Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
283. S2 - Masalah di restoran


__ADS_3

Saat makan malam, Zea memutuskan untuk tidak keluar kamar. Dia masih belum bisa melihat wajah Adam saat ini. Dirinya merasa semua yang dirasakan terasa palsu. Gadis itu memutuskan untuk segera kembali ke luar negeri. Lagi pula Zea harus kuliah, sudah seminggu dia absen, pasti banyak sekali pelajaran yang tertinggal.


Pintu kamar diketuk seseorang dari luar, Zea segera membukanya. Ternyata sang mama yang datang dengan membawa makanan untuknya. Dia merasa tidak enak dengan kedua orang tuanya. Seharusnya dia yang melayani mereka, bukan malah sebaliknya.


“Sebaiknya kamu makan dulu, nanti mag kamu malah kambuh," ucap Kinan sambil berjalan memasuki kamar putrinya.


Zea mengikuti langkah mamanya dan duduk di sofa. Gadis itu segera meraih makanan yang dibawa Mama Kinan, dia tidak ingin membuat wanita itu sedih. Zea pun segera menikmati makanannya.


"Kenapa tidak ikut makan di bawah? Apa kamu marah sama Papa dan Mama? Kami sudah memberi syarat pada Adam, apa karena itu?" tanya Kinan pada sang putri. Dia sudah tidak sabar ingin tahu jawaban dari Zea.


"Tidak, Ma. Kenapa Mama malah berpikir seperti itu? Saat ini aku hanya sedang memikirkan apakah perasaan Kak Adam itu nyata atau tidak. Aku takut itu perasaan sementara. Meskipun aku sangat mencintai Kak Adam, tetapi aku juga tidak ingin memaksa? Saat aku sudah ikhlas melepaskannya, tetapi tiba-tiba sekarang Kak Adam mengatakan hal yang sama sekali aku tidak bisa percaya."


"Apakah rasa cintamu pada Adam sudah hilang?" tanya Kinan dengan menatap putrinya. Tadinya dia berpikir Zea akan senang setelah apa yang terjadi, tetapi sekarang malah sebaliknya.


"Tidak, Ma. Perasaan dan cinta ini masih tetap sama, hanya saja aku juga harus berpikir logika. Aku tidak ingin menyesal di kemudian hari."


Kinan mengangguk, mengiyakan apa yang dikatakan putrinya. Menerima cinta memang bukan hal yang mudah. Itulah yang dulu dia rasakan pada sang suami saat Hanif, yang selama ini wanita itu kenal sebagai dosen datang dengan sebuah lamaran. Untung saja pria itu tidak mau menyerah, hingga membuat dirinya luluh pada pria itu.


“Semua keputusan ada di tanganmu, tapi tidak seharusnya kamu menghukum dirimu dengan melalaikan makan.”


“Aku hanya belum siap bertemu dengan Kak Adam,” sahut Zea dengan suara lirih.


“Adam sudah pergi ke luar kota. Restoran peninggalan almarhumah ibunya mengalami kebakaran. Adam meyakini jika itu semua ulah saudara tirinya, yang masih belum menerima apa yang Adam lakukan.”


“Saudara tirinya? Memang Kak Adam melakukan apa? Bukankah saudara tirinya itu yang mengkhianati Kak Adam?”


“Iya, itu karena Adam mengambil restoran yang selama ini dikelola keluarga ayah kandungnya. Mereka tidak bisa menerima hal itu, terutama saudara tirinya yang selama ini bersikap seolah bos besar.”

__ADS_1


Zea semakin mengerutkan keningnya, tanda dirinya memang benar-benar tidak mengerti. Gadis itu pun bertanya, "Kenapa Kak Adam merebutnya? Apa karena dia ingin membalaskan dendamnya karena saudara tirinya yang sudah merebut Kak Alin?"


"Bukan seperti itu, Adam sudah meminta restoran itu saat dirinya datang ke sana. Sebelum kamu memutuskan pindah ke luar negeri. Kamu juga pasti masih ingat kepergian kakakmu ke luar kota yang pulang tengah malam itu, kan? Saat itu keluarga ayah kandung Adam sudah menentang karena bagaimanapun juga mereka sudah menganggap restoran itu miliknya. Padahal itu peninggalan almarhumah mamanya. Justru yang dilakukan Adam itulah yang membuat Akmal dendam dan merebut Alin. Mama juga sempat terkejut saat mendengar cerita Adam, Mama tidak menyangka kalau wanita seperti Alin bisa melakukan hal itu. Setelah dipikirkan lagi mungkin mereka memang tidak berjodoh dan ini yang terbaik untuk keduanya."


Zea terdiam memikirkan apa saja yang sudah dilalui kakaknya. Pasti sangat berat bertemu keluarga kandung kembali, tetapi mereka sama sekali tidak mengharapkan kedatangan Adam. Bahkan dengan teganya mengambil hak pria itu.


"Apakah Kak Alin pernah menjelaskan pada Kak Adam kenapa semua ini terjadi?" tanya Zea.


"Bukan pada Adam, tapi pada Mama. Saat itu papa dan Adam sudah berangkat bekerja. Dia datang ke sini dan menjelaskan jika selama ini, ternyata dia dimanfaatkan oleh Akmal untuk balas denda. Ternyata Akmal tidak benar-benar mencintainya. Bahkan saat ke sini dia sedang dalam keadaan hamil, tapi Akmal menolak bertanggung jawab. Dia juga bilang kalau sudah berusaha untuk menemui Adam, tapi kakakmu menolak.”


“Astaghfirullah, apa Kak Adam tahu hal itu?” tanya Zea yang begitu penasaran dengan cerita mamanya.


“Tentu saja, tapi dia sama sekali tidak peduli. Baginya itu sudah menjadi jalan pilihan Alin, sudah tidak ada sangkut pautnya lagi dengan dirinya.”


Dalam hati, Zea merasa kasihan pada Alin, tetapi bukan berarti dia juga rela jika Adam menikahi wanita itu. Apalagi mantan kekasih kakaknya sudah rela memberikan dirinya pada pria lain. Kinan yang tahu jika putrinya sedang dalam dilema segera mengusap bahu Zea.


Zea mengangguk dan berkata, “Ma, besok aku harus kembali ke luar negeri. Aku sudah libur seminggu, pasti banyak sekali yang tertinggal.”


“Kamu masih mau kuliah di sana? Di sana kamu pasti sendirian, tidak ada yang menemani, apa ini karena Adam?"” tanya Kinan.


“Tentu saja ini juga tidak ada sangkut pautnya dengan kakak. Itu semua karena memang sudah saatnya aku kembali. Aku harap Mama mengerti, aku tidak mungkin melalaikan kewajibanku sebagai mahasiswa di sana. Aku juga harus mengejar cita-citaku."


"Ya sudah, terserah kamu jika itu memang pilihanmu. Semoga saja setelah ini kamu juga bisa berpikir dengan jernih. Apa pun pilihan kamu, Mama tidak akan melarang."


"Terima kasih, Ma."


Bukan maksud Zea untuk menghindari Adam dan lari dari masalah. Dia hanya butuh waktu untuk berpikir. Gadis itu juga tidak ingin tertinggal pelajaran, Zea pun melanjutkan makannya. Kinan juga menemani sang putri di sana.

__ADS_1


Namun, baru beberapa menit mereka berbincang, Hanif datang dengan wajah khawatir. Sepertinya ada sesuatu yang tengah terjadi. Kinan dan Zea sama-sama bingung, entah apa yang sudah terjadi.


"Ada apa, Pa? Kenapa Papa terlihat khawatir seperti itu?" tanya Kinan pada sang suami.


"Adam, Ma. Adam ...."


"Adam kenapa?"


"Adam mengalami kecelakaan, saat ini ada di rumah sakit dekat restorannya yang sedang dia datangi!"


"Apa?" Kinan dan Zea sama-sama terkejut.


Mereka tidak menyangka jika sesuatu yang buruk tengah menimpa Adam. Padahal sebelumnya pria itu terlihat baik-baik saja. Bahkan tidak ada tanda-tanda pria itu akan mengalami musibah. Mereka berpikir jika ini ada hubungannya dengan Akmal.


"Bagaimana bisa terjadi seperti itu? Bagaimana keadaan dia sekarang?" tanya Kinan yang segera mendekati sang suami.


"Papa juga belum tahu, tadi Papa menghubungi Adam, tapi yang mengangkat pengacaranya dan mengatakan, apa yang terjadi pada Adam saat ini. Adam juga belum sadar, dokter juga masih menunggu hasil pemeriksaan."


"Sebaiknya kita ke sana saja, Pa," sahut Kinan.


"Maksud Papa juga seperti itu, Papa mau ajak Mama."


"Aku ikut, ya, Pa?" sela Zea yang juga khawatir pada kakaknya.


"Bukannya kamu mau berangkat, Sayang? Nanti kamu ketinggalan pesawat kalau ikut. Kamu jangan khawatir mengenai keadaan Kak Adam. Biar kami yang menjaganya," sahut Kinan yang membuat Zea dilema.


.

__ADS_1


.


__ADS_2