
“Mama! Adek nih!” teriak seorang pemuda yang sedang tidur di kamarnya.
“Setiap pagi kenapa mereka selalu saja buat gaduh. Tidak bisakah sehari saja mereka tenang? Mereka itu sudah pada dewasa masih saja membuat gaduh di pagi hari,” gerutu Kinan yang sedang menyiapkan sarapan untuk keluarganya.
“Sudahlah, Ma. Biasanya juga seperti itu, jangan diambil pusing. Sebulan kemarin juga sudah tenang, ini baru dimulai. Sebentar lagi juga mereka turun terus manja-manja sama kamu, saling ngadu,” sahut Hanif yang baru masuk ke ruang makan.
Kinan menghela napas panjang. “Lagian itu anak, sudah tahu kakaknya baru pulang tadi pagi, sudah digangguin. Adam pasti masih ngantuk.”
“Itu karena Zea kangen sama kakaknya. Sudah satu bulan mereka nggak ketemu karena Adam ke luar kota mengurus pekerjaannya.”
Kinan mengangguk, dia juga mengerti bagaimana perasaan Zea karena dirinya juga sebenarnya juga rindu pada Adam. Namun, wanita itu tidak ingin mengganggu istirahat putranya. Pasti pemuda itu juga lelah dari perjalanan jauh. Apalagi di sana Adam juga mengurus pekerjaan.
Setelah melahirkan, Kinan memang tidak hamil lagi. Bukan karena tidak ingin, itu semua karena dua tahun setelah melahirkan Zea, ternyata ada kista di rahimnya. Hingga membuat wanita itu menjalani operasi dan mengakibatkan dia kesulitan hamil. Sampai sekarang pun hanya ada Adam dan Zea saja.
Akan tetapi, Kinan bersyukur dirinya bisa sembuh meskipun sudah tidak memiliki anak lagi. Mungkin ini memang jalan dari Tuhan untuknya agar menyayangi kedua anaknya. Dia juga bahagia dengan keluarganya saat ini.
"Ma, Adek nih! Aku masih ngantuk, tapi dia gangguin aku terus," ucap Adam sambil memeluk mamanya dari belakang.
Sudah hal biasa bagi Adam melakukannya. Apalagi pria itu juga sangat merindukan mamanya. Meski setiap hari mereka selalu melakukan panggilan video call, tetapi tetap saja rasa rindu tidak bisa ditutupi. Adam juga tidak bisa memeluk mamanya seperti ini.
Zea yang melihat tingkah kakaknya hanya bisa mendengus, selalu saja seperti itu. Adam pasti akan pura-pura jadi orang yang paling tertindas dan akan bermanja-manja dengan mamanya.
"Kalian ini, ada-ada saja. Lagian Zea, kakaknya 'kan baru pulang, kasihan dia masih ngantuk," ucap Kinan sambil mengusap kepala sang putra yang ada di pundaknya.
"Aku cuma mau dianterin Kakak, Ma. Sudah satu bulan aku nggak dianterin sama Kakak. Semua teman-temanku pada nanyain," jawab Zea.
"Kan, bisa besok. Sekarang kakaknya lagi capek."
__ADS_1
"Itu mah alasan Kakak saja biar bisa santai-santai di rumah." Zea menatap sinis ke arah kakaknya. "Ya udah, aku berangkat sendiri saja naik taksi." Gadis itu cemberut karena keinginannya tidak dituruti.
"Memang mobil kamu ke mana? Jangan bilang kalau dipinjam temen kamu atau mogok. Papa sudah bosan dengan alasan itu," sela Hanif saat mendengar apa yang dikatakan putrinya.
Zea memang sering beralasan seperti itu. Padahal mobilnya ada di rumah si kembar Ay. Dia sengaja melakukan itu agar bisa diantar oleh Adam. Seluruh keluarga juga sudah sangat tahu hal itu.
"Papaku yang baik hati dan tidak sombong. Mobil aku memang sedang dipinjam oleh teman. Masa sebagai teman aku tidak membantu,” jawab Zea beralasan.
Hanif hanya bisa mendengus saat mendengar jawaban putrinya. Dia tahu itu hanya alasan saja agar bisa pergi diantar kakaknya. Sebenarnya pria itu juga sama sekali tidak keberatan. Justru Hanif senang kalau anak-anak mereka semakin dekat.
Namun, dia juga kasihan pada adam. Yang pastinya sudah sangat lelah karena baru pulang tadi pagi. Putranya itu juga termasuk pekerja keras.
"Sudah, sekarang kalian sarapan dulu. Mengenai nanti bagaimana kamu pergi ke kampus, biar Mama yang antar. Kasihan Kakak kamu baru pulang tadi pagi," sela Kinan yang langsung disela oleh Adam.
"Tidak perlu, Ma. Biar aku saja yang antar anak bandel ini. Mama di rumah saja, Mama juga pasti capek mengurus rumah setiap hari."
"Siapa bilang Mama yang mengurus rumah? Ada Erin sama Bik Isa," kilah Kinan.
"Tetap saja, Mama pasti lelah Mama 'kan setiap hari memasak."
"Ya sudahlah, terserah kamu. Ayo kita sarapan dulu!"
Semua orang menikmati sarapan pagi dengan tenang. Papa Wisnu dan Mama Aida tinggal di luar negeri karena wanita paruh baya itu, harus menjalani pengobatan di sana, sejak dua tahun yang lalu. Terkadang Hanif dan keluarga juga berkunjung ke sana saat hari libur tiba.
Usai sarapan, semua orang pergi dengan kegiatan masing-masing. Papa Hanif pergi ke kantor, sementara Adam mengantarkan Kinan pergi ke kampusnya. Gadis itu begitu senang saat kakaknya mau mengantar pergi. Dia tahu kalau Adam tidak akan pernah bisa menolak semua keinginannya.
Mungkin itu juga yang membuat Zea terlalu manja pada Adam, hingga apa pun keinginannya harus dituruti. Bukan berarti gadis itu selalu bergantung pada kakaknya. Ada kalanya gadis itu melakukan sesuatu sendiri juga.
__ADS_1
"Tumben Kakak keluar kotanya selama satu bulan? Biasanya cuma satu minggu atau dua minggu saja,” tanya Zea saat sedang dalam perjalanan.
"Em ... kali ini kakak menyelesaikan banyak masalah jadi, memakan waktu lebih lama," jawab Adam dengan ragu.
Zea bisa merasakan keraguan dalam jawaban kakaknya. Namun, dia berusaha untuk berpikir positif, kalau pekerjaan Adam memang sangat banyak. Pria itu hanya tidak ingin membuatnya khawatir. Kebiasaan kakaknya memang seperti itu dari dulu.
Adam melirik adiknya. Dalam hati pria itu merasa bersalah karena sudah membohongi Zea. Mau bagaimana lagi jika tidak begitu, maka kebersamaannya dengan sang kekasih akan selalu diganggu oleh gadis itu. Sebenarnya dia tidak masalah jika adiknya tahu, tetapi Adam hanya kasihan pada kekasihnya karena selalu, tidak ada waktu bersama jika berada di kota ini.
Karena itulah dia mengajak kekasihnya liburan ke luar kota, sekaligus untuk menyelesaikan masalah restoran, yang ada di luar kota. Keluarga tidak ada yang tahu jika pria itu memiliki kekasih. Setiap Adam dekat dengan wanita, Zea selalu mengganggunya dan membuat para gadis kabur. Itulah yang membuat pria itu terpaksa merahasiakan kekasihnya. Nanti akan ada saatnya dia memperkenalkan pada keluarga.
Adam juga sudah mendirikan restorannya sendiri. Meskipun modal awal semuanya dari Hanif, tetapi semua murni usaha pria itu sendiri. Dia juga sudah mengembalikan semuanya dengan utuh. Adam tidak ingin terlalu membebani papanya. Meskipun Hanif menolak uangnya dikembalikan, tetapi pria itu tetap bersikeras untuk mengembalikan modal dari sang papa.
"Kapan-kapan kalau Kakak lagi mengurus masalah di luar kota, aku ikut, ya, Kak!" ucap Kinan dengan begitu bersemangat.
"Kuliah kamu bagaimana? Kamu mau dapat hukuman dari mama? Kakak nggak mau gara-gara kamu, mama jadi sedih. Apalagi sampai stres gara-gara terlalu banyak mikirin kamu."
"Kakak mah lebih sayang sama mama daripada aku," sahut Zea dengan cemberut.
Hal itu justru membuat Adam terkekeh. Pria itu mengusap rambut adiknya. Bukan karena dia lebih menyayangi mamanya, tetapi justru itu semua juga demi masa depan Zea. Dia tidak ingin gara-gara dirinya, gadis itu jadi malas belajar. Melihat anak-anaknya sukses juga pasti sudah menjadi keinginan kedua orang tuanya.
"Kamu dan Mama adalah wanita yang paling Kakak cintai, tetapi Mama adalah cinta pertama Kakak dan tidak akan pernah tergantikan oleh siapa pun."
Zea tersenyum mendengar itu. Justru dia senang dengan jawaban itu karena dirinya pun akan sama. Gadis itu juga lebih menyayangi mama dan papanya daripada Adam. Kedua orang tuanya yang paling berjasa dalam hidupnya, tentu mereka adalah segalanya.
.
.
__ADS_1