
Kinan menggeliatkan tubuhnya, dia berusaha untuk membuka matanya. Tidak biasanya wanita itu tidur siang dengan begitu nyenyak. Sebelumnya hanya sebentar sudah terbangun lagi. Apa mungkin ini efek obat yang dokter berikan untuknya. Kinan mencoba melihat jam yang ada di dinding, ternyata sudah hampir waktu Ashar.
Saat akan bangun, dia terkejut mendapati Mama Aida ada di sampingnya. Mertuanya itu sedang tertidur, pasti beliau juga sudah sangat kelelahan. Kinan pun bangun dengan perlahan, dia ingin pergi ke kamar mandi. untuk buang air kecil. Saat sudah selesai dan keluar, wanita itu terkejut mendapati Adam duduk di sofa.
"Kamu sejak kapan ada di sini? Mama sampai terkejut, kenapa tadi Mama nggak lihat?" tanya Kinan dengan duduk di samping anak itu.
"Aku baru saja masuk, Ma. Tadi cariin Mama, ternyata nggak ada di tempat tidur. Aku sudah bilang kalau mau bangun panggil saja orang lain, biar bisa bantuin Mama. Takutnya nanti jatuh, di kamar mandi 'kan licin."
"Tidak, setiap pagi kamar mandi sudah dibersihin sama papa kamu jadi, nggak mungkin licin."
"Oh iya, Ma. Tadi waktu Mama tidur, ada orang yang datang. Katanya dia perawat yang dikirim papa. Bukannya Mama menolak dengan adanya perawat di rumah, kenapa papa masih kirim?" tanya Adam dengan menatap mamanya.
Kinan terkejut dengan apa yang dikatakan Adam. Dia memang sudah menolak dengan adanya perawat, tetapi kenapa sang suami masih mengirim juga. Apa ada sesuatu yang disembunyikan Hanif. Mama Aida juga tidak mengatakan apa pun.
"Masa, sih! Papa kamu nggak bilang apa-apa sama sebelumnya. Sebentar, biar Mama lihat ponsel dulu. Mungkin papa sudah kabari." Kinan akan berdiri, tetapi dicegah oleh Adam.
Anak itu pun mengambilkan ponsel mamanya yang ada di atas meja samping ranjang. Kinan menyalakan ponselnya, ternyata memang ada pesan dari sang suami. Hanif mengatakan jika dia akan mengirim seorang perawat dari rumah sakit. Itu pun atas rekomendasi dokter yang saat ini menangani keadaan Kinan.
Pria itu sudah mengatakan jika hal tersebut sudah menjadi keputusannya. Dokter juga sangat menyarankan hal tersebut. Ini semua demi kebaikan Kinan dan calon anaknya. Mau tidak mau wanita itu pun akhirnya menerima saja.
Hanif juga mengatakan jika itu tidak akan lama, sampai keadaan Kinan benar-benar baik dan sehat seperti semula. Wanita itu mengambil napas dan membuangnya dengan pelan. Semoga keadaannya cepat membaik agar tidak lagi merepotkan orang lain.
"Bagaimana, Ma. Apa benar kalau perawat itu kiriman papa? Kalau tidak sebaiknya dia diusir saja, takutnya dia orang jahat yang malah akan mencelakai Mama," sela Adam.
"Benar, kok. Itu memang orang yang dikirim papa. Dia perawat yang bekerja dengan dokter yang menangani kesehatan Mama.”
__ADS_1
Kinan tersenyum ke arah Adam. Anak itu begitu perhatian padanya, bahkan untuk hal yang di luar kepala pun bisa terpikirkan olehnya. Dia saja tidak berpikir jika perawat itu orang jahat. Sejujurnya wanita itu tidak suka dengan keberadaan orang baru, tetapi ini sudah keputusan sang suami.
Semua juga demi kebaikan Kinan dan calon anaknya. Mudah-mudahan dengan kehadiran perawat itu kesehatannya lebih cepat membaik. Dia juga bisa melakukan segala hal sendiri, tanpa bantuan orang lain seperti sekarang ini.
"Dia masih belum tahu kamarnya di mana, Ma. Barang-barangnya juga masih ada di ruang tamu, orangnya juga ada di sana."
Kinan menegakkan tubuhnya, bagaimana mungkin Adam membiarkan orang menunggunya begitu lama. "Sayang, kenapa nggak bilang dari tadi! Kasihan dia pasti menunggu sudah lama. Ayo, kita ke sana!"
Wanita itu akan berjalan ke sana. Namun, Adam menghentikannya dan meminta mamanya untuk duduk di kursi roda. Biar dia yang mendorong. Kinan pun menurut dan duduk di atas kursi roda. Adam dengan senang hati mendorongnya meski tidak berpengaruh apa pun karena kursi yang dipakai wanita bisa digerakkan dengan tombol yang ada di tangan Kinan.
Saat sampai di ruang tamu, terlihat seorang wanita yang memakai pakaian serba putih. Dia juga membawa koper yang ada di sampingnya. Perawat tersebut tersenyum ke arah Kinan, yang dibalas senyum juga olehnya.
"Selamat siang, Bu. Nama saya Erin, saya perawat yang dikirim oleh Pak Hanif. Saya akan menemani Ibu ke mana pun mulai hari ini," ucapnya dengan menundukkan kepala.
"Iya, tadi suami saya juga mengatakan seperti itu. Maaf tadi saya sedang tidur jadi, tidak tahu kalau kamu sudah datang. Baru saja anak saya yang memberitahu."
Kinan mengangguk dan berkata, "Boleh saya tanya sesuatu sama kamu? Saya harap kamu menjawabnya dengan jujur."
"Iya, Bu. Silahkan saja, Ibu mau bertanya apa?" Wajah perawat itu terlihat tegang.
Erin takut jika apa yang ditanyakan oleh Kinan adalah sesuatu yang tidak bisa dia jawab. Mungkin juga sesuatu yang sangat menyulitkan. Wanita itu mendapat pekerjaan ini dengan gaji yang tinggi dari Hanif. Erin sangat berharap bisa tetap bekerja di sini. Dia memang sangat membutuhkan banyak uang, untuk adik-adiknya yang masih menimba ilmu.
"Apa kamu sudah menikah? Jika belum, apa kamu sudah memiliki kekasih?" Kinan menatap wajah Erin dengan saksama. Dilihatnya wanita itu dari atas sampai ke bawah, dia memang memiliki tubuh yang ideal. Sama seperti perawat pada umumnya.
"Belum, Bu. Saya belum menikah dan belum memiliki kekasih."
__ADS_1
Kinan menganggukkan kepala dengan pelan. Ada rasa tidak nyaman saat mendengar jawaban dari wanita yang ada di depannya. Namun, sebisa mungkin dia menipis pikirannya itu. Kinan berharap perawat itu memang orang yang benar-benar baik dan tidak memiliki niat apa pun pada keluarganya.
"Kamu ikuti saya, akan saya tunjukkan di mana kamar kamu," ucap Kinan yang kemudian membalikkan kursi rodanya.
Erin menarik koper, mengikuti ke mana majikan baru membawanya. Dia senang karena Kinan menerima kehadirannya. Tadi pagi Hanif mengatakan jika istrinya menolak dengan keberadaan perawat. Itulah kenapa Hanif membayarnya mahal karena wanita itu harus meyakinkan Kinan agar menerimanya.
Tanpa pria itu ketahui jika Erin tidak perlu membujuk Kinan karena wanita itu sudah setuju, bahkan sebelum mereka bertemu. Kinan menuju kamar yang ada di belakang di samping kamar Bik Ira. Di sini memang ada dua kamar untuk asisten rumah tangga. Bisa saja Kinan memberi kamar tamu pada Erin karena perawat itu hanya sementara. Akan tetapi, dia masih belum rela dan ingin menguji kebaikan wanita itu.
"Ini kamar kamu, sekarang kamu akan tidur di sini. Di sebelah adalah kamar Bik Ira. Apa kamu sudah ketemu dengan Bik Ira? Dia juga bekerja di sini, sebagai asisten rumah tangga."
"Sudah, Bu. Tadi saya sudah bertemu, tapi belum sempat berkenalan," sahut Erin dengan begitu sopan.
"Nanti kamu bicara sendiri dengan Bik Ira. Beliau orang yang baik, tidak sulit untuk berkomunikasi dengannya. Semoga kamu bisa nyaman tinggal di sini."
"Terima kasih, Bu." Erin sedikit menundukkan kepalanya. "Bu, saya boleh 'kan setiap hari Minggu pulang," lanjut perawat tersebut sebelum Kinan pergi dari sana.
"Kebetulan hari Minggu suami saya libur jadi, tidak masalah kalau kamu mau pulang. Memangnya kamu mau ke mana kalau hari Minggu? Kenapa pulang? Memang rumah kamu dekat?"
"Iya, Bu, saya mau pulang. Saya juga harus memberi uang saku pada adik-adik saya. Saya juga minta agar gaji saya diberi tiap Minggu saja," ucap Erin.
Sebenarnya gadis itu merasa tidak enak bicara soal gaji disaat dirinya belum bekerja. Akan tetapi, mau bagaimana lagi. Dia memang sangat membutuhkan uang itu untuk kebutuhan sehari-hari keluarganya. Terutama sekolah adik-adiknya.
Kinan memperhatikan Erin dengan saksama. Sepertinya perawat itu gadis yang baik-baik. Namun, tidak semudah itu dia percaya pada orang yang baru dikenal. Kinan tidak ingin tertipu dengan wajah polos seorang gadis. Terlalu sering dia melihat wajah palsu zaman sekarang. Apalagi yang berpura-pura polos.
.
__ADS_1
.