Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
182. Menabrak


__ADS_3

“Sayang, apa tadi kamu nggak kelewatan, nyindir Kak Ayman seperti tadi?” tanya Hanif saat keduanya sedang dalam perjalanan pulang.


“Nyindir? Nyindir apa? Yang berdebat tadi? Memang kamu dengar apa yang aku debatkan dengan Kak Ayman, kamu ‘kan ada di dapur,” sahut Kinan.


“Bukan, tapi saat kamu di meja makan tadi.”


Kinan mengerutkan keningnya. Dia tidak mengerti apa yang dimaksud sang suami. Hanif memperhatikan ekspresi Istrinya, wanita itu sepertinya tidak sadar atau mungkin lupa.


“Yang saat kamu bilang terima kasih sama aku karena aku sudah belain kamu. Ucapan kamu itu seperti sedang nyindir Kak Ayman,” ujar Hanif membuat Kinan sedikit terkejut. Pasalnya dia tidak berniat seperti itu.


“Astaghfirullah, Mas. Aku nggak ada niat nyindir sama sekali. Aku mengatakan yang sejujurnya, kalau aku emang benar bahagia dan berterima kasih kamu belain aku. Aku nggak ada niat nyindir.”


“Alhamdulillah, kalau begitu.”


“Memang aku tadi kelihatannya nyindir, ya, Mas?” tanya Kinan yang merasa tidak enak pada kakaknya.


“Dari yang terlihat memang seperti itu. Aku kira kamu memang menyindir Kak Ayman.”


“Mana ada seperti itu. Aku memang suka bercanda dengan Kak Ayman, tetapi tidak pernah sampai keterlaluan. Aku benar-benar enggak ada niat ke sana. Aku jadi nggak enak sama Kak Ayman. Apa aku benar-benar keterlaluan, ya?” tanya Kinan pada sang suami. Dia berharap pria itu menjawabnya dengan jujur.


“Kalau kamu memang nggak ada niat ke sana, ya sudah. Tidak usah dibahas lagi. Nanti kalau kamu bicara dengan Kak Ayman, malah akan semakin menyakiti hatinya. Aku yakin Kak Ayman lebih mengerti kamu. Dia pasti tahu jika kamu tidak sengaja melakukannya.”


Kinan tampak berpikir, Ayman memang sangat dekat dengannya. Pasti pria itu mengerti kata-katanya. Wanita itu pun tersenyum ke arah sang suami.


“Iya, juga, mungkin saja Kak Ayman sudah mengerti maksudku. Kalau memang aku niatnya hanya ingin berterima kasih sama kamu.”


Kinan menarik napas dalam-dalam dan mengembuskannya secara perlahan. Dia benar-benar berharap kakaknya mengerti.


“Kamu hari ini ada kuliah?” tanya Hanif mengalihkan perhatian. Dia tidak ingin istrinya terlalu berpikir mengenai ucapannya saat sarapan tadi. Semua itu sudah lewat jadi, biarkan saja.


“Ada, Mas, tapi siang.”


“Mai aku antar sekalian pergi ke kantor?”


“Tidak usah, kamu ‘kan perginya sekarang. Aku kuliahnya masih nanti jam 10.00.”


“Baiklah, nanti aku jemput, ya! Aku antar kamu ke kampus.”


“Tidak perlu, Mas. Kamu ‘kan ada meeting. Pekerjaan kamu juga banyak karena kemarin libur. Aku bisa bawa mobil sendiri.”


“Ya sudah, tapi hati-hati.”

__ADS_1


“Aku akan selalu hati-hati, terima kasih selalu diingatkan.”


“Astaghfirullahaladzim,” pekik Hanif yang kemudian menginjak rem dengan cepat.


Pria itu dan istrinya saling pandang, keduanya sangat jelas melihat apa yang terjadi. Mereka sudah menabrak seseorang anak kecil. Hanif dan Kinan segera turun dari mobil. Beberapa warga yang melihat pun segera mendekat.


Tampak seorang anak kecil tergeletak di tengah jalan dengan darah yang menetes di jalanan. Hanif segera meminta tolong kepada warga, untuk membantu memasukkan anak tersebut ke dalam mobil. Lebih dulu mereka mengikat kepala anak itu agar darahnya tidak semakin deras. Kinan sempat bertanya, apakah ada yang mengenal anak itu, tetapi mereka semua menggeleng tidak ada yang mengenalinya.


Terpaksa Hanif dan Kinan membawa anak itu berdua, tetapi lebih dulu wanita itu meninggalkan pesan pada warga sekitar. Jika ada yang mencari anak tadi, untuk segera menghubunginya. Kinan juga meninggalkan nomor di salah satu penjual di daerah sana.


Hanif dan Kinan sama-sama takut. Ini pertama kalinya mereka menabrak seseorang. Padahal pria itu sudah berusaha untuk hati-hati dalam berkendara. Namun, namanya musibah tetap saja akan terjadi. Jika itu memang sudah saatnya.


Tidak berapa lama, akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Hanif meminta tolong pada perawat untuk membawa brankar dan membantu membawa anak kecil itu. Dia tidak berani menyentuhnya, takut jika ada patah tulang. Nanti akan semakin bertambah parah.


Perawat menolongnya dan pembawa masuk ke ruang UGD. Hanif sudah menghubungi papanya agar menggantikannya rapat. Dia juga mengatakan alasannya kenapa tidak bisa datang. Begitu juga dengan Kinan, dia meminta tolong pada Hira agar meminta izin untuk tidak masuk.


Wanita itu sedari tadi tidak mau jauh dari sang suami. Bahkan saat mengurus administrasi pun Kinan ikut. Tubuhnya gemetar, dia takut jika terjadi sesuatu pada anak itu. Pasti dirinya akan sangat merasa berusaha.


"Kamu tenanglah, anak itu pasti akan baik-baik saja. Ini minumlah dulu," ucap Hanif sambil menyerahkan sebotol air mineral. Kinan menerima dan meminumnya.


"Tapi bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya? Kamu tadi lihat 'kan kepalanya mengeluarkan banyak darah. Aku sangat takut."


"Insya Allah tidak apa-apa, sekarang kamu perbanyak doa saja. Doa apa pun yang bisa kamu ingat."


"Bagaimana keadaan anak itu, Dok?" tanya Hanif yang sudah tidak sabar ingin bertemu.


"Alhamdulillah, dia tidak apa-apa. Meskipun tadi dia kekurangan darah, tapi syukurlah masih ada persediaan darah tersebut. Untuk lebih meyakinkan lagi, sebaiknya dilakukan pemeriksaan lanjut dan secara menyeluruh untuk bagian kepala. Kalau pemeriksaan luar, saya rasa tidak ada yang perlu dikhawatirkan."


"Lakukan apa saja yang terbaik untuknya, Dok," ucap Hanif yang diangguki Kinan.


"Jika Anda mau, silakan urus semua segera keperluannya. Biar nanti diarahkan oleh perawat. Sebentar saya panggilkan perawat dulu."


Dokter tersebut pun memanggil perawat dan meminta untuk membantu Hanif, sementara Kinan tetap menunggu di sana. Kini wanita itu sudah sedikit lega saat mengetahui bahwa anak itu baik-baik saja. Tepat saat itu, ada panggilan masuk dari Mama Aida.


Kinan tidak tahu, apakah harus mengangkatnya atau tidak, tetapi jika dibiarkan, pasti wanita paruh baya itu akan semakin khawatir. Terpaksa Kinan pun mengangkatnya.


"Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam, kamu ke mana? Kenapa belum sampai juga? Kata Aisyah kamu sudah pulang dari tadi?" tanya beruntun dari seberang telepon, membuat Kinan menghela napas. Bagaimana bisa berbohong kalau seperti ini.


"Tadi ada sedikit kecelakaan, Ma. Karena itu, kami pulangnya telat."

__ADS_1


"Kecelakaan bagaimana? Apa kamu tidak apa-apa?"


"Alhamdulillah, kami baik-baik saja, kok, Mas Hanif sedang mengurus administrasi."


"Apa kamu akan pulang setelah ini?"


"Em ... sebenarnya ...."


Kinan ragu untuk mengatakannya. Namun, tidak mungkin dia menyembunyikannya terus menerus. Bagaimanapun Mama Aida berhak tahu.


"Sebenarnya apa katakan saja jangan setengah-setengah!" seru Mama Aida.


"Sebenarnya kami tadi menabrak anak kecil dan anak itu saat ini sedang berada di UGD. Mas Hanif juga sedang mengurus administrasinya. Kami berdua tidak apa-apa, tapi anak itu yang terluka," jawab Kinan.


"Innalillahi, bagaimana bisa? Biasanya Hanif nyetirnya hati-hati."


"Iya, Ma. Mas Hanif dari tadi juga sudah hati-hati, tapi memang namanya anak kecil, menyeberang juga kan asal-asalan. Makanya tadi tertabrak untung saja Mas Hanif tadi langsung injak rem. Kalau tidak, aku tidak tahu apa yang terjadi pada waktu itu."


Mama Aida sedikit lega mendengarnya. Setidaknya anak dan menantunya baik-baik saja. Mengenai anak itu, dia berharap orang tuanya tidak menuntut Hanif. Pria itu juga sudah bertanggung jawab.


"Sekarang anaknya bagaimana? Apa saja yang terluka?"


"Anaknya belum sadar, Ma, tapi kata dokter tidak ada luka yang serius. Tadi kepalanya terluka dan mengeluarkan darah jadi, untuk dokter memastikannya harus dilakukan pemeriksaan menyeluruh."


"Kamu ada di rumah sakit mana? Biar Mama datang ke sana."


"Tidak perlu, Ma. Aku sudah selesai"


"Pokoknya Mama harus ke sana. Cepat, kasih tahu rumah sakitnya?"


Kinan pun terpaksa mengatakan alamat rumah sakitnya. Jika tidak, mertuanya pasti akan memaksanya.


"Siapa, Sayang yang telepon?" tanya Hanif yang baru saja selesai mengurus administrasi. Tampak beberapa surat yang ada di tangannya.


"Tadi malam telepon, dia nanya kenapa kita belum sampai rumah juga. Terpaksa aku mengatakan yang sejujurnya. Kalau aku berbohong juga, Mama Aida nggak akan percaya."


"Tidak apa-apa, Biar Mama juga nggak khawatir. Kalau sudah tahu seperti ini 'kan jadi, kita nggak perlu cari alasan berbohong," sahut Ayman yang kemudian bersandar pada kursi.


"Ini surat apa, Mas?"


"Ini surat persetujuan pemeriksaan. Kata resepsionis di depan aku disuruh bawa saja. Nanti akan ada perawat yang akan mengambil dan memeriksa."

__ADS_1


.


.


__ADS_2