Ditikung Adik Tiri

Ditikung Adik Tiri
85. Ingin memberi kejutan


__ADS_3

Dokter Vani mengoleskan gel di atas perut Zayna dan mulai menempelkan alat USG pada perut wanita itu. Dia mencoba mencari celah agar bisa melihat apa benar ada janin di dalam perut wanita itu.


"Wah! Aisyah, kamu benar-benar akan menjadi seorang nenek," ucap Dokter Vani membuat Mama Aisyah dan Zayna terdiam.


Bagaimana mungkin itu bisa terjadi? Beberapa hari yang lalu Zayna pernah memakai alat tes kehamilan dan garis yang muncul hanya satu. Akan tetapi, sekarang Dokter Vani bilang dia hamil.


"Apa Anda yakin, Dok? Beberapa hari yang lalu, saya pernah pakai alat tes kehamilan dan hasilnya negatif, tapi sekarang kenapa Anda bilang saya hamil?" tanya Zayna.


Dokter Vani tersenyum. "Alat tes kehamilan bisa saja tidak akurat. Mungkin saat itu hormon kamu sedang rendah, jadi kemungkinan hasilnya bergaris satu. Jika kamu ingin menggunakan alat tes kehamilan sekarang juga boleh. Supaya kamu tidak ragu lagi. Mau dicoba?"


"Boleh, Dok."


Dokter Vani mengangguk dan mengambil satu cup kecil untuk menampung urine Zayna. "Silakan, kamu ke kamar mandi di sebelah sana. Nanti kamu tampung urine kamu di sini dan segera bawa ke sini."


Zayna mengangguk dan melakukan apa yang diperintahkan Dokter Vani. Mama Aisyah menunggu dengan harap-harap cemas. Dia takut jika pemeriksaan ini tidak sesuai dengan apa yang diharapkan. Pasti nanti menantu ya akan bertambah sedih. Nantinya akan semakin membuat wanita paruh baya itu semakin bersalah.


"Kamu tenang saja, Aisyah. Saya yakin kalau menantu kamu hamil. Kamu bisa lihat USG tadi, itu hasilnya akurat, tapi entah kenapa menantumu lebih percaya pada alat tes kehamilan. Mungkin juga hormonnya sedang tidak stabil."


Tidak berapa lama Zayna keluar dan menyerah kan urinenya pada Dokter Vani. Wanita itu melihat dengan saksama bagaimana dokter itu mencelupkan alat tes kehamilan. Mertua dan menantu itu menunggu dengan gelisah. Keringat dingin bercucuran menandakan betapa gugupnya mereka.


"Silakan, kalian bisa melihat hasilnya sendiri," ucap Dokter Vani, membuat kedua orang yang ada di depannya melihat alat tes kehamilan yang disodorkan oleh wanita itu.


Seketika maka Zayna berkaca-kaca. Dia sudah menunggu ini sangat lama dan akhirnya Tuhan telah mengabulkan doa-doanya. Rasa syukur wanita itu ucapkan berkali-kali dalam hati. Tidak ada satu kata pun yang terucap dari bibirnya. Bahagia bercampur rasa haru dia rasakan.


"Ma, aku beneran mau jadi Mama dan Mama bakalan jadi Nenek," ucap Zayna sambil menggenggam telapak tangan mertuanya.


Sama seperti menantunya, Mama Aisyah hanya bisa mengangguk tanpa bisa mengucapkan satu kata pun. Dia benar-benar bahagia. Akhirnya keinginannya untuk bisa segera memiliki cucu akan terwujud.


"Selamat, ya, Aisyah, Zayna. Aku juga ikut bahagia."


"Terima kasih, Dokter."

__ADS_1


"Saya hanya menjalankan tugas sebagai seorang dokter saja. Semua ini sudah takdir dari Tuhan."


"Iya, Vina, tapi semua ini juga berkat bantuanmu kami bisa tahu."


Dokter Vina memberi wejangan pada Zayna, makanan apa saja yang sangat disarankan bagi wanita hamil dan juga apa saja yang tidak boleh. Wanita itu sangat antusias mendengarkannya. Dia juga bertanya apa saja kegiatan yang diperbolehkan.


"Mertuamu pasti lebih tahu apa yang kamu butuhkan. Dia juga pasti akan memenuhi semua keinginan kamu. Aku tidak perlu menjelaskan panjang lebar lagi," ucap Dokter Vina.


"Aku 'kan sudah lama tidak hamil. Sudah pasti lupa," sahut Mama Aisyah.


"Nggak mungkin, aku masih percaya sama kamu. Ini adalah cucu pertama kamu. Pasti kamu akan sangat menjaganya. Asal jangan berlebihan saja. Nanti kamu malah melarang menantumu melakukan ini dan itu."


"Iya, aku akan selalu mengingatnya," sahut Mama Aisyah dengan malas. Dia tidak suka mendengar ejekan temannya itu. "Ini sudah selesai, kan? Kami mau pamit dulu."


"Iya, jangan lupa bayarnya di depan. Jangan pulang gitu saja," ucap Dokter Vina semakin membuat Mama Aisyah kesal.


"Ya ampun! Kamu ini sama teman sendiri saja perhitungan sekali. Sudah lama aku tidak ke sini, seharusnya kamu kasih kami gratis. Pelit banget jadi teman," gerutu Mama Aisyah.


"Sudahlah, aku capek ngomong sama kamu," sahut Mama Aisyah yang segera menarik tangan menantunya. "Ayo, Na, kita pulang."


Zayna tersenyum pada Dokter Vina dan mengikuti mertuanya keluar. Dia senang melihat dua sahabat ini yang sebenarnya sama-sama saling merindukan. Hanya cara mereka memang berbeda, yaitu dengan saling ejek.


"Berapa biaya untuk menantu saya, Mbak?" tanya Mama Aisyah pada wanita yang berjaga di meja administrasi.


"Dengan Ibu siapa?"


"Zayna."


"Sudah lunas, Bu."


"Tapi kami belum merasa membayarnya, Mbak. Mungkin Mbak salah orang?" tanya Zayna.

__ADS_1


"Tidak, Bu. Dokter Vani baru saja yang bayar."


"Sampaikan terima kasih kami padanya. Kami permisi," ucap Mama Aisyah tersenyum dengan menggandeng tangan menantunya untuk keluar.


"Ma, apa tidak apa-apa Dokter Vani yang membayarnya?" tanya Zayna yang merasa tidak enak.


"Sudah, lupakan saja. Dia sudah berniat baik, tidak enak juga kalau kita menolaknya."


Mama Aisyah dan Zayna memasuki mobil. Namun, menantunya itu masih penasaran dengan Dokter Vani. Dia masih bertanya pada mertuanya. Wanita itu tahu, pasti biaya pemeriksaan tadi tidak murah. Mengingat banyak sekali yang Zayna lakukan tadi.


"Memangnya kamu kira Vani itu orang miskin. Dia juga orang kaya. Apalagi suaminya yang juga seorang pengusaha. Sudah! Kamu jangan terlalu dipikirkan. Mama sudah sangat mengenalnya. Lebih baik sekarang kamu memikirkan anak kamu. Kapan kamu akan mengatakannya pada Ayman?"


Zayna tampak berpikir. Benar apa yang dikatakan mertuanya. Dia harus menyiapkan moment kejutan untuk suaminya. Kali ini harus spesial karena hadiahnya juga istimewa.


"Kapan, ya, Ma, enaknya? Ulang tahun pernikahan aku sudah lewat. Begitu juga dengan ulang tahun Mas Ayman. Kalau begitu 'kan aku bisa kasih kejutan buat dia."


"Memang ngasih kejutan harus saat ulang tahun. Di hari lain juga bisa," sahut Mama Aisyah.


"Iya, Ma, tapi rasanya pasti spesial kalau hari ulang tahun, sayang sekali ulang tahunnya sudah lewat. Mau bagaimana lagi."


"Kamu pikirkan saja cara yang lainnya."


"Iya, Ma."


"Mengenai Papa, Mama nggak bisa jaga rahasia sama dia. Jadi mungkin Mama akan ngasih tahu papa lebih dulu."


"Oh, itu tidak masalah, Ma, asal Papa bisa menjaga rahasia dan tidak mengatakan pada Mas Ayman."


Zayna ingin dia sendiri yang mengatakannya pada sang suami. Sebelumnya wanita itu punya keinginan jika dirinya hamil Ayman adalah orang kedua yang tahu setelah dirinya, tetapi sekarang malah yang kesekian. Mau bagaimana lagi, dia sendiri bukan orang pertama yang tahu.


.

__ADS_1


.


__ADS_2