Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
226. Datang ke sekolah baru


__ADS_3

Pagi-pagi sekali, Hanif sudah menyelesaikan joggingnya. Dia membantu sang istri untuk mandi. Setelah itu barulah dirinya yang bersiap untuk pergi. Hari ini pria itu akan mengantar Adam ke sekolah baru, untuk melihat-lihat terlebih dahulu. Jika nanti anak itu suka, maka Hanif akan mendaftarkannya sekalian di sana. Kalau tidak, maka dia akan pergi ke sekolah lain.


Segala surat-menyurat juga sudah diselesaikan oleh pengacara. Hanif memang sudah meminta semuanya segera diselesaikan secepat mungkin. Kinan merasa sedih karena dia tidak bisa, mengantar putranya untuk pergi ke sekolah. Padahal sebelumnya wanita itu sudah berencana, akan memilihkan sekolah yang terbaik untuk putranya sendiri.


Namun, Kinan tidak bisa berbuat apa-apa. Wanita itu sepenuhnya percaya kepada Hanif. Kalau sang suami pasti akan memilihkan sekolah yang terbaik untuk Adam. Nanti saat dirinya sudah sembuh, dia akan melihat secara langsung bagaimana sekolah putranya.


"Memang kamu berencana menyekolahkan Adam di mana, Mas?" tanya Kinan saat melihat sang suami sedang bersiap.


Wanita itu hanya melihat dari atas ranjang tanpa bisa membantu. Hanif juga menata segala surat-surat yang kemarin dia dapat dari pengacaranya. Persiapan sekolah Adam memang belum ada. Papanya memang sengaja tidak membelikannya lebih dulu karena ingin, menanyakan pada pihak sekolah terlebih dahulu. Hanif tahu jika kebutuhan setiap sekolah berbeda-beda.


"Sekolahnya tidak jauh dari sini, kok, Sayang. Hanya sekitar dua puluh menit kalau nggak macet. Sekolahnya juga bagus, aku sempat mencari tahu tentang sekolah itu dari beberapa pegawaiku, yang punya anak sekolah di sana. Kata mereka cara mengajar di sana bagus," jawab Hanif yang masih terus sibuk dengan dokumen milik Adam.


"Syukurlah kalau memang di sana pendidikannya bagus, tapi kamu jangan memaksa Adam ya, Mas. Kalau dia tidak suka dengan sekolahnya. Bagaimanapun juga kenyamanan Adam juga lebih utama. Takutnya nanti dia tidak suka dengan lingkungannya, tapi kamu malah memaksanya."


"Iya, Sayang. Nanti aku akan tanya pendapatnya mengenai sekolah itu. Aku juga tidak akan memaksa kalau memang dia tidak mau di sana. Jika dia tidak mau di sekolah umum, homeschooling juga tidak apa-apa. Aku tidak masalah untuk itu, hanya saja aku memilih sekolah umum karena ingin dia juga punya teman. Dia juga bisa belajar berinteraksi dengan orang lain. Kamu tahu 'kan kalau selama ini dia sulit berinteraksi dengan orang baru."


"Iya, Mas, kamu benar. Aku juga mengkhawatirkan hal itu."


"Aku tidak mau dia menjadi pribadi yang tertutup dan enggan bersosialisasi dengan orang lain. Menjadi seorang pendiam bukan masalah, asalkan bisa bersosialisasi ketika berhadapan dengan orang lain. Tidak selamanya kita selalu hidup sendiri. Terkadang juga butuh orang lain."


Kinan tersenyum dan mengangguk. Sang suami memang lebih mengerti daripada dirinya. Mungkin karena memang Hanif sudah pernah menjadi tenaga pendidik jadi, dia yang lebih paham apa yang dibutuhkan seorang anak, daripada dirinya. Yang memang sangat minim pengetahuan.


Pintu kamar diketuk oleh seorang dari luar. Kinan pun meminta orang tersebut untuk segera masuk. Wanita itu pikir yang datang adalah Erin, ternyata Adam yang masuk. Anak itu datang dengan membawa sepiring nasi dan segelas susu. Kinan tersenyum menyambut putranya.


"Kok kamu yang mengantar sarapan buat Mama? Erina ke mana?" tanya Hanif yang mengira Erin tidak bertanggung jawab pada pekerjaannya."


"Ada di bawah, tadi dia mau antar, tapi aku bilang aku saja karena aku ingin bertemu Mama." Adam meletakkan makanan di atas meja dan membantu Kinan untuk bangun dari tidurnya.

__ADS_1


"Walaupun kamu nggak bawa makanan, kamu juga bisa bertemu Mama," ucap Kinan.


"Aku cuma senang bisa membantu Mama meskipun cuma bantuan kecil."


"Bagaimana hari ini, kamu sudah siap pergi ke sekolah?" tanya Kinan pada putranya.


"Siap dong, Ma. Aku dari kemarin sudah tidak sabar mau pergi ke sana. Aku ingin segera belajar," jawab Adam dengan begitu bersemangat. Wajahnya begitu berbinar, membuat Kinan merasa lega. Setidaknya anak itu tidak merasa terpaksa.


"Maafin Mama karena tidak bisa mengantar kamu ke sekolah. Mudah-mudahan nanti kamu betah di sana."


"Nggak apa-apa, Ma. Kan, ada Papa yang mengantarku. Itu juga sama saja, nanti aku akan ceritain semuanya sama Mama. Apa saja yang ada di sekolah," jawab Adam, dia ingin menghibur mamanya yang merasa bersalah.


Anak itu mengambil makanan yang tadi dia bawa kemudian, menyerahkannya pada mamanya agar wanita itu segera sarapan. Kinan pun menerima dengan senang hati dan segera menikmatinya. Adam juga menyimpan obat dari dokter di atas meja. Anak itu tidak tahu dosis obat tersebut jadi, dia meletakkan semuanya di atas meja.


"Sudah selesai semuanya. Ayo sekarang kita berangkat!” ajak Hanif pada putranya.


"Wah! Cucu Oma hari ini mau daftar sekolah, ya?" tanya Mama Aida saat melihat anak dan cucunya sudah bersiap dengan pakaian yang rapi.


Adam juga terlihat berbeda dengan pakaian barunya. Sekarang anak itu terlihat lebih bersih dari penampilannya dulu. Meski tubuhnya masih belum terlalu berisi, setidaknya ada perubahan yang setelah tinggal di sini. Hanif juga sudah membelikan vitamin kepada putranya agar lebih berisi dan juga lebih tinggi.


"Iya, Oma. Hari ini aku mau daftar sekolah, biar jadi anak yang pintar. Nanti bisa buat mama dan papa bangga," sahut Adam dengan bersemangat, membuat Mama Aida juga ikut merasa bahagia.


"Bagus itu, tapi jangan lupakan Oma dan Opa, ya! Oma dan Opa juga pasti akan bangga sama kamu, kalau kamu jadi anak yang hebat. Bukan pintar, tapi hebat." Mama Aida mengacungkan jempolnya sambil tersenyum.


"Iya, Oma. Nanti aku juga akan membuat Oma dan Opa bangga."


"Sudah, sekarang makan dulu sarapannya. Nanti kita terlambat," sela Hanif yang segera dikerjakan oleh Adam.

__ADS_1


Anak itu terlihat begitu antusias saat tahu dirinya akan sekolah hari ini. Padahal awalnya Hanif takut jika Adam enggan untuk pergi ke sekolah. Mengingat bagaimana sekolahnya dulu, dia takut jika putranya akan mengalami trauma di dunia pendidikan. Yang pastinya akan berdampak buruk untuk masa depan anak itu nanti.


Namun, ternyata dugaan pria itu salah. Adam terlihat begitu antusias, apalagi dengan tujuannya sekolah. Hanif berharap putranya bisa berinteraksi dengan baik di lingkungan barunya.


Setelah mereka menghabiskan sarapannya, Hanif dan Adam pergi ke sekolah, sementara papa Wisnu pergi ke kantor. Padahal dulu pria paruh baya itu sudah berencana ingin berhenti, saat Hanif sudah mengambil tanggung jawabnya. Namun, tetap saja ada pekerjaan yang harus dia kerjakan.


Sebelum Papa Wisnu benar-benar pergi dari perusahaan itu. Selalu ada saja yang dilakukan oleh orang-orang yang tidak bertanggung jawab. Yang akhirnya semakin menambah pekerjaan pria itu. Hanif juga terkadang akan membantu papanya jika pekerjaannya sudah selesai.


"Pa, apa di sana gurunya galak?" tanya Adam pada papanya, saat mereka sedang dalam perjalanan.


"Memangnya kenapa? Kamu takut kalau di sana gurunya galak?" tanya Hanif balik.


Sebenarnya pria itu juga sudah menunggu pertanyaan dari putranya. Dia berharap anak itu memiliki pemikiran sendiri tentang sekolah barunya. Adam harus belajar mencari sesuatu yang nyaman untuk dirinya. Itu juga demi masa depan putranya.


"Kalau aku nggak suka, nanti cari sekolah yang lain saja nggak pa-pa, ya, Pa?" Adam menatap papanya dengan harap-harap cemas. Berharap pria itu menyetujui keinginannya.


“Iya, kamu tenang saja. Papa juga tidak memaksa kamu, kalau kamu nggak mau sekolah di sana. Tapi papa juga perlu alasan yang kuat, kenapa kamu tidak mau di sekolah itu. Papa tidak mau kamu menolak sekolah dengan berbagai alasan, yang sebenarnya tidak benar.”


"Iya, Pa. Papa tenang saja, aku akan berusaha untuk berbaur di sana. Namun, jika masih belum bisa juga, aku ingin pindah saja," sahut Adam yang diangguki oleh Hanif.


Setelah beberapa menit, akhirnya mereka sampai juga di depan sekolah tempat Adam akan menimba ilmu. Keduanya turun bersama, ada beberapa wali murid yang sedang mengantar, memperhatikan setiap gerak-gerik Hanif. Mereka mengira jika pria itu adalah pamannya. Mengingat pria itu yang masih terlihat begitu muda.


Apalagi dia datang seorang diri, sudah dipastikan jika mereka tidak tahu kalau Adam adalah putranya. Hanif bertanya pada satpam yang bekerja di sana. Dia menanyakan mengenai ruangan kepala sekolah. Satpam tersebut pun menunjukkan di mana letak ruangannya.


Hanif mengikuti arah yang ditunjuk oleh satpam. Terlihat beberapa murid menatap kedatangan Adam. Beberapa di antara mereka ada yang tersenyum, ada pula yang biasa saja, bahkan terkesan jutek. Namun, anak itu tidak peduli dengan mereka.


.

__ADS_1


.


__ADS_2