Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
208. Menjenguk Kinan


__ADS_3

“Assalamualaikum,” ucap Ayman, Zayna dan Mama Aisyah secara bersamaan. Ketiganya masuk ke dalam ruangan di mana Kinan sedang dirawat.


"Waalaikumsalam."


Kinan tersenyum melihat keluarganya datang. Dia memeluk mereka satu persatu. "Baby Ars nggak ikut, Kak?" tanyanya saat memeluk Kakak iparnya.


"Ini rumah sakit, Dhek. Mana mungkin Kakak bawa dia," jawab Zayna setelah mengurai pelukannya.


"Iya, padahal aku sudah kangen banget sama dia. Pasti sekarang pipinya makin chubby jadi pengen cubit pipinya." Kinan mencubit pipinya sendiri, membayangkan mencubit pipi keponakannya.


"Nanti juga kamu punya sendiri, kamu bisa puas-puasin mencubit pipi bayi kamu," sahut Zayna dengan tersenyum ke arah adik iparnya. "Bagaimana keadaan kamu sekarang?" tanyanya.


"Sekarang sudah lebih baik, Kak. Mudah-mudahan saja nanti dokter sudah memperbolehkan pulang."


Mereka pun berbincang banyak hal. Kinan banyak bertanya pada Zayna, mengenai proses kehamilannya waktu mengandung Baby Ars. Meskipun sekarang dirinya berbeda dengan sang kakak ipar karena harus benar-benar menjaga kandungannya. Setidaknya ada sesuatu yang dia ketahui tentang kehamilan.


Nanti juga wanita itu akan bertanya pada dokter, bagaimana caranya menjaga agar kehamilannya tetap sehat. Meski dirinya harus tetap berada di tempat tidur. Dia pernah mendengar jika wanita hamil harus banyak bergerak agar bayinya juga sehat. Akan tetapi, Kinan malah sebaliknya.


Wanita itu tidak boleh banyak bergerak dan harus tiduran saja di atas tempat tidur. Belum lagi obat yang harus dia minum. Kinan hanya bisa berdoa agar dirinya benar-benar bisa melewati semua ini, bayinya juga sehat.


"Mas, ayo kita pulang! Takutnya Baby Ars sudah bangun," ajak Zayna pada sang suami.


"Kenapa buru-buru sekali, Kak? Baru juga sampai, kita ngobrol juga cuma sebentar," sahut Kinan yang juga mendengar pembicaraan kakaknya itu.


"Baby Ars aku tinggal di rumah, Dhek. Takutnya nanti nangis, kamu tahu sendiri kalau dia itu sangat manja."


"Di rumah 'kan ada Bik Ira, pasti dia bisa jagain Baby Ars, Sayang. Sebentar lagi, ya, aku masih mau tahu keadaan Kinan. Aku masih ingin bicara dengan dia," bujuk Ayman yang memang masih ingin berbincang dengan adiknya.


Dia sudah sangat jarang bertemu karena kesibukan masing-masing. Apalagi sekarang mereka sudah tidak satu rumah. Sudah pasti semakin tidak bisa bertemu.


"Tapi, Mas, kamu 'kan tahu Baby Ars tidak bisa lama sama Bibi."

__ADS_1


"Nanti Bibi juga pasti akan telepon kalau Baby Ars nangis."


Zaina kesal dibuatnya, bagaimana bisa Ayman berbicara dengan begitu mudah. Jarak dari sini ke rumah cukup jauh, hampir tiga puluh menit. Jika dia harus menunggu bibi menelpon, itu artinya dia membiarkan Baby Ars menangis. Wanita itu tidak sampai hati harus melakukan hal itu.


Sejak tadi berangkat Zayna sudah mengatakan jika dirinya tidak bisa pergi lama-lama. Ayman juga mengiyakannya. Akan tetapi, sekarang malah pria itu tidak mau pulang. Wanita itu tidak terbiasa jauh dari putranya.


"Kalau begitu, aku pulang naik taksi saja, Mas. Kamu juga masih mau ngobrol sama Kinan," ucap Zayna dengan mencoba untuk terlihat biasa saja. Meski hatinya benar-benar kesal dan ingin marah pada sang suami.


"Jangan, dong, Sayang. Masa kamu pulang sendiri, tunggu sebentar saja," sahut Ayman.


"Tapi, Mas ...."


"Sebentar saja, Sayang."


Zaina pun akhirnya mengalah dan menunggu sebentar lagi. Mudah-mudahan saja anaknya tidak menangis. Hingga lima belas menit berlalu. Namun, tidak ada tanda-tanda Ayman mengajaknya pulang. Pria itu malah asyik berbincang dengan Hanif tentang pekerjaan.


Wanita itu mendekati sang suami. Dia ingin mengajak Ayman kembali pulang. Jika kali ini pria itu tidak mau pulang juga, terpaksa dia pulang sendiri. Entah naik taksi atau ojek yang ada saja.


"Iya, sebentar, Sayang.


"Aku pulang naik taksi saja, ya, Mas. Kamu juga masih banyak sekali yang ingin dibicarakan." Zayna berlalu begitu saja tanpa menunggu jawaban dari sang suami. Dia tidak ingin mendengar penolakan dari Ayman lagi.


Wanita itu berpamitan pada Mama Aisyah dan Kinan. Ayman pun terpaksa mengikutinya dari belakang. Sebenarnya pria itu masih ingin berbicara dengan Hanif. Ada beberapa rekan bisnis barunya yang ingin dia tanyakan pada adik iparnya itu. Namun, Zayna malah mengajaknya pulang begitu saja.


"Kenapa buru-buru sekali, Sayang? Ini masih pagi," tanya Ayman di sela langkahnya.


"Aku tadi sudah bilang, Mas. Kalau aku bisa pulang sendiri, kamu masih bisa ngobrol sama Hanif tentang pekerjaan kamu. Aku juga nggak maksa kamu buat nganterin aku pulang, kan," jawab Zayna tanpa melihat ke arah sang suami.


Wanita itu terus saja berjalan dengan langkah cepat. Entah kenapa dia merasa begitu sangat khawatir. Mungkin karena ini pertama kalinya dia meninggalkan putranya terlalu lama. Biasanya hanya sebentar ke mini market.


Begitu sampai di tempat parkir, Zayna ingin mencari taksi. Namun, Ayman segera mencegahnya. Dia sudah ada di sini jadi, untuk apa naik taksi.

__ADS_1


"Kenapa harus naik taksi? Aku sudah ada di sini. Ayo, aku antar pulang!" ajak Ayman.


"Bukannya kamu masih mau berbicara dengan Hanif?" tanya Kinan dengan kesal.


"Sudah tidak ada, sudah selesai," jawab Ayman berbohong.


Dia tidak mungkin membiarkan sang istri pulang sendiri jadi, akhirnya pria itu yang mengalah dan menuruti keinginan istrinya untuk pulang. Ayman juga tahu jika Zayna sedang kesal padanya. Itu juga karena dirinya yang sudah kelewatan.


Zaina pun mengikuti sang suami menuju mobil. Sepanjang perjalanan keduanya hanya diam. Tidak ada satu kata pun yang terucap. Wanita itu menatap jalanan yang begitu ramai dengan kendaraan, serta orang-orang yang berjalan di trotoar.


Wanita itu sudah mencoba menghubungi Bik Ira yang sedang ada di rumah. Namun, tidak kunjung diangkat oleh wanita itu. Entah wanita itu sibuk dengan pekerjaannya atau dengan Baby Ars. Semoga saja putranya tidak rewel.


Tidak berapa lama akhirnya keduanya sampai juga dia rumah. Begitu turun dari mobil, Zayna bisa mendengar suara tangis Baby Ars yang begitu keras. Wanita itu segera berlari menuju keran air, untuk mencuci tangan dan kakinya di depan rumah. Dia sudah memperkirakan hal ini pasti anaknya menangis mencarinya.


Ayman yang melihat Zayna berlari pun mengikutinya dari belakang. Dia melangkah dengan cepat. Pria itu juga bisa mendengar suara tangisan putranya.


"Baby Ars kenapa, Bik?" tanya Zayna saat berada di dekat asisten rumah tangganya itu. Dia segera mengambil alih sang putra dan mencoba mengayunkannya.


"Tadi bangun dia tidak apa-apa, Neng. Tidak berapa lama nangis, Bibi kasih susu yang Neng peras tadi, tapi dia malah makin nangis. Bibi nggak tahu harus berbuat apa," jawab Bik Ira yang merasa bersalah.


"Sudah lama nangisnya tadi, Bik?"


"Hampir sepuluh menit," jawab Bik Ira yang diangguki oleh Zayna.


Wanita itu merasa lega, setidaknya sang putra menangis tidak begitu lama. sepuluh menit menit bagi seorang bayi menangis sudah biasa. Zayna pun mencoba untuk menghibur asisten rumah tangganya itu. Dia tidak ingin Bik Ira merasa bersalah padanya.


"Tidak apa, Bik. Terkadang Baby Ars memang seperti itu. Dia tidak mau minum dari dot. Maunya secara langsung, nggak pakai dot."


Zayna pun mengajak putranya ke kamar dan memberi ASI di sana. Untung saja dia bisa cepat pulang jika tidak, entah berapa lama lagi putranya akan semakin menangis. Ayman masih mengikuti sang istrinya sampai di kamar. Dia jadi merasa bersalah, seharusnya tadi saat Zayna mengajak pulang dari awal pria itu menurut saja. Istrinya pasti punya insting tentang sang putra.


.

__ADS_1


.


__ADS_2