
“Anda berbicara seperti itu karena Anda sudah terbiasa dengan kehidupan mewah. Tidak seperti kami para mahasiswa yang harus bekerja keras agar bisa bertahan hidup di kota ini seorang diri,” ujar Niko dengan sedikit emosi.
“Memang kamu tahu apa tentang aku?" tanya Hanif dengan menatap Niko. Keduanya terdiam beberapa saat, hingga Hanif kembali melanjutkan kata-katanya.
"Jangan berpikir seolah-olah hanya kamu yang menderita di dunia ini. Banyak anak di luaran sana yang harus bekerja keras siang dan malam. Bukan hanya untuk dirinya sendiri, tapi juga untuk keluarganya. Apa mereka memanfaatkan orang lain untuk kepentingannya? Tidak. Mereka bekerja keras agar bisa meraih mimpi, contohnya pria ini,” ucap Hanif sambil menepuk bahu pemuda yang baru saja datang.
Rio yang tidak mengerti pun hanya bisa diam mendengarkan kedua pria itu berdebat. Sedikit banyak dia tahu apa yang sedang diperdebatkan. Hanya saja pria itu tidak mau terlalu ikut campur. Apalagi Rio sangat tahu bagaimana perangai Hanif yang tidak suka diusik.
“Kamu tahu Rio kan? Dia mahasiswa yang mengandalkan beasiswa, sama sepertimu. Dia menghidupi kedua adiknya yang masih sekolah. Ada juga ibunya yang seorang buruh cuci, tapi dia masih tetap berusaha dan tidak mengandalkan orang lain. Apa pun dia lakukan asal mendapatkan uang yang halal. Dari menjadi tukang cuci piring di restoran, sampai penjual koran di pagi hari. Kuli panggul di pasar. Dibandingkan dengan dia, kamu lebih beruntung. Kamu kuliah juga sama seperti Rio mendapat beasiswa. Kamu hanya tinggal mencari uang untuk kehidupan pribadi, tanpa harus memikirkan keluargamu yang lain, tapi kamu lebih suka menggunakan jalan pintas daripada harus bekerja keras. Apa gunanya kamu menuntut ilmu setinggi ini jika akhirnya harus memanfaatkan orang lain. Kenapa tidak mulai dari sekarang saja kamu manfaatkan orang lain untuk kaya. Secara kamu bisa menikahi janda kaya yang punya banyak warisan. Kamu tidak perlu susah payah kerja nantinya. Hanya tinggal menikmati saja.”
“Anda tidak perlu menggurui saya. Ini hidup saya, terserah saya mau bagaimana," sela Niko.
“Memang benar ini kehidupan kamu dan saya sarankan, sebaiknya jangan mengganggu Kinan lagi. Kalau kamu mencari mangsa, carilah orang lain. Jangan istri orang.”
Niko sangat geram mendengar apa yang Hanif katakan, terapi dia tidak punya keberanian untuk membantahnya. Pria itu pergi begitu saja tanpa mengatakan satu kata pun. Hanif hanya memandangnya dengan menggelengkan kepala. Niko sama sekali tidak pernah jera. Pemuda seusia dia harusnya memikirkan karir.
“Maaf, Pak. Ada apa Anda memanggil saya?” tanya Roni membuat fokus Hanif teralihkan.
“Ada yang ingin aku bicarakan dengan kamu. Ini mengenai pekerjaan yang aku tawarkan kemarin," jawab Hanif.
“Iya, Pak. Apa itu?”
“Kita bicara di sana saja.”
Hanif menunjuk sebuah kursi yang ada di taman. Rio pun mengangguk dan mengikuti atasannya menuju taman. Hanif menjelaskan beberapa hal pada Rio. Pemuda itu hanya diam mendengarkan. Jika ada yang tidak dia mengerti, Rio akan menanyakannya.
__ADS_1
*****
“Na, kamu kenapa?” tanya Mama Aisyah karena melihat wajah menantunya seperti menahan sakit.
“Aku nggak tahu, Ma. Tiba-tiba saja badanku capek semua dan melakukan apa pun pasti nggak nyaman.”
“Memangnya tadi kamu ngapain saja?” tanya Mama Aisyah yang terlihat begitu khawatir.
“Aku nggak ngapa-ngapain, Ma. Setelah sarapan tadi aku cuma diam di kamar.”
“Benar, kamu nggak ngapa-ngapain? Nggak kerja berat?”
“Tidak, memangnya apa yang bisa dikerjakan di kamar? Aku sudah beberapa hari juga tidak masuk ke dapur.”
“Apa perut kamu juga nggak nyaman?”
“Kalau begitu, bagaimana kalau kita ke rumah sakit saja. Mama khawatir terjadi sesuatu.”
Zayna hanya mengangguk. Mama Aisyah pun membawa menantunya ke rumah sakit untuk memeriksakan keadaannya. Mereka pergi dengan menggunakan taksi. Selama perjalanan, Zayna mencoba menahan rasa sakitnya.
Rasa yang tidak dapat dijelaskan. Sakit di tubuhnya seolah tidak ada artinya dibandingkan dengan sakit di perut dan punggungnya. Perutnya terasa mulas, kadang berubah sakit di area punggung.
"Kamu nggak pa-pa, kan, Na?" tanya Mama Aisyah saat melihat wajah Zayna yang sudah mulai berkeringat. Menantunya hanya diam dengan memejamkan matanya. Tidak ada satu kata pun yang terucap. Dia tidak ingin mertuanya khawatir.
Selama dalam perjalanan, Mama Aisyah menggenggam telapak tangan menantunya. Dia tidak ingin terjadi sesuatu pada Zayna. Entah bagaimana nanti dia harus bertanggung jawab pada putranya. Apalagi saat ini menantunya sedang hamil.
__ADS_1
Mudah-mudahan ibu dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Tidak hentinya Mama Aisyah berdoa dalam hati. Doa apa pun yang ada di kepalanya dia baca.
Tidak berapa lama akhirnya mereka sampai juga di rumah sakit. Maysa turun dari mobil dengan dibantu oleh beberapa perawat menuju ruang UGD. Mama Aisyah hanya mengikutinya dari belakang dan menunggu di depan ruangan. Tidak lupa juga dia menghubungi Ayman untuk segera datang ke rumah sakit.
Wanita itu benar-benar khawatir. Mama Aisyah tidak bisa membayangkan, bagaimana jika terjadi sesuatu pada Zayna dan anaknya. Ayman pasti akan merasa sangat sedih. Dia sangat tahu betapa besar cinta putranya pada wanita itu.
"Ma, bagaimana keadaan Zayna?" tanya Ayman yang baru saja datang. Pasti pria itu tadi berlari, terlihat napasnya yang ngos-ngosan.
"Dia masih di dalam. Mama juga tidak tahu bagaimana keadaannya. Dokter juga belum keluar masih memeriksanya."
"Ko k, bisa sampai kesakitan, Ma? Apa terjadi sesuatu tadi? Apa ini sudah waktunya lahiran? Tapi ini kan belum saatnya? Dia masih tujuh bulan. Bukankah wanita melahirkan itu saat usia sembilan bulan?" tanya Ayman beruntun.
"Iya, memang benar, tapi ada juga beberapa ibu hamil yang lahir di usia kandungan tujuh bulan."
"Apa tidak apa-apa, Ma. Jika lahir belum saatnya?"
"Tidak apa-apa, tapi Mama tidak tahu lebih detailnya. Kita tunggu saja sampai dokter keluar. Mama nggak mau berasumsi yang tidak-tidak. Lebih baik kita berdoa saja agar mereka baik-baik saja."
Ayman mengangguk dan berdoa dalam hati agar istri dan anaknya dalam keadaan baik-baik saja. Sebenarnya sejak pagi dia merasa ada sesuatu yang tidak enak. Namun, Pria itu mencoba menepis bahwa itu hanya perasaannya saja. Sekarang firasatnya benar. Istrinya dalam keadaan tidak baik-baik saja. Bahkan saat ini berada di ruang UGD.
"Apa papa kamu tidak ikut ke sini, Man?" tanya Mama Aisyah.
"Papa sedang ada di ruang meeting, Ma. Tadi aku sudah bilang sama Pak Burhan agar menyampaikan pesan pada Papa, kalau kita semua ada di rumah sakit."
"Mama tadi juga sudah kirim pesan, tapi belum dibaca sama Papa kamu."
__ADS_1
.
.