
"Bik, apa mama setiap belanja seperti ini?" tanya Zayna pada Bik Ira saat mereka sedang menata belanjaan di kulkas.
"Maksud, Nyonya Zayna?" tanya Bik Ira yang tidak mengerti maksud Zayna.
"Apa Mama selalu belanja segini banyak? Ini banyak sekali, loh, Bik!"
"Nyonya kalau belanja memang seperti ini. Apa yang dia lihat, pasti dibeli tapi semuanya nggak terbuang percuma, kok! Terbukti selama ini semuanya habis karena Nyonya setiap belanja, bukan hanya untuk keperluan dirinya sendiri, tapi untuk seluruh penghuni rumah. Bahkan Nyonya juga membelikan keperluan untuk saya."
Zayna mengangguk, dia tidak menyangka dengan perhatian yang diberikan mertuanya ini. Bahkan Mama Aisyah juga memperhatikan asisten rumah tangganya. Tidak salah dirinya memiliki keluarga seperti mereka.
Di rumah ini, tidak ada yang menggunjing apalagi menyakiti dia seperti di rumahnya dulu. Meski Mama Aisyah tidak menyukai Zayna, tetapi sang mertua tidak pernah memarahinya apalagi memaki. Semua yang ada di rumah ini sangat menghormati wanita itu, tanpa peduli dari mana dia berasal.
"Ini punya siapa? Perasaan di rumah ini tidak ada yang memakai bedak ini! Apa tadi Nyonya salah ambil, ya?" gumam Bik Ira yang masih bisa didengar Zayna.
"Saya nggak tahu, Bik. Mama juga nggak bilang apa-apa. Aku juga nggak lihat mama beli ini tadi," sahut Zayna yang mendengar gumaman Bik Ira. Wanita itu memperhatikan semua alat make up itu, tanpa tahu kegunaannya.
Dulu, Zayna sering melihat Zanita memakai alat make up itu. Dia berpikir untuk apa begitu banyaknya bedak? Namun, sekarang dirinya baru mengetahui bahwa bagi seorang wanita, make up juga perlu.
"Kalau begitu kita tunggu Nyonya Aisyah saja. Takutnya salah beli atau hadiah untuk orang. Ini taruh di sini dulu."
Semuanya sudah selesai, Bik Ira juga sudah memasukkan keperluan setiap orang ke dalam kamarnya masing-masing. Hanya tinggal satu set perlengkapan wanita yang tidak tahu siapa pemiliknya. Mereka menunggu Aisyah untuk bertanya.
"Nyonya, ini perlengkapan milik siapa? Saya baru melihat jadi tidak tahu ini milik siapa? Apa Nyonya salah ambil?" tanya Bik Ira saat melihat majikannya memasuki dapur.
"Itu buat Zayna, Bik," jawab Aisyah sambil minum air yang ada di meja makan.
Seketika membuat Zayna menatap mertuanya. Tidak percaya jika Mama Aisyah begitu memperhatikannya. "Buat saya, Ma? Tapi ini harganya pasti mahal. Aku juga tadi nggak lihat Mama beli ini."
"Memang buat siapa lagi? Itu khusus buat kamu. Itu cocok untuk perempuan seusia kamu. Saya tidak mau nanti saat Ayman jalan sama kamu, kamunya malah bikin malu jadi, mulai sekarang biasakan pakai itu. Nanti kalau nggak cocok kita cari lagi sekalian konsultasi sama dokter. Sekarang saya masih belum ada waktu,, tapi melihat kulit wajah kamu sepertinya itu cocok dan alat make up ini nggak dijual di supermarket. Ada yang jual khusus, tadi Pak Doni yang ambil saat kita belanja. Kalau ada yang jualan di sembarangan tempat, kamu harus hati-hati."
__ADS_1
Zayna terus senyum, tidak menyangka jika mertuanya ini sangat perhatian padanya. Bahkan dia sendiri tidak tahu jenis make up apa yang cocok untuk kulitnya karena selama ini wanita itu hanya menggunakan bedak bayi. Pasti Mama Aisyah selalu memperhatikan penampilannya hingga tahu apa yang terbaik untuk Zayna.
"Terima kasih, ya, Ma. Mama perhatian sekali sama aku."
"Mama melakukannya buat Ayman bukan buat kamu."
"Iya, aku tahu. Lagipula sama saja, aku, kan, istrinya."
"Kamu itu—"
"Terima kasih, Ma." Zayna segala memeluk mertuanya.
Bahkan Mama Savina saja tidak pernah membelikan apa pun untuknya dulu. Saat masih kecil, dia selalu memakai baju bekas Zanita. Wanita itu tidak pernah dibelikan baju dengan alasan, harus berhemat dan baju adiknya masih bagus, sayang kalau dibuang.
Tidak dipungkiri jika Zayna sering merasa iri pada adik-adiknya yang selalu dituruti setiap keinginannya. Sedangkan untuk dirinya, jangankan membeli keperluan pribadi, untuk keperluan sekolah saja sangat sulit
"Kamu kenapa?" tanya Mama Aisyah saat melihat menantunya meneteskan air mata setelah mengurai pelukannya.
Aisyah salah tinggal dibuatnya. Dia tidak tahu harus menjawab apa. Ingin membalas ucapan Zayna, bibirnya terasa kelu saat akan digerakkan. Teringat bagaimana sikapnya sebelum ini.
"Kalian sudah selesai, kan, menatanya?" tanya Mama Aisyah mengalihkan pembicaraan.
"Sudah, Nyonya. Semuanya juga sudah saya bawakan ke tempatnya," jawab Bik Ira.
"Ya sudah, saya mau ke kamar dulu," ucap Mama Aisya yang segera berlalu.
"Ini punya Anda, Nyonya Zayna," ucap Bik Ira sambil memberikan papper bag berisi alat make up.
"Terima kasih, Bik."
__ADS_1
Zayna menerimanya dengan tersenyum. Dia benar-benar bahagia, bukan karena harga barangnya yang mahal, tapi perhatian dari mertua yang dirasakannya. Wanita itu menuju kamar. Zayna ingin belajar memakai alat make up itu. Dia tidak ingin mengecewakan Mama Aisyah yang sudah susah payah membelikannya.
"Istriku sepertinya sedang bahagia. Ada apa, nih? Apa yang membuat kamu tersenyum, tapi mata kamu memerah seperti habis nangis?" tanya Ayman saat melihat istrinya memasuki kamar dengan tersenyum.
Zayna masih tetap tersenyum. Dia duduk di samping sang suami. Ayman masih terdiam menunggu istrinya berbicara. Entah apa yang terjadi, sepertinya itu hal baik. Wanita itu memperlihatkan alat make up tadi pada suaminya.
Ayman yang masih tidak mengerti pun hanya diam. Menunggu istrinya menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi.
"Mas, mama tadi membelikan aku ini semua."
"Benarkah? Aku kalah cepat sama mama. Dia lebih dulu membelikan kamu alat make up. Aku malah lupa akan hal itu."
"Sejujurnya aku lebih senang Mama Aisyah yang membelikannya. Itu berarti beliau menyayangiku."
"Jadi kamu tidak suka aku yang beliin?" tanya Ayman pura-pura tidak suka.
"Bukan tidak suka, Mas. Hanya ada sesuatu yang spesial saat Mama Aisyah yang membelikannya. Kamu tahu, kan, bagaimana Mama Aisyah sebelumnya."
Ayman tersenyum sambil mengusap rambut istrinya. "Iya, aku mengerti. Aku juga senang mama perhatian sama kamu."
Zayna mengangguk kemudian teringat sesuatu. "Mas, aku sama sekali tidak tahu cara memakainya. Bagaimana, dong?"
"Zaman sekarang tidak ada yang sulit. Kamu buka saja aplikasi merah. Di sana banyak tutorial ber-make up. Lebih baik lagi kamu pakai cara yang merk-nya sama."
"Iya, benar. Aku cari dulu."
Zayna segera fokus pada ponselnya membuat sang suami menggelengkan kepala. Saking penasarannya, wanita itu melihat video sekaligus mempraktekkannya. Hingga beberapa kali, hasilnya selalu di hapus karena bagi Zayna make up-nya seperti wanita tua.
.
__ADS_1
.
.