
Orang-orang yang ada di sekitar mendekati Kinan. Mereka mencoba melihat apa yang terjadi pada wanita itu. Semuanya terkejut melihat apa yang terjadi.
Tubuh Felly bergetar, dia tidak menyangka keisengannya malah membuat orang celaka. Gadis itu hanya bisa diam membeku, tanpa berani berbicara sedikit pun. Sama halnya dengan Niko. Pria itu tadi juga bisa melihat apa yang Felly lakukan, tetapi dia tidak berani berbicara.
"Maaf, Kinan. Aku angkat kamu," ucap seorang pria yang segera mengangkat tubuh Kinan. Dia membawanya ke ruang kesehatan, beberapa orang juga ada yang mengikutinya.
Frans yang akan memasuki kelas, melihat beberapa mahasiswa berlari. Ada seorang pria di bagian depan sedang menggendong wanita. Pria itu terus saja memperhatikan mereka. Saat berada di dekat dia melihat Kinan yang digendong. Segera Frans mengikuti mahasiswa tersebut.
"Dokter, tolong Kinan," ucap seorang mahasiswa begitu memasuki ruang kesehatan.
Pria yang tadi menggendong pun membaringkan Kinan di ranjang. Wanita itu terlihat begitu lemah, seperti tidak memiliki tenaga. Dokter yang berjaga segera memeriksanya. Dia mencurigai sesuatu, terapi tidak ingin mengatakannya terlebih dahulu. Biarlah dokter ahli yang mengatakannya.
"Apa Ada yang sakit, Kin?" tanya dokter tersebut, yang diketahui bernama Ina.
Kinan menggeleng karena memang dia tidak merasa sakit. "Hanya kram saja, Dokter," jawabnya dengan pelan.
"Sepertinya saya harus membawa kamu ke rumah sakit. Saya tidak bisa memeriksa kamu di sini." Dia beralih bertanya pada mahasiswa yang ada di sana. "Dari kalian ada yang bawa mobil?"
"Pakai mobil saya saja, Dokter," sela Frans yang baru saja memasuki ruangan kesehatan.
"Boleh, sebaiknya sekarang saja karena kita tidak bisa menundanya lagi."
"Baik, Dokter. Saya akan menyiapkan mobil," sahut Frans yang kemudian beralih menetap salah satu mahasiswa yang ada di sana. "Tolong kamu ke kelas saya, bilang kalau hari ini saya tidak bisa mengajar jadi, diliburkan dulu."
"Iya, Pak. Akan saya sampaikan."
Frans berlari menuju parkiran untuk menyiapkan mobil, sementara Kinan masih di ruang kesehatan dengan dokter. Semua mahasiswa juga sudah membubarkan diri.
"Kinan, sebelum kita ke rumah sakit. Kamu minum ini dulu, ya!"
"Ini obat apa, Dokter?" tanya Kinan yang sebenarnya tidak suka minum obat.
"Tidak apa-apa, hanya vitamin," jawab Dokter Ina yang memang tidak sepenuhnya berbohong.
Itu adalah vitamin penguat kandungan. Dokter tersebut curiga jika Kinan sedang hamil. Jika pun tidak juga tidak masalah karena obat itu tidak berbahaya. Kinan pun menurut dan meminum obat tersebut.
__ADS_1
"Apa kamu masih bisa berjalan? Kita ke depan, tunggu Pak Frans di sana."
"Saya akan coba, Bu." Kinan turun dari ranjang dengan dibantu oleh Dokter Ina.
"Jangan cepat-cepat, kita pelan-pelan saja."
Kinan mengangguk dan saat sampai di pintu, Frans datang dengan napas yang ngos-ngosan. Dia melihat Kinan berjalan menjadi khawatir. Pria itu pun bertanya pada Dokter Ina.
"Apa tidak apa-apa, Dok, buat jalan? Apa perlu saya gendong?"
"Lebih baik seperti itu, Pak Frans, tapi apa tidak apa-apa kalau Pak Frans yang gendong?" tanya Dokter Ina yang merasa tidak enak. Selain mereka berbeda jenis, status mereka juga berbeda.
"Kalau saya, sih, tidak apa-apa. Entah bagaimana dengan Kinan."
Frans menatap ke arah Kinan, berharap wanita itu tidak menolak bantuannya. Jarak dari ruang kesehatan ke mobil juga cukup jauh. Mengingat apa yang terjadi baru saja, itu sangat berbahaya bagi Kinan.
"Tidak apa-apa, Kinan. Ini juga demi kebaikan kamu," ucap Dokter Ina pada Kinan yang ada di sampingnya.
"Tapi, Bu. Saya nggak enak, itu seperti tidak sopan," tolak Kinan dengan halus, bagaimanapun juga dia sudah bersuami. Rasanya tidak pantas ada pria yang menggendongnya.
"Sudah, jangan banyak bicara. Sebaiknya kamu digendong saja, kita harus segera ke rumah sakit. Keadaanmu tidak memungkinkan untuk berjalan."
Dokter tersebut merasa bertanggung jawab pada keadaan wanita itu. Dia harus menjelaskan beberapa hal pada dokter di rumah sakit nanti. Lagi pula wanita itu tidak mungkin membiarkan Kinan, pergi ke rumah sakit hanya berdua dengan Frans.
"Kinan Apa kamu tidak ingin menghubungi Pak Hanif?" tanya Dokter Ina saat mereka hampir sampai di rumah sakit.
"Suami saya ada di luar kota. Ibu bisa hubungi Mama saya saja, ponsel saya ada di dalam tas."
Dokter Ina pun segera mengambil ponsel Kinan dan mencoba mencari nomor yang dimaksud oleh Kinan.
"Apa kontak yang bernama Mama Aida ini?"
"Bukan, itu mertua saya. Beliau juga sedang sakit. Telepon mama Aisyah saja."
Dokter Ina mengangguk dan melakukan apa yang Kinan minta. Setelah tersambung, Dokter Ina meminta Mama Aisyah untuk segera datang ke rumah sakit, yang terdekat dari kampus. Wanita paruh baya itu menanyakan apa yang terjadi pada putrinya. Namun, dokter belum bisa memastikan.
__ADS_1
Dokter Ina sendiri belum yakin dengan pemeriksaannya jadi, dia perlu memastikannya di rumah sakit. Mama Aisyah pun mengiyakannya, dia akan datang ke rumah sakit segera.
Tidak berapa lama, mobil yang mereka tumpangi akhirnya sampai juga di rumah sakit. Dokter Ina meminta perawat untuk membawa kursi roda dan segera membawa Kinan menuju dokter kandungan. Kinan sempat heran, saat dokter Ina mengatakan akan membawanya ke dokter kandungan. Namun, dia menurut saja.
Wanita itu yakin apa yang dilakukan dokter itu untuk kebaikannya. Kinan dan Dokter Ina masuk ke dalam ruangan, sementara Frans menunggu di depan pintu. Terlihat pria itu sangat khawatir. Dari tadi dia terus aja mondar-mandir sambil sesekali melihat ke arah pintu.
"Apa Kinan sedang hamil? Kenapa bisa ada darah tadi?" gumam Frans sambil mengusap wajahnya kasar.
Entah kenapa hatinya belum bisa menerima jika Kinan sudah menjadi milik pria lain. Akan tetapi, mau menolak bagaimanapun juga wanita itu memang sudah memilik seorang suami. Dia hanya kalah cepat dari dosen sebelumnya.
"Permisi, Nak. Apa ini ruang dokter kandungan?" tanya seorang wanita pada Frans. Pria itu pun menoleh dan menatapnya.
"Iya, Bu. Ini memang ruangan dokter kandungan, seperti yang tertera di pintu. Memang ada apa, ya? Di dalam sedang ada pasien."
"Tadi saya mendapat kabar, kalau putri saya masuk ke rumah sakit ini. Tadi juga saya tanya ke resepsionis, katanya ada di dalam ruang dokter kandungan. Apa benar di dalam ada putri saya?"
"Apa Anda orang tuanya Kinan?" tanya Frans, yang mencoba meyakinkan siapa orang yang ada di depannya.
"Benar, Anda kenal dengan putri saya?" tanya Mama Aisyah yang semakin penasaran dengan apa yang terjadi pada putranya.
"Saya dosennya, Bu. Kinan memang ada di dalam bersama dengan Dokter Ina. Dia sedang menjalani pemeriksaan."
"Apa yang terjadi dengan putri saya? Kenapa dia dibawa ke ruang dokter kandungan? Setahu saya dia belum hamil," ucap Mama Aisyah karena memang Kinan tidak mengatakan apa pun padanya. Bahkan kemarin ke rumah pun anak itu tidak mengatakannya.
Frans sendiri juga tidak begitu tahu tentang keadaan Kinan, tetapi Dokter Ina sendiri yang membawanya ke dokter kandungan. Jika memang Kinan tidak hamil seperti yang mamanya katakan, kenapa dia dibawa ke ruangan ini. Apa Dokter Ina salah pemeriksaan.
"Mengenai hal itu, sebaiknya kita tunggu dokter saja, Bu. Saya sendiri juga tidak mengerti apa-apa. Takutnya apa yang saya katakan nanti malah membuat Anda salah paham," sahut Frans.
"Oh iya, Pak."
Mama Aisyah mengangguk dan melihat ke arah sekitar. "Apa Hanif belum ke sini, Pak?"
"Kata Kinan Pak Hanif sedang berada di luar kota, makanya dia meminta Dokter Ina menghubungi Anda. Mertuanya juga sedang sakit jadi, dia tidak ingin menghubungi mereka. Mungkin takut menyusahkan," jawab Frans, sesuai apa yang dia dengar.
Mama Aisyah mengangguk, dia tidak tahu mengenai kabar tentang Aida yang sakit. Juga tidak tahu ke mana tujuan menantunya keluar kota. Tidak ada yang memberitahu padanya tentang hal itu. Wanita itu hanya bisa berdoa agar putrinya baik-baik saja.
__ADS_1
.
.