Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
295. S2 - Menikah?


__ADS_3

“Selamat pagi, Bik?” sapa Zea begitu memasuki dapur dan mendapati Bik Isa sedang memasak seorang diri. Biasanya selalu ada Kinan di sana.


“Selamat pagi, Non. Non Zea perlu sesuatu?”


“Tidak ada, Bik. Mama belum bangun?”


“Ibu sama Tuan semalam pergi ke rumah sakit, Non. Tuan Hanif dapat telepon dari rumah sakit katanya keadaan Tuan besar semakin menurun.”


Zea terkejut mendengarnya. Tiba-tiba saja perasaannya jadi tidak enak. Padahal kemarin dia berharap Opa Wisnu juga bisa segera pulang dengan cepat. Sekarang mendengar seperti itu dia jadi khawatir.


“Apa Mama belum memberi kabar, Bik?”


“Belum, Non.”


“Ada apa, Zea? Memang ada apa dengan mama? Kenapa kamu nunggu kabar dari mama? Bukannya mama ada di kamar?” tanya Adam yang membuat Zea dan Bik Isa terkejut.


Gadis itu menatap kakaknya, dia bingung mau mengatakan yang sesungguhnya atau tidak. Adam yang tahu keraguan adiknya mulai mengerti keadaan. Pasti ini ada hubungannya dengan Opa Wisnu.


“Katakan saja, Zea. Aku pasti mendengarnya dengan baik. Jangan khawatirkan keadaanku, sekarang aku sudah baik-baik saja.”


Zea pun akhirnya menceritakan semuanya pada Adam, Bik Isa juga mengatakan apa yang dia tahu. Adam merasa sedih karena dalam keadaan yang seperti ini, justru dirinya tidak bisa berbuat apa-apa. Sungguh tidak berguna.


“Kita doakan opa saja, semoga opa cepat sembuh dan bisa segera pulang,” ucap Zea yang diangguki Bik Isa.


“Amin, semoga saja seperti itu.”


****


"Keadaan Bapak Wisnu sangat kritis, kita semua hanya nya bisa menunggu keajaiban dari Tuhan agar beliau bisa melewati semua ini," ucap seseorang dokter pada Hanif dan Kinan, yang sedang menunggu di depan ruang ICU.


"Dokter, berapa besar kemungkinan papa saya bisa sembuh?" tanya Hanif, berharap pria di depannya mengatakan kemungkinan itu sangat besar. Namun, kenyataan tidak sesuai dengan keinginannya.


"Mengenai itu saya tidak bisa mengatakannya, sebaiknya kita banyak berdoa saja. Umur manusia hanya ada pada Tuhan."

__ADS_1


Hanif memejamkan mata dalam-dalam, dia merasa sedih dengan keadaan yang menimpa papanya. "Boleh saya menemui papa saya, Dok?"


"Tentu, di dalam ada perawat yang berjaga. Dia juga yang akan membantu Anda memakai baju."


Hanif mengangguk dan perpamitan pada sang istri untuk masuk ke dalam. Kinan merasa sedih dengan kejadian ini, dia juga tidak tega saat melihat kesedihan di wajah suaminya yang begitu besar. Bukan hal mudah bagi pria itu untuk melalui semua ini. Dirinya yang hanya anak menantu saja begitu sedih, teringat kebaikan mereka selama ini. Apalagi Hanif yang seorang anak kandung.


Hanif duduk di samping ranjang dan menggenggam telapak tangan papanya. Terlihat wajah pria tua itu yang begitu tirus. Dia semakin tidak tega melihatnya. Pasti Papa Wisnu merasa tersiksa beberapa hari tinggal di sini.


"Pa, aku ikhlas jika Papa ingin pergi menemui mama. Aku tahu Papa sudah merasa terluka atas kehilangan mama. Tadinya aku masih ingin mempertahankan Papa di sisiku, tapi setelah aku melihat betapa sakitnya Papa dalam berjuang untuk hidup, aku juga ikut terluka jadi, aku ikhlas jika Papa memang benar-benar ingin ketemu dengan mama. Jangan lagi merasa sakit, Papa harus bahagia bersama mama."


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Hanif. Mau tidak mau dia harus ikhlas jika memang papanya. Pria itu tidak ingin menyiksa sang papa terlalu lama. Mungkin lebih baik seperti ini, papanya tidak akan terluka dan tidak akan tersakiti lagi. Hanif berbicara sebentar dengan Papa Wisnu sebelum akhirnya dia benar-benar keluar dari ruangan.


Tampak Kinan masih berada di depan ruangan, menunggu sang suami memberi kabar. Pria itu pun segera memeluk sang istri dan kembali meneteskan air mata di pundak wanita itu. Meskipun berkali-kali dia mengatakan ikhlas, tetap saja hatinya tidak rela.


"Aku sudah mengikhlaskan kepergian papa. Aku tidak ingin papa terluka lagi," bisik Hanif di sela pelukannya.


Kinan hanya mengangguk sebagai jawaban. Wanita itu tidak tahu harus berkata apa. Di satu sisi dia tidak ingin kehilangan sang mertua, tetapi di sisi lain dirinya juga tidak ingin pria tua itu tersiksa lebih lama lagi.


Tidak berapa lama seorang dokter dan beberapa perawat berlarian memasuki ruang ICU. Hanif dan Kinan hanya melihatnya dengan pandangan sedih. Keduanya sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Semoga mereka benar-benar ikhlas menerima semua ini.


“Mohon maaf, Pak. Kami sudah berusaha semaksimal mungkin, tapi Tuhan berkehendak lain. Tuan Wisnu sudah dipanggil oleh Sang maha kuasa. Kami dari pihak rumah sakit turut berduka cita atas kepergian beliau,” jawab dokter tersebut.


“Innalillahi wainnailaihi rojiun, iya, Dok. Kami sekeluarga juga berterima kasih atas usaha Dokter dalam pengobatan papa saya selama ini.”


“Sama-sama, Pak. Saya permisi dulu, silakan Anda selesaikan administrasi lebih dulu agar Tuan Wisnu segera bisa dibawa pulang.”


“Baik, Dok.”


Dokter tersebut pun kembali ke ruangannya, sementara Hanif mengurus semua administrasi juga keperluan. Kinan menghubungi keluarga dan beberapa kerabat. Zea yang sedang berada di rumah merasa sedih dengan kabar yang dia dengar.


Hanif sudah memerintah seseorang, untuk mengurus segala sesuatu mengenai persiapan pemakaman.


Untuk urusan rumah sakit akan diurus oleh pria itu sendiri. Seluruh kerabat dekat merasa sedih dengan kepergian Wisnu. Selama ini dia dikenal begitu baik pada semua orang. Bahkan yang tidak dikenal sekalipun, Pria itu juga tidak pernah meninggalkan jejak jelek saat berbisnis.

__ADS_1


Hanif memanggil Adam dan Zea ke kamar. Kinan juga bersama sang suami. Keduanya merasa bingung, tidak tahu alasan papanya memanggil mereka.


“Papa ingin bertanya pada kalian lebih dulu. Apa kalian serius dengan hubungan kalian berdua?” tanya Hanif dengan ekspresi yang begitu tegas. Tentu saja membuat keduanya merasa takut akan sesuatu yang akan Hanif lakukan.


"Kalian katakan saja yang sejujurnya. Papa butuh jawaban yang jelas dan yakin dari kalian berdua," lanjut Hanif.


Adam dan Zea saling pandang, seolah ragu ingin mengatakan yang sejujurnya. Namun, melihat ketegasan papanya hari ini, mereka harus mengatakan yang sejujurnya. Entah apa yang akan dilakukan oleh Hanif nanti. Papanya juga tidak akan melakukan sesuatu yang berlebihan karena saat ini mereka sedang berduka.


"Aku serius, Pa. Saya ingin bersama dengan Zea dan ingin memilikinya," jawab Adam dengan yakin.


"Kalau kamu Zea?" Hanif beralih menatap putri kesayangannya.


"Aku juga mencintai Kak Adam. Aku tidak ingin kehilangan dia."


"Kalau kalian benar-benar yakin dengan perasaan kalian, Papa ingin kalian menikah di samping jenazah opa."


Kedua orang itu terkejut, termasuk juga Kinan yang berada di sana. Hanif tidak mengatakan apa-apa mengenai rencananya itu.Tiba-tiba saja meminta kedua anaknya untuk menikah hari ini, tepat di hari mereka sedang berduka. Sebelumnya juga tidak ada pembahasan mengenai masalah ini.


"Kenapa buru-buru sekali, Pa? Masih banyak hari yang lain lagi," sela Kinan yang dari tadi hanya diam.


"Papa Wisnu juga menginginkan mereka bersama, Ma. Papa hanya ingin mengabulkan keinginannya. Papa pasti bisa tenang saat melihat kedua cucunya bisa bahagia, tapi aku juga tidak akan memaksa, kalau Adam dan Zea tidak mau. Semua keputusan ada di tangan mereka."


Kinan mengangguk, kini dia mengerti alasan sang suami meminta anaknya untuk menikah hari ini.


"Aku setuju untuk menikah hari ini, pa," jawab Adam membuat kedua orang tuanya menatap pria itu.


"Kalau kamu, Sayan" tanya Hanif pada Zea.


"Aku juga setuju, Pa," jawab Zea, baginya menikah sekarang atau nanti juga sama saja. Keduanya juga ingin Opa Wisnu pergi dengan tenang setelah melihat pernikahan hari ini.


Hanif pun menghubungi seseorang yang bisa menikahkan kedua anaknya. Tentunya ini hanya pernikahan siri karena tidak mungkin mengurus semua pernikahan dalam waktu satu jam. Segala persiapan sudah dilakukan. Beberapa kerabat sempat tidak setuju mengenai pernikahan ini.


Bagaimanapun Adam dan Zea adalah kakak beradik, tetapi Hanif mencoba meyakinkan semuanya bahwa hubungan ini tidak terlarang. Mereka tidak memiliki hubungan darah atau pun yang sejenisnya. Keduanya juga saling mencintai satu sama lain.

__ADS_1


.


__ADS_2