Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
246. S2 - Mengambil alih


__ADS_3

“Silakan diminum dulu, Den. Biar saya panggilkan Tuan dan Nyonya,” ucap Bik Nur sambil meletakkan segelas minuman di atas meja.


"Iya, Bik. Terima kasih, tapi jangan bilang kalau saya yang datang, ya, Bik,” sahut Adam yang diangguki Bik Nur.


Pria itu meminum minumannya. Cukup lama Adam menunggu pemilik rumah, hingga akhirnya yang ditunggu pun keluar. Pasangan suami istri datang, lalu masuk ke ruang tamu dan duduk di sofa. Keduanya memperhatikan pemuda yang ada di depannya dengan saksama. Dari ujung rambut hingga ujung kaki.


Mereka tidak mengenal tamunya, lalu untuk apa pemuda itu datang. Dalam hati mereka seperti pernah melihat, tetapi entah di mana. Keduanya sama-sama lupa.


"Maaf sebelumnya, kamu siapa? Apa kita sebelumnya saling mengenal? Ada keperluan apa juga kamu datang ke sini?" tanya Farid—papa kandung Adam.


"Apa Anda benar-benar lupa dengan saya? Atau hanya berpura-pura lupa?” tanya Adam balik, membuat kedua orang itu mengerutkan keringat dengan saling berpandangan.


Mereka memang benar-benar tidak mengenal pria yang ada di depannya ini. Akan tetapi, kenapa seolah-olah pemuda itu mengatakan jika dulu mereka saling kenal. Siapakah orang yang ada di depannya ini dan ada urusan apa.


"Saya tidak suka bertele-tele. Sebaiknya kamu katakan saja siapa kamu sebenarnya?" tanya Ifa—ibu tiri Adam. Dia mencurigai sesuatu tentang hubungan pria yang ada di depannya.


"Anda dari dulu masih seperti itu, tidak pernah berubah. Perkenalkan, saya Adam. Saya hanya datang untuk berkunjung. Sudah cukup lama saya tidak melihat keadaan kalian. Ternyata sama saja, tidak ada yang berubah."


"Adam? Adam siapa?" tanya Farid.


"Oh, maaf saya lupa memberitahu kalian. Saya adalah Adam, yang dulunya bernama Aldo," jawab Adam dengan tenang.


Kedua orang tuanya memang tidak tahu mengenai nama Adam, kecuali Bik Nur. Sewaktu datang bersama dengan Hanif pemuda itu ingin bertemu dan berpamitan dengan Bik Nur. Namun, sayang beliau tidak ada di rumah saat itu.

__ADS_1


Sebelum dirinya pergi, dia menulis surat di mobil bersama dengan Bik Isa. Waktu itu dirinya sedang menunggu Hanif berbicara dengan kedua orang tuanya. Pemuda itu menitipkannya di satpam komplek, untuk diberikan kepada Bik Nur. Saat itu tidak ada orang yang bisa dipercaya di rumah.


Papa Farid dan Mama Ifa saling pandang. Keduanya tidak menyangka jika anak yang dulu mereka telantarkan, kini datang kembali. Bahkan dengan tampilan yang tidak keduanya sangka. Beberapa detik mereka terdiam, masih mencerna apa yang terjadi hari ini.


"Oh, kamu rupanya. Untuk apa kamu datang ke sini? Mau pamer sama kita? Mau menunjukkan kalau kamu sekarang sudah hebat, begitu?" tanya Mama ifa dengan pandangan sinis.


Tidak dipungkiri jika keduanya begitu kagum dengan keadaan pemuda yang ada di depannya. Tidak menyangka jika Aldo yang dulu begitu Kumal dan urakan, sekarang terlihat begitu berwibawa. Bahkan putra mereka pun pasti kalah. Sungguh beruntung sekali dia hidup dengan orang yang membesarkannya seperti ini.


Adam berdecih sinis, melihat keangkuhan dari ibu tirinya yang tidak pernah berubah. Dia tidak menyangka jika wanita itu ternyata dari dulu sampai sekarang sama saja. Selalu memandang rendah dirinya. Padahal umurnya sudah semakin bertambah.


Pemuda itu datang ke sini juga ingin bersilaturahmi dan bertemu dengan ayahnya. Setiap tahun Adam selalu berharap Papa Farid datang untuk meminta maaf dan menjemputnya. Namun, semua hanya angan semata. Bukan dia tidak menyayangi Kinan dan Hanif, hanya saja dia juga ingin bersama orang tua kandungnya.


"Bertahun-tahun tidak bertemu, ternyata Anda masih tetap sama. Memandang orang dengan sebelah mata dan selalu menyombongkan diri. Tadinya aku berpikir kalau Anda sudah berubah karena umur yang sudah bertambah, tetapi ternyata sama saja," cibir Adam dengan tersenyum remeh.


"Kamu mau apa dariku? Kita sudah tidak saling kenal satu sama lain. Kita juga sudah bukan keluarga lagi dari dulu sampai sekarang jadi, tidak ada hubungannya dengan kamu. Jangan sok tahu tentang diriku dan menilai seenaknya."


"Kenapa kamu merubah nama itu? Itu adalah nama pemberian almarhumah mamamu. Bagaimana bisa kamu merubahnya?" tanya Papa Farid yang sedari tadi hanya diam.


"Saya yakin mama juga tidak akan pernah keberatan dengan nama itu. Saya hanya ingin hidup di lingkungan baru dan kehidupan yang baru juga. Lagi pula saya juga tidak sepenuhnya mengubah nama itu. Nama Aldo masih tersemat dalam nama panjangku. Hanya panggilan saja yang berubah dan juga nama keluarga. Keluargaku yang sekarang jauh lebih baik dan juga menyayangiku, tanpa meminta balasan apa pun. Yang aku lakukan tidak ada apa-apanya dibandingkan yang mereka lakukan."


"Kamu memang sengaja datang ke sini, untuk menyombongkan diri dan memuji keluargamu begitu? Saya rasa kamu salah alamat," sela Mama Ifa.


"Ya, memang benar saya salah alamat. Tadinya saya datang ke sini untuk melihat bagaimana keadaan papaku, tapi ternyata papaku sudah tidak tinggal di sini lagi karena seorang papa, tidak mungkin rela menyakiti dan mengusir putranya dari rumah sendiri. Aku pikir setelah bertahun-tahun papaku akan kembali seperti dulu, ternyata tidak. Dia sama sekali tidak pernah hadir di sini.”

__ADS_1


Perkataan Adam tentu saja membuat Farid tersindir. Dia begitu marah dan bertanya, "Apa maksud perkataanmu? Secara tidak langsung kamu menghinaku. Jangan katakan kalau aku bukan papa yang baik!"


"Memang selama ini Anda merasa bagaimana? Lihatlah orang di luar sana! Anaknya tidak pulang semalam saja, pasti sudah dicari kemana-mana, sedangkan Anda sudah berapa hari anak Anda tidak pulang, tapi Anda bisa santai-santai seperti tidak terjadi apa pun. Apa itu yang dinamakan seorang papa yang baik?” tanya Adam dengan emosinya.


Sudah lama dia menahan semua ini, akhirnya hari pemuda itu bisa menanyakannya secara langsung. Meskipun tidak ada jawabannya. Lebih tepatnya tidak mau memberi jawaban.


Papa Farid terdiam, dia akui saat itu dirinya tidak mencoba mencari keberadaan anaknya. Menurut pria itu, putranya memang sudah terbiasa begini. Keluar ke mana pun sesuka hati. Ifa juga menjawab jika Aldo anak yang bandel, suka keluyuran nggak jelas.


Padahal ifa sudah memberi nasehat, tetapi anak itu sepertinya tidak peduli. Papa Farid pun akhirnya tidak mencari sama sekali. Dia sangat percaya kepada sang istri.


"Kenapa anda hanya diam? Apa yang aku katakan memang benar, kan?" tanya Adam dengan nada sinis.


"Kalau kamu datang ke sini hanya untuk menghina kami, sebaiknya kamu pergi saja dari sini," sela Mama Ifa yang tidak suka dengan cara Adam berbicara.


"Saya datang ke sini bukan cuma untuk berkunjung saja. Saya juga ingin mengambil alih restoran milik almarhumah mama. Bukankah dalam surat wasiat sudah ditentukan. Jika aku akan mengambil tanggung jawab restoran itu, saat usiaku sudah di atas dua puluh tahun. Sekarang usiaku sudah tiga puluh tahun. Seharusnya sepuluh tahun yang lalu aku mengambil alih semuanya, tetapi karena kesibukanku jadi, saat ini baru bisa datang.”


Papa Farid dan Mama Ifa saling pandang. Keduanya tidak menyangka jika Aldo mengetahui tentang hal itu. Padahal mereka sudah merahasiakan tentang hal ini. Bahkan mereka sudah lupa tentang surat wasiat itu, entah sekarang ada di mana.


"Kalau kalian bingung mengenai keberadaan surat wasit itu, tenang saja. Aku masih menyimpannya jadi, kalian tidak usah susah-susah untuk mencari surat itu," ucap Adam lagi yang mengerti apa yang kedua orang itu pikirkan.


Papa Farid semakin marah mendengarnya. "Kamu mengambilnya?"


"Tentu saja aku mengambilnya. Kalau tidak entah jadi apa surat itu saat ada di tangan kalian."

__ADS_1


.


.


__ADS_2