
“Bagaimana? Sudah lihat dedek bayi?" tanya Kinan pada Adam yang baru saja masuk ke dalam ruangannya. Anak itu terlihat begitu senang.
"Sudah, Ma, baru saja. Adik bayi cantik sekali, kayak Mama,” jawab Adam membuat semua orang yang ada di sana tertawa.
"Berarti Oma nggak cantik, dong?" tanya Mama Aida yang pura-pura merajuk.
"Oma juga cantik, tapi lebih cantik mama."
"Berarti, nanti kalau kalian besar, itu tugas Kakak Adam sebagai kakak, untuk menjaga adiknya. Biar nanti nggak digodain sama laki-laki di luar sana," sela Hanif yang ada di samping Kinan.
"Iya, dong, Pa. Nanti Adam akan jagain adek dari semua orang. Bukan cuma laki-laki, tapi juga wanita yang iri padanya," jawab Adam dengan yakin.
Hanif dan Kinan tersenyum mendengar itu. Keduanya senang dengan Adam yang bisa menerima keberadaan Zea. Sedari tadi anak itu juga selalu tersenyum.
“Adam, mau ikut Opa sama Oma pulang?” tanya Mama Aida yang sudah bersiap akan pergi.
"Nggak mau, aku mau di sini sama Papa dan Mama," tolak Adam yang semakin merapatkan tubuhnya ke arah Kinan.
"Adam, sebaiknya ikut Oma pulang, tadi pulang sekolah belum pulang. Besok ke sini lagi setelah pulang sekolah. Adam nggak boleh lama-lama di rumah sakit, nanti malah ikutan sakit. Kalau Kakak sakit, siapa yang jagain adek nanti? Adam anak baik, pasti akan nurut," ucap Kinan yang mencoba untuk membujuk anaknya. Dia tahu jika Adam mudah untuk dibujuk.
Adam tampak ragu, sebenarnya anak itu merasa berat untuk pergi dari rumah sakit ini. Terlebih dia baru saja bertemu dengan adiknya, sekarang sudah harus terpisah. Akan tetapi, benar apa yang dikatakan mamanya. Adam dari tadi belum pulang, belum mandi juga.
Dia tidak ingin jatuh sakit yang nantinya malah akan merepotkan keluarga, terutama Kinan. Mau tidak mau anak itu pun akhirnya mengangguk dan mengikuti oma dan opanya untuk pulang. Hanif dan sang istri tampak lega, karena Adam mau diajak pulang.
"Besok aku ke sini lagi, ya, Ma," ucap Adam sebelum pergi.
"Iya, besok pulang sekolah ke sini lagi. Baik-baik di rumah, ya!" ucap Kinan dengan tersenyum. Dia senang karena putranya mau ikut bersama dengan sang mertua.
__ADS_1
Adam pulang bersama dengan oma dan opanya. Sepanjang perjalanan pulang, anak itu lebih memilih membaca buku pelajarannya yang ada di dalam tas. Padahal oma dan opanya sudah melarang agar tidak terlalu memikirkan pelajaran. Ada juga saatnya untuk bersantai, tetapi anak itu mengatakan jika dia sudah cukup bersantai.
Baik Oma Aida maupun Opa Wisnu tidak perlu khawatir. Tidak berapa lama, mobil mereka akhirnya sampai juga di halaman rumah. Ketiganya turun dan masuk ke dalam kamar masing-masing untuk beristirahat. Adam juga membersihkan diri dan melakukan segala hal sendirian. Padahal Erin sudah menawarkan diri, gadis itu hanya membantu sedikit saja.
Sementara itu, di rumah sakit hanya tinggal Kinan dan Hanif. Keduanya masih berbincang sambil menunggu makanan yang dipesan pria itu. Tadi dia meminta cleaning service untuk membelikannya makanan.
"Adam sepertinya berat meninggalkan adiknya, Mas?" tanya Kinan pada sang suami.
"Iya, sepertinya dia juga begitu menyayangi adiknya. Aku harap juga selamanya seperti itu," ucap Hanif yang diangguki Kinan.
“Mas, untuk acara aqiqah Baby Zea, sebaiknya dipersiapkan sekarang. Kita sudah sepakat akan mengadakan aqiqah untuk Baby Zea saat usianya tujuh hari.”
“Iya, nanti akan aku persiapkan.”
Keduanya pun berbincang beberapa hal, sebelum akhirnya beristirahat menuju ke alam mimpi.
Nanti Erin juga akan membantu Kinan untuk merawat Baby Zea. Gadis itu pun tidak keberatan, pekerjaan apa pun dia akan terima, asal bisa menyekolahkan adik-adiknya. Kinan juga cukup mengenal adik-adik Erin, terkadang di antara mereka ada yang datang ke rumah. Entah itu karena kekurangan uang atau ada keperluan lain.
"Semuanya sudah siap?" tanya Hanif yang baru saja masuk ke dalam kamar. Dia tadi mengurus administrasi untuk sang istri. Untung saja sebelumnya pria itu sudah mengurus beberapa hal jadi, kini hanya tinggal sedikit.
"Sudah, mama sudah membereskan semuanya, tinggal pulang saja," sahut Mama Aida yang ikut menjemput menantunya.
"Aku sudah mengurus semuanya, kita boleh pulang sekarang. Tunggu dulu, biar aku ambilkan kursi roda untuk kamu, Sayang," ucap Hanif pada sang istri.
Saat pria itu akan beranjak, Kinan mencegahnya. Wanita itu merasa dirinya kuat untuk berjalan. Dia juga dalam keadaan baik-baik saja. Tidak perlu ada yang dikhawatirkan.
Hanif pun akhirnya membiarkan sang istri untuk berjalan sendiri, sementara dia di sampingnya dengan membawa koper dan tas besar. Mama Aida sendiri, membawa keperluan untuk Baby Zea. Mereka pun menaiki mobil yang dikendarai oleh Hanif.
__ADS_1
“Mas, kita nggak sekalian jemput Adam? Ini sudah waktunya dia untuk pulang, kan?” tanya Kinan.
“Ini hari Kamis, Sayang. Dia ada pelajaran tambahan.”
Kinan mengangguk, dia hampir melupakan jadwal sekolah putranya. Padahal biasanya wanita itu yang menjemput, tetapi karena memang ini adalah pelajaran tambahan jadi, dirinya lupa. Mereka pun pulang menuju rumah, mengenai Adam, biar nanti Hanif yang menjemputnya.
Saat sampai di rumah, Kinan mendengar suara kambing saat baru turun dari mobil. Namun, ketika melihat sekitar, tidak ada apa pun di sana. Dia pun bertanya pada sang suami. "Mas, kamu dengar suara kambing? Apa di sekitar ada yang pelihara?"
"Iya, ada di samping rumah. Itu punya kit, buat aqiqah Baby Zea. Aku sudah mempersiapkan semuanya, hanya tinggal menunggu harinya saja."
"Kamu potong di rumah saja? Aku pikir kamu menyerahkannya di rumah aqiqah. Yang biasanya menyediakan jasa potong kambing dan nanti dimasak mereka juga.”
“Di potong di rumah saja. Aku ingin melihat prosesnya," ucap Hanif yang diangguki Kinan. Wanita itu juga ingin melihatnya secara langsung.
Mereka masuk ke dalam rumah bersama-sama. Kinan sempat melihat kambing yang dibeli oleh sang suami, dia senang Karena ukurannya yang besar. Wanita itu pun membawa putrinya ke kamar. Segala persiapan sudah ada di kamar.
“Untuk sementara Baby Zea tidur sama kita, nanti kalau sudah agak besar,baru di kamar sendiri. Ada kamar kosong, belum ada yang menempati.”
"Iya, Mas, tidak apa-apa. Aku juga senang kalau Baby Zea ada satu kamar sama kita. Kita bisa mengawasinya juga. Mana mungkin aku tega meninggalkan bayi sekecil dia tidur di kamar sendiri."
Hanif tersenyum memandangi putrinya yang terlelap. Pintu kamar diketuk oleh seorang dari luar. Pria itu membuka pintu, ternyata di sana ada Erin yang mengetuk pintu, dia pun bertanya, "Ada apa, Erin."
“Di bawah ada tamu, Tuan. Beliau mencari Anda,” jawab Erin dengan pelan.
“Siapa?”
.
__ADS_1
.