
Sementara itu, Zayna keluar mencari keberadaan Pak Doni. Untung saja pria itu sudah siap dengan pakaian kerjanya. Dia sedang di depan bersama satpam rumah.
“Pak Doni, hari ini nggak ke mana-mana, kan?” tanya Zayna.
“Tidak, Neng. Memang Neng mau diantar ke mana?” tanya Pak Doni balik.
“Mau pergi jalan-jalan sama Kinan, Pak Doni. Di rumah juga bosan.”
“Siap, Neng. Saya mau panasin mobil dulu kalau begitu.”
“Iya, Pak, sambil nunggu Kinan yang masih bersiap-siap.”
Pak Doni pun mengeluarkan mobil dan memanaskannya. Tidak berapa lama gadis yang ditunggu akhirnya muncul juga dengan pakaian santai. Celana jeans dan kaos oblong. Meski begitu, Kinan terlihat sangat cantik.
“Sudah siap, Non?” tanya Pak Doni.
“Sudah, Pak. Kak Zayna mana?”
“Ada di dalam, Non. Silakan masuk!”
Kinan mengangguk dia segera masuk dan duduk di kursi belakang. Pak Doni juga masuk di kursi kemudi, kemudian meninggalkan halaman rumah. Zayna sudah mengatakan tujuannya pada sopirnya. Pria itu pun mengantar mereka menuju sebuah mall yang ada di kota itu.
Setelah berkeliling mall dan membeli beberapa pakaian, mereka mampir ke sebuah restoran yang begitu besar. Saat memasuki rumah makan tersebut, pandangan Zayna tertuju pada seorang yang sedang berada di salah satu meja di sana. Wanita itu menyenggol lengan adik iparnya dan menunjukkan apa yang dia lihat dengan dagu. Kinan pun mengikuti arah pandang kakak iparnya.
Kinan begitu terkejut karena melihat keberadaan Hanif di sana. Yang lebih mengejutkan lagi, ternyata tunangannya itu bersama dengan seorang wanita. Kinan sangat tahu Hanif sedang ada urusan pekerjaan dengan wanita itu. Semua terlihat dari beberapa berkas yang ada di meja, tetapi yang tidak Kinan sukai adalah cara mereka berinteraksi.
Duduk saja begitu dekat, bahkan sesekali wanita itu tersenyum begitu manis pada Hanif. Meskipun pria itu sudah bersikap sedingin mungkin. Hal itu tentu saja membakar api cemburu yang ada di hati Kinan. Dia tidak rela Hanif berdua dengan wanita itu. Bukankah biasanya jika meeting akan ada sekretaris masing-masing? Kenapa mereka cuma berdua?
“Kak, kita pergi saja, yuk!” ajak Kinan. Dia tidak ingin melihat tunangannya bersama dengan wanita lain.
__ADS_1
“Mana mungkin kita pergi begitu saja. Kita juga belum makan apa pun, masa sudah pergi. Ayo, duduk saja! Kita lihat seberapa jauh mereka saat meeting. Aku jadi penasaran apakah kakakmu juga seperti itu saat meeting bersama dengan kliennya yang wanita,” ucap Zayna dengan sedikit emosi membuat Kinan menatap ke arah kakaknya.
Bagaimana bisa wanita itu membahas suaminya di sini. Sebenarnya bisa dibilang kedua pria itu juga sama. Mereka pasti akan menemukan klien wanita juga, tetapi Kinan yakin jika kedua pria itu tidak akan tergoda oleh wanita begitu mudah. Apalagi kakaknya yang begitu sangat setia.
“Kak, daripada jadi masalah, mending kita keluar saja.”
“Tidak, pokoknya Kakak mau duduk di sini. Kakak juga pengen makan di restoran ini karena di sini makanannya enak. Masa gara-gara mereka saja kita pergi.” Zayna berjalan mencari tempat duduk yang kosong, sementara Kinan hanya mengikuti dari belakang. Zayna menyebutkan pesanannya pada seorang pelayan yang datang.
“Kak, apa Kakak yakin mau pesan semua? Nanti kalau nggak habis bagaimana?” tanya Kinan saat mendengar Zayna memesan begitu banyak makanan yang dipesan kakak iparnya.
“Siapa bilang kakak mau makan? Kakak cuma mau pesan saja. Kapan lagi bisa makan gratis."
Kinan melototkan matanya saat tahu tujuan dari Zayna. Dia tidak pernah berpikir ke arah sana, bagaimana nanti kalau Hanif marah. "Kak, jangan aneh-aneh!"
"Nggak akan, kamu cukup lihat saja."
Kinan pusing dibuatnya. Kalau pesan bukan untuk dimakan, lalu untuk apa memesan begitu banyak makanan? Bukankah itu sama saja dengan membuang makanan dan itu mubazir, tetapi gadis itu tidak berani protes. Mengenai siapa yang bayar makanan, biarlah kakak iparnya yang mengurus. Semoga saja Hanif tidak marah.
“Kakak, jangan dilihatin terus. Nggak enak, semua orang ngeliatin kita,” bisik Kinan dengan pelan.
“Sudah, kamu diam saja. Kakak ingin tahu, apa saja yang mereka lakukan.”
“Iya, tapi ‘kan nggak harus dipandangi seperti itu.”
Tidak berapa lama makanan mereka pun datang. Zayna mengatakan pada pelayan jika makanan yang dia pesan akan dibayar oleh Hanif sambil menunjuk ke arah pria itu. Wanita itu pun mulai menikmati makanan yang dipesan tadi, sementara Hanif masih belum sadar dengan keberadaan dua wanita yang sadari tadi memperhatikannya.
Terdengar suara keras benda terjatuh dari arah meja Zayna. Sebuah gelas pecah tepat di bawah kaki ibu hamil itu, membuat beberapa orang yang ada di sana melihat ke arah mereka. Kinan langsung panik begitu saja. Dia takut terjadi sesuatu pada kakak iparnya. Padahal kejadian itu sengaja dibuatnya.
“Kakak, nggak pa-pa, kan? Kenapa bisa sampai jatuh minumannya!” seru Kinan sambil berdiri mendekati Zayna.
__ADS_1
“Tadi aku nggak sengaja, maaf ya,” ucap Zayna dengan perasaan bersalah sambil melirik Hanif yang saat ini menatap mereka. Kinan memanggil seorang pelayan agar membersihkan pecahan gelas.
Sementara itu, Hanif begitu terkejut melihat keberadaan Kinan di sana. Dari tadi dia terlalu asyik dengan pekerjaan hingga tidak memperhatikan sekeliling. Sekarang saat konsentrasinya bekerja terganggu, ternyata dia melihat keberadaan gadis pujaan hatinya. Gadis itu terlihat cantik di matanya.
Sudah beberapa hari ini dia tidak bertemu dengan Kinan, ingin sekali Hanif mendatanginya sekarang juga, tetapi itu tidak mungkin. Saat ini pria itu sedang bersama dengan kliennya. Tidak sopan rasanya jika harus meninggalkannya.
“Ada apa, Pak Hanif?” tanya wanita tersebut karena melihat wajah Hanif yang sepertinya sedang gelisah. Pria itu takut jika Kinan salah paham dengan keberadaannya di sini dengan seorang wanita. Jika komunikasi mereka baik, tentu Hanif tidak akan gelisah seperti ini.
“Tidak apa-apa tadi sampai mana, Bu?” tanya Hanif.
“Aduh, Pak Hanif ini terlalu serius sekali. Kenapa kita tidak santai saja.”
“Mana bisa seperti itu, Bu. Kita sedang bekerja, rasanya tidak enak kalau kita mengobrol santai.”
“Tidak apa-apa, Pak Hanif. Saya juga tidak suka terlalu serius, itu membuat pekerjaan saya jadi kacau.”
“Kita lanjutkan saja pekerjaan kita, saya masih ada beberapa pekerjaan yang belum selesai.” Hanif pun memaksa wanita itu melanjutkan pekerjaannya dengan sesekali melihat ke arah Kinan berada. Setelah pekerjaannya selesai, Hanif pamit undur diri. Dia memanggil pelayan untuk membayar tagihan makanan mereka.
“Biar saya saja yang bayar,” ucap wanita itu.
“Tidak perlu, Bu. Biar saya saja yang bayar.”
Seorang pelayan datang dan memberikan tagihan makanannya pada Hanif. Pria itu pun membayar tanpa banyak bertanya.
“Hei, kenapa tagihannya ada dua?” tanya klien Hanif tadi pada pelayan.
“Nona yang ada di sana bilang kalau Mas ini tunangannya dan akan membayar,” jawab pelayan sambil menunjuk ke arah meja Kinan.
"Apa? Tunangan?"
__ADS_1
.
.