Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
63. Kedatangan besan


__ADS_3

"Ada apa, Ma? Kenapa melihatku seperti itu?" tanya Zanita sambil menatap mamanya.


"Tidak apa-apa, selama kamu ada di sini, jagalah dirimu baik-baik. Mama tidak bisa menolongmu karena yang menjadi korban di sini adalah papa. Mama tidak punya uang untuk menyewa pengacara untukmu. Mama tidak tahu mau minta tolong pada siapa lagi? Fahri juga tidak mungkin bisa menolong. Mengingat bagaimana dia memperlakukanmu akhir-akhir ini."


Zanita merasa sedih dengan apa yang mamanya katakan. Memang benar tidak ada yang salah dalam setiap kata-kata wanita itu. Akan tetapi, dia juga ingin Mama Savina berusaha untuk membebaskan dirinya.


"Ma, cobalah untuk meminta tolong pada Ayman. Aku tahu dia orang baik, dia juga punya banyak uang. Pasti dia mau menolongku."


"Itu tidak mungkin karena Ayman sendiri yang sudah melaporkan kasus ini sejak Papa masuk rumah sakit."


"Jadi, menurut mama aku tidak punya kesempatan untuk keluar dari sini? Apa mama tega meninggalkanku di tempat seperti ini? Aku ingin pulang. Aku tidak mau di sini!" Zanita sambil meneteskan air mata. Mama Savina sebenarnya tidak tega tapi mau bagaimana lagi, kalau tidak seperti ini putrinya tidak akan pernah jera. Dia hanya ingin yang terbaik untuk wanita terlepas Bagaimana caranya sekarang ini.


"Maafkan Mama yang saat ini tidak berdaya. Mama tidak bisa melakukan apa pun," ujar Savina. "Waktu berkunjung sudah habis, kamu baik-baiklah di sini. Saat persidangan nanti, mama pasti akan datang. Mama pulang dulu. Assalamualaikum."


Mama Savina segera meninggalkan putrinya. Sementara itu, Zanita hanya diam saja, tidak menjawab salam dari mamanya. Dia menatap punggung wanita yang sudah membesarkannya itu.


****


"Mohon maafkan saya, Bu. Sepertinya kaki Pak Rahmat mengalami kelumpuhan sementara. Sehingga tidak bisa digerakkan untuk saat ini, tapi insya Allah masih bisa sembuh. Asal beliau mau rutin melakukan terapi," ucap dokter.


Zayna terkejut mendengarnya. Bagaimana itu bisa terjadi pada Papa Rahmat? Wanita itu memejamkan mata, berusaha menghilangkan sesak yang memenuhi dada. Setetes air mata jatuh membasahi pipinya yang putih. Dia segera menghapusnya karena tidak ingin terlihat sedih di depan sang papa.


Tadi saat bangun tidur, Papa Rahmat ingin pergi ke toilet. Namun, kakinya tidak bisa digerakkan. Pria itu menarik kakinya secara paksa agar mau bergerak. Ada ketakutan dalam dirinya kala sebuah pemikiran hadir di kepalanya dan ternyata memang benar seperti perkiraannya. Zayna pun melarang papanya bergerak kemudian memanggil perawat dan juga dokter.


Wanita itu menutup wajahnya. Dia tidak percaya dengan apa yang sudah menimpa papanya. Baru saja kemarin dia lega saat melihat Papa Rahmat sudah bisa membuka mata. Kini Zayna harus kembali bersedih karena pria itu harus mengalami kelumpuhan. Meskipun bisa sembuh, tetapi tetap saja pasti akan mengguncang kesadaran Papa Rahmat.

__ADS_1


Apalagi kemarin papanya sudah bersikap baik pada wanita itu. Zayna tidak ingin Papa Rahmat berubah seperti dulu lagi. Dia senang dengan perubahan pria itu dan berharap untuk selamanya seperti itu.


"Sekarang keadaan papa bagaimana, Dok?" tanya Zayna. Saat ini dia hanya sendiri. Ayman bekerja sementara Mama Savina belum pulang sejak pamit tadi pagi.


"Tadi beliau sempat tidak bisa mengontrol diri. Dia terus memukuli kakinya karena itu tadi saya memberikan obat penenang. Mudah-mudahan nanti setelah beliau bangun, semuanya baik-baik saja."


"Amin, terima kasih, Dokter. Anda sudah memeriksa keadaan papa saya."


"Itu sudah kewajiban saya. Nanti jika terjadi sesuatu lagi, Anda bisa memanggil saya seperti tadi dengan memencet tombol di atas ranjang."


"Iya, Dok. Terima kasih sekali lagi."


"Saya permisi," ucap dokter itu sambil tersenyum dan meninggalkan Zayna yang masih berdiri di depan ruangan.


Entah ke mana keberanian wanita itu perginya. Dia takut menjawab pertanyaan yang akan papanya tanyakan nanti. Ingin sekali Zayna pergi dari rumah sakit ini. Akan tetapi, itu bukanlah pilihan yang tepat. Bagaimana Papa Rahmat nanti? Siapa yang akan merawatnya? Meski sudah ada Mama Savina, tetap saja wanita itu khawatir.


Waktu berlalu begitu cepat. Papa Rahmat terbangun saat waktunya makan siang. Dia menatap langit-langit kamar dengan pandangan kosong. Pria itu masih ingat dengan jelas apa yang terjadi padanya tadi. Saat ini pun Papa Rahmat tidak bisa merasakan kakinya.


"Papa, sudah bangun?" tanya Zayna pelan.


Papa Rahmat masih terdiam dengan memandang langit-langit kamar. Melihat hal itu, Zayna merasa sedih. Dia menggenggam telapak tangan papanya dan berkata, "Pa, jangan seperti ini. Papa harus ingat kalau ada Zayna di sini. Kita akan melewati semuanya sama-sama. Dokter bilang Papa bisa sembuh asal Papa rajin terapi. Aku akan menemani Papa sampai sembuh."


Rahmat menatap putrinya dengan mata berkaca-kaca. Selama ini dia tidak pernah memperlakukan putrinya dengan baik. Akan tetapi, saat dia sedang terpuruk seperti sekarang ini, justru Zayna orang pertama yang hadir di sini.


"Kenapa kamu baik sekali sama Papa. Padahal selama ini Papa sudah jahat sama kamu."

__ADS_1


"Papa nggak jahat sama aku. Aku selalu menganggap perlakuan Papa adalah bentuk ajaran untukku. Papa jangan memikirkan masa lalu. Semuanya sudah lewat, yang penting saat ini Papa harus sehat dulu."


"Papa pasti akan berjuang agar sehat kembali. Papa juga masih ingin melihat kamu bahagia dan memiliki anak yang banyak. Papa masih ingin bermain dengan mereka, cucu-cucu Papa."


"Kalau begitu Papa harus cepat sembuh."


Keduanya pun berbincang hangat. Banyak hal yang mereka bicarakan. Tidak berapa lama, pintu diketuk seseorang dari luar. Diikuti suara pintu terbuka, tampak dua yang membuat Zayna terkejut.


"Assalamualaikum," ucap Mama Aisyah Saat memasuki ruangan di mana Papa Rahmat sedang dirawat.


"Waalaikumsalam, Mama, Papa! Kenapa nggak bilang mau ke sini? Kan bisa aku jemput di bandara," ucap Zayna sambil mencium punggung tangan kedua orang itu. Setelah itu memeluk Mama mertuanya. Dia sangat merindukan wanita itu. Meskipun Mama Aisyah sering berbicara ketus, tetapi Zayna tahu jika itu bentuk kasih sayang.


"Tidak usah, Mama tahu kamu masih nemenin papa kamu," sahut Mama Aisyah.


"Selamat siang, Pak Rahmat. Perkenalkan nama saya Hadi dan ini Aisyah—istri saya—kami orang tua Ayman," ucap Papa Hadi pada besannya.


"Aisyah," gumam Rahmat. Tiba-tiba dia teringat dengan almarhumah istrinya yang juga bernama Aisyah. "Iya, Pak. Terima kasih sudah menjenguk saya. Maaf jika saya merepotkan. Seharusnya pertemuan pertama kita tidak di tempat seperti ini."


"Tidak perlu bicara seperti itu. Lain kali kita bisa memilih di mana tempat yang pas dan enak untuk ngobrol. Lagi pula di mana pun kita bertemu, semuanya nyaman saja. Tergantung diri kita membawa diri," ujar Papa Hadi.


"Iya, Pak. Silakan duduk."


Papa Hadi pun duduk di kursi yang tadi di tempati Zayna. Sedangkan Mama Aisyah duduk di sofa bersama menantunya.


.

__ADS_1


.


.


__ADS_2