
"Ayman kerja, Na?" tanya Mama Aisyah.
"Iya, Ma. Dari kemarin Mas Ayman libur. Baru hari ini kerja," jawab Zayna dengan bergelayut di lengan ibu mertuanya.
Dia sangat merindukan wanita itu. Mama Aisyah juga tidak keberatan dengan tingkah Zayna karena dia pun sama rindunya. Padahal sebelumnya jika sang menantu seperti itu Aisyah selalu menghindar, pura-pura tidak suka.
"Kamu sudah makan?"
"Tadi sudah sarapan sama Mas Ayman, sama Mama Savina juga."
Keduanya pun berbincang hangat. Papa Rahmat melihatnya pun tersenyum. Dia senang sang putri disayangi oleh keluarga besannya. Saat kemarin Zayna memuji keluarga Ayman, pria itu mengira jika putrinya hanya membual, tetapi sekarang Papa Rahmat bisa melihatnya sendiri.
Saat Zayna dan Mama Aisyah masih asyik berbincang, Mama Savina datang. Dia pun berkenalan dengan kedua besannya. Wanita itu juga senang melihat Zayna yang diperlakukan begitu baik oleh mertuanya. Jika Zanita melihat ini, pasti putrinya itu akan semakin dilanda rasa iri.
"Permisi, ini makan siangnya. Maaf saya telat datang," ucap Ilham yang baru datang dengan membawa kantong kresek berisikan makanan.
"Terima kasih Ilham. Ayman yang suruh kamu? Apa dia nggak pulang?" tanya Mama Aisyah.
"Beliau masih meeting, Nyonya."
"Baiklah, kamu ikut makan sama kami!"
"Tidak, Nyonya. Saya permisi, masih ada pekerjaan yang harus segera saya selesaikan." Ilham pun segera pergi dari sana.
Zayna mengambil kantong kresek yang ada di tangan sang mertua dan segera membagikannya. Mereka makan dengan tenang. Sesekali saling bertanya dan bercanda. Mama Savina sedari tadi mencoba menghubungi Zivana. Namun, ponsel putrinya masih tidak aktif. Entahlah ke mana perginya anak itu. Sejak kemarin tingkahnya aneh dan selalu menghindar saat mamanya mengajak bicara.
"Pak Rahmat, Bu Savina, saya dan istri mau pamit. Kapan-Kapan kita bisa bertemu lagi," ucap Papa Hadi.
__ADS_1
"Terima kasih sudah mau datang. Mudah-mudahan dipertemuan selanjutnya, bisa di tempat yang lebih nyaman," sahut Papa Rahmat.
Papa Hadi mengangguk sambil tersenyum. Pria itu pun bersalaman dengan kedua besannya diikuti sang istri. Sebelum pergi Mama Aisyah memeluk menantunya agak lama.
"Jaga kesehatan kamu. Makan yang teratur," ucap Mama Aisyah yang diangguki Zayna. "Mama pergi dulu." Mama Aisyah mencium kening menantunya dan berlalu dari sana.
"Papa sama Mama hati-hati."
*****
Keadaan Papa Rahmat sudah membaik. Hari ini dia sudah diperbolehkan pulang. Semua keperluannya diselesaikan oleh Ayman. Hal itu tentu saja semakin membuat Papa Rahmat tidak enak, tetapi pria itu tidak bisa berbuat apa-apa. Papa Rahmat juga tidak memiliki uang sebanyak itu.
Sampai saat ini dia tidak tahu jika Zanita lah pelaku dari tabrak lari yang pria itu alami. Zayna memang sengaja untuk merahasiakannya. Dia tidak ingin papanya kepikiran. Apalagi sampai merasa sedih dengan perbuatan Zanita.
Selain itu Zayna juga memberi hak pada Mama Savina agar dia saja yang memberitahu. Dia tidak mau nantinya dianggap menjelekkan Zanita apalagi dikatai mengadu domba. Wanita itu banyak belajar dari kejadian sebelum-sebelumnya. Zayna akan disalahkan atas sesuatu yang tidak dia lakukan.
Sementara itu, Zanita yang berada di dalam penjara hanya diam melamun. Sudah satu minggu dia berada di tempat ini. Namun, sang suami tidak berniat untuk menjenguknya. Mertuanya pun juga sama. Hanya Mama Savina yang setiap dua hari sekali selalu datang.
"Saudari Zanita, ada yang berkunjung," panggil seorang petugas.
Senyum Zanita mengembang. Pasti mamanya yang datang karena memang sekarang jadwal kunjungan wanita itu. Mama Savina pasti membawa makanan kesukaannya mengingat di sini semua serba terbatas. Bahkan terkadang dia tidak dapat jatah karena diambil temannya.
"Iya, Bu, sebentar." Zanita berdiri dan mengikuti petugas tersebut menuju tempat berkunjung. Alangkah terkejutnya dia mendapati Fahri sang suami yang berada di sana.
"Silakan."
"Terima kasih, Bu."
__ADS_1
Ingin sekali Zanita pergi dari sana. Akan tetapi, itu tidak mungkin karena Fahri sudah melihatnya. Dia tidak ingin dikatai pengecut. Wanita itu duduk di depan suaminya. Jarak antara mereka terhalang sebuah meja. Zanita masih terdiam menunggu sang suami berbicara.
Hening ... keduanya masih terdiam. Hingga Fahri pun memulai pembicaraan yang cukup membuat Zanita terkejut. "Aku sudah mengajukan gugatan cerai ke pengadilan. Aku harap kamu tidak mempersulit semuanya."
Meski terkejut Zanita hanya diam tidak mengatakan satu kata pun. Dia sudah memperkirakan hal ini akan terjadi. Saat berada di luar saja, Fahri tidak memperlakukan dia sebagai istri dengan baik. Apalagi sekarang, saat dirinya berada di tempat yang pastinya membuat malu.
"Apa kamu mendengar apa yang aku katakan?" tanya Fahri yang hanya dijawab Zanita dengan menganggukkan kepala. Dia menunggu sang suami melanjutkan kata-katanya. "Hanya itu saja yang ingin aku katakan. Sepertinya kamu juga tidak suka dengan kedatanganku."
"Kalau kedatanganmu hanya untuk mengatakan hal itu, kenapa tidak meminta orang lain saja."
"Kamu tidak ingin melihatku?"
"Memang apa gunanya aku melihatmu? Saat ini yang aku butuhkan hanya seorang yang benar-benar mendukungku. Bukan orang yang semakin menambah beban pikiranku, saat aku sedang berada dalam masalah."
"Kamu sendiri yang sudah mencari masalah, kenapa jadi menyalahkan orang lain."
"Iya, kamu benar. Sepertinya percuma berdebat denganmu. Beruntungnya Zayna tidak memiliki suami sepertimu. Seandainya Zayna memiliki suami sepertimu, betapa miris sekali nasibnya. Sejak lahir sudah diperlakukan seperti pembantu, di rumah mertua juga sama. Untung saja mertuanya begitu baik. Dia juga memiliki suami yang sangat mencintainya. Mereka memang cocok. Tuhan begitu adil, kan?"
Fahri merasa tercubit dengan apa yang dikatakan Zanita. Benar kata istrinya. Seandainya Zayna memiliki suami sepertinya, pasti hidup wanita itu sangat menderita. Apalagi Mama Lusi juga dari dulu tidak pernah menyukai Zayna. Padahal mantan kekasihnya itu selalu sopan dan sama sekali tidak pernah menyakiti mamanya.
"Kamu sudah selesai, kan, bicaranya? Mungkin aku tidak bisa datang di pengadilan, tapi kamu jangan khawatir, aku tidak akan mempersulit jalan perceraian kita. Semoga saja ada seorang wanita yang bisa menerima kamu dan keluargamu dengan ikhlas. Maaf, jika selama menjadi istrimu aku tidak menjalankan peran dengan baik. Sampaikan rasa terima kasihku buat Mama Lusi yang sudah mengajarkanku banyak hal, tentang menjadi istri yang baik. Dia juga mengajarkanku memasak berbagai hidangan. Meskipun caranya salah, tapi aku tetap berterima kasih. Sepertinya hanya itu saja. Aku harus kembali, waktu berkunjung sudah habis. Assalamualaikum."
Zanita meninggalkan Fahri yang masih duduk di sana. Saat wanita itu berbalik, air matanya menetes begitu saja. Tentu hatinya terluka, setelah apa yang dia perjuangkan selama ini, ternyata tidak begitu berarti bagi suaminya. Zanita menuju ke toilet dan menangis di sana. Wanita itu berharap Fahri bisa memberikan dia dukungan agar menjadi lebih kuat. Nyatanya pria itu semakin menghancurkannya.
"Sekarang semua sudah benar-benar berakhir. Aku tidak tahu, masihkah ada karma lain yang menanti," gumam Zanita.
.
__ADS_1
.
.