
Hari Minggu pagi, Ayman dan Zayna bersiap-siap untuk pergi ke rumah Papa Rahmat. Keduanya didampingi oleh Ilham. Namun, nanti asisten itu akan tinggal di apartemen. Mereka menggunakan pesawat agar lebih cepat sampai. Di sana nanti akan ada orang yang sudah menunggu.
"Kamu tidur saja, Sayang. Nanti kalau sudah sampai, akan aku bangunkan," ucap Ayman saat keduanya masih di dalam pesawat.
"Tidak usah, Mas. Aku juga nggak ngantuk."
Ayman tersenyum sambil mengusap kepala istrinya. Sepanjang perjalanan, Zayna banyak diam. Meskipun sang suami sudah berusaha menenangkannya. Namun, jauh di lubuk hatinya yang paling dalam, dia masih merasa takut kejadian dulu terulang kembali.
Rasa trauma dikhianati masih sangat membekas di dalam hatinya. Bukan dia tidak ikhlas atas perpisahannya dengan Fahri. Zayna hanya takut kehilangan sang suami. Mengenai mantan kekasihnya, wanita itu tidak tahu sejak kapan dia lupa.
Rasa itu benar-benar sudah hilang sepenuhnya. Hatinya kini hanya terisi Ayman, tidak ada tempat lagi untuk pria lain. Sang suami memang pemilik seluruh hidupnya.
Tidak berapa lama keduanya sampai di kota kelahiran Zayna. Ayman berjalan keluar dari bandara dengan menggandeng tangan istrinya. Ilham mengikuti dari belakang. Mereka mencari orang yang menunggu dan akhirnya ketemu juga. Mereka menaiki mobil dan menuju ke alamat rumah Papa Rahmat.
Sementara itu, di rumah Mama Savina terus saja mengomel. Papa Rahmat memintanya memasak untuk menyambut kedatangan Ayman dan Zayna.
"Ngapain, sih, kita harus menyambut kedatangan Zayna segala. Pasti kedatangan mereka nyusahin saja," gerutu Mama Savina.
"Kamu diam saja, bagaimanapun juga mereka anak dan menantu di rumah ini. Meskipun mereka anak kita, sebagai orang tua juga harus menghormati tamu yang akan datang."
"Iya, tapi tidak harus pakai acara penyambutan segala. Fahri dan Zanita kalau datang juga, kita nggak ada acara seperti ini."
"Mereka, kan, tinggal satu kota sama kita. Mereka juga nggak pernah bilang kalau mau datang. Sekarang lihat, sudah berapa hari Zanita tinggal di sini, tapi suaminya tidak ada menjemput. Entah berapa kali kejadian seperti ini terjadi."
"Zanita juga tidak akan pergi dari rumah mertuanya kalau mereka memperlakukannya dengan baik."
"Nyonya Lusi hanya ingin mendidik menantunya agar menjadi wanita yang tanggung jawab pada pekerjaannya. Apa salahnya? Jika ada orang yang mau mendidik anak Papa, yang tidak bisa apa-apa, Papa justru senang."
"Papa nyalahin Mama?"
"Tidak, tapi jika kamu merasa juga, baguslah. Mungkin itu bisa menjadi jalan agar kamu bisa mendidik Zivana menjadi gadis yang lebih baik."
__ADS_1
Savina akan berbicara lagi. Namun, ketukan pintu menghentikan perdebatan mereka. Wanita itu mendengus kesal. Suaminya akhir-akhir ini sering membuat darahnya naik.
"Sepertinya itu Ayman dan Zayna. Biar Papa yang membukakan pintu." Papa Rahmat berjalan ke depan untuk membuka pintu depan dan benar saja di sana ada Ayman dan Zayna.
"Assalamualaikum, Pa," ucap Ayman dan Zayna bersamaan. Keduanya mencium punggung tangan pria itu.
"Waalaikumsalam, kalian sudah sampai?"
"Iya, Pa. Papa apa kabar?" tanya Zayna balik.
"Papa baik. Ayo, kita masuk!"
Mereka masuk ke ruang tamu dan duduk di sana. Mama Savina datang dengan membawa minuman yang memang sengaja diletakkannya secara kasar. Papa Rahmat melototi istrinya, tetapi wanita itu tidak peduli sama sekali.
"Minumlah, kalian pasti haus. Perjalanan cukup jauh," ujar Papa Rahmat.
"Terima kasih, Pa."
Ayman dan Zayna meminum minumannya. Mereka berbincang sejenak sebelum akhirnya keduanya menuju kamar. Ayman dan sang istri beristirahat di sana. Untung saja sebelum mereka datang Papa Rahmat sudah membersihkannya jadi, bisa langsung beristirahat.
"Kamu bicara apa, sih? Sebelumnya juga aku pernah tidur di sini, kan. Bahkan kita juga pernah tinggal di tempat yang paling menyedihkan, tapi aku tidak pernah keberatan. Asal bisa merasakan semuanya bersama denganmu."
Zayna tersenyum sambil menganggukkan kepala. "Aku jadi teringat saat kita tinggal di rumah kontrakan itu Mas. Apa rumah itu masih ada yang menempati?"
"Aku juga tidak tahu. Sudahlah, sekarang istirahat saja. Aku capek sekali," ujar Ayman sambil memeluk sang istri. Memang benar pria itu sangat lelah, baru memejamkan mata sudah terlelap. Zayna pun memeluk suaminya dan ikut menuju ke alam mimpi.
"Zayna sudah datang, Ma?" tanya Zanita yang baru keluar dari kamar.
"Sudah, mereka ada di kamar. Enak sekali datang-datang langsung tidur di kamar," gerutu Mama Savina.
Zanita terdiam, entah kenapa dia merasa iri dengan kakaknya. Meskipun Ayman orang biasa saja, tetapi Zayna terlihat sangat bahagia dengan pernikahan ini. Berbeda dengan dirinya yang hidup penuh dengan tekanan dari mertua. Mama Lusi juga selalu bersikap ketus.
__ADS_1
Wanita itu berpikir, apa ini karma karena sudah merebut calon suami kakaknya? Segera dia tepis pikiran itu. Zanita tidak percaya karma datang padanya. Wanita itu tidak merasa bersalah sedikit pun dengan apa yang sudah terjadi.
"Kamu kenapa diam saja?" tanya Mama Savina yang melihat putrinya melamun.
"Tidak ada apa-apa, Ma," jawab Zanita sambil duduk di samping mamanya. Dia menghela napas sejenak, mencoba terlihat baik-baik saja.
"Ya sudah, waktunya makan siang. Sebentar kamu duduk saja, biar Mama panggilin papa." Mama Savina segera pergi menuju kamar dan memanggil suaminya.
Ternyata Papa Rahmat sedang membaca koran sambil menikmati kopi. Mama Savina mengajak sang suami makan siang. Pria itu pun mengikuti istrinya menuju ruang makan. Namun, dia tidak melihat keberadaan anak dan menantunya.
"Ayman dan Zayna belum keluar?" tanya Papa Rahmat. Zanita hanya menggeleng. Pria itu pun menuju kamar Zayna untuk memanggil mereka.
"Na, sudah waktunya makan siang. Ayo, kita makan bersama," panggil Papa Rahmat sambil mengetuk pintu. Tampak Zayna yang baru bangun tidur.
"Aku bangunin Mas Ayman, Papa duluan saja. Nanti aku ke sana," ucap Zayna.
"Baiklah, Papa tunggu di meja makan." Papa Rahmat pun berbalik menuju meja makan. Sementara itu, Zayna membangunkan sang suami yang masih tidur. Sebenarnya dia tidak tega karena melihat wajah lelah sang suami, tetapi wanita itu tidak mungkin membiarkan keluarganya menunggu.
"Mas, ayo makan siang! Semuanya sudah menunggu kita."
Ayman menggeliatkan tubuhnya. "Sudah waktunya makan siang, ya! Aku sampai tidak sadar. Tempat tidur kamu nyaman sekali soalnya."
"Bukan tempat tidurnya yang nyaman, Mas. Kamunya saja yang kecapean. Ayo, semua orang sudah menunggu."
Setelah mencuci muka, keduanya menuju meja makan. Semua orang sudah ada di sana. Mama Savina dan kedua adiknya melirik sinis ke arah Zayna. Wanita itu tidak ambil pusing dengan sikap keluarganya. Dari dulu juga seperti itu.
"Lama banget, sih! Semua orang sudah kelaparan nungguin kamu," ucap Mama Savina dengan nada ketus.
"Maaf, Ma, tadi kami masih tidur karena kecapean di perjalanan tadi," sahut Zayna yang merasa tidak enak.
.
__ADS_1
.
.