Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
327. S2 - Pulang kampung


__ADS_3

"Assalamualaikum," ucap Ali dan Aina bersamaan saat memasuki rumah. Seperti biasa rumah ini selalu sepi mungkin karena penghuninya yang hanya segelintir orang.


"Waalaikumsalam, kalian sudah datang. Ayo masuk!" ajak Bu Nur pada anak dan menantunya. Ali dan Aina akan memasuki kamar. Namun, tiba-tiba Bu Nur menghadang Aina untuk meminta maaf.


"Ibu minta maaf. Selama ini Ibu sudah sangat salah terhadap kamu. Padahal kamu sudah sangat baik, tapi Ibu tidak tahu diri selalu saja menuntutmu."


"Bu, kenapa bicara seperti itu? Aku tidak pernah merasa diperlakukan salah. Aku melakukan semua tugas di rumah ini dengan ikhlas karena memang adalah tugas seorang istri. Aku malah senang dengan begitu aku bisa belajar banyak hal, jadi Ibu tidak perlu merasa bersalah."


"Tetap saja ibu yang bersalah."


"Ya sudah, aku juga sudah memaafkan ibu. Sebagai menantu, aku juga minta maaf jika apa yang sudah aku lakukan selama ini kurang berkenan di hati Ibu. Sekarang kita lupakan saja semua masa lalu itu, kita mulai hal-hal yang baru."


Bu Nur mengangguk dan memeluk menantunya dengan mata berkaca-kaca. Dia senang karena apa yang tadi ditakutkan tidak terjadi. Tadinya wanita itu takut jika Aina akan marah dan menghukumnya, tetapi itu tidaklah terjadi. Bu Nur juga terharu dengan kebaikan menantunya.


"Kalian pasti lelah setelah perjalanan, sebaiknya kalian istirahat saja. Nanti kalau saat makan siang, Ibu akan bangunkan."


"Aku tidak apa-apa, Bu. Aku juga tidak lelah, aku bantu ibu saja mengerjakan pekerjaan rumah."


"Tidak perlu, kamu pasti capek. Lagi pula ada Fiani yang bantu Ibu jadi, kamu istirahat saja."


"Aku sudah tidak apa-apa, Bu. Aku sudah terlalu lama istirahat jadi, aku mau bantu Ibu saja," ucap Aina yang kemudian menatap sang suami. "Mas, tolong bawakan tas aku ke kamar, ya!" pintanya dengan menyerahkan tas miliknya pada sang suami.


Ali tersenyum dan mengangguk, dia senang melihat mama dan sang istri tampak berbaur. Tadinya pria itu ingin mencari kontrakan agar bisa tinggal berdua dengan sang istri. Namun, sekarang melihat keadaan ini mungkin akan Alk pikirkan kembali. Bagaimanapun juga dia juga tidak tega jika harus meninggalkan ibunya hanya berdua dengan Fiani saja.

__ADS_1


Hari-hari pun berlalu dengan begitu bahagia. Bu Nur dan Aina semakin hari semakin dekat, bahkan seperti anak dan ibu sendiri.


"Dhek, Aku ingin mengajak kamu pergi ke suatu tempat," ucap Ali di satu malam saat mereka akan menuju ke alam mimpi.


"Mau ke mana, Mas?"


"Ke sebuah desa tempat dulu aku dilahirkan. Kamu mau kan ikut ke sana. Tempatnya sangat sejuk, masih suasana desa."


"Mau, Mas. Aku mau sekali. Aku kira Mas sejak kecil sudah ada di sini."


"Tidak, aku pindah ke sini saat usiaku dua belas tahun. Saat itu aku memasuki bangku SMP. Ayah sama ibu yang menyekolahkan aku di pondok pesantren dan saat aku sudah lulus, aku mendapat penghasilan barulah aku beli rumah di dekat pondok. Aku juga mengajak ibu untuk tinggal di sini. Kalau ayah beliau sudah meninggal saat aku baru setahun tinggal di pondok. Nanti kita di sana sekalian mau ziarah ke makam ayah."


"Iya, Mas. Aku ikut saja ke mana pun kamu mengajakku. Aku juga belum berkenalan dengan ayah mertua."


"Iya, tidak apa-apa."


Sebenarnya Ali juga merasa tidak enak karena harus memakai mobil sang istri, tetapi mau bagaimana lagi, dia juga tidak memiliki mobil. Sebelumnya mobil itu memang ada di rumah keluarga Ayman. Sejak Aina keluar dari rumah sakit dan keadaannya dengan sang mertuamu baik, papanya mengirim mobil tersebut ke rumahnya. Ayman berharap mobil itu bisa bermanfaat daripada di rumah hanya menjadi pajangan saja.


Di hari Minggu, Ali bersiap pergi bersama dengan Aina. Sesuai janjinya keduanya akan pergi ke kampung halaman pria itu, di sana juga masih ada rumah mereka. Kemarin Ali menghubungi pamannya dan meminta orang untuk membersihkan. Bu Nur juga menolak saat diajak pergi, sebentar wanita itu juga ingin ikut karena sudah sangat rindu pada almarhum suaminya.


Akan tetapi, dia juga tidak ingin egois dengan mengganggu kebersamaan sang putra dan menantunya. Mungkin lain kali wanita itu akan datang ke sana.


"Mas, kamu kalau lelah, biar gantian sama aku saja nyetirnya," ucap Aina saat sedang dalam perjalanan menuju tempat kelahiran Ali.

__ADS_1


"Nggak, kok! Nggak pa-pa, kamu santai saja duduk di sana dan nikmati perjalanan kita."


Aina mengangguk sambil melihat ke sekeliling. Ini adalah perjalanan pertama bagi keduanya jalan-jalan selama menikah. Memang Ali tidak pernah membawa istrinya pergi ke mana pun, bahkan untuk belanja ke pasar pun tidak. Wanita itu selalu melakukan semuanya sendiri, tetapi kini dirinya diperlakukan seperti seorang istri yang sesungguhnya. Bahkan kadang dia merasa terlalu berlebihan.


"Mas, terakhir kamu ke kampung kapan?"


"Sekitar sembilan bulan yang lalu, waktu hari lebaran."


"Apa setiap lebaran kamu akan pulang ke sana?"


"Iya, setiap lebaran pasti akan pulang. Selain di sana ada pak lek, ibu selalu bilang kangen sama ayah jadi, sehari sebelum lebaran kami selalu pulang. Kami pulang dua kali dalam setahun, tetapi karena kemarin ada acara pernikahan kita nggak jadi pergi," jawab Ayman yang masih fokus pada kemudinya.


"Ibu pasti merindukan ayah, kenapa tadi nggak mau ikut, ya, Mas?"


"Mungkin ibu punya kesibukan yang lain."


"Mas, apa nanti saat lebaran kita juga akan pulang ke kampung?"


"Memangnya kenapa? Kamu nggak mau ikut aku ke kampung?" tanya Ali yang menatap sang istri sekilas kemudian kembali fokus pada kemudinya. Dalam hati dia sedikit kecewa jika apa yang dipikirkan itu benar.


"Aku bukannya nggak mau, Mas, tapi aku juga ingin bersama dengan papa dan mama. Biasanya kalau lebaran kita semua kumpul di rumah Om Ayman, kita seru-seruan bareng dan melakukan banyak hal yang menyenangkan."


"Dhek, kita sudah menikah, nanti kita bagi waktunya, ya! Tiga hari di kampung Mas tiga hari di rumah papa dan mama. Itu kita gilir setiap tahunnya jadi, tahun ini kita ke kampung Mas dulu baru ke rumah papa dan mama. Tahun depannya baru di rumah mama dan papa dulu baru ke kampung, gitu biar adil. Aku juga ingin lebaran di kampung halaman," ujar Ali dengan sendu, ayahnya memang sudah meninggal, tetapi apa salahnya jika datang ke makam.

__ADS_1


.


__ADS_2