
“Begini, Om, Tante dan Kinan. Dulu saya pernah dekat dengan seorang wanita yang bernama Firly. Ya ... dekat dalam artian teman. Kalau aku pribadi menganggapnya seperti itu, tetapi berbeda dengan Firly, dia menganggap saya adalah pacarnya. Hingga sampai suatu hari, dia bertemu dengan sepupu saya, anak dari Tante Ana. Firly jatuh cinta padanya dan mereka memutuskan menikah. Saya sama sekali tidak keberatan akan hal itu karena memang dari awal, saya tidak pernah ada perasaan terhadap Firly. Hingga suatu hari Firly menjebak saya. Dia menghubungi saya dengan menggunakan ponsel suaminya dan meminta saya untuk pergi ke sebuah apartemen. Saat saya datang, ternyata hanya ada Firly saja. Saya sangat marah karena merasa dibohongi, dia memang sengaja melakukannya. Dia juga mengunci apartemen itu sambil menangis dan mengatakan jika dia tidak bahagia dengan pernikahannya. Saya bilang padanya itu bukan urusan saya. Lebih baik dibicarakan secara langsung dengan sang suami secara baik-baik. Namun, dia tidak mau mendengar apa yang saya katakan dan terus saja menangis. Hingga suaminya datang dan marah pada saya karena mengira jika saya sudah menggoda istrinya. Bahkan dia sampai memukuli saya sampai babak belur dan masuk rumah sakit. Saya memang tidak melawan karena saya tahu sepupu saya sedang dikuasai emosi. Sejak saat itu hubungan keluarga kami tidak begitu baik. Mereka sering menjelek-jelekkan saya, bahkan tidak jarang mereka juga menjelekkan Mama dan Papa. Saya tidak masalah jika mereka menjelekkan saya, asal jangan Mama dan Papa. Saya sudah berkali-kali mengatakan pada Tante Ana mengenai kejadian yang sebenarnya, tetapi sepertinya beliau tidak peduli dan tetap menganggap bahwa saya yang salah," ujar Hanif.
Dia menarik napas dalam-dalam dan bersiap dengan keputusan keluarga Kinan. Pria itu tidak ingin mereka salah paham padanya.
"Begitulah, saya sama sekali tidak ada niat untuk membohongi kalian karena saya menganggap, itu bukan hal yang penting yang harus dibicarakan," lanjut Hanif.
“Iya, Aisyah. Maaf Jika saya tidak menceritakannya. Saya tidak bermaksud untuk menutupinya. Sebenarnya saya dan keluarga juga sudah tidak berhubungan baik seluruh keluarga. Bukanya saya memihak kepada anak dan melupakan keluarga, tapi mereka tidak ada satu pun yang membelaku. Kamu tahulah bagaimana dia. Dia sangat pandai memutar balikan Fakta,” ucap Mama Aida dengan wajah sedih.
Papa Hadi dan Mama Aisyah saling pandang. Mereka mengerti maksud keluarga Hanif. Apalagi Mama Aisyah juga kenal dengan Ana meski tidak dekat.
“Sebenarnya saya juga sedih mendengar cerita ini. Saya juga mengerti bagaimana perasaan kalian. Saya menyerahkan semuanya pada Kinan. Saya tidak bisa memaksanya,” ucap Papa Hadi.
Semua orang menatap ke arah Kinan, menunggu jawaban dari gadis itu. Hanif dan keluarga berharap dia tidak terpengaruh dengan apa yang terjadi tadi. Kinan yang ditatap pun jadi gugup. Sebisa mungkin gadis itu berusaha untuk tetap tenang.
“Seperti yang sebelumnya saya katakan. Saya sudah menerima pertunangan ini, saya tidak mungkin membatalkannya karena saya sudah yakin dengan pilihan saya.”
Lega, itu yang dirasakan semua orang setelah mendengar apa yang dikatakan Kinan. Senyum terukir di wajah tampan Hanif. Pria itu bersyukur karena gadis pujaan hatinya tidak terpengaruh kata-kata Tante Ana. Semoga kelak juga seperti itu kalau ada ucapan yang belum tentu kebenarannya.
“Jadi kamu benar tidak akan membatalkan pertunangan ini karena masalah tadi?” tanya Mama Aida dengan tersenyum dan mata berkaca-kaca.
“Tante tenang saja masalah tadi tidak berpengaruh apa pun pada saya.”
“Alhamdulillah, syukurlah kalau begitu. Terima kasih, Tante tidak tahu bagaimana jika kamu membatalkannya. Sudah pasti anak Tante itu akan merasa sangat sedih," ucap Mama Aida sambil melihat ke arah putranya, membuat semua orang tersenyum. "Oh ya, mulai sekarang kamu panggil kami Mama dan Papa, ya! Jangan panggil Om dan Tante lagi karena mulai hari ini kamu sudah menjadi putri kami.”
__ADS_1
“Aku jadi merasa nggak enak, Tante.”
“Jangan merasa seperti itu, sudah Mama katakan anggap saja kami juga orang tuamu.”
“Iya, Ma.”
“Ya sudah, sekarang kita bahas untuk acara besok,” ucap Hadi.
Mereka pun membahas rencana besok. Tidak banyak tamu yang mereka undang, hanya seratus orang. Semua juga dari kalangan keluarga dan teman dekat. Terpaksa Ana dan keluarga juga termasuk dalam undangan karena dia termasuk keluarga dekat.
Mama Aida sempat menolak mengundang mereka, tetapi Papa Wisnu mencoba memberi pengertian jika mereka tetaplah keluarga. Papa Hadi dan keluarga pun tidak keberatan akan hal itu. Siapa pun itu jika masih berhubungan sebaiknya diundang agar tidak memutuskan tali silaturrahmi.
“Baiklah, sepertinya sudah larut. Kami harus pamit pulang,” ucap Papa Wisnu.
“Tidak enak, Di. Kamu pasti juga sudah capek mau istirahat. Besok masih ada yang harus kita kerjakan.”
“Ya sudah, kalau begitu hati-hati di jalan."
“Iya, terima kasih.”
Keluarga Wisnu pun berpamitan untuk pulang. Mereka saling bersalaman. Mama Aida juga memeluk calon menantunya sebelum pergi.
“Kinan, aku pulang ya,” ucap Hanif dengan pelan terkesan berbisik.
__ADS_1
“Iya, Mas. Hati-hati,” sahut Kinan dengan pelan juga.
“Jangan lupa istirahat yang cukup. Besok masih ada kegiatan yang akan lebih menguras tenaga.”
Kinan hanya diam mendengarkan. Besok hanya acara pertunangan, kenapa Hanif terkesan lebay. Akan tetapi, gadis itu tidak berkata apa-apa. Dia malu jika ada yang mendengar.
Semua orang merasa lega karena pertemuan malam ini berjalan lancar. Meskipun sempat ada masalah sedikit, tetapi akhirnya bisa terlewati dengan baik. Kini tinggal menunggu hari esok untuk acara pertukaran cincin. Mereka berdoa agar semua berjalan tanpa hambatan.
“Pa, apa Papa yakin mau mengundang Kak Ana sekeluarga untuk acara besok? Bagaimana jika mereka membuat masalah nanti? Hari ini saja sudah membuat ulah!” tanya Mama Aida saat mereka dalam perjalanan pulang.
“Bagaimanapun mereka masih kerabat terdekat kita, jadi kita harus mengundangnya.”
“Aku tidak yakin mereka masih menganggapku saudara. Pokoknya siapa pun yang akan datang, aku tidak ingin acara pertunangan Hanif dan Kinan gagal.”
Hanif hanya diam mendengarkan. Dalam hati, dia membenarkan apa yang dikatakan mamanya, tetapi yang dikatakan papanya juga benar. Mereka masih keluarga, tidak seharusnya memutus tali silaturrahmi. Apalagi sudah tidak ada nenek untuk menyatukan keluarga.
“Ma, apa tidak sebaiknya pernikahan disegerakan saja. Aku takut jika Tante Ana akan berulah dan membuat masalah,” ucap Hanif membuat suasana jadi hening sesaat.
"Kalau Mama sendiri setuju saja, sih? Mama senang malah kalau acara diganti dengan pernikahan, tetapi apa kamu tidak memikirkan bagaimana perasaan Kinan? Bukankah kamu sendiri yang mengatakan jika masa depan Kinan masih panjang dan dari yang melihat, Kinan juga masih belum ingin terikat dengan hubungan yang sakral. Untuk pertunangan saja, Mama melihatnya Masih berat," ucap Mama Aida.
Hanif mengangguk, membenarkan apa yang dikatakan mamanya. Pria itu jadi bimbang mungkin sebaiknya dia berserah pada Sang Pencipta. Biarlah Tuhan yang menentukan jalan takdir yang harus Hanif lalui.
.
__ADS_1
.