
Suasana ruang makan begitu tegang, Ali dari tadi belum berani mengatakan satu kata pun. Dia hanya bisa diam sambil menikmati makanan yang sudah disiapkan oleh sang istri. Aina yang mengerti keadaan suaminya pun berusaha agar membuat pria itu nyaman. Sepertinya aura papanya begitu mendominasi, hingga membuat sang suami tampak begitu tegang.
Setelah semua orang menghabiskan makanannya. Ali pun memberanikan diri untuk berbicara dengan sang mertua. Sebelumnya dia melirik ke arah sang istri yang tersenyum padanta.
"Pa, aku ke sini mau minta izin agar bisa membawa Aina untuk pulang bersamaku. Aku berharap Papa mau mengizinkanku." Meski dengan suara yang bergetar, Ali akhirnya bisa mengucapkan kalimat yang sudah membuatnya tidak tenang.
Ayman mengangguk dan berkata, "Seperti janji Papa sebelumnya, kalau Papa hanya membawa Aina selama satu bulan. Sekarang semua keputusan ada pada Aina, terserah dia mau ikut kamu atau tidak. Jika dia tetap di sini pun kamu juga tidak berhak untuk melarangnya."
Kini semua orang pun beralih menatap Aina, menunggu gadis itu mengatakan sesuatu. "Seperti yang Papa katakan sebelumnya, kalau aku sekarang adalah seorang istri jadi, sudah sewajarnya aku mengikuti ke mana pun suamiku pergi. Aku sudah memutuskan untuk bersama Mas Ali. Aku akan ikut bersamanya."
Ayman mengangguk, dia mengerti maksud putrinya. "Itu terserah kamu, Papa hanya bisa berdoa agar kamu bahagia dengan pilihan kamu."
"Terima kasih, Pa. Aina mendekati papanya dan memeluk pria itu."
Ali hanya diam memandangi sang istri sambil tersenyum. Ketakutan yang dia rasakan sebelumnya, kini ternyata tidak terjadi, memang keluarganya saja yang tidak tahu terima kasih. Padahal mertuanya selama ini sudah sangat baik.
Ali dan Aina pun berpamitan pada keluarganya. Wanita itu juga tidak membawa apa-apa karena memang saat dia datang juga tidak membawa apa pun. Semua barang-barang sebelumnya memang masih ada di sini.
"Bentar, ya, Dhek. Biar aku pesankan taksi," ucap Ali saat mereka baru sampai teras.
"Kenapa pesan taksi, Mas? Bukannya kamu bawa motor?" tanya Aina sambil melihat ke arah motor Ali yang terparkir di depan rumah.
"Ini panas, Dhek. Kalau naik motor pasti kepanasan dan tidak bisa tenang. Sebaiknya aku pesankan taksi online saja."
"Tidak usah, Mas. Lebih enakan naik motor, kita bisa romantis-romantisan seperti baru pacaran."
Akhirnya Ali pun mengangguk, istrinya ini wanita yang baik dan pengertian. Sungguh menyesal pasti memperlakukan Aina dengan tidak pantas.
__ADS_1
"Kalian hati-hati di jalan, ya!" pesan Mama Zayna, dirinya memeluk sang putri."
"Terima kasih, Mas. Kami pasti akan hati-hati."
"Nanti jangan lupa kirim pesan, ya!"
"Iya, Ma." Aina juga memeluk papanya dan juga saudara kembarnya itu.
"Baru sebulan kita ketemu, sekarang sudah pisah lagi," gumam Aini di sela pelukan mereka
"Kita juga masih bisa bertemu di lain waktu. Makanya cepetan nikah, biar nggak kesepian."
"Aku masih menunggu pangeran berkuda putih untuk datang mencuri hatiku."
"Yaelah! Kamu kebanyakan nonton dongeng, jadinya hidup pun sering melamun.
"Sudahlah, aku pergi dulu. Kalau nanti kamu sudah bertemu pangeran kuda putih, jangan lupa kasih tahu aku," sindir Aina dengan menahan tawa.
****
Adam sedari tadi bolak-balik di depan pintu kamar mandi, menunggu sang istri agar membukakan pintu. Namun, wanita itu tak kunjung keluar. Dia yang merasa khawatir pun akhirnya mengetuk pintu.
"Sayang! Kamu tidak apa-apa? Kenapa lama sekali?" tanya Adam sambil berteriak di depan pintu.
Zea yang berada dari kamar mandi hanya bisa menutup mulutnya dengan air mata yang mengalir. Di tangannya ada benda persegi panjang dengan dua garis merah di sana. Akhirnya apa yang ditunggu selama ini datang juga. Wanita itu pun segera membuka pintu kamar mandi dan memeluk sang suami. Dia menumpahkan tangis di dada pria yang sudah sah menjadi suaminya itu.
"Kamu kenapa, Sayang? Kenapa nangis? Kalau memang belum rezeki juga tidak apa-apa, kenapa harus menangis seperti ini?" tanya Adam yang mengira jika hasilnya negatif.
__ADS_1
Zea mengurai pelukan dan memberikan tespek pada suaminya. Adam yang menerima pun ikut meneteskan air mata. Dia juga merasa terharu sekaligus bahagia. Akhirnya keinginannya terkabul.
"Aku akan jadi seorang ayah, Sayang? Benar kamu sedang tidak berbohong, kan?" tanya Adam lagi, dia ingin memastikan jika apa yang dilihat dan didengar itu memang nyata.
"Mana mungkin aku berbohong, Mas. Ini memang hasilnya positif, sebentar lagi kita akan menjadi ayah dan ibu."
"Alhamdulillah, akhirnya keinginan kita bisa terwujud."
Adam pun segera berlutut di hadapan sang istri dan mencium perut datar wanita itu. Dia pun berbicara tepat di depan perut sang istri. "Sayangnya ayah, sekarang kamu sudah hadir di perut Mama. Kamu harus sehat-sehat, ya, Sayang. Nanti ketemu Papa sembilan bulan lagi. Papa sayang banget sama kamu, jangan nyusahin mama, ya! Nyusahin Papa saja tidak apa-apa."
"Kamu ini bicara apa? Anak kita mana mungkin mengerti, dia saja masih belum berbentuk."
"Tidak apa-apa, dong, Sayang. Aku harus mulai melatih diri agar kedepannya aku tidak kaku menghadapi anakku. Aku ingin terlihat hebat, aku juga ingin menjadi ayah yang kuat dan bisa menjaga kamu dan anak-anak kita."
"Amin, semoga saja doa kita terwujud. Adam mengganggu dengan begitu yakin. Bagaimana kalau setelah ini kita ke rumah sakit saja."
"Sayang, kita periksa ke dokter, yuk! Aku tidak sabar untuk menerimanya.
"Tapi kamu harus kantor, Mas. Aku nggak ingin mengganggu waktu pekerjaan kamu."
"Tidak usah terlalu memikirkannya, masih ada orang kepercayaanku yang bisa menghandle semua pekerjaanku. Saat ini yang paling penting adalah melihat kamu tersenyum, Itu sudah cukup karena itu aku juga ingin melihat keadaan calon anakku."
"Ya sudah, semuanya terserah kamu saja. Aku akan ikut apa pun yang kamu katakan." Zea akhirnya pasrah dengan keinginan suaminya. Kalau ditolak juga pasti akan memaksa.
"Baiklah, kamu siap-dial dulu, aku mau menghubungi manajer di restoran. Biar mereka saja yang menghandle pekerjaan hari ini."
Zea mengangguk dengan begitu bahagia. Dia tidak menyangka jika dirinya sebentar lagi akan menjadi ibu. Padahal selama ini dirinya juga selalu merasa jika dirinya adalah anak kecil, tetapi sekarang anak itu benar-benar ada di perutnya dan akan memanggil mama di kemudian hari. Semoga janinnya sehat dan selamat hingga waktu lahiran tiba.
__ADS_1
.
.