Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
141. Mengunjungi mantan


__ADS_3

“Mana Fahri, Ma? Apa dia tidak turun?” tanya Papa Ma'ruf saat melihat istrinya keluar sendiri.


“Seperti biasalah, Pa. Dia marah-marah kalau mau dibangunin,” jawab Lusi.


Papa Ma'ruf mengangguk, kejadian seperti ini memang sudah sering terjadi. Tidak jarang juga anak dan ibu itu akan saling berteriak dan menyalahkan. Dia sudah bosan melihatnya. Rumah ini juga sudah tidak nyaman lagi bagi pria itu.


“Nikmatin sajalah, Ma. Bukankah ini yang Mama mau? Aku sudah pernah mengingatkannya, bukan? Tapi Mama tidak peduli dan selalu ikut campur dengan urusan anak-anak. Padahal pilihan Fahri saat itu sudah jelas-jelas sangat bagus."


“Mama Cuma ingin yang terbaik untuk Fahri, apa salahnya?” Lusi mencoba untuk membela diri. Dia sudah lelah selalu disalahkan oleh semua orang.


“Tidak ada yang salah, setiap orang tua pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya. Sekarang Mama lihat hasilnya, apa ini yang baik menurut Mama? Kalau menurut Mama ini yang baik, seharusnya Mama bahagia, bukan mengeluh seperti sekarang ini. Sudahlah, Papa jadi nggak selera untuk makan. Lebih baik nanti Papa makan di kantor saja,” pungkas Ma’ruf yang kemudian pergi dari sana.


Lusi menatap punggung sang suami yang menghilang di balik tembok. Wanita itu merasa sedih, kehidupannya tidak sesuai dengan apa yang dia inginkan. Dulu Lusi memilih Zanita karena ingin pamer di depan teman-teman arisannya. Zayna tidak bisa dibanggakan karena seorang pelayan restoran dengan pendidikan yang menurutnya rendah, sementara teman-teman arisannya memiliki menantu wanita yang pendidikannya tinggi dan juga berkelas.


Terdengar suara orang membanting pintu, segera Mama Lusi berlari, ternyata Fahri yang akan pergi ke kantor. Entah benar pergi bekerja atau tidak karena penampilannya tidak begitu rapi.


“Fahri, sarapan dulu! Mama sudah siapin makanan kesukaan kamu!” teriak Mama Lusi sambil berlari mengikuti putranya yang berjalan keluar.


Pria itu sama sekali tidak memedulikan teriakan mamanya dan terus saja berjalan dan memasuki mobilnya. Mama Lusi berusaha mengejar Fahri. Namun, usahanya sia-sia. Pria itu melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, meninggalkan halaman rumah.

__ADS_1


Seandainya waktu bisa berputar, dia tidak akan pernah memisahkan putranya dengan Zayna. Lusi mengakui jika mantan kekasih putranya adalah orang yang baik dan selalu menghormatinya. Selama ini wanita itu sering berbuat sinis kepadanya. Namun, Zayna tidak pernah membalas, bahkan masih bersikap sopan padanya.


Mungkin ini yang namanya karma. Dulu dia sering menyakiti hati Zayna dan Zanita, kini berbalik padanya. Anak dan suami yang selama ini wanita itu sayangi malah menyakiti hatinya.


Sementara Fahri mengemudikan mobilnya menuju tempat di mana mantan istrinya tinggal. Dia sedang tidak mood untuk bekerja jadi, hari ini dia ingin cuti saja daripada membuat masalah nanti. Setelah mengendarai mobil selama satu jam, akhirnya Fahri sampai juga di tempat Zanita tinggal.


Setelah mengatakan apa yang diinginkan oleh pria itu kepada penjaga, Fahri pun diantar ke sebuah ruangan dan diminta untuk menunggu. Tidak berapa lama, datanglah seorang wanita yang duduk di depan Fahri, siapa lagi kalau bukan Zanita.


“Apa yang membuatmu datang ke sini? Tidak mungkin kalau kamu menginginkan sesuatu dariku, kan? Aku tidak memiliki apa pun di sini,” tanya Zanita.


“Sepertinya hidupmu sangat bahagia di sini?” tanya Fahri tanpa menghiraukan pertanyaan Zanita.


“Ya, kehidupanku memang tidak baik. Aku ke sini ingin memastikan, kalau kehidupanmu juga sama buruknya sepertiku. Aku tidak rela kalau hanya hidupku yang hancur. Kamu juga harus hancur bersama denganku," jawab Fahri.


Zanita tertawa mendengarnya. Bagaimana bisa mantan suaminya bisa berbicara seperti itu. Seharusnya Fahri merasa senang karena dirinya masih bisa bebas ke mana pun yang dia inginkan, sementara dirinya harus terkurung di tempat ini untuk beberapa tahun. Fahri memicingkan matanya saat melihat mantan istrinya itu tertawa. Baginya tidak ada yang lucu jadi, apa yang ditertawakan oleh Zanita?


“Apa kamu sadar dengan apa yang kamu katakan? Seharusnya kamu beruntung karena masih bisa hidup dalam bebas, tidak sepertiku. Apa yang kamu inginkan dariku sudah terjadi sejak dulu. Hidupku tidak baik-baik saja selama berada di sini. Banyak yang ingin menjahatiku di tempat ini. Aku sudah membuat orang tuaku malu dengan apa yang sudah aku lakukan. Aku juga sudah sangat menyakiti orang yang selama ini menyayangiku dan menjadikanku adiknya jadi, jangan tanyakan lagi bagaimana kehidupanku."


Setetes air mata jatuh membasahi pipi Zanita. Wanita itu segera menghapusnya. Dia tidak ingin terlihat lemah di depan siapa pun. Sekalipun Zanita menderita di sini, orang lain tidak perlu mengetahuinya. Biarlah hanya kebahagiaan yang orang tahu.

__ADS_1


Fahri merasa bersalah melihat Zanita seperti ini. Dia memang laki-laki yang bod*h, mana ada orang yang bahagia tinggal di tempat ini. Pria itu mengakui jika jika mantan istrinya adalah wanita hebat karena sudah berubah menjadi lebih baik. Tidak seperti dirinya yang justru semakin hancur.


"Sepertinya tidak ada lagi yang kamu inginkan di sini, sebaiknya kamu pergi saja."


"Tunggu dulu," cegah Fahri saat melihat Zanita sudah berdiri dan akan meninggalkan tempat itu.


"Ada apa lagi? Apa masih kurang melihat penderitaanku?" geram Zanita.


"Apa yang membuatmu berubah? Aku melihat saat ini kamu bukan Zanita yang aku kenal. Sepertinya kamu sudah menjadi orang baik."


"Aku hanya sedang mencoba menjadi manusia yang lebih baik saja. Sudah terlalu banyak dosa yang sudah aku lakukan. Aku tidak mungkin selamanya hidup seperti ini, sudah cukup kesalahan yang aku lakukan pada keluargaku dan pada orang lain. Saat ini aku mau menebus kesalahanku. Kalaupun orang-orang tidak memaafkanku, tidak masalah. Setidaknya aku sudah minta maaf, selebihnya biar Tuhan yang menilainya."


Fahri terkesan dengan apa yang Zanita pikirkan, dia sama sekali tidak pernah berpikir tentang kehidupannya, entah mau jadi apa dirinya kali ini. Pria itu hanya sibuk meratapi nasibnya tanpa mau berpikir, dosa apa saja yang sudah dia lakukan.


"Fahri, maaf aku sudah membuat hidupmu hancur. Maaf juga sudah membuatmu kehilangan wanita sebaik Zayna, tapi aku tidak pernah menyesali hal itu. Dengan begitu Kakakku itu bisa mendapatkan pria yang baik, yang bisa menyayanginya dengan tulus seperti Ayman. Dia pantas mendapatkan laki-laki seperti itu."


"Kamu benar, Zayna memang wanita yang baik, dia pantas mendapatkan kebahagiaan juga. Seandainya dia menikah denganku pun aku yakin, aku tidak mampu memberikan kebahagiaan yang wanita itu dapatkan dari suaminya kini. Aku bisa melihat ketulusan di mata keduanya. Mungkin itu yang namanya 'jodoh adalah cerminan diri', Zayna wanita yang baik, begitu juga dengan Ayman. Berbeda denganku yang selama ini mengaku dirinya baik nyatanya sampah."


.

__ADS_1


.


__ADS_2