Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
202. Panggilan baru


__ADS_3

Hanif baru sampai di kotanya. Pria itu meminta sopir untuk segera mengantarnya ke rumah sakit. Mengenai pengacara, biarlah nanti sopir yang mengantar. Dia dan Adam turun di depan pintu rumah sakit.


Keduanya berlari masuk untuk mencari keberadaan Kinan. Sebelumnya Hanif sudah menghubungi Mama Aisyah dan menanyakan mengenai ruang rawat istrinya. Wanita paruh baya itu menjelaskan di mana letak kamar putrinya. Pria itu terus saja berlari, sementara di belakang Adam berusaha mengikutinya meski tertinggal jauh.


Sesekali Hanif menunggu Adam hingga dekat dengannya dan kembali berlari. Begitu sampai di depan ruangan yang dituju, dia segera masuk. Ternyata benar di sana ada sang istri yang sedang menikmati makan malam. Pria itu segera mendekat ke sisi ranjang Kinan.


"Sayang, bagaimana keadaan kamu? Kamu tidak apa-apa, kan? apanya yang sakit?" tanya Hanif beruntun, membuat Kinan memijit kepalanya yang tiba-tiba berdenyut.


"Mas, Kenapa kamu banyak sekali pertanyaan yang kamu ajukan? satu-satu kalau tanya," jawab Kinan dengan cemberut.


Hanif hanya menunjukkan deretan giginya dan bertanya, "Iya, Sayang. Bagaimana keadaan kamu?"


"Aku baik-baik saja, Mas. Kamu jangan terlalu khawatir," jawab Kinan yang kemudian melihat ke belakang sang suami.


Ternyata di sana sudah ada Adam yang berdiri dengan napas tersengal. Sepertinya anak itu tadi berlari mengikuti Hanif. Adam tersenyum melihat ke arah kinan. Dia juga sama seperti Hanif yang khawatir terhadap wanita itu. Namun, melihat keadaan Kinan saat ini yang terlihat baik-baik saja, anak itu pun merasa lega.


"Kamu tadi berlari-lari, ya, Mas, sampai Adam ngos-ngosan begitu?" tanya Kinan sambil melihat ke arah Adam.


Hanif pun mengikutinya arah pandangan sang istri. Terlihat Adam yang memang sedang mengatur napasnya. Pria itu jadi merasa bersalah karena berlari begitu cepat, tetapi mau bagaimana lagi, dirinya begitu khawatir pada Kinan.


Hanif melihat ke arah sang istri dengan menunjukkan deretan giginya. "Maaf, Sayang. Tadi aku benar-benar khawatir sama kamu. Makanya aku tadi berlari, tapi aku masih memperhatikan Adam, kok!"


Pria itu masih mencoba membela diri karena tidak ingin disalahkan. Tadi Hanif memang selalu memperhatikan Adam meski anak itu ada di belakang. Dia juga selalu memperhatikan Adam agar tidak kehilangan jejaknya.

__ADS_1


"Adam, sini dekat Tante," panggil Kinan dengan melambaikan tangannya. Adam pun mendekati Kinan. "Lain kali kalau Om Hanif lari-lari, kamu jangan ikutan. Kamu jadi capek begini, kan."Kinan mengusap dahi Adam yang berkeringat


"Sayang, mulai hari ini sebaiknya Adam belajar memanggil kita Mama dan Papa karena aku sudah berhasil, mendapatkan surat adopsi dari keluarga kandungnya," sela Hanif membuat Kinan melebarkan matanya karena begitu bahagia.


"Wah! Benarkah itu mas? Alhamdulillah akhirnya semua dipermudah sama Tuhan."


Kinan mengusap wajahnya dengan kedua tangannya. Doa yang selama ini wanita itu panjatkan akhirnya bisa terkabul. Adam sekarang sudah menjadi tanggung jawabnya bersama sang suami. Banyak sekali rencana yang ingin dia lakukan untuk anak itu, semoga saja semua bisa terlaksana.


"Iya, Sayang. Mengenai nama panggilan, terserah Adam jika mau tetap kembali ke nama yang lama yaitu Aldo atau mau tetap Adam. Nanti biar aku urus surat lain-lainnya," ucap Hanif membuat Kinan juga menatap anak itu, seolah bertanya kira-kira dia mau dipanggil siapa.


Jujur Kinan lebih nyaman dengan panggilan Adam. Aldo memang nama aslinya, tetapi terasa asing bagi wanita itu. Kalau memang anak itu ingin dipanggil Aldo juga dia tidak masalah untuk Kinan. Baginya sama saja, asalkan artinya baik.


"Aku maunya dipanggil Adam saja, Om, Tante. Aku sudah terbiasa dengan panggilan itu. Aku juga lebih nyaman dengan nama itu." Adam tersenyum ke arah Hanif dan Kinan.


"Adam, bukankah tadi Om Hanif bilang, mulai sekarang kamu bisa panggil kami Papa dan Mama jadi, mulai sekarang kamu harus membiasakan hal itu, kamu mau, kan? Jika kamu tidak mau juga tidak apa-apa. Kami juga tidak memaksa kamu untuk memanggil kami Papa dan Mama," ujar Kinan yang tahu jika Adam masih merasa sulit dengan panggilan baru itu.


Memanggil Kinan dan Hanif dengan panggilan Papa dan Mama memang agak aneh baginya. Namun, bukan berarti dia tidak mau. Justru dia senang bisa memanggil mereka dengan panggilan seperti itu. Kinan dan Hanif pun ikut tersenyum melihatnya. Wanita itu juga senang karena Adam bisa yang bersama dirinya dan sang suami.


Anak itu tidak harus mendapatkan perlakuan yang tidak manusiawi dari orang tuanya. Mama Aisyah yang sedari tadi hanya diam juga ikut merasa senang. Meski dia tidak begitu dengan dekat dengan ada tetapi wanita itu yakin jika ada mah ada anak yang baik.


"Mama, maaf aku sampai melupakan keberadaan Mama," ucap Hanif yang merasa bersalah.


Pria itu mendekati mertuanya dan bersalaman. Padahal sudah jelas-jelas tadi Mama Aisyah ada di ruangan ini, tetapi dirinya seolah tidak menganggap keberadaannya. Bukannya dia tidak sopan, hanya saja Hanif memang benar-benar khawatir pada keadaan Kinan.

__ADS_1


Mama Aisyah juga tidak keberatan dengan sikap menantunya. Dia sangat mengerti kekhawatiran yang dirasakan Hanif


"Tidak apa-apa, Mama mengerti bagaimana perasaan kamu. Tadi siang juga Mama berada di posisi kamu, benar-benar khawatir pada keadaan Kinan, tetapi syukurlah semuanya terlewati dengan baik."


"Oh iya, Sayang. Aku belum menanyakan mengenai kecelakaan yang kamu alami. Bagaimana bisa kamu mengalami kecelakaan? Memang kamu kecelakaan di mana?" tanya Hanif yang teringat mengenai apa yang terjadi pada istrinya.


"Sudahlah, Mas. Sekarang Aku sudah tidak apa-apa, jadi tidak perlu diperpanjang lagi."


Kinan sangat tahu apa yang akan dilakukan sang suami. Jika pria itu tahu apa yang sebenarnya terjadi, pasti tidak ada ampun bagi pelakunya. Bukannya dia tidak marah pada apa yang dilakukan Felly. Akan tetapi, sangat berbahaya bagi wanita itu karena sudah mencelakainya.


Suami dan keluarganya tidak akan melepaskan Felly begitu saja dan Kinan tidak sampai hati jika hal itu terjadi. Kalau terjadi sesuatu pada dirinya, wanita itu pasti akan marah. Sekarang dia tidak kenapa-kenapa jadi, biarlah semua berlalu.


"Kenapa kamu seperti menutupi kesalahan seseorang? Apa memang ada seseorang yang sengaja ingin mencelakai kamu?" tanya Hanif sambil memicingkan matanya ke arah sang istri.


Kinan bingung harus berkata apa karena memang, dirinya sedang menutupi kesalahan orang lain. Itu karena dia tidak ingin sesuatu terjadi pada orang lain karena ulah suami dan keluarganya. Biarlah kejadian tadi pagi menjadi pelajaran baginya, untuk lebih hati-hati lagi, dalam menghadapi orang-orang seperti Niko dan Felly itu.


"Tidak, Mas. Aku sedang tidak menutupi kesalahan siapa pun," kilah Kinan.


"Tadi Mama sempat tanya sama Dokter Ina dan dosen tadi. Katanya Kinan kecelakaannya di kampus. Saat Mama tanya kejadiannya, mereka bilang tidak tahu karena mahasiswa yang menolongnya. Bukan Dokter Ina, apalagi dosen tadi," sela Mama Aisyah yang yakin jika memang ada seorang yang ingin mencelakai putrinya.


"Dosen? Dosen siapa, Ma? Apa Pak Frans?" tanya Hanif.


Mama Aisyah mengangguk dengan cepat. "Iya, benar itu namanya. Dia yang membawa Kinan ke rumah sakit bersama dengan Dokter Ina, tetapi yang lebih dulu menolong adalah mahasiswa."

__ADS_1


.


.


__ADS_2