
“Pak Adam baik-baik saja. Keadaannya memang masih lemah, perlu waktu untuk menyesuaikan diri dengan apa yang terjadi. Apalagi kecelakaan yang menimpa Pak Adam juga cukup fatal,” ucap dokter pada Hanif sekeluarga.
“Tapi kaki dan lehernya bagaimana?” tanya Kinan sambil memperhatikan keadaan sang putra.
“Saya sudah menceritakan semua pada Pak Hanif, lebih baik beliau saja yang menyampaikan,” jawab dokter yang kemudian pamit undur diri.
Setelah kepergian dokter Kinan menanyakan keadaan Adam pada sang suami. Hanif awalnya ragu untuk mengatakan yang sebenarnya, tetapi setelah melihat wajah istri dan kedua anaknya yang berharap, akhirnya pria itu pun menceritakan apa yang dokter katakan tadi. Adam yang masih belum benar-benar baik berusaha menguatkan hatinya, untuk mendengarkan apa yang papanya katakan.
Mereka terkejut saat tahu kaki Adam patah dan harus segera dioperasi. Dokter juga mempersiapkan segala keperluannya dan sudah memastikan kepala sang putra baik-baik saja setelah menjalani tes. Hanya memang kakinya saja yang sangat parah. Kinan menggenggam telapak tangan Adam, mencoba memberi kekuatan pada anaknya agar bisa melewati semua ini. Sebagai orang tua, wanita itu akan selalu menemaninya dalam keadaan apa pun.
"Kamu harus bisa melewati semua ini, Nak," ucap Kinan dengan air mata yang menetes, menatap pemuda yang selama ini terlihat begitu gagah, tetapi sekarang hanya terbaring di atas ranjang rumah sakit.
"Iya, Ma. Aku akan kuat, lagi pula cuma kakiku saja, nanti juga bisa sembuh."
Kinan mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan sang putra. Orang tua mana pun pasti menginginkan yang terbaik untuk anaknya, begitu juga dengan wanita itu. Dia berharap semua berjalan dengan baik, operasi yang akan dilaksanakan pun berjalan sesuai rencana.
Adam menatap gadis yang berdiri di samping mamanya. Dia kira adiknya masih marah padanya. Pria itu pun tersenyum ke arah Zea yang sedang menunduk. Terlihat wajah sembab di sana, pasti gadis itu menangis tadi.
"Kamu ikut ke sini juga, Dhek?" tanya Adam yang memang sengaja tidak ingin membahas masalah kemarin.
"Iya, Kak. Tadi saat Papa mengatakan kalau Kakak kecelakaan, aku khawatir jadi ikut ke sini," jawab Zea membuat kakaknya tersenyum sekilas.
Adam memejamkan mata sejenak, tiba-tiba saja kakinya merasa sakit. Namun, dia tidak mungkin mengatakan hal tersebut di depan orang-orang yang begitu menyayanginya. Selagi bisa ditahan, pria itu akan menahannya.
"Kamu kenapa? Kalau ada yang sakit, bilang saja. Kamu tidak perlu menahannya, katakan saja," ucap Kinan yang sangat tahu bagaimana keadaan Adam. Pasti saat ini sang putra sedang menahan rasa sakitnya.
“Aku tidak apa-apa, Ma. Hanya merasa tidak nyaman saja karena tidak bisa gerak,” jawab Adam dengan tersenyum.
Memang begitulah keadaannya, pria itu merasa tidak nyaman dengan keadaan ini. Namun, rasa sakit yang dia rasakan memang begitu menyiksa. Semua gerakan yang dilakukan serba terbatas. Pasti nantinya akan sangat merepotkan keluarga. Seharusnya Adam memberi kebahagiaan, bukan beban seperti ini.
Ponsel Hanif berdering, pria itu pun keluar untuk mengangkatnya. Dia mencari tempat yang sepi agar bisa leluasa berbicara. Hanif sudah tidak sabar mendengar apa yang didapatkan anak buahnya. Begitu sudah cukup jauh dari ruang rawat Adam, hanif segera mengangkatnya. “Halo.”
__ADS_1
“Halo, Tuan. Kami sudah menemukan pelakunya,” ucap orang di balik telepon.
“Katakan!”
“Pelakunya adalah seorang pemuda bernama Rio, dia adalah seorang preman dan ternyata disuruh oleh seseorang.”
“Siapa yang menyuruhnya?”
“Seorang pria yang bernama Akmal. Dia juga saudara tiri dari Pak Adam.”
“Saya tahu, segera tangkap dia dan asingkan terlebih dahulu, sebelum kita menyerahkannya ke kantor polisi,” ucap Hanif dengan nada dingin.
“Siap, Tuan. Kebetulan salah satu anak buah saya sedang mengikutinya.”
“Bagus, saya tidak mau mendengar kegagalan.” Hanif menutup panggilan dan segera keluar.
Dia tidak mungkin kembali ke kamar begitu saja. Pria itu pun keluar untuk membelikan makanan buat anak dan istrinya. Sejak datang tadi mereka belum makan apa pun. Bahkan air minum pun tidak.
"Kalau Mama yang pergi, memangnya nggak nyasar?" tanya Zea yang meragukan mamanya.
"Sudahlah, Mama mau cari papamu dulu. Kamu nggak boleh ke mana-mana, jagain kakak kamu, siapa tahu butuh sesuatu."
"Iya, Ma. Nanti kalau ada apa-apa, segera hubungi aku."
"Iya," sahut Kinan dan segera pergi mencari sang suami. Dia meninggalkan kedua anaknya di dalam ruangan tersebut.
Lagi-lagi Adam memejamkan matanya, pria itu mencoba menahan agar tidak merintih kesakitan. Kakinya benar-benar terasa sangat sakit. Namun, berbeda dengan Zea yang berpikir jika kakaknya tidak ingin melihatnya. Apalagi dengan helaan napas yang didengar gadis itu, semakin membuat sang adik merasa sedih.
"Apa Kakak marah padaku?" tanya Zea membuat Adam membuka matanya.
"Marah kenapa? Kakak tidak pernah marah padamu. Bukannya kamu yang marah sama Kakak?" tanya Adam balik.
__ADS_1
"Tapi Kakak dari tadi diam terus."
"Aku cuma bingung saja, mau ngomong apa. Apalagi kamu juga masih marah sama Kakak."
"Ya, kalau aku marah seharusnya Kakak bujuk aku, dong! Jangan hanya diam saja."
"Aku nggak bisa bujuk kamu saat ini. Duduk saja tidak bisa."
"Ya sudah kalau begitu, lupakan saja. Anggap saja tidak terjadi apa-apa.”
“Mana bisa seperti itu? Aku maunya ada yang spesial diantara kita, tapi melihatku yang seperti ini aku jadi tidak percaya diri. Mungkin benar apa yang kamu katakan, lebih baik kita lupakan saja yang pernah ada," ucap Adam sambil menatap kakinya dengan pandangan sedih.
Zea juga ikut sedih mendengar apa yang kakaknya katakan. “Kenapa Kakak bicara seperti itu? Apa Kakak tidak mau mempertahankan aku?”
“Bukannya aku tidak mau, tetapi kamu lihat sendiri keadaanku. Aku juga tidak tahu apakah kakiku busa sembuh atau tidak. Bagaimana jika selamanya aku cacat?”
“Kakak bicara apa, sih! Aku tidak suka. Aku yakin Kakak pasti akan sembuh. Kakak harus percaya hal itu, jangan patah semangat karena kami akan selalu ada bersama Kakak,” ucap Zea dengan meneteskan air matanya.
Dia merasa sedih dengan apa yang terjadi pada kakaknya. Gadis itu sudah menahan air matanya sejak di jalan dan kini akhirnya tumpah juga. Apalagi saat mendengarkan kata-kata Adam yang pesimis dengan keadaannya. Itu semakin membuat hatinya terluka.
"Kenapa kamu menangis? Maafkan aku jika apa yang aku katakan melukaimu. Aku benar-benar tidak bermaksud seperti itu. Hanya saja keadaanku sudah berubah, tidak seperti dulu lagi. Kakak tidak mau merepotkanmu."
"Kakak tidak merepotkanku, asalkan Kakak selalu berada di sampingku itu sudah cukup membuatku bahagia. Kakak juga sudah memiliki pekerjaan, Kakak memiliki restoran di banyak tempat. Kalaupun kakak tidak bisa pergi bekerja, Kakak bisa mengerjakannya dari rumah. Aku juga bisa membantu Kakak melakukan pekerjaan."
Adam tertegun mendengar apa yang Zea katakan. Dia menatap gadis itu dengan saksama, membuat adiknya salah tingkah. Bibir pria itu melengkung ke atas karena bahagia, tidak peduli apalagi yang terjadi pada
"Apa itu berarti kamu menerima cintaku dan bersedia menikah denganku!"
Zea terdiam, entah kenapa tadi dirinya berkata seperti itu. Gadis itu bingung harus menjawab apa. Dia hanya bisa menunduk sambil memainkan jarinya. ingin sekali Zea menutupi dirinya yang sudah sangat malu.
.
__ADS_1