
Mama Aisyah menyiapkan makan malam untuk keluarganya, dibantu oleh Bik Ira dan Kinan. Berbagai macam makanan terhidang di meja. Zayna yang baru bergabung ke meja makan pun begitu terkejut karena begitu banyak makanan yang terhidang di meja. Padahal biasanya tidak sebanyak ini.
Sebelumnya Zayna tadi sudah mendengar rencana mertuanya untuk memberi kabar bahagia saat makan malam. Akan tetapi, bukankah terlalu berlebihan jika harus menyiapkan makanan sebanyak ini? Apa mungkin makanan ini bukan hanya untuk keluarga saja?
“Kakak merasa aneh ‘kan karena makanannya sebanyak ini? Dari tadi aku juga bertanya, tapi Mama sama sekali tidak menjawabnya dan hanya mengomel sepanjang memasak,” ujar Kinan, membuat Zayna menatap adik iparnya.
“Sudah, kamu tidak usah mengadu pada Kakak iparmu. Lanjutkan saja tugasmu,” sela Mama Aisyah yang masih sibuk dengan makanan di meja makan.
“Tuh, kan, Kakak dengar sendiri. Dari tadi juga gitu.”
Zayna hanya menahan tawa mendengar gerutuan adiknya. Dia tahu jika adik iparnya tidak benar-benar marah pada mamanya. Gadis itu hanya sedang menggoda saja. Semakin hari, Zayna semakin tahu kepribadian keluarganya.
Terdengar suara bel rumah berbunyi. Bik Ira yang ingin membukakan pintu pun dicegah oleh Zayna karena wanita itu ingin dia saja yang membukanya. Sedari tadi dia hanya diam saja, tidak melakukan apa pun. Ingin membantu memasak, tetapi mertuanya selalu melarang.
Zayna berjalan ke arah depan, saat membuka pintu, ternyata ada tiga orang di sana. Sepasang suami istri dan seorang pemuda. Wanita itu yakin jika pria itu anak mereka.
“Assalamualaikum.”
“Waalaikumsalam, maaf, ada yang bisa saya bantu?” tanya Zayna.
“Saya ingin bertemu dengan Pak Hadi dan Ibu Aisyah,” jawab wanita itu.
“Oh, iya, Papa dan Mama ada di dalam. Silakan masuk!” ucap Zayna dengan membuka pintu lebar-lebar. Wanita itu menuntun ketiga tamunya menuju ruang tamu.
“Mohon ditunggu sebentar, ya, Bu, Pak. Biar saya panggilkan Mama sama Papa.”
“Iya. Oh ya, apa kamu yang bernama Kinan?” tanya wanita tadi.
“Bukan, Bu. Saya Zayna, saya menantunya Papa hadi dan Mama Aisyah.”
“Oh, kamu istrinya Ayman?” tanya pria yang ada di depan Zayna. Pasti dia suami dari wanita itu.
“Iya, Tuan. Saya istri Mas Ayman.”
“Jangan panggil Tuan. Nama saya Wisnu dan ini istri saya Aida. Kalau yang ini putra saya, namanya Hanif. Panggil kami Om dan Tante saja.”
“Iya, Om, Tante. Saya panggilkan Mama dan Papa dulu,” ucap Zayna sambil sedikit membungkukkan tubuhnya. Wanita itu segera berlalu menuju dapur untuk memanggil Mama mertuanya.
“Ma, di depan ada tamu lagi nyariin Papa sama Mama.”
__ADS_1
"Siapa?" tanya Mama Aisyah.
"Namanya Om Wisnu dan Tante Aida."
“Oh, mereka sudah datang? Cepat sekali! Ini makanannya belum siap. Ya sudah, kamu lanjut bantu mereka buat nyiapin makanan. Biar Mama panggil Papa dulu.”
“Ma, tamunya mau disiapin minuman apa?” tanya Zayna sebelum mertuanya pergi.
“Nggak perlu, habis ini kita makan malam bersama sekalian.”
Zayna menganggukkan kepala, mengiyakan ucapan mertuanya. Mungkin ini perkiraannya tadi. Mertuanya memang sengaja menyiapkan makan malam sebanyak ini untuk mereka.
“Siapa Om Wisnu dan Tante Aida itu, Kak?” tanya Kinan setelah Mama Aisyah pergi.
“Kamu saja tidak tahu, bagaimana dengan aku, sudah pasti tidak tahu apa-apa?”
“Aku baru dengar nama Om Wisnu dan Tante Aida.”
“Kakak juga baru dengar. Kakakmu juga sering mengenalkan Kakak pada rekan bisnisnya, tetapi hanya sebentar, jadinya lupa dan tidak tahu apa-apa.”
“Iya juga, sih.”
“Sesuatu apa, Kak?”
“Nggak tahu. Tiba-tiba Mama ngundang mereka, terus nyiapin makan malam segala. Padahal sebelumnya kalau ada teman yang datang, Mama juga nggak pernah diajakin makan malam di rumah, katanya nggak mau ngerepotin Bik Ira. Paling juga makan malam di luar, kecuali kalau masih ada hubungan keluarga. Apa lagi ini acaranya dadakan.”
“Iya, ya! Aku baru sadar hal itu, tapi memangnya apa yang membuat Mama mengundang mereka?”
“Entahlah, nanti juga kita tahu.”
“Ada apa, sih, Sayang?” tanya Ayman yang baru saja datang.
“Nggak apa-apa, Mas. Kamu kenal nggak sama Om Wisnu dan Tante Aida?”
“Kenal, dong! Mereka ‘kan seorang pengusaha, dia teman Papa juga. Bisnisnya ada di mana-mana. Memangnya kenapa? Kamu kenal sama mereka?”
“Baru saja kenal tadi di depan.”
“Om Wisnu ada di sini?”
__ADS_1
“Iya, bersama dengan istri dan anaknya.”
“Anaknya? Tumben anak Om Wisnu mau ikut ke rumah ini. Biasanya nggak pernah mau kalau diajak ketemu sama teman bisnis papanya.”
“Kenapa nggak mau, Mas?”
“Karena anaknya menolak untuk mewarisi perusahaan. Om Wisnu pernah bilang jika anaknya hanya ingin menjadi dosen di universitas saja. Dia tidak mau ikut campur dengan urusan bisnis papanya. Padahal dia anak tunggal. Om Wisnu sangat berharap sekali pada anaknya itu.”
Saat mereka sedang asyik berbicara, terdengar suara Mama Aisyah mendekat dengan membawa tamunya masuk ke dapur. Ayman memberi kode pada sang istri untuk tidak berbicara lagi. Sementara itu, Kinan dibuat terkejut karena ternyata tamu yang dimaksud oleh kakak iparnya adalah Hanif—dosen killer—di universitasnya. Entah mimpi apa dia hari ini.
Bahkan Kinan juga pernah bermasalah dengan dosen itu. Gadis itu berusaha untuk menutupi wajahnya agar tidak terlihat. Namun, sayangnya Hanif lebih dulu mengetahui keberadaan Kinan. Itulah yang menjadi alasan pria itu datang ke sini.
“Silakan duduk, Mas Wisnu, Aida. Maaf, memang seperti ini rumah saya keadaannya, berantakan,” ucap Mama Aisyah yang merasa tidak enak.
“Kamu itu bicara apa? Rumah sebersih ini kamu bilang berantakan, lalu apa kabar rumahku?” sahut Aida.
“Sudah, justru rumah yang berantakan itu berarti penghuninya sedang bahagia. Tidak usah diperbesar lagi,” sela Papa Hadi yang diangguki oleh Wisnu.
“Apa kabar Om Wisnu?” sapa Ayman.
“Alhamdulillah, baik. Oh iya, selamat ya atas pernikahanmu. Om baru lihat istrimu, ternyata cantik juga,” ucap Wisnu membuat Ayman tertawa.
“Tentu, dong, Om. Siapa dulu suaminya,” sahut Ayman yang semakin membuat semua orang tertawa. Sedangkan Zayna dibuat malu dan segera mencubit pinggang sama suami.
“Sudah, sudah, ayo, kita makan dulu! Nanti dilanjut lagi ngobrolnya,” sela Mama Aisyah.
Mereka pun mengambil duduk masing-masing, sementara Kinan hanya berdiri memandang pria yang tidak dia harapkan kedatangannya itu.
“Kinan, kenapa kamu berdiri saja? Cepat duduk!” seru Mama Aisyah.
“Iya, Ma.” Kinan duduk di kursi samping kakak iparnya, tepat berada di depan Hanif.
“Oh, ini yang namanya Kinan? Sudah lama sekali Tante tidak bertemu sama kamu. Kamu sekarang makin cantik, ya?”
“Terima kasih, Tante,” ucap Kinan dengan tersenyum malu.
.
.
__ADS_1