Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
319. S2 - Aina juga pintar


__ADS_3

Aina kembali ke dalam kamarnya dan masuk ke kamar mandi. Wanita itu menumpahkan segala air mata yang di sana. Ternyata apa yang dia sampaikan kepada kedua orang tuanya dulu, mengenai dirinya akan berusaha untuk membuat sang mertua berubah, nyatanya sangat sulit untuk dilakukan. Belum apa-apa saja dirinya sudah sangat tersakiti. Entah bagaimana nanti jadinya nanti jika lebih lama lagi.


"Pa, Ma, maafkan aku yang tidak mendengarkan apa yang kalian katakan. Sekarang aku mendapatkan karmanya," gumam Aina dengan Air mata yang menetes.


Ingatannya kembali saat di mana dia begitu keras berdebat dengan papanya, bahkan tanpa sadar melukai hati pria yang sudah membesarkannya itu. Padahal selama ini Ayman yang selalu membelanya. Andai saja dia tidak terlalu memaksakan kehendak, pasti semuanya akan baik-baik saja, tetapi nasi sudah menjadi bubur.


Mungkin ini memang takdirnya yang harus dijalani oleh Aina. Dia akan berusaha untuk menjadi istri yang baik, terlepas dari mertuanya mau menerima atau tidak. Seperti janji yang sebelumnya wanita itu katakan, Aina akan berusaha merubah pandangan Bu Nur.


****


"Aini mana, Ma? Kenapa tidak keluar juga? Ini kan sudah waktunya sarapan," tanya Ayman saat tidak melihat keberadaan putrinya di meja makan.


"Iya, Pa. Sebentar biar Mama panggilkan."


Zayna pun pergi ke lantai atas untuk memanggil sang putri, tidak biasanya gadis itu jadi pemalas seperti ini. Begitu sampai di depan kamar, wanita itu mengetuk pintu beberapa kali sambil memanggil nama putrinya. Namun, tidak ada sahutan dari dalam karena khawatir, Mama Zayna pun dengan terpaksa masuk begitu saja. Dia mendapati putrinya masih berada di atas tempat tidur, selimut juga menutupi seluruh tubuhnya dan hanya menyisakan kepala saja.


"Sayang, kenapa kamu nggak bangun? Ini sudah siang, papa sudah nungguin di meja makan, tapi kamu masalah masih tidur."


"Mama sama papa duluan saja, aku nanti menyusul. Kepalaku lagi pusing, Ma," jawab Aini dengan suara seraknya.


Zayna tentu saja terkejut mendengar hal itu, segera dia menempelkan punggung tangannya di kening sang putri. Ternyata Aini sedang demam. Padahal semalam masih baik-baik saja, bahkan sempat berbincang dan bercanda.


"Sejak kapan kamu demam? Kenapa tidak bilang sama Mama?" tanya Zayna dengan suara yang terdengar khawatir.


"Aku nggak pa-pa kok, Ma. Ini cuma lagi pusing saja," kilah Aini yang tidak ingin mengkhawatirkan orang tuanya.


"Nggak pa-pa gimana? Ini demamnya tinggi! Kamu tunggu sini saja, biar Mama ambilin obat sama sekalian makan biar demamnya turun." Zayna segera keluar menuju ruang makan. Sang suami masih menunggu di sana.


"Pa, Aini demam, kamu makan sendiri nggak pa-pa, kan? Aku harus ngurusin Aini dulu, biar dia mau minum obat."


"Kok, bisa demam, memangnya kemarin dia pulang jam berapa?"


"Dia nggak pergi ke mana-mana, Pa. Seharian kemarin dia di rumah saja, malah bikin surat lamaran kerja ke beberapa perusahaan."


"Dia 'kan belum wisuda, kenapa buru-buru cari kerja?"


"Kamu tahu sendiri, Mas, Aini di rumah sendirian nggak ada temen, dari kemarin dia seperti orang bingung gitu. Mungkin dia tadi cari kesibukan buat ngilangin kesepiannya."


Aini memang akhir-akhir ini memang terlihat lesu. Apa yang dia lakukan selalu salah dan tidak sesuai.


"Ya sudahlah, biarkan saja, bilang sama dia nggak usah buat surat lamaran lagi. Dia bisa kerja di perusahaan Papa. Memang perusahaan Papa ini nantinya buat siapa, sih? Anak-anak Papa pada nggak mau ngurusin! Arslan juga maunya ngurusin cabang saja, Aina Mana mau kerja, dia maunya jadi ibu rumah tangga saja. Sekarang Aini juga mau ngelamar di perusahaan orang lain," ucap Papa Ayman dengan setelan jas yang begitu besar.


"Iya, Pa. Nanti Mama sampaikan sama ini siapa tahu nanti dia berubah pikiran ya sudahlah Ayo kita lihat bagaimana keadaan rumah ini sebelum Papa berangkat kerja.

__ADS_1


Ayman dan Zainal pun menuju kamar putrinya, Wanita itu meminta Aini untuk bangun agar bisa makan dan minum obat. Gadis itu segera menolak. Saat Zayna berusaha untuk menyuapinya karena dia merasa mulutnya tidak enak. Namun, dengan paksaan sang mama, akhirnya luluh juga.


"Aini, kamu baik-baik di rumah saja. Jangan ke mana-mana nanti, kalau demamnya makin tinggi ajak sopir buat ke rumah sakit. Nanti, papa kakak aku nggak papa kok nggak perlu sakit.


"Aku males, nanti yang ada malah disuntik lagi."


"Makanya kamu jangan sakit, biar nggak disuntik. Sudah, ya! Papa berangkat kerja dulu." Ayman mencium kening putri dan istrinya, kemudian berlalu dari sana, sementara Zayna masih telaten menyuapi putrinya. Meski hanya tiga suap yang masuk setelah itu Aini merasa ingin jadi, Zayna pun menghentikan suapan dan memberinya obat penurun demam.


"Ma, kira-kira Aina lagi ngapain ya sekarang? Dari kemarin aku kepikiran dia terus," tanya Aini dengan pandangan lurus ke depan.


Seperti perkiraannya tadi jika Aini memang merindukan saudara kembarnya. "Memang dia nggak kirim pesan buat kamu? Biasanya kan kamu yang selalu cerita sama Mama kalau Aina kirim pesan."


Aini menghela napas lelah. "Iya, Ma. Memang benar, tapi sejak kemarin dia nggak kirim pesan lagi."


"Apa mungkin sudah bosan tiap hari kirim pesan terus, ya, Ma?"


Tiba-tiba saja pikiran buruk datang menghampiri, dia merasa semakin jauh dengan Aina padahal sebelumnya mereka ke mana-mana selalu bersama. Gadis itu tidak masalah dengan pernikahan saudaranya, hanya saja dia tidak ingin sampai terlalu larut dalam kesenangan pribadi dan lupa dengan saudara.


"Kamu nggak boleh gitu. Mungkin Aina sedang pergi atau ada kesibukan bersama dengan suaminya. Jangan buru-buru berburuk sangka pada saudara sendiri."


"Iya, Ma. Kalau ingat Aina aku tiba-tiba jadi ingin nikah juga," ucap Aini dengan tersenyum. Meski dalam hati dia sama sekali tidak menginginkan adanya pernikahan.


"Kamu juga mau ninggalin Mama? Mama sudah cukup sedih dengan kepergian Aina, masa kamu juga harus ikutan pergi ninggalin Mama seorang diri?" tanya Zayna dengan wajah sedih putrinya.


Zayna mengerutkan keningnya karena merasa aneh dengan jawaban Aini. "Kenapa kamu jadi berpikir seperti itu? Apa hubungannya dengan saudara banyak?"


"Ya, kalau saudaranya banyak, otomatis dia nggak akan ngajakin aku tinggal sama ibu mertua jadi, aku bisa ngajakin dia tinggal sama kita." Aini tersenyum begitu lebar, seolah mengatakan jika ini adalah kebahagiaan masa depannya. Sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh, hanya kebetulan sedang ingin bercanda.


"Terus, kalau dia sudah mapan dan bisa beli rumah, ngajakin kamu tinggal di sana, bagaimana?" tanya Zayna yang penasaran dengan jawaban putrinya.


"Bagaimana kalau rumahnya di kontrakin saja, aku dan suamiku nanti tinggal sama Mama dan papa atau Mama yang ikut kita. Rumah ini yang di kontrakin."


Zayna mencubit pipi putrinya, bisa-bisanya memiliki pemikiran seperti itu. Papanya saja kelebihan uang di mana-mana masa mau menyewakan rumah. "Kamu ini ada-ada saja pikirannya, tapi Mama juga tidak akan memaksa kamu kalau suatu hari nanti kamu menemukan jodoh yang tepat, yang baik sama kamu. Mama juga berharap sama kamu, kalau nanti kamu sudah menikah. Jangan pernah lupakan Mama, seringlah berkunjung untuk melihat keadaan Mama."


Aini memeluk mamanya, dia tidak akan pernah melupakan cinta yang diberikan sang mama padanya. "Mama jangan khawatir, aku akan selalu mengingat Mama. Aku tidak mungkin melupakan kehadiran Mama dalam hidupku. Mama adalah segalanya untukku.


Zayna segera membalas pelukan putrinya. Akhir-akhir ini Aini memang sering kesepian, terkadang bahkan iseng dia ngirim pesan pada Aina yang kadang dibalas, kadang pun tidak. Dia tidak marah karena tahu sekarang Aina juga punya suami yang harus diurus. Gadis itu juga tidak begitu tahu kehidupan saudaranya di sana. Saudaranya selalu berusaha menutupinya, dirinya yakin akan hal itu.


Setelah meminum obat, Zayna minta putrinya untuk segera istirahat agar cepat pulih kembali, barulah wanita itu turun ke lantai bawah untuk menikmati sarapannya. Tadi dia memang belum sempat menikmati sarapan. Tadinya Zayna ingin pergi ke rumah Hira, dia ingin menengok cucunya karena sudah beberapa hari tidak datang. Wanita itu juga sudah mengirim pesan tadi, akhirnya kini dia harus mengirim pesan lagi jika dirinya batal pergi ke sana.


Hira yang mendengar adik iparnya sakit pun, meminta izin pada sang suami untuk pergi ke rumah mertuanya. Arslan dengan senang hati mengantar sang istri ke sana. Sekalian dia juga ingin melihat keadaan adiknya bagaimana. Mudah-mudahan hanya demam biasa.


"Baru kali ini aku lihat ini sakit Mas apa sebelumnya pernah sakit ya pernah lah namanya juga manusia tapi biasanya kalau sakit ini tuh si kembar biasanya bergantian Kalau hari ini Aina besoknya ini Kalau hari ini hari ini besoknya Aina begitu, kalau begitu Aina di sana juga pasti lagi sakit, ya, Mas?"

__ADS_1


"Tadi aku sudah kirim pesan ke Aina, tapi belum dibalas juga. Aku jadi khawatir terhadapnya putri biasanya."


"Biar aku tanyain sama Umi saja, Mas. Mungkin Umi tahu kalau Aina sakit. Kasihan juga tidak ada yang menengok."


Arslan mengangguk dan membiarkan istrinya mengirim pesan pada sang mertua, supaya melihat bagaimana keadaan Aina di sana. Sejak menikah juga adiknya itu tidak pernah mengirim pesan, pria itu hanya mendapat kabar dari Aini jika adiknya itu baik-baik saja. Hanya Aini yang mendapat pesan, bahkan mamanya saja jarang sekali.


****


Sementara itu, Aina yang berada di kamar mandi mendengar suara sang suami memanggil, segera wanita itu membasuh wajah agar tidak terlihat jika dirinya baru saja menangis, kemudian keluar dan mendapati sang suami berdiri di depan kamar mandi.


"Kamu ngapain di dalam?" tanya Ali dengan menelisik wajah istrinya.


"Perutku mulas, Mas, jadinya agak lama," jawab Aina beralasan.


"Kami ngapain saja di rumah seharian? Kata ibu kamu nggak keluar dari kamar? Apa benar?"


Aina membalas tatapan sang suami, entah kenapa dia memiliki keberanian seperti itu. Padahal sebelumnya dia selalu merasa enggan. "Apakah kalau aku mengatakan yang sejujurnya, kamu akan percaya padaku?"


"Maksud kamu apa? Kamu menuduh ibuku berbohong!" Ali meninggikan suaranya, hal yang sama sekali tidak pernah Aina duga.


"Aku belum mengatakan saja, kamu sudah marah. Bagaimana jika aku mengatakan yang sejujurnya. Entah bagaimana jadinya nasibku ini."


Ali membawa sang istri untuk duduk di tepi ranjang, dia mencoba untuk memberi pengertian pada wanita itu. "Aina, tolong dengarkan aku. Ibuku sekarang adalah ibumu juga. Perlakukan dia sama seperti kamu memperlakukan mamamu. Begitu juga denganku yang akan memperlakukan mamamu seperti ibuku."


Aina hanya diam, percuma juga membantah apa yang dikatakan oleh suaminya. Bagaimanapun kejadiannya, dia tetap akan di posisi salah. Padahal tadi dia senang karena sang suami tengah peduli padanya dan mengobati luka di dalamnya. Namun, tuduhan pria itu tidak ada buktinya, seenaknya bertingkah. Aina tidak lagi membantah dan hanya diam.


Malam hari, Aina tidak bisa tidur. Dia sudah selesai masa bersihnya. Namun, sang suami tidak kunjung meminta haknya, dia jadi berpikiran Apakah mungkin Sang suami masih belum bisa menerima kehadiranmu sebagai seorang istri tetapi segera ditepisnya pikiran itu. Bukankah seorang pengajar harusnya mengerti mana kewajiban dan tidak! Aina pun bangun dari tidurnya dan melakukan salat sunnah, untuk menenangkan hati dan pikirannya yang benar-benar kalut. Perasaannya juga tiba-tiba perasaannya tidak enak.


Dalam sujudnya, dia berdoa agar hati suami dan mertuanya terbuka. Wanita itu juga ingin merasakan bagaimana mendapatkan kasih sayang dari suami dan mertua secara utuh. Dia hanya manusia biasa, yang juga punya rasa iri saat melihat keharmonisan rumah tangga orang lain. Tanpa sadar dirinya menangis terisak, saat doa-doa dia panjatkan pada Sang Maha Pencipta.


Ali sebenarnya juga tidak bisa tidur, pria itu hanya pura-pura tidur dari tadi. Dia dibuat begitu kagum saat melihat istrinya melaksanakan salat sunnah. Namun, Ali tertegun di saat istrinya itu menangis dalam doanya. Entah itu tangis karena apa, selama mereka menikah baru kali ini dia melihat wanita itu menangis.


Selama beberapa hari ini juga Ali sudah berusaha untuk mendekatkan diri, tetapi entah kenapa rasanya sangat sulit sekali. Apalagi saat melihat bayangan Hira di matanya, itu semakin membuatnya merasa sulit untuk mencintai istrinya.


Setelah tangisnya reda, Aina masih terlalu malas jika harus kembali ke tempat tidur. Lagi pula dia juga tidak mengantuk, apalagi saat melihat wajah sang suami yang tanpa dosa, sungguh hati ini merasa sangat tersakiti. Wanita itu pun memilih untuk mengaji dan lagi-lagi Ali dibuat kagum. Suara Aina ternyata sangat merdu. Pria itu berpikir jika istrinya tidak bisa mengaji, ternyata apa yang dia pikirkan sama sekali tidak benar.


Bahkan suara Aina lebih bagus dari santri di pondok tempatnya mengajar. Makhroj dan tajwidnya juga benar. Tidak ada yang salah sedikit pun.


"Apa aku memang yang bersalah selama ini, aku kurang bersyukur dengan jodoh yang Engkau berikan Tuhan. Sekarang Engkau tunjukkan bahwa dia benar-benar wanita yang pantas untuk dijadikan istri," gumam Ali sambil terus menatap sang istri dalam kegelapan.


Aina tidak tahu sang suami bangun karena lampunya memang sengaja dimatikan. Dia menyalakan lampu belajar untuk mengaji agar tidak mengganggu sang suami, yang sedang tertidur.


"Setelah selesai mengaji, Aina memutuskan untuk tidur saja. Hatinya sudah mulai tenang, dia lebih bisa menerima semuanya dengan baik. Semoga besok semuanya baik-baik saja, tidak ada masalah yang sama akan menghampiri. Ali yang melihat mendengar suara dengkuran halus dari sang istri pun segera membuka mata. Wanita itu sudah tertidur dengan wajah polosnya yang tanpa riasan make up yang tebal. Hatinya yang tadi gelisah kini mulai tenang, seolah mengikuti kegalauannya karena sang istri. Hingga akhirnya pria itu pun terbang ke alam mimpi.

__ADS_1


__ADS_2