Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
180. Meminta maaf


__ADS_3

“Sayang, ayo, kita keluar! Para tamu banyak yang nyariin. Sebentar lagi mereka akan pulang, mau pamitan juga sama kita,” ajak Ayman yang diangguki oleh Zayna.


Wanita itu keluar begitu saja, Ayman sangat tahu istrinya masih marah, tetapi dia tidak mau membahasnya sekarang. Nanti saja jika acara selesai. Keduanya pun berjalan keluar, Zayna memilih bergabung dengan mertuanya. Mama Aisyah mengenalkan sang menantu dengan beberapa saudaranya.


Zayna senang karena saudara dari Mama Aisyah tidak ada yang memandangnya remeh. Mereka malah memuji keberadaan wanita itu. Dia merasa sedikit lega, setidaknya ada yang menghargai keberadaannya. Mereka juga sangat ramah padanya.


Satu persatu tamu mulai meninggalkan acara. Setelah semuanya pergi, Zayna mengajak putranya ke kamar karena sudah waktunya, bagi bayi itu untuk tidur. Semua orang membersihkan sisa-sisa acara.


“Kamu lagi ada masalah sama Zayna?” tanya Mama Aisyah pada putranya, saat Zayna sudah pergi ke kamarnya.


Ayman menunduk, ada rasa sesal dalam hatinya, tetapi dia hanya tidak ingin membuat kericuhan di acara putranya. “Hanya sedikit salah paham saja, Ma.”


“Jangan terlalu berlarut-larut, nanti malah menimbulkan masalah yang besar.”


“Iya, nanti aku coba bicara dengannya.”


“Tumben sekali kalian berselisih. Memang salah paham karena apa?”


“Tadi Tante Nuri bilang, kalau Baby Ars mirip sama aku, itu membuat Zayna tersinggung. Dia marah dan aku bilang sama dia jangan memperbesar masalah. Dia malah marah sama aku sekarang.”


“Yakin, kalau Tante Nuri bilang begitu saja? Mama merasa pasti ada yang lain, kan? Mama sangat mengenal siapa dia.”


“Cuma itu saja, Ma.”


“Memang kalimatnya seperti apa? Mama ingin mendengar lebih jelas, sampai membuatnya tersinggung?”


“Tante Nuri bilang begini ‘untung saja anak kamu mirip sama kamu, Ayman. Tidak mirip sama ibunya' begitu lalu Tante Nuri tertawa.”


Mama Aisyah terdiam kemudian berkata, “Tapi Mama merasa Baby Ars tidak sama kamu. Dia lebih mirip sama mamanya bersih, putih, malam juga jarang sekali nangis. Kalau mirip kamu, tidak seperti itu.”


“Mama ini kenapa, sih! Bagaimanapun juga aku ini ayahnya. Memang aku orang yang jorok, sampai bilang bersih segala,” sahut Ayman dengan kesal.


“Mama baru berkata seperti itu saja, kami sudah marah lalu, bagaimana dengan Zayna. Dia yang sudah tujuh bulan mengandungnya. Saat melahirkannya pun harus bertarung dengan nyawa, tapi harus mendengar ucapan tidak mengenakkan seperti itu. Ditambah lagi kamu juga tidak membelanya sama sekali. Mama heran sama kamu, biasanya kamu yang paling peka dengan perasaan Zayna kenapa sekarang jadi egois?”


Ayman menundukkan kepalanya. Kini dia sadar sudah sangat menyakiti hati Zayna. Pria itu sama sekali tidak memikirkan bagaimana perasaan istrinya. Sebenarnya bukan tidak memikirkan, Ayman hanya tidak ingin acara anaknya berantakan, tetapi tidak seharusnya mengorbankan perasaan sang istri.


Pria itu yakin jika Zayna juga sama sepertinya, yang ingin acara putranya berjalan lancar. Namun, wanita itu juga punya hati dan perasaan yang harus dijaga.

__ADS_1


“Iya, maaf, Ma. Aku tahu aku salah.”


“Kenapa minta maaf sama Mama? Memang kamu salahnya sama Mama? Sudah sana cepat! Minta maaf sama istri kamu, Mama nggak mau masalah seperti ini berlarut-larut. Apalagi penyebabnya orang lain.”


Ayman mengangguk dan segera pergi menuju kamarnya. Dia ingin meminta maaf kepada sang istri. Begitu sampai di kamar, terlihat Zayna sedang menimang Baby Ars. Pria itu tidak mungkin bicara dalam keadaan seperti ini.


Lebih Baik nanti saja setelah Baby Ars tertidur. Ayman menunggu Zayna sambil duduk di sofa dengan memainkan ponselnya. Setelah anaknya tertidur, wanita itu akan keluar dari kamar. Namun, sang suami mencegahnya.


Pria itu menarik tangan istrinya agar tidak pergi. “Na, duduk di sini dulu, aku ingin bicara sebentar.”


Awalnya Zayna ingin menolak. Akan tetapi, setelah mendengar suara Ayman yang begitu rendah, dia pun mengangguk dan duduk di samping sang suami. Sebelum berbicara, pria itu menggenggam telapak tangan istrinya lebih dulu.


“Aku minta maaf soal tadi. Aku benar-benar tidak ada maksud untuk menyakiti hatimu, tapi tanpa aku sadari aku malah menyakitimu. Aku sungguh-sungguh minta maaf. Seharusnya tadi aku membela kamu, bukannya malah tidak peduli seperti tadi. Aku juga tidak tahu kenapa aku bisa bersikap seperti itu.”


Zayna menghela napas. Dia mengerti perasaan sang suami. Wanita itu juga tahu tujuan dari Ayman. Hanya saja, Zayna juga ingin tetap dibela di depan yang lain. Apalagi ini orang yang sangat dikenal.


Wanita itu tidak ingin suatu hari nanti ada yang merendahkannya. Bukan maksudnya untuk sombong, tetapi dia hanya ingin dihargai karena Zayna tahu siapa keluarga mertuanya. Hingga kini memang ada beberapa orang yang memandangnya sebelah mata, tetapi wanita itu tidak ambil pusing, selama mereka tidak mengganggunya.


“Aku mengerti perasaan kamu, Mas, tapi aku juga ibunya. Aku yang melahirkannya, memang apa salahnya jika dia mirip denganku? Kenapa seolah-olah aku adalah orang yang sangat memalukan?” Zayna mengutarakan isi hatinya dengan sedikit emosi.


“Tidak, maksudku bukan seperti itu, Sayang. Aku sama sekali tidak pernah berpikir ke arah sana.”


“Iya, aku mengerti, tapi itu yang aku tangkap dari kata-kata Tante tadi.”


“Iya, maaf aku terlalu fokus pada acara ini sampai tidak terlalu menghiraukan apa yang orang lain katakan.”


“Iya, Mas. Sudahlah jangan dibahas lagi. Aku sudah memaafkan kamu. Ke depannya aku harap kejadian seperti ini tidak akan terjadi lagi.” Zayna menatap sang suami, mencoba mencari keyakinan di sana.


“Insya Allah ke depannya aku akan lebih memperhatikan perasaan kamu. Peluk aku, dong! Aku kangen sama pelukan kamu.”


“Ih, kamu mah modus.”


“Kok, modus! Aku benar-benar rindu sama kamu.”


“Alasan, setiap hari bertemu juga, pakai rindu segala,” cibir Zayna. Namun, wanita itu tetap memeluk suaminya.


Anggap saja ini adalah bumbu pernikahan mereka. Sejak mereka sah menjadi pasangan suami istri. Baru kali ini terjadi perang dingin di antara keduanya. Syukurlah Itu hanya sementara. Zayna bukanlah orang yang pendendam jadi, dia tidak perlu waktu lama untuk merayu sang istri.

__ADS_1


"Sudah, Mas. Aku mau turun dulu. Aku mau bantu-bantu yang lain buat beresin acara."


Zayna akan beranjak, tetapi kembali dicegah sang suami. "Kamu di sini saja, istirahat. Lagi pula nggak ada yang jagain Baby Ars, kalau kamu juga keluar. Biar aku saja yang bantuin mereka."


"Benar, Mas. Nggak apa-apa aku di sini?" Anya Zayna mencoba meyakinkan apa yang dia dengar.


"Iya, nggak apa-apa. Nanti kalau Baby Ars menangis bagaimana? Kalau kamunya nggak ada?"


Zayna berpikir sejenak, kemudian mengangguk sambil menatap putranya yang berada di box bayi. Baby Ars terlihat begitu pulas. Namun, tidak menutup kemungkinan beberapa menit lagi akan terbangun. Seperti kejadian-kejadian sebelumnya.


Benar apa yang dikatakan sang suami. Di bawah sana suasana masih ramai, sudah pasti tidak akan bisa mendengar tangisan bayi itu. Akhirnya Zayna pun tetap di kamar saja beristirahat, sementara Ayman turun ke lantai bawah. Pria itu membantu yang lain membersihkan sisa-sisa acara.


"Sudah baikan sama istrinya, nih?" sindir Kinan yang berada di samping kakaknya. Ayman menatap tajam ke arah adiknya.


"Kamu ini kepo, pasti kamu tadi nguping pembicaraan Kakak di kamar, ya!"


"Enak aja, nuduh aku nguping. Aku tadi itu dengar Kakak bicara sama Mama, bukan nguping," kilah Kinan membela diri."


"Itu sama saja, nguping pembicaraan aku sama mama."


"Nggaklah, Mama sama Kakak saja yang bicaranya kenceng banget, makanya aku dengar." Kinan masih mencoba membela diri.


Wanita itu tadi memang mendengar apa yang mama dan kakaknya bicarakan. Tadi dia juga setuju dengan apa yang dikatakan Mama Aisyah. Jika sikap Ayman terlalu berlebihan dengan tidak membela Zayna, yang sedang terpojok oleh kata-kata tantenya.


"Lain kali, kalau ada orang sedang berbicara, sebaiknya kamu pergi saja menjauh, biar kamu nggak jadi kompor."


"Memangnya kenapa kalau aku masih di sini? Aku penasaran, Kakak sama Kak Zayna sudah baikan apa belum? Kalau aku jadi Kak Zayna, ogah maafin Kakak. Lebih baik aku suruh tidur di ruang tamu," ucap Kinan dengan suara yang dibuat-buat kesal.


"Kamu kejam banget, doain Kakak seperti itu. Masa suruh tidur di ruang tamu!"


"Biarin saja, itu masih mending di ruang tamu, kalau aku suruh tidur di luar bagaimana?"


Ayman mendengus. "Dasar adik kurang ajar, bisa-bisanya bilang seperti itu."


Kinan tidak mempedulikan apa yang dikatakan kakaknya. Dia segera pergi dari sana sebelum pria itu marah-marah. Wanita itu memang hanya bercanda, tetapi ada keseriusan di dalamnya.


.

__ADS_1


.


__ADS_2