Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
77. Pergi bersama


__ADS_3

Mama Aisyah, Zayna dan Kinan kini sudah berada di mall. Mereka berjalan-jalan bersama mengelilingi tempat itu. Banyak sekali yang mereka beli, terutama Mama Aisyah. Wanita itu sangat senang bisa berbelanja dengan anak dan menantunya.


Setiap dia melihat ada yang menarik, pasti dibelinya. Bahkan Zayna pun dipaksa untuk mencoba gaun yang yang cantik menurut Mama Aisyah. Begitu juga dengan Kinan yang begitu antusias saat berbelanja.


Setelah asyik membeli apa pun yang diinginkan, ketiganya mampir ke sebuah restoran yang ada di sana. Padahal tadi mereka sudah makan siang di rumah, tetapi karena kelelahan membuat rasa lapar melanda. Sambil menunggu makanan tiba, ketiganya berbincang sejenak, membahas apa saja yang mereka beli dan yang belum terbeli.


"Kakak kenapa beli sedikit sekali? Kak Ayman 'kan banyak uang. Jangan bilang Kakak mau berhemat karena dilarang belanja sama Kak Ayman?"


"Benar seperti itu? Biar Mama yang bicara sama anak itu. Bisa-bisanya dia melarang istri berbelanja. Memangnya dia kerja buat siapa kalau bukan buat istri!" sela Mama Aisyah dengan nada kesal.


"Tidak, Ma. Mas Ayman nggak pernah larang, tapi baju aku masih banyak, jadi ini saja sudah cukup."


"Awas saja kalau dia ngelarang istrinya belanja. Mama sendiri yang akan bu—"


"Tante! Selamat siang, nggak nyangka bisa bertemu di sini," sapa Wina yang baru saja datang dan memotong pembicaraan mereka.


"Oh, iya, selamat siang. Kamu ada di kota ini? Kapan kamu ke sini?" tanya Mama Aisyah.


"Iya, Tante. Anak saudara Mama ada yang menikah dan suaminya orang yang tinggal di kota ini karena itu kami ke sini. Semua juga ada di sini."


"Mama kamu ada di sini juga?"


"Mama ada tadi, tapi nggak tahu ini ke mana," jawab Wina sambil melihat ke kiri dan ke kanan.


"Kenapa nggak datang ke rumah Tante? Kalian juga bisa nginap di sana," tanya Mama Aisyah yang sebenarnya ingin bicara dengan mamanya Wina.


Sejak pembatalan perjodohan anak mereka batal, memang tidak ada lagi komunikasi diantara keduanya. Beberapa kali Mama Aisyah mencoba menghibungi sahabatnya. Namun, tidak diangkat.

__ADS_1


"Kita semua tahu Mama sedang marah sama Tante karena sudah membatalkan acara perjodohan. Padahal Mama sudah bilang kesemua orang mengenai rencana itu. Beberapa saudara sering menyindir Mama karena itu, jadi mana mungkin Mama datang ke rumah Tante," ucap Wina yang seketika membuat suasana jadi hening.


Mama Aisyah merasa bersalah karena sudah membahas hal ini, tapi tidak dipungkiri dia merindukan sahabatnya. Sementara itu, Kinan menatap Wina dengan tidak suka. Secara tidak langsung anak dari sahabat mamanya sudah mengatakan, jika persahabatan kedua wanita paruh baya itu renggang karena Zayna.


"Bolehkah Tante ketemu sama mama kamu. Tante mau bicara sebentar saja," ucap Mama Aisyah.


"Boleh sih, Tante, tapi saya tidak yakin Mama mau bicara dengan Tante."


"Tidak apa-apa, hanya Sebentar saja, kok!"


"Baiklah, nanti bisa pergi sama saya. Saya boleh ikut bergabung, kan? Saya juga lapar."


"Oh, iya, silakan."


Wina ikut bergabung dengan mereka. Ingin sekali Kinan melarangnya, tetapi mamanya pasti marah karena tidak sopan. Sedangkan Zayna hanya diam saja. Selama Wina tidak membuat ulah, dia tidak masalah.


"Wina, kenapa kamu makan sama mereka? Ayo, kita pergi!" ajak Lia—mama Wina. Dia menarik tangan putrinya dengan sedikit keras hingga membuat Wina mengadu kesakitan.


"Lia, boleh kita bicara sebentar. Kita harus bicara untuk menyelesaikan masalah kita," sela Mama Aisyah yang ingin mencegah kepergian sahabatnya.


"Mau bicara apa? Tidak ada yang perlu dibicarakan lagi. Kesepakatan kita untuk menjodohkan anak-anak sudah batal, jadi aku tidak punya urusan sama kamu," sahut Mama Lia dengan ketus.


Dia sudah terlanjur sakit hati dengan sahabatnya. karena ulah Aisyah yang membatalkan perjodohan itu, dia sering disindir kakak dan adiknya. Tentu saja itu memalukan bagi Mama Lia.


"Lia, anak-anak sudah memilih jodohnya sendiri. Aku tidak bisa memaksa mereka. Apalagi aku bisa melihat cinta yang begitu dalam di mata anakku. Aku tidak mungkin menghancurkan kebahagiaannya."


"Dan kamu lebih tega menghancurkan persahabatan kita, begitu?"

__ADS_1


"Kenapa tidak? Bukankah kamu juga melakukan hal yang sama? Perjodohan yang kita rencanakan batal dan itu membuatmu tidak mau lagi berteman denganku. Apa bedanya aku dengan kamu? Kita sama-sama ingin kebahagiaan untuk anak kita. Jangan merasa diri kamu paling benar jika nyatanya hati kita tetap sama. Menginginkan yang terbaik untuk anak kita."


Semuanya terdiam terutama Mama Lia. Memang bener apa yang dikatakan Mama Aisyah. Setiap orang tua pasti ingin yang terbaik untuk anaknya, tetapi bukankah Aisyah sendiri yang lebih dulu memberikan harapan padanya agar persahabatan mereka lebih dekat.


"Sepertinya kita memang sudah tidak cocok lagi untuk bersahabat. Mungkin kita memang sebaiknya menjadi orang asing saja," ucap Mama Lia.


"Tidak masalah untukku. Bagiku yang terpenting anak dan menantuku senang. Hidup mereka juga bahagia. Aku juga berdoa agar putrimu bisa mendapatkan seseorang yang bisa membuatnya bahagia."


"Terima kasih doanya, saya permisi. Assalamualaikum."


"Waalaikumsalam," sahut Mama Aisyah yang kemudian duduk kembali ke mejanya.


Lia meninggalkan meja sahabatnya dengan perasaan kesal. Awalnya dia berharap Aisyah meminta maaf padanya dan akan berusaha membuat Wina menjadi menantunya. Akan tetapi, semua tidak sesuai dengan keinginannya. sahabatnya itu malah mempertahankan menantu yang jelas-jelas tidak berbobot.


Wanita itu yakin jika pernikahan Ayman dan istrinya tidak akan lama, mengingat keluarga Aisyah orang terpandang. Pasti banyak yang menghina, apalagi keluarga besar Hadi yang begitu terkenal.


"Maafin aku ya, Ma! Karena aku, Mama jadi kehilangan sahabat," ucap Zayna yang merasa tidak enak.


"Kamu ini bicara apa? Sudah, tidak usah dibahas lagi. Dia memang sahabat Mama, tapi kamu adalah menantu Mama. Istri dari anak Mama dan Mama akan bahagia jika melihat Ayman juga bahagia. Karena itu Mama ingin kalian selalu hidup rukun dan damai."


Kinan juga sangat bahagia melihat apa yang dilakukan mamanya tadi. Awalnya dia mengira Mama Aisyah akan lebih memilih sahabatnya, tetapi ternyata perkiraannya salah.


"Terima kasih, Ma." Zayna berpindah duduk di samping mertuanya dan memeluk wanita paruh baya itu. Dia sangat bahagia karena mertuanya mengutamakan dirinya daripada yang lain.


"Sudah, tidak usah nangis lagi. Kita lanjutkan saja makannya," ucap Mama Aisyah dengan mengusap sudut air matanya yang basah. Ketiganya pun melanjutkan acara makan mereka.


.

__ADS_1


.


__ADS_2