti capek, Mama juga sudah siapin kamar buat Adam. Nanti Adam tidur sendiri tidak apa-apa, ya? Adam 'kan sudah besar?" tanya Mama Aida yang diangguki oleh anak itu.
Mereka semua masuk ke dalam rumah, sementara Hanif masih mengambil beberapa barang yang ada di mobil. Mama Aida membawa Adam menuju kamar yang sudah dipersiapkan untuknya. Wanita paruh baya itu juga memperlihatkan beberapa baju, yang sudah dia beli sebelumnya saat Hanif memberitahu jika Adam akan tinggal di sini.
Anak itu terlihat tersenyum, saat melihat beberapa barang miliknya. Tidak lupa juga Mama Aida membelikan mainan untuk anak itu. Ada mobil-mobilan dan beberapa puzzle.
"Adam, sebelumnya sudah pernah sekolah?" tanya Mama Aida yang tidak dijawab oleh anak itu.
__ADS_1
Adam hanya menundukkan kepala. Entah tidak tahu atau memang tidak pernah sekolah. Akan tetapi, melihat dari postur tubuh anak ini, seharusnya dia sudah memasuki SD, tetapi sepertinya anak itu enggan untuk membicarakan masa lalunya. Tidak ada yang tahu apakah anak itu sudah sembuh atau tidak.
"Ya sudah, tidak apa-apa kalau Adam tidak mau bicara sekarang. Adam istirahat dulu, biar Tante Kinan membersihkan tubuhnya dulu," ucap Mama Aida yang diangguki oleh anak itu.
Kinan dan mertuanya meninggalkan kamar itu, menuju ruang keluarga. Mama Aida ingin mengetahui, bagaimana perkembangan tentang keluarga dan kesehatan anak itu.
"Kinan, apa belum ada perkembangan mengenai keluarganya?" tanya Mama Aida saat dirinya dan Kinan duduk di ruang keluarga.
"Belum, Ma. Aku juga tidak tahu kenapa keluarganya tidak ada yang mencari tahu tentang dia. Apa keluarganya sedang dalam masalah, makanya itu mereka enggan untuk mencari tahu?" tanya Kinan yang asal menebak. Dia juga sudah dibuat pusing oleh keluarga anak itu.
"Entahlah, Mama juga merasa aneh dengan anak itu. Dia sepertinya ingat dengan masa lalunya, tapi seolah enggan untuk kembali menceritakannya. Mungkin dia takut kita akan mengembalikannya kepada keluarganya."
"Apa keluarganya jahat padanya?" Lagi-lagi Kinan asal menebak apa yang ada di pikirannya.
"Entahlah, Mana juga tidak tahu."
"Jangan berpikir yang tidak-tidak. Itu tidak baik, nanti kalau kedengeran sama Adam 'kan jadinya nggak enak. Dia kira kita menjelek-jelekkan keluarganya," sela Hanif yang baru saja datang tapi.
"Siapa yang menjelek-jelekkan keluarganya, Mas. Aku merasa aneh saja dengan keluarganya. Kenapa tidak ada yang mencari dia? Dia masih kecil."
"Iya, Hanif, kita tidak bermaksud untuk menjelekkan siapa pun. Kita hanya bicara saja," kilah Mama Aida.
"Apa pun itu, sebaiknya kita tidak membicarakannya dulu, sebelum ada bukti."
"Terus rencana kamu bagaimana selanjutnya? Apa kamu akan membiarkan dia tetap di sini selamanya jika keluarganya tidak ada yang mencari?" tanya Mama Aida, membuat Kinan menatap sang suami.
Dia juga ingin tahu jawaban apa yang suaminya berikan. Tidak dipungkiri jika wanita itu juga kepikiran mengenai hal itu. Namun, memberikan Adam pada panti asuhan pun Kinan tidak tega. Dia sudah menyayangi anak itu.
"Memangnya Mama punya solusi lain, selain merawatnya? Aku juga tidak mungkin tega menyerahkannya pada panti asuhan," jawab Hanif pelan, ternyata pria itu sepemikiran dengan sang istri. Mereka sama-sama tidak tega jika harus memberikan Adam pada orang lain yang bukan keluarganya. Jika itu memang keluarganya, tidak masalah untuk Kinan.
.
.
__ADS_1