Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
291. S2 - Tidak melaksanakan


__ADS_3

"Mama kenapa seperti khawatir sekali? Apa terjadi sesuatu di rumah?" tanya Adam saat melihat Kinan begitu gelisah.


"Tidak apa-apa, hanya saja dari tadi Mama mencoba menghubungi papamu, tapi tidak diangkat juga. Entah ke mana Papamu ini," jawab Kinan berbohong.


Dia tidak mungkin mengatakan pada Adam mengenai apa yang terjadi pada opanya. Bisa-bisa nanti putranya akan kepikiran. Besok adalah waktunya pria itu dioperasi, wanita itu tidak mau Adam terlalu banyak berpikir dan malah mengganggu kesehatannya. Biarlah Zea yang di sana menangani semuanya.


"Mungkin papa sedang meeting, Ma. Makanya papa nggak angkat."


"Iya mungkin, biarkan saja. Nanti juga kalau papa lihat ada panggilan tidak terjawab dari Mama, papa pasti akan menghubungi balik lewat telepon," ucap Kinan yang membenarkan duduknya, dia melihat ke arah Adam dan bertanya, "Tadi kata Zea, Alin datang ke sini. Mau apa lagi dia?"


"Nggak ada apa-apa, Ma. Cuma mau minta maaf saja."


"Pokoknya kamu nggak boleh lagi sama dia! Baru menjalin hubungan kekasih saja dia sudah selingkuh, apalagi nanti. Mama nggak ikhlas kalau kamu sama dia. Kalau kamu memang tidak mencintai Zea lagi, kamu bisa mencari wanita lain asalkan itu bukan Alin."


"Ma, aku kan sudah pernah bilang kalau hati aku cuma buat Zea. Aku dan Zea juga sudah sepakat untuk bersama saat nanti Zea sudah lulus kuliah."


"Apapun yang terbaik untuk kalian, Mama pasti akan mendukung."


"Terima kasih, Ma."


"Kamu sudah dengar belum mengenai pelaku yang menabrak kamu?" tanya Kinan yang baru teringat dengan cerita sang suami mengenai Akmal kemarin.


Hanif memang sudah menceritakan mengenai tertangkapnya Akmal, tetapi tidak dengan kejadian sebelum itu.


"Yang menabrakku 'kan truk itu, memang ada apa dengan dia, Ma?"


"Bukan dia, tapi orang yang nyuruhnya."


Adam mengerutkan keningnya, dia masih mencerna apa yang dikatakan Kinan. "Maksud Mama apa? Apa seperti yang dikatakan polisi kemarin? Ada yang sengaja ingin mencelakaiku? Tapi aku tidak punya musuh."


"Itu menurut kamu, memangnya kamu selama ini nggak sadar apa ada orang yang tidak suka dengan kamu."


"Siapa, Ma?" tanya Adam yang penasaran. Selama ini dia sudah berusaha berbuat baik pada siapa pun, tetapi kenapa masih saja ada yang tidak menyukainya. Bahkan dengan rivalnya saja, pria itu masih berhubungan baik.


"Siapa lagi kalau bukan saudara tiri kamu itu."


"Akmal! Apa benar dia pelakunya, Ma?" tanya Adam yang benar-benar tidak percaya.

__ADS_1


Memang Adam tidak menyukainya, tetapi pria itu tidak berpikir jika saudara tirinya mampu melakukan hal sekejaman itu. Padahal selama ini dialah yang teraniaya dan dikucilkan keluarga. Kenapa malah Akmal yang balas dendam terhadapnya. Selama ini adik tirinya itu juga selalu dimanja.


"Kenapa bisa dia? Aku nggak nyangka dia bisa melakukan hal seperti itu." Adam menggelengkan kepala, dirinya benar-benar tidak percaya dengan apa yang terjadi.


"Iya, itu karena kamu sudah mengambil restoran yang menurutnya itu adalah miliknya."


"Itu 'kan restoran almarhumah mama jadi, aku mengambil apa yang sudah seharusnya menjadi milikku."


"Iya, Mama tahu. Itulah namanya manusia, terkadang tidak sadar telah merebut milik orang lain dan mengakuinya sebagai milik sendiri. Padahal dia tidak ada hak sama sekali."


"Terus sekarang Akmal ada di mana?" tanya Adam yang khawatir pada saudaranya.


Meskipun Akmal sudah mencelakainya, tetap saja dia ingin tahu bagaimana kondisi adik tirinya. Pria itu berharap semuanya baik-baik saja. Di sisi hatinya yang lain, Adam juga ingin meluapkan kekesalan yang dirasa. Akibat ulah saudara tirinya, kini dia harus berdiam diri di atas ranjang dan tidak bisa pergi ke mana-mana.


"Polisi sudah menangkapnya dan sudah menahannya. Mama mau tanya sesuatu sama kamu, Mama harap kamu jujur." Kinan menatap wajah putranya, bagitupun dengan Adam yang membalas tatapannya. "Jika waktu itu kamu tidak melihat Alin sedang berselingkuh, apa kamu akan tetap menikah dengannya dan tidak mengambil restoran dari keluarga kandung kamu?"


"Mengenai pernikahan, aku juga tidak tahu. Sebenarnya ...."


Adam ragu untuk mengatakan pada mamanya. Dia tidak tahu apakah mamanya akan marah atau tidak. Kinan pun menatap sang putra, pasti pria itu telah menyembunyikan sesuatu, hingga tidak berani berbicara jujur kepadanya.


"Sebenarnya apa, Adam? Katakan yang sebenarnya, jangan membuat Mama bingung."


Kinan terkejut saat mengetahui hal tersebut. Dirinya memang tidak ikut terlibat dengan rencana pernikahan Adam. Bahkan dia juga tidak tahu apa-apa mengenai pesta putranya karena Adam sendiri mengatakan, jika sebenarnya Alin yang ingin mengurus semua tanpa bantuan siapa pun. Wanita itu mengatakan ingin semuanya diatur sendiri.


"Jangan bilang kalau Alin juga tidak ikut campur dengan rencana pesta pernikahan yang kamu katakan. Semua kamu urus sendiri, tapi tidak kamu jalankan?" Kinan melototkan matanya ke arah sang putra.


Adam hanya diam seolah mengiyakan apa yang mamanya tanyakan. Kinan membuang napas kasar, bagaimana bisa ini terjadi pada putranya. Pantas saja Adam selalu menghindar jika ditanya tentang sejauh mana pesta sudah siap. Bahkan pria itu selalu mengatakan jika dirinya tidak tahu karena semua diurus oleh Alin. Nyatanya semua memang tidak diurus.


“Kamu bisa-bisanya bersikap seperti itu. Bukankah itu sama saja kamu menipu Alin!" Tanpa sadar Kinan meninggikan suaranya. Dia tidak suka dengan cara Adam. Jika tidak ada cinta, kenapa harus berencana menikah seperti ini.


"Sebenarnya tidak seluruhnya juga, Ma. Mengenai gedung dan jasa WO aku sudah bayar DP."


"Tetap saja itu namanya menipu, tapi ya sudahlah. Pernikahan kamu dan Alin juga tidak pernah terjadi," pungkas Kinan yang tidak ingin memperpanjang masalah.


"Assalamualaikum," ucap dua orang yang baru saja memasuki ruangan rawat inap Adam. Dia adalah Arslan dan istrinya.


"Waalaikumsalam."

__ADS_1


"Bagaimana keadaan kamu, Dam? Ngapain kamu pakai masuk rumah sakit segala, lebih enak masuk restoran juga," ucap Arslan dengan nada bercanda diikuti kejehannya.


"Kalau aku bisa juga, aku nggak mau masuk ke sini, tapi mau bagaimana lagi. Keadaan yang memaksaku."


Kinan mengajak Hira duduk di sofa, membiarkan Adam berbincang dengan Arslan. Kedua pria itu pasti akan saling ejek dan saling pukul nanti.


"Kamu sekarang sedikit gemuk, ya?" tanya Kinan sambil memperhatikan tubuh Hira.


"Saya lagi hamil, Tante," jawab Hira sambil tersenyum malu. Dia memang tidak begitu dekat dengan kerabat mertuanya. Meskipun begitu, Hira tetap mencoba untuk berbaur.


"Wah! Benarkah? Alhamdulillah, akhirnya Tante bisa juga punya cucu. Semoga sehat sampai lahiran, ya?"


"Terima kasih, Tante."


"Padahal Adam lebih tua dari Arslan, harusnya dia sudah menikah, tetapi dia belum juga menikah."


"Mama, ini belum waktunya. Nanti juga aku bakal nikah dan ngasih cucu yang banyak buat Mama," sahut Adam yang mendengarkan apa yang dikatakan oleh mamanya.


"Kapan waktunya itu? Keburu Mama sudah tua." Kinan pun melihat ke arah Arslan dan Hira bergantian. "Kalian tunggu Adam Sebentar di sini sampai sore, ya? Tante mau pulang sebentar."


Kinan ingin pergi melihat keadaan mertuanya. Sampai saat ini Zea juga belum memberi kabar. Dia sangat khawatir jika terjadi sesuatu pada pria itu. Semoga apa pun yang terjadi, akan baik-baik saja.


"Iya, Tante. Tante pulang saja tidak apa-apa. Kami yang akan jagain Adam," sahut Arslan yang diangguki istrinya.


Kinan pun segera pergi dari sana. Rumah sakit yang ditempati Opa Wisnu cukup jauh dari rumah sakit ini. Dia juga sudah mendapat balasan pesan dari sang suami, yang saat ini sedang dalam perjalanan menuju rumah sakit.


"Aku dengar dari si kembar kamu katanya mau menikah sama Zea, apa benar?" tanya Arslan setelah Kinan keluar.


"Maunya seperti itu, tapi aku mau nunggu sampai selesai operasi. Aku tidak ingin merepotkan Zea. Meskipun aku sangat bisa mencari perawat, tetap saja aku ingin menjadi seseorang yang bisa menjaga Zea dengan baik."


"Kaki kamu akan bisa sembuh seiring berjalannya waktu. Jangan terlalu dipikirkan, itu akan semakin membuat kesembuhanmu terganggu."


"Sebagai seorang laki-laki, aku mana mungkin merepotkan Zea. Aku ingin segera sembuh, Ars."


"Terserah kamu, apa pun pilihan kamu, aku pasti akan selalu mendukung, tapi kamu harus memikirkan tubuhmu juga. Jangan terlalu dipaksajan."


"Terima kasih."

__ADS_1


"Sama-sama."


__ADS_2