
“Mas, terima kasih atas kejutan yang sudah kamu buat. Aku merasa terharu dengan apa yang kamu lakukan hari ini. Aku tidak menyangka jika kamu lebih memilih memberikan aku kejutan daripada harus menyelesaikan pekerjaanmu di sana. Padahal aku sangat tahu kalau kamu orang yang gila kerja,” ucap Zayna saat keduanya sudah berada di dalam kamar.
Setelah selesai makan bersama, semua orang kembali ke kamarnya masing-masing. Hari masih malam, mereka juga sudah sangat mengantuk. Ayman berpikir untuk merayakan pesta ulang tahun Zayna besok lagi. Pria itu ingin mengajak sang istri pergi, tentunya tanpa wanita itu tahu.
“Kamu adalah istriku. Bagaimana mungkin aku tidak melakukan sesuatu saat orang yang aku sayangi bertambah usia. Oh ya, aku lupa hadiah untuk kamu. Sebentar aku ambil dulu.”
Ayman turun dari ranjang dan mengambil hadiah yang sudah dia siapkan di dalam tas kerjanya. Zayna hanya diam memperhatikan sang suami. Sebenarnya wanita itu juga tidak mengharapkan hadiah apa pun dari sang suami. Sudah diberi kejutan saja dia sangat senang.
“Ini, Sayang, untuk kamu,” ucap Ayman sambil menyerahkan satu kotak kecil hadiah untuk sang istri.
“Boleh aku membukanya, Mas?” tanya Zayna sambil menatap sang suami.
“Buka saja, itu ‘kan sudah menjadi milik kamu, jadi itu terserah kamu.”
Zayna pun membuka kado dari sang suami. Alangkah terkejutnya saat melihat ternyata di dalamnya ada sebuah kalung yang begitu cantik. Kalung berlian dengan liontin berbentuk bunga anggrek. Wanita itu yakin pasti harganya sangat mahal.
“Bagaimana, Sayang. Apa kamu suka?” tanya Ayman.
“Mas, ini bagus sekali. Pasti sangat mahal. Kenapa nggak membeli hadiah yang biasa saja?”
“Ini spesial untuk kamu, Sayang. Jangan dilihat harganya, tapi lihat ketulusanku saat memberinya. Sini aku pakaikan,” ucap Ayman yang segera memakaikan di leher sang istri. Pria itu tanpa sadar melengkungkan bibirnya.
“Aku tahu, tapi kamu ‘kan tahu kalau aku juga jarang sekali memakai perhiasan. Yang kemarin kamu beliin saja baru satu kali aku pakai.”
“Tidak apa-apa, anggap saja itu buat tabungan kamu, nanti kalau butuh uang bisa dijual.”
“Masa dijual!”
“Tidak apa-apa, selama itu masih berguna. Sama seperti kalau kamu diberi baju masa sudah sobek masih kamu pakai juga? Nggak, kan? Pasti masuk tong sampah juga.”
“Iya, tapi nggak enak saja kalau mau jual pemberian orang.”
“Sudah, tidak usah dibahas. Biarkan saja."
"Iya, aku mau buka kado dari yang lainnya," ucap Zayna sambil membuka kado dari mertuanya.
Lagi-lagi wanita itu dibuat terkejut saat membuka kado pemberian mertuanya. Sebuah gelang berlian berwarna silver yang terlihat begitu sangat cantik. Zayna dibuat kagum olehnya. Dia memang tidak pernah membeli barang-barang seperti itu. Namun, Zayna bisa tahu jika pemberian mertuanya ini kualitasnya pasti sangat bagus.
“Mas, ini bagus sekali, pasti sangat mahal. Kira-kira berapa harganya, Mas?” tanya Zayna pada sang suami karena dia yakin jika pria itu tahu. Wanita itu membolak-balikkan gelang itu.
__ADS_1
“Memangnya kenapa, Sayang? Kamu mau menjualnya?”
“Nggaklah, Mas. Aku cuma penasaran saja, kenapa Mama memberikan aku hadiah yang semahal ini?”
“Hadiah untuk menantunya tentu harus bagus, mana boleh asal-asalan."
“Iya, Mas, tapi ini terlalu berlebihan.”
“Tidak, kamu sama saja yang menganggapnya seperti itu. Bagi Papa dan Mama, ini tidak ada artinya dibandingkan dengan kehadiran kamu di rumah ini. Apalagi sekarang sudah ada calon cucu mereka, pastinya Papa dan Mama sangat bahagia sekali.”
“Aku juga senang dengan keberadaan Mama dan Papa yang menyayangiku seperti anaknya sendiri.”
“Iya, sekarang kamu buka kado yang dari Kinan dan yang lainnya.”
Zayna pun mulai membuka kado dari mereka satu persatu. Setelah selesai, keduanya memutuskan untuk tidur lebih dulu. Masih ada waktu untuk istirahat sebelum melanjutkan aktivitas esok hari. Tanpa menunggu waktu lama, Ayman dan Zayna pun menuju ke alam mimpi.
Keesokan paginya, rumah masih tampak sepi. Sepertinya para penghuni masih mengantuk karena acara semalam. Hanya Bik Ira yang sedang sibuk di dapur, menyiapkan sarapan pagi untuk semua orang.
“Selamat pagi, Bik,” sapa Zayna.
“Selamat pagi, Neng. Sudah bangun? Semua orang masih tidur, pasti mereka masih mengantuk.”
“Bibi sudah terbiasa bangun pagi, Neng. Justru badan Bibi terasa sakit semua kalau diam saja.”
Zayna mengangguk mendengar ucapan Bik Ira. Semenjak dia datang ke rumah ini, tidak sekalipun asisten rumah tangga itu mengeluh. Apalagi sampai sakit.
“Saya bantu, ya, Bik! Bibi masak apa?”
“Tidak usah, Neng. hari ini kan Neng Zayna harusnya jadi nyonya.”
“Nggak usah seperti itulah, Bik. Aku nggak suka seperti itu."
“Memangnya baby-nya sudah mau masuk dapur? Katanya di dapur bau?”
“Nggak tahu, mudah-mudahan saja ngidam aku udah selesai, Bik.”
“Ibu hamil memang wajar, Neng.”
“Iya, tapi rasanya nggak enak sekali. Aku ingin memasak untuk suamiku, tapi nggak pernah bisa. Sekarang baby-nya mau diajak masak, jadi sekalian mau masak yang banyak. Semoga Mas Ayman suka.”
__ADS_1
“Neng Zayna mau masak apa? Biar Bibi yang siapin.”
Kedua wanita beda usia itu pun sibuk di dapur, sementara semua orang masih berbaring di atas tempat tidur, menyelami mimpi di pagi hari.
Makanan telah siap di meja makan. Zayna dan Bik Ira menatanya bersama-sama. Satu persatu penghuni rumah mulai memenuhi meja makan.
“Tumben makanannya banyak. Ini bukan sisa semalam, kan, BI?” tanya Kinan.
“Tidak, Non. Tadi Neng Zayna yang masak. Lagi pula makanan semalam tidak seperti ini.”
“Sudah bisa masak, Kak?” tanya Kinan pada kakak iparnya.
“Dari dulu juga Kakak bisa masak.”
“Maksudnya, Kakak sudah nggak mual? Nggak bau lagi saat masuk dapur?”
“Nggak, hari ini baik-baik saja. Sepertinya ngidam sudah selesai dan mudah-mudahan setelah ini, sudah nggak mual lagi saat diajak masak.”
“Iya, Kak. Aku tuh kangen banget sama masakan Kakak.”
“Maaf ya, Neng. Bibi sudah mengecewakan. Saya sudah berusaha untuk membuat yang rasanya sama seperti buatan Neng Zayna, tapi tetap saja rasanya berbeda."
"Nggak pa-palah, Bi. Kalau Bibi mah masakan yang lain juga hebat. Kak Zayna sama Bik Ira memiliki kelebihan masing-masing dalam membuat makanan," ucap Kinan yang tidak ingin menyakiti hati asisten rumah tangganya.
"Makanya kamu belajar sama mereka, biar kamu bisa buat makanan kesukaan kamu sendiri," sela Mama Aisyah yang sedari tadi diam saja.
"Aku 'kan sedang belajar, Ma."
"Belajar apaan? Satu hari belajar, liburnya satu bulan. Itu sama saja bohong."
"Mama, aku masih sibuk kuliah."
"Jangan melulu kuliah yang jadi alasan. Banyak orang yang masih bisa bekerja keras daripada kamu. Mereka harus mencari pekerjaan untuk bisa bersekolah. Bahkan mereka juga harus memberi makan saudara-saudaranya. Kamu harusnya merasa beruntung daripada mereka."
"Iya, nanti aku akan mencobanya."
Berdebat dengan Mama Aisyah, sudah pasti dirinya yang akan kalah. Lebih baik mengiyakan saja. Lagi pula apa yang dikatakan Mama Aisyah memang benar. Seharusnya dia bersyukur bisa kuliah tanpa bekerja untuk mencari uang.
.
__ADS_1
.