Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
150. Menuju hari H


__ADS_3

“Kamu benar, semuanya memang kesalahan keluargaku. Kamu tahu, aku selalu iri padamu. Kamu selalu bisa baik pada siapa pun. Padahal sudah jelas-jelas orang itu berniat jahat padamu, tapi kamu sama sekali tidak memiliki dendam pada mereka. Aku selalu berusaha agar teman-teman menjauhimu. Mereka memang menjauhimu, tetapi mereka juga memanfaatkanku untuk kepentingan diri mereka sendiri, seperti saat ini. Mereka menjauhiku setelah apa yang terjadi pada keluargaku. Sekarang aku baru sadar jika apa yang aku lakukan saat itu salah. Aku sudah memanfaatkan mereka karena itu, mereka juga memanfaatkanku.”


Nayla menundukkan kepalanya. Dia mengakui semua kesalahan yang pernah dia lakukan terhadap mantan sahabatnya itu. Kinan juga sudah memaafkan apa pun yang sudah diperbuatnya. Gadis itu cukup senang mendengar apa yang diucapkan oleh Nayla


“Sudahlah, Nay. Tidak perlu dibahas lagi masalah ini. Aku senang jika kamu berubah seperti dulu lagi. Aku hanya bisa mendoakan agar masalah yang terjadi pada keluargamu bisa segera teratasi. Restoran papamu juga semoga bisa pulih kembali.”


“Aku tidak yakin semua bisa kembali, setelah apa yang sudah papa lakukan pada restorannya. Apa mungkin masih ada orang yang percaya padanya.”


“Tidak ada yang tidak mungkin jika Tuhan sudah berencana. Percayalah pada-Nya, insya Allah semuanya akan berjalan dengan mudah.”


“Amin, terima kasih kamu sudah memaafkanku. Aku tidak akan bisa membalas semua kebaikanmu selama ini," ucap Nayla sambil menggenggam telapak tangan Kinan yang berada di atas meja.


“Sudah, tidak perlu terlalu dipikirkan. Yang penting sekarang kamu harus menjadi kuat.”


Nayla mengangguk. Dia akan berusaha membantu keluarganya untuk bangkit, tidak seperti dulu yang hanya bisa bersenang-senang saja. Mulai sekarang gadis itu akan bekerja keras.


“Kinan, mungkin aku juga akan berhenti kuliah. Bukan berhenti sepenuhnya, tapi aku mau ambil cuti lebih dulu, sampai keadaan keluargaku benar-benar baik.”


“Apa pun keputusanmu, mudah-mudahan itu yang terbaik untukmu dan keluarga.”


Pesanan Nayla sudah datang. Gadis itu segera menikmatinya dengan tenang, sementara Kinan pamit undur diri. Dia beralasan karena ada sesuatu yang harus gadis itu kerjakan. Padahal itu cuma alasan gadis itu saja.


Kinan tahu jika saat ini Nayla ingin membawa pulang makanan yang dipesan, tetapi malu terhadapnya. Tidak lupa juga dia membayar semua makanan yang ada di meja lalu, meninggalkan restoran. Gadis itu pun melajukan mobilnya menuju rumah.


Selama perjalanan pulang, Kinan memikirkan persahabatannya dulu dengan Nayla. Dulu mereka sangat dekat, ke mana pun selalu bersama. Hingga semuanya berubah saat keduanya memasuki bangku kuliah dan mengenal Niko.


Terlalu larut dalam lamunannya, tanpa sadar Kinan sudah sampai di halaman rumahnya. Gadis itu segera turun dari mobil dan memasuki rumah yang tampak sepi.


“Assalamualaikum,” ucap Kinan saat memasuki rumah.


“Waalaikumsalam, kamu dari mana saja, Dhek? Jam segini baru pulang. Biasanya sebelum jam makan siang sudah ada di rumah,” tanya Mama Aisyah yang berada di ruang keluarga. Gadis itu pun segera mendekati mamanya dan mencium punggung tangan wanita itu.


“Tadi habis kencan sama papa, Ma,” jawab Kinan yang kemudian duduk di samping mamanya.

__ADS_1


“Kamu mau merebut suami Mama?”


“Sekali-kali nggak pa-palah, Ma. Tiap hari juga papa sama Mama. Aku cuma pinjam sebentar saja untuk makan siang.”


“Tapi makan siang doang, masa sampai jam segini? Kamu pasti habis ketemu Hanif, kan? Sudah Mama bilang jangan terlalu sering bertemu Hanif. Nanti kalau sudah sah juga tiap hari ketemu."


“Tidak, Ma. Tadi aku ketemu sama Nayla, kita ngobrol sebentar.”


“Ketemu apa dia yang menemui kamu?”


“Lebih tepatnya dia minta bertemu.”


“Mau apa lagi dia ketemu sama kamu?”


“Tidak ada apa-apa, cuma mau minta maaf saja.”


“Benar, mau minta maaf, tidak ada yang lainnya?” tanya Mama Aisyah dengan memicingkan matanya.


“Dia memang datang untuk meminta maaf, Ma. Sudah, tidak usah dibahas lagi. Aku mau ke dalam kamar, mau mandi, bau asem.”


Kinan pun segera menuju kamarnya, sementara Mama Aisyah masih berada di ruang keluarga, sambil menonton acara televisi. Wanita itu tahu jika sang putri sengaja menghindari pertanyaannya. Dia hanya bisa menggelengkan kepala seraya menarik napas dalam-dalam.


*****


Waktu berlalu begitu cepat, kini usia kehamilan Zayna sudah dua puluh tiga Minggu, semua persiapan untuk pernikahan Hanif dan Kinan pun sudah selesai. Besok adalah hari yang ditunggu-tunggu oleh semua orang, yaitu hari pernikahan Hanif dan Kinan.


Semua orang dibuat sibuk dengan persiapan untuk acara besok. Begitu juga dengan calon pengantin yang sudah tidak sabar menunggu pagi.


“Na, baju kamu masih muat? Kamu waktu diukur ‘kan perut kamu masih rata, sekarang sudah sedikit membuncit,” tanya Mama Aisyah pada Zayna.


“Masih muat, Ma. Tante Maysa juga pasti sudah memperkirakan hal ini," jawab Zayna.


“Syukurlah kalau begitu jadi, semua keluarga sudah oke, ya! Nggak ada yang kurang?”

__ADS_1


“Masalah baju sudah, Ma."


“Mama jadi deg-degan, tidak sabar menunggu besok," ucap Mama Aisyah sambil memegangi dadanya.


“Mama, yang menikah itu Kinan, kenapa malah Mama yang deg-degan?” tanya Ayman.


“Sama saja, dia ‘kan putri Mama. Setelah pernikahan Kinan kemudian acara tujuh bulanan Zayna. Kamu mau acara yang seperti apa, Na?” tanya Mama Aisyah pada menantunya.


“Aku sih pengennya pengajian saja, Ma, sama ngundang beberapa anak yatim.”


“Aku setuju, Ma, sama ide Zayna. Doa anak yatim insya Allah diijabah sama Tuhan. Aku ingin saat lahir nanti, baik anak maupun istriku, dalam keadaan baik-baik saja," timpal Ayman.


“Amin, baiklah jika itu mau kalian. Nanti biar Ilham yang mengatur semuanya. Kalau kamu Kinan, apa sudah siap untuk acara besok?”


“Acaranya sudah besok, Ma. Sudah pasti mau tidak mau harus siap," jawab Kinan yang diangguki Mama Aisyah.


“Bagaimana rasanya, Dhek?” tanya Ayman.


“Kakak sudah pernah merasakannya. Kenapa harus tanya lagi.”


“Siapa tahu berbeda," jawab Ayman dengan menatap adiknya. "Aku bakalan kehilangan orang yang bisa aku ejek nanti.”


“Kakak, masa aku cuma buat dijadiin bahan ejekan saja," sahut Kinan dengan cemberut. Dia berpura-pura marah pada kakaknya.


“Justru itu yang paling ngangenin, Dhek. Nanti waktu kamu pasti akan tersita oleh suamimu. Sudah tidak ada waktu lagi untuk Kakak,” ucap Ayman dengan suara yang sudah mulai berbeda. Dia merasa sedih karena akan kehilangan waktu bersama adiknya.


“Kakak, kenapa tiba-tiba ngomong kayak gitu? Aku jadi ikutan sedih,” ucap Kinan dengan mata yang berkaca-kaca.


Segera gadis itu memeluk kakaknya. Mereka memang sering berdebat dan benar apa yang dikatakan kakaknya. Justru itu yang membuat mereka saling merindukan. Akan ada waktu seperti ini lagi, tetapi rasanya pasti berbeda.


.


.

__ADS_1


__ADS_2